cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Tuesday, 7 March 2017

Dia yang Antagonis

Si tengil dalam film Ratatouille, Skinner!!

"Selalu akan ada tokoh antagonis dalam kehidupan kita"
Bertahun silam, sahabat saya pernah mengatakan hal itu. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, namun jika dipikirkan, kalimat itu ada benarnya juga.

Memang akan selalu ada episode di mana seseorang yang_entah dia sadari atau tidak, dia sengaja atau tidak,_akan membuat raut muka kita menegang memerah, membuat kesabaran kita perlu diorder ulang, membuat kita tergugu di sembarang waktu tak tentu, atau membuat kita takluk kepayahan. Ada, memang selalu ada. Entah dia seseorang yang telah kita kenal bertahun-tahun, seumur-umur, atau mungkin hanya dia yang mampir tanpa pernah mengakrabi sejarah panjang perjuangan kita.

Selalu akan ada tokoh antagonis. Benar, memang benar.

Dan kita yang sok belagak jadi sang protagonis ini seolah-olah jadi yang terdzolimi. Seolah paling benar, paling lemah.  Seolah paling patut dikasihani. Begitu kah? Jika memang begitu, mungkin ini saya. Tapi malu, malu rasanya. Kayak kurang piknik aja. Kayak ga pernah jalan-jalan. Tapi memang begitulah adanya. Rasanya pingin tampar, pingin teriak. Tapi seharusnya tidak begitu. Barangkali kita memang patut dibikin merah wajah kita karena kita keterlaluan. Barangkali kita kita perlu dibikin menangis, agar kita tidak melulu egois. 

Pada akhirnya dia yang antagonis akan membuat kita lebih kuat, lebih tegar berdiri di badai-badai selanjutnya. Meski sulit dan mata berkaca-kaca menciptakan butir-butir berkilau yang akan jatuh perlahan, tapi ucapkan pada sang antogonis (dalam hati saja ya.he he he) : "kamu telah memilih orang yang salah untuk disakiti".
Read More

Monday, 6 March 2017

Seandainya

Seandainya kita tahu dengan siapa kita menghabiskan sisa usia, barangkali kita hanya terus disibukkan dengan mencari dia, atau bahkan merutuki nasib (?)
Seandainya kita tahu bagaimana rasanya patah hati, barangkali kita akan berpikir ribuan kali untuk jatuh cinta
Seandainya kita tahu bagaimana perihnya cemburu, mungkin kita akan membatasi memberikan hati seutuh-utuhnya
Seandainya kita tahu di mana kita akan mati, mungkin kita tidak akan menyambangi tempat itu barang sejengkal
Seandainya kita tahu bagaimana rasanya miskin, mungkin kita tidak akan berhenti sedetik pun untuk mensyukuri yang kita punya saat ini
Seandainya kita tahu bahwa tidak semua janji akan ditepati, barangkali kita akan bersiap untuk hari itu_hari di mana ada janji yang terabai

Seandainya saya tahu saya akan terlihat pucat, barangkali saya akan memakai sedikit lipstik. Hi hi... 

Selamat datang Maret 2017, aku menyayangimu meski pada awal minggu telah kau hadiahkan air mata, sedikit cemburu yang menyusup, dan degup-degup dalam rasa antah berantah. Tapi telah kau berikan kecupan manis, seteguk kopi, dan coklat dengan sedikit pahit dan manis yang elegan.

Selamat datang Maret 2017, semoga tetap seterong!!!
Read More

Tuesday, 3 January 2017

Assalamualaikum Beijing

Sekumpulan angin yang berbisik di antara kepak sepasang merpati
juga nyanyian mistis tetes hujan saat pertunangan bunga dan kupu-kupu.
Jika kau pernah mendengarnya, maka begitulah aku padamu.

Telah kutukar kopi dengan teh. Tapi tak akan kutukar coklat dengan menunggu.

Romantis, namun tetap teguh di jalur sastra Islami.
Begitulah Asma Nadia.

Kali ini Asma Nadia punya Dewa. Dewa yang separuh hatinya adalah Ra. Hidupnya hanya untuk Ra. Cintanya hanya untuk Ra. Seorang. 

Ra gadis sederhana dengan kemandirian dan kecerdasan serta kepedulian terhadap orang lain. Ra gadisnya yang mungil. Gadisnya yang tidak cantik, tapi ayu. Tidak jelita, tapi manis. Karena bagi seorang Dewa, butuh lebih dari sekedar tampang dan penampilan bak selebriti untuk memikat hatinya. Dan Ra punya semua itu!

Cinta selama 4 tahun dan di antara persiapan pernikahan yang tinggal sebulan lagi, Dewa berkhianat. Lebih tepatnya