cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Wednesday, 30 January 2013

Ritual Minggu Ini

Kebiasaan si Ed 3 hari terakhir ini adalah bobo jam 16.30, bangun jam 18.00 minta minum air putih, nenen, dan bobo lagi.

Jam 20.30 bangun, makan roti, makan buah, makan yoghurt, main clay, menggambar alias coret-coret, baca buku#lihat-lihat gambar di buku lebih tepatnya, minta si Ayah mendongeng, nenen, si Ibuk bernyanyi, bermain clay lagi, nenen sambil mendengarkan si Ibuk nyanyi lagi, si Ayah mendongeng lagi, dan zzzz......jam 23.00 si Ed terlelap bersama si Ayah dan si Ibuk yang teler kecapekan.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar...."
Saat adzan Subuh berkumandang pukul 04.15, Sang Anak membangunkan Sang Ibuk sambil menarik-narik tangannya ngajak NONTON HUJAN..!!

Sang Ibuk dengan mata berat setengah merem setengah melek _karena tidur larut, terjaga berkali-kali untuk menyusui, dan bangun terlalu pagi_pun menggamit tangan Sang Anak, duduk di teras sambil bernyanyi TIK-TIK BUNYI HUJAN dengan sangat fals'nya.

The End
Read More

#MilisSehatLover

"Anak yang batpil (batuk pilek) sering diberikan antibiotik dan puyer, akan sering sakit", dr. Wati

"Jangan buang waktu dengan mempermasalahkan batpil/common cold pada anak, masih banyak hal penting lainnya yang perlu dipikirkan", dr. Wati


"TIDAK ADA OBAT BATUK & PILEK. TITIK! ", dr. Yoga
Read More

Tuesday, 29 January 2013

Saya Belum Siap

Saya menulis ini dengan berurai air mata. Sungguh, saya ternyata belum siap untuk menyapih Edsel. Teringat betapa berat perjuangan saya untuk memberi dia ASI. 


Teringat masa-masa awal kelahiran dengan rasa nyeri pasca SC, kengototan saya untuk IMD, kedongkolan hati saya karena pihak RS memberi sufor tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan saya, kegigihan saya untuk 'mengambil' anak saya dari ruang perinat. Teringat niple yang pecah-pecah berdarah, PD yang sangat sangat sangaaat sakit ketika disusui dan dipompa. Teringat betapa tidak ada satu pun dukungan untuk saya selain dari suami. Teringat bahwa sering semalaman penuh saya tidak tidur karena Edsel terus menangis jika tidak disusui. Teringat setiap tengah malam dan dini hari harus bangun untuk pumping, padahal berkali-kali pula harus terjaga untuk menyusui. 


Teringat betapa saya 'tidak punya rasa malu'' menenteng coolerbag kemana-mana hanya agar bisa pumping ketika harus bertugas di luar kantor. Teringat bahwa saya pernah dicurigai membawa bom karena coolerbag itu. Teringat betapa selalu berusaha tersenyum setiap kali diledek oleh teman-teman setiap pumping di kantor. Teringat bahwa betapa pun padatnya pekerjaan, tetapi selalu mendisiplinkan jam pumping. Teringat betapa mencelosnya hati jika ASI di botol tumpah karena kurang hati-hati saat memompa. Teringat bahwa betapa lelah dan penatnya tubuh setelah seharian bekerja ditambah dengan tidur malam yang kurang, namun tetap semangat untuk mensterilkan botol ASI, dot, dan printilan pompa yang tidak sedikit. Teringat betapa mata Edsel berbinar-binar dan tersenyum indaaaahhh sekali setiap saya pulang dari kantor dan dia bisa menyusu sepuasnya. Teringat bahwa hati saya mengembang sekaligus miris ketika harus membuang berpuluh-puluh botol ASIP karena freezer di rumah dan di tempat Om sudah tidak muat lagi menampung ASIP yang saya dapatkan dengan susah payah. Teringat saat diklat Prajab harus berjuang untuk pumping dan menyusui di tengah-tengah jadwal yang padat, menahan kantuk dan lelah, mengorbankan jam tidur dan istirahat. 

Teringat betapa menyakitkannya komentar pedas dari teman dan saudara mengetahui saya menabung ASI. Teringat betapa saya miris jika melihat ibu yang ASI-nya melimpah dan tidak harus bekerja di luar rumah, namun tidak mau menyusui bayinya. Teringat betapa saya sakit jika ada yang mengatakan "Kamu sih enak, ASI-nya banyak", padahal ASI saya tidak berlebih, hanya sekedar cukup. Edsel bisa bisa lulus sarjana ASI, bisa melampaui hingga hari ini tanpa sufor, itu semata-mata karena saya 'keras' pada diri sendiri, mendisiplinkan diri untuk pumping dan menyusui dalam berbagai kondisi yang tidak selalu kondusif.

Ah...sungguh, ternyata saya belum siap untuk mengakhiri momen indah menyusui. Perjuangan yang telah saya dan Edsel lewati telah membuat masa menyusui ini begitu indah, begitu berkesan, dan menguatkan ikatan di antara kami.

Dua bulan lagi..., bisakah selama waktu itu saya menyiapkan diri dan menyiapkan bayi kecil saya untuk proses weaning? Ah...dia bukan bayi kecil saya lagi, dia sudah menjelma menjadi anak yang tumbuh besar dan pintar. Come on Rahma, siap tidak siap itu bukan pilihan, tapi proses yang harus diusahakan.
Read More

Friday, 25 January 2013

Panggilan Shalat

Setiap mendengar suara adzan, si bocah bernama Edsel langsung nyeletuk "colat!"(sholat). Dan jika kami menjawabnya dengan, "Ayo ayo sholat..!", maka dia pun langsung semangat, "Ayok ayok..." , maka kesibukan dia pun ditinggalkan begitu saja tanpa belas kasihan. Tapi namapun juga anak-anak, biar kata udah kita pakein sarung, bukannya sholat ngikutin Ayahnya tapi malah lari keluar. Yah,..ritual shalat pun tergantikan menjadi acara penelitian.













Shalatnya gimana?Ya kagak jadi bung. Setelah puas ngutak-atik cicak yang dikerubungin semut, dia langsung minta main panjat pagar. Yo wis lah, ngga papa, yang penting kita udah berhasil ngasih pemahaman ke dia kalo denger suara adzan itu artinya kita harus segera menunaikan shalat. Toh kadang-kadang kalo kita lagi shalat dia ngikutin di belakang kok, walaupun ngga sampe selesai.

Jadi anak yang soleh ya, Nak. Doa kami selalu untukmu.
Read More

Menghibur Diri

Saya menghibur diri sendiri ketika kehilangan, ketika menyesal, ketika kecewa. Meskipun itu tidak akan bisa merubah keadaan, tapi setidak-tidaknya itu membuat saya lebih baik_kadang-kadang. Membuat saya berusaha menggali sisi positif dari hal-hal buruk. Karena kekerdilan jiwa kita yang terkadang memaknai cobaan sebagai musibah, bukan sebagai pembelajaran, bukan sebagai pembuka anugerah.

Sering kita picik, terkungkung dalam tembok yang sempit ketika menghadapi cobaan, menganggap ini adalah akhir. Padahal jika kita telaah lebih jauh, mungkin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu untuk kita. Sesuatu yang terbaik untuk kita, bukan yang menurut kita baik. Sesuatu itu bisa sekarang, bisa juga nanti.

Ah...saya sedang kecewa. saya sedang menyesal. Saya sedang kehilangan... BUKU.
Read More

Thursday, 17 January 2013

Edsel itu ...

  • anak berpipi tembem yang bulan Januari ini berusia 22 bulan.
  • yang doyan banget makan buah. Mau pagi kek, siang kek, sore kek, malem kek, bangun tidur kek, belum makan, habis makan, kalo di kulkas liat buah yang menggiurkan air liurnya, hajar deh!
  • yang sejak umur 19 bulan susaaah banget makan sayur. Jadi ibunya ini mesti kreatif bikin masakan tanpa ketahuan kalo itu ada sayurnya.
  • yang ngga pernah bisa berhenti bergerak dan ngga pernah bisa berhenti ngomong.
  • yang suka 'memodifikasi' nama. Contoh : namanya sendiri jadi Edsela, Kakung jadi Kakungnya, Ayah Dedy jadi Ayah Dedit, Ibu jadi Abu, Bulik Pip jadi Bulik Pipo, dan banyak lagi deh. Kalo ada yang ngetawain tambah menjadi - jadi tuh 'modifikasi'nya.
  • yang seneng baca buku, menggambar, main bola, main sepeda.
  • yang ngga pernah nangis kalo jatuh, kejedut, keplanting, berdarah - darah, lecet - lecet, benjol - benjol. Nangisnya kalo minta nenen ngga dikasih.
  • yang apa-apa maunya dilakukan sendiri, ngga mau dibantu kecuali dia udah bener - beneeeer mentok ngga bisa.
  • yang hobi panjat - panjat
  • yang bisa ngitung sampai 10
  • yang susah disuruh gosok gigi, alesannya geli.
  • yang musti dibujuk rayu supaya mau mandi, tapi begitu udah mandi susah diajak selesai.
  • yang sejak usia 1 tahun ogah minum pake dot, maunya pake gelas dan dipegang sendiri pula.
  • yang lihat gambar apa harus dijadiin lagu. Lihat singa minta nyanyi singa, lihat burung merak minta nyanyi burung merak, lihat balon minta nyanyi balon,....dsb. Jadi kita musti kreatif ciptain lagu sendiri kalo gambar yang dia lihat ngga ada lagu populernya.
  • yang selalu buang sampah di tempat sampah.
  • yang udah hapal doa mau makan dan doa mau mau tidur, meskipun agak terbata-bata.
  • yang sukaaa banget buku
  • yang hobi buang - buang barang
  • yang tiap saya ada di rumah, bobo-nya harus sambil nenen tiduran dan didongengin Lion. FYI, Lion itu tokoh singa yang diciptain sendiri sama Ayahnya.
  • yang doyaaaann banget ikan lele
  • yang giginya udah ada noda coklat-coklatnya. Ibunya udah rempong aja, takutnya itu karies, soalnya si Edsela susah gosok gigi.
  • yang kalo keinginannya ngga diturutin bisa ngamuk
  • yang ......
  • .............
  • bintang di hatiku, matahari di jiwaku
  • my everything

i love you just the way you are
Read More

Wednesday, 16 January 2013

ASI dan Penggunaan Obat Rasional

By dr. Fransisca Handy, SpA, IBCLC
dicopas dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)

Air susu ibu (ASI) tidaklah asing lagi ditelinga kita dan semua orangtua yang mendapatkan informasi dan dukungan yang tepat pasti berharap dapat memberi ASI pada bayinya sesuai dengan standard emas pemberian makan pada bayi. Namun apakah yang dimaksud dengan penggunaan obat rasional (POR)? Apa hubungan ASI dengan POR ?

Tahukah ayah ibu sekalian, bahwa menggunakan obat secara rasional pada bayi di saat sakit ternyata amat membantu agar manfaat ASI dapat benar-benar optimal diperoleh sang bayi?

Mari kita telaah apa saja yang ada dalam standard emas makanan bayi. Yang pertama tentu Inisiasi Menyusu Dini. Selama proses IMD bayi diletakkan di dada ibu, bersentuhan kulit dengan kulit dan ketika bayi mulai berusaha mencari dia akan menjilati kulit dada dan payudara ibunya. Apakah yang didapat sang bayi dari kulit ibu: bakteri baik. Ya, di kulit kita terdapat jutaan sel bakteri baik yang melindungi kulit agar bakteri jahat dan jamur tidak tumbuh. Bakteri baik ini akan masuk ke dalam usus bayi dan berkembang biak di sana, melindungi bayi dari penyakit diare akibat bakteri jahat. Terlebih bila sang bayi lahir secara normal, ada begitu banyak bakteri baik di sepanjang jalan lahirnya. Setelah IMD, tentu dilanjutkan dengan ASI eksklusif selama 6 bulan. Setiap kali menyusu pada payudara, tentu bayi mendapat asupan bakteri baik tembahan baik lewat sentuhan mulut bayi dengan payudara maupun lewat ASI itu sendiri. Zat kekebalan yang dibawa ASI tentu bukan hanya bakteri baik, tapi ada aneka sel darah putih dengan macam-macam fungsi dalam jumlah berlimpah mulai dari anti-in26feksi, anti radang, pelapis usus, anti alergi dan sebagainya. Setelah berusia 6 bulan, bayi mulai mendapat makanan pendamping alami. Apakah yang terkandung dalam makanan pendamping alami yang tidak akan terdapat dalam makanan olahan pabirk? Enzim, vitamin dan mineral alami yang juga punya daya perlidungan luar biasa bagi bayi.

Sekarang, mari kita telaah perjalanan kesehatan bayi kita. Secara umum ketika usia 6 bulan, bayi akan mulai sakit ringan yang ditandai dengan gejala seperti batuk, pilek, demam dan diare atau muntah. Hal ini disebabkan oleh zat kekebalan dari ibu yang telah mulai menurun kadarnya, ASI yang mulai tergantikan dengan makanan pendamping ASI serta mobilitas / pergerakan bayi yang mulai meningkat. Batuk, pilek, demam dan diare dialami semua bayi karena ini adalah bagian dari tumbuh kembang bayi. Coba kita perhatikan di sekitar kita, adakah balita di atas usia 6 bulan yang sama sekali tidak pernah batuk pilek demam dan diare?

Namun, apakah yang umumnya terjadi pada bayi di saat ia sakit? Orangtua akan membawanya ke fasilitas kesehatan (dokter atau bidan) dan sepulang dari dokter / bidan orangtua akan dibekali dengan satu atau lebih obat. Puyer berisikan beberapa obat yang disatukan disertai sirup anti demam umumnya diberikan. Antibiotik tak lupa disertakan, dapat disertakan dalam puyer atau pun dalam bentuk sirup yang terpisah. Lihatlah 2 contoh resep di bawah ini:
Resep yg sisi kiri diberikan pada bayi 1 bulan, ASI eksklusif, dgn keluhan “flu”. Resep sisi kanan diberikan pada bayi 3 bulan, ASI eksklusif, dengan diare akut, tanpa perdarahan. Rasionalkah? Kedua resep puyer ini mengandung Luminal, obat anti kejang, untuk apa bayi batuk pilek atau diare dapat obat anti kejang? Efek sampingnya amat berbahaya: perlambatan irama jantung, tekanan darah rendah, henti napas dan depresi sistem saraf pusat. Rewel bukan indikasi pemberian obat anti kejang, rewel lumrah terjadi saat sakit, tenangkan dengan menyusui. Kedua resep ini juga mengandung antibiotik (eritrhomycin dan nifural) yang sama sekali tidak diperlukan. Obat-obat lain dalam resep ini juga tidak ada pada pedoman batuk pilek dan diare tanpa perdarahan.

Gejala batuk pilek demam dan diare sebagian besar disebabkan oleh virus. Virus ini pada umumnya adalah self limiting disease atau sembuh sendiri. Sementara antibiotik HANYA dapat mematikan atau melemahkan bakteri, bukan virus. Antibiotik tidak dapat mengenali mana bakteri baik dan mana yang jahat, sehingga bakteri baik akan selalu ikut dihantam oleh antibiotic yang dikonsumsi anak kita. Sia-sia lah usaha mengumpulkan bakteri baik dari proses IMD dan ASI eksklusif. Semakin sering anak minum antibiotik, semakin sering ia sakit, karena berkurangnya bakteri baik yang membantu pertahanan tubuh. Penggunaan antibiotik secara tidak rasional juga menyebabkan timbulnya resistensi atau berubahnya sifat bakteri menjadi tahan terhadap antibiotik sehingga suatu saat kita dapat kembali ke era sebelum antibiotik ditemukan. Antibiotik menyelamatkan hidup, maka kita harus menyelamatkan antibiotik dengan menggunakannya secara rasional. Bila tidak ada indikasi untuk pemberian antibiotik, STOP segera, tidak ada isitilah “terlanjur minum antibiotik”, sebaliknya bila memang ada indikas taati aturan minumnya dengan baik.

Ayah dan ibu sekalian, batuk pilek demam dan diare sampai tahap tertentu sesungguhnya adalah cara tubuh untuk bertahan ketika virus masuk ke dalam tubuh (infeksi virus). Batuk menjaga supaya jalan napas bersih dari lendir yang dihasilkan lebih banyak ketika ada infeksi virus dan batuk juga menjaga supaya kuman baru tidak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan di saat tubuh sedang berusaha melawan virus yang sudah masuk. Begitu juga dengan pilek, tubuh berusaha mengeluarkan virus melalui lendir yang diproduksi hidung. Pilek yang mulai kehijauan sama sekali tidak berarti bahwa ada infeksi bakteri. Kehijauan semata-mata karena banyak sel darah putih yang terkandung dalam lendir yang bereaksi dengan oksigen yang terjadi justru di akhir masa sakit atau dalam proses penyembuhan. Bila hidung tersumbat, ASI dapat diteteskan pada lubang hidung untuk membantu mengurangi sumbatan karena ASI mengandung anti infeksi dan anti radang.

Bagaimana dengan demam ? Demam adalah tanda bahwa pertahanan tubuh sedang bekerja. Setiap kali ada kuman masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan bereaksi dan reaksi ini menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Suhu tubuh yang naik ini juga membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Oleh karena itu kita tidak disarankan untuk mengobati demam yang ringan agar masa sakit dapat berlangsung lebih singkat karena tubuh diberi kesempatan untuk melawan si kuman. Benar bahwa demam dapat menyebabkan dehidrasi dan kejang, oleh karena itu perlu dipantau, diberi cairan lebih banyak (ASI lebih baik), dikompres hangat dan diberi obat demam hanya bila suhu di atas 38,5&derC (pada anak usia 1 tahun atau lebih). Diare akut tanpa perdarahan umumnya disebabkan juga oleh virus. Diare membantu tubuh membuang virus yang masuk, sehingga pemberian anti diare pada anak tidaklah dianjurkan oleh WHO. Tata laksana diare yang utama adalah mengganti cairan yang keluar. ASI adalah pengganti cairan terbaik, oralit dapat diberikan jika diperlukan.

Pedoman tata laksana kasus bagi dokter maupun bidan dan perawat sebenarnya telah lama ada. WHO telah mengenalkan Manajemen Terpadu Balita Sakit untuk bidan dan perawat. Untuk dokter WHO telah mengenalkan Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Sebetulnya dengan mematuhi pedoman yang ada, rasionalitas tata laksana yang dilakukan tenaga kesehatan dapat lebih terarah. Namun, hal ini juga memerlukan kerjasama dari para ayah dan ibu. Tekanan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan resep, terutama resep tertentu seperti antibiotik atau puyer atau vitamin botolan kerap terjadi (vitamin jauh lebih baik yang berasal dari ASI dan buah bukan?). Tahukan ayah ibu, bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang masih meresepkan obat berbentuk puyer. Puyernya sendiri tidak terlalu masalah, yang berbahaya adalah praktik mencampur aneka obat menjadi satu yang belum tentu diperlukan bayi kita. Padahal berdasarkan pedoman untuk tata laksana kasus-kasus ringan yang saya ceritakan di atas tidak memerlukan peresepan apapun, kecuali untuk obat anti demam bila ada indikasi. Setiap kunjungan ke tenaga kesehatan, pastikan buah hati kita mendapatkan hanya yang terbaik.

ASI adalah investasi yang luar biasa bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak kita, jangan sampai penggunaan obat yang tidak rasional merusak investasi ini. Mari kita bersama mengusahakan agar setiap anak Indonesia mendapatkan semuanya serba Standard Emas, tidak saja soal feeding, tapi juga ketika sakit dia mendapatkan tata laksana yg berstandar emas: bedasarkan pedoman, berbasis bukti yang kuat. Hanya yang terbaik yang pantas kita berikan bagi anak-anak kita bukan ? Hidup ASI, Hidup POR !!
Read More

Monday, 14 January 2013

Kecewa WGM (part II)

Waduk Gajah Mungkur
Sebegitu mahalkah harga tempat sampah? Ato petugas kebersihan dibayar mahal selangit biar ada kerjaan mungutin sampah bejibun? Ato saya yang terlalu 'tertib' untuk selalu buang sampah di tempat sampah? Hellooo....ini ga malu apa sama Adipura yang mejeng di depan gerbang?(walaupun tu Adipura diraih udah tau kapan) tapi paling tidak kan bisa buat nyemangatin kalo dulu kota ini udah pernah jadi kota TERBERSIH....

Argghhh...saya kali yang lebay.

Tapi mengganggu sekali lho,beneran! Bayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan dari tempat wisata seperti WGM ini. Yang jual makanan kemasan banyak, yang jual mainan dibungkus plastik juga banyak, yang bawa makanan dibungkus banyak. Trus kemana tuh larinya sampah? Harusnya kan dibuang di tempat sampah, tapi berhubung tempat sampah susah nyarinya, so...(silakan tebak sendiri).

Saya baru menyadari ketika saya beli sate ayam yang dibungkus daun. Sehabis makan, saya tengok kanan kiri nyari tempat sampah terdekat, ga ada. Ngider ke sana ke mari nyari, ga ada juga. Tanya sama penjual mainan, disuruh buang di situ aja tar juga diambil petugas kebersihan. Hmmm...kok terlihat ga 'elegan'  dan ga 'intelek' sekali saya membuang sampah sembarangan begitu saja. Berasa ga rela gitu tempat ini terkotori oleh sampah saya. Oke saya nyari lagi deh, ternyaaataaa ada sodara-sodara..! Di bawah pohon nun jauh di sana, ada tempat sampah yang berupa drum dipotong separo, itulah tempat sampahnya.! Dari jauh, ya jauh dari posisi saya yang ada di arena bermain anak. Itu pun sampahnya udah kliatan menumpuk bak gunung.  Oke oke..saya samperin deh. Olalala...memang menumpuk dan banyak sekali lalat yang mengerubungi. Diiihhh...jijik sekali lihatnya.


Oke...saya mungkin lebay.
Ngga ada orang lain yang terlihat mencari tempat sampah, Ngga ada orang 'normal' yang lari ke sana ke mari bingung buang sampah. Intinya ngga ada tuh yang ngributin tempat sampah. Biar aja tuh tempat sampah cuma satu, buang sampah ya buang aja.
Yaa..saya memang ga normal.

Tapiiii...mari kita pikirkan dengan hati yang bening *deuuu. :
- Meskipun ngga semua orang membuang sampah di tempatnya, tapi paling tidak jika disediakan tempat sampah di titik-titik yang strategis kan orang jadi termotivasi untuk menggunakannya.
- Ngga ada indah-indahnya lho melihat sampah berserakan di sana- sini. Ini tempat wisata book, tempat kita mo melihat yang indah-indah.
- Dari hal yang kecil macam tempat sampah ini, akan terlihat bagaimana profesionalisme dan keseriusan pemerintah daerah setempat dalam mengelola tempat wisata.
- Pengunjung WGM ini kebanyakan anak-anak dan pelajar, gimana kita mo menuntut mereka menjaga lingkungan kalo tidak disediakan fasilitas yang mendukung? Di sekolah atau di rumah diajarin untuk buang sampah pada tempatnya, tapi begitu mereka mau mengaplikasikannya di sini, mana mana mana???Ya udah deh, buang di sini aja, beda sih sama yang di teori.
- Orang dari luar Wonogiri melihat 'wajah' kita dari tempat yang mereka datangi, salah satu yang banyak dikunjungi ya WGM ini.Oh, please jangan nilai kami jorok ya orang - orang dari luar..!

Ya udah deh cukup sekian postingan lebay dari si lebay..   Tapi silakan dicerna dengan hati yang bening #I like this diction


Read More

Friday, 11 January 2013

Matahariku



Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras, janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku

Doa kami di nadimu
Read More

Kecewa WGM (part I)

Meski bukan pilihan favorit, tapi Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri merupakan alternatif tempat liburan yang cukup jadi pilihan bagi kami. Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, sarana wisata di tempat ini juga beragam. Ada taman satwa, waterboom, jet sky, perahu, sarana olehraga gantole, karamba, mainan anak-anak, naik gajah, kereta kelinci. Komplit bukan? Walaupun koleksi taman satwanya tidak selengkap Gembiraloka, atau taman bermainnya tidak 'sekelas' Kids Fun, tapi lumayan oke lah untuk dikunjungi jika kami sedang bokek tapi hasrat untuk liburan menggebu-gebu (U know lah kami keluarga yang gila liburan).
Waduk Gajah Mungkur

Terakhir kami ke sana adalah libur Natal kemarin. Natal jatuh pada hari Selasa dan kami ke sana hari Senin yang merupakan cuti bersama. Lumayan rame dibanding hari - hari biasa, meskipun tidak padat sekali. Kami menuju loket pembayaran di pintu masuk. Cukup sursprise juga ternyata tarifnya tidak naik. I was appreciated it. Setelah menyerahkan uang pada petugas loket, saya menunggu uang kembalian dan karcis. Uang kembalian diberikan, tetapi tidak ada karcisnya.
Me        : "Karcisnya belum, Pak."
Petugas : "Tidak pake karcis , Bu."
Me        : Bingung. "Lhoh, biasanya pake, Pak."
Petugas : "Ga masalah kok, Bu. Langsung masuk aja."
Mendengar jawaban di atas, saya sebenarnya masih ingin bertanya lagi, tapi urung karena melihat pengunjung lain mengantri di belakang saya.

Oke, memang seperti jawaban petugas tadi, tidak masalah saya masuk ngga pake karcis, toh di dalam juga ngga ada pemeriksaan karcis. Tapi profesionelisme-nya itu lho. Saya kan udah bayar. Karcis itu kan sebagai tanda bukti di saya dan di pihak mereka kalo duit saya udah masuk ke situ. Lhah, karcis itu kan kayak kuitansi itu kan ya? Dalam satu lembar, sebagian disobek untuk diberikan kepada pembayar, bagian yang ngga disobek disimpen buat penerima uang. Gitu kan? Nah kalo petugas itu ngga ngeluarin karcis, tanda bukti kalo uang saya udah masuk ke mereka mana dong?

Jadi tu uang diterima petugas gitu aja? Ngga ada bukti dan data kalo uang yang masuk sekian? Trus nanti laporan ke pengelolanya kalo hari ini ada sekian pengunjung dengan jumlah pemasukan sekian, gimana dong? Diinget-inget gitu aja? Ngga pake nyodorin jumlah karcis yang telah tersobek? Soalnya saya lihat petugas juga ngga nulis di buku ato di apa gitu waktu saya bayar. Cuma terima uang trus ngasih kembalian. Trus kalo misalnya petugas 'nyelipin' berapa rupiah gitu di kantongnya, ngga ada yang tahu dong?

Maaf.. bukan saya menuduh oknum petugas loket tersebut 'nyelipin' (baca: korupsi), tapi bekerja dengan tidak sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) memang rawan dituduh KKN lho! Atau memang SOP WGM memang begitu? Rasanya tidak ya, soalnya bukan hanya sekali dua kali saya ke sini, dan selalu diberi karcis. Walaupun sebelum - sebelumnya saya ke sini bukan pas lagi ramai pengunjung seperti kemarin. Saya berharap bukan karena sedang ramai pengunjung yang otomatis banyak juga uang yang masuk maka kemudian oknum petugas mencari kesempatan dengan tidak melaporkan sebagian uang tersebut supaya bisa masuk ke kantong pribadi. Semoga tidak ya?

Saya juga sedang mencari situs resminya WGM untuk menyampaikan keluhan ini, tapi belum ketemu. Sebagai warga Wonogiri saya hanya ingin mengkritisi hal - hal yang kurang baik supaya dapat dijadikan masukan untuk memperbaiki pelayanan. Karena selain kasus  karcis ini, ada hal lain yang cukup mengganggu yang saya temui di WGM, semoga nanti bisa saya posting. 

Oke.. maju terus WGM, semoga bisa berbenah menjadi semakin baik sehingga bisa menjadi destinasi wisata unggulan di Wonogiri dan sekitarnya.
Read More

Monday, 7 January 2013

Ketika Saya Berbeda

Pernahkah kalian berbeda prinsip dan pemikiran dari yang lain? Pernahkah tindakan kalian berbeda dari yang umum dilakukan orang-orang di lingkungan kalian? Saya cukup sering! Jangan ditanya bagaimana perasaaan saya ketika mereka 'menghukum' saya karena saya berbeda. Saya termasuk orang yang sensitif, cukup mudah ‘sakit’ jika merasa ‘disakiti’, walaupun memang perasaan itu cuma dipendam aja, tidak pernah ditampakkan.

Inilah beberapa daftar tindakan saya yang dianggap ‘nyleneh’ oleh orang-orang di sekitar saya :
1.  Waktu kecil, jika bisa memilih,  saya lebih memilih dibelikan buku atau majalah dibanding mainan.
Akibatnya : saya sering diolok-olok bukan hanya oleh teman sepermainan tapi  juga orang dewasa bahwa saya anak yang cemen/lemah (ga ngerti juga apa hubungannya lemah dengan suka buku, ada yg tahu?)
2.  Kelas 2 SMA saya memutuskan untuk berhijab. Jaman-jaman itu (sekitar tahun 2002) belum banyak yang pake jilbab.
Akibatnya : Ibu tidak setuju saya mengenakan jilbab, menurut beliau jilbab itu identik dengan aliran sesat. Uang saku saya distop selama beberapa bulan. Selama itu pula Ibu pun tidak mau berbicara kepada saya. Saya didiemin! Jika saya keluar rumah, semua tetangga memandang saya dengan tatapan yang aneh, takut jika saya membawa pengaruh buruk.
3.   Setelah melahirkan Edsel saya keukeuh menyusui, memberikan ASI eksklusif. No sufor! Meski saya harus ngantor sekalipun.
Akibatnya : Mungkin ini ‘hukuman’ paling berat yang harus saya terima. Saya sering bersitegang dengan keluarga besar (saya tinggal dengan ortu dan rumah kami berdekatan dengan sodara-sodara yang lain) saya dianggap gila karena menabung ASI di kulkas. “Idih ASI kok disimpen, jijik ah, basi, ga bagus buat bayi”. Belum kalo Edsel sering kebangun tengah malam, katanya itu tandanya air susu ibunya kurang, harus disambung sufor.
Di kantor juga ga surut dari ‘hukuman’. Tiap kali saya mau pumping, waahh..rame-rame deh temen-temen yang laki-laki pada ngledekin yang jorok-jorok. Lagi mompa di dalam aja (saya pinjem kamar tukang kebun untuk pumping ) dari luar tuh pada teriak-teriak godain. Kebayang ga sih perasaan saya?
4.   Semenjak Edsel mulai MPASI, tidak pernah sekalipun saya memberikan produk instan.  Semuanya homemade, buatan tangan saya sendiri. No garam, no gula! Cemilan pun saya sendiri yang membuatkan. Kukis, pudding, cake, jus, semuanya fresh dari dapur sendiri. Jadilah Edsel tidak pernah kenal makanan instan macam P*OM*NA, S*N, M*LNA, dsb. Sampai hari ini pun saya masih masak sendiri makanan untuk si Ed.
Akibatnya : Lagi-lagi saya dicap ibu yang aneh. Tidak ada sejarahnya bayi tidak makan bubur dan biskuit pabrikan. Omongan nyinyir tetangga? Tiap hari saya rasain. Sindiran halus sodara? Tiap hari saya denger.
5.  Saya tidak pernah  tergopoh-gopoh memberi obat jika saya, suami, maupun Edsel sakit. Saya observasi dulu sakitnya, pelajari, dan berikan treatment yang sesuai (jika memang butuh obat atau perlu dibawa ke dokter ya kasih, jika tidak ya beri treatment yang lain).This is RUM!
Alhamdulillah dari si Ed lahir sampai detik ini (22 bulan) belum pernah sekali pun dia minum obat. Bukan saya anti-obat, tapi memang Edsel jarang banget sakit. Kalaupun sakit ya cuma common cold yang tidak perlu obat.
Akibatnya : Saya adalah ibu yang sadis, itu imej yang dilekatkan pada diri saya hingga saat ini. Hahaha…   Ibu dan Bapak saya sampe geleng-geleng kepala jika cucunya panas, tapi ayah dan ibunya masih anteng ngukur suhu dan browsing di internet.

Dengan semua akibat-akibatnya, apakah saya kapok untuk menjadi berbeda?Never! saya tetap tegap melangkah dengan pede. Saya yakin selama melakukannya dengan dasar ilmu yang cukup dan berjalan di atas koridor yang benar, tidak ada salahnya berbeda. Bukankah orang-orang hebat, yang hingga hari ini namanya ditulis dengan tinta emas oleh sejarah adalah orang-orang yang memiliki pemikiran yang berbeda dari orang kebanyakan? Bukankah para perintis memang selalu menemui jalan terjal sebelum langkahnya diikuti banyak orang?

Tulisan ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya sehebat  orang-orang hebat itu, atau saya layaknya perintis yang membawa pemikiran baru. Bukan! Saya mah bukan apa - apa, saya juga cuma pengekor kok, pengekor hal yang mungkin belum populer dan belum bisa diterima di lingkungan saya. Ini cuma sekedar penyemangat bagi saya ketika saya minder dan takut menjadi diri sendiri. Dan lebih – lebih ini adalah pesan untuk Edsel-ku tersayang, kelak Nak jika kau sudah bisa membaca tulisan ini, yakinlah : tidak perlu takut untuk menjadi berbeda. Pede saja dengan pemikiran dan prinsipmu, selama itu tidak bertentangan dengan koridor kebenaran. Orang – orang luar biasa selalu lahir dengan gagasan yang tak biasa.
Read More
Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Hai, I stay in Wonogiri, Jawa Tengah. I'm a happy wife and a working mom. I love book and movie very much!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena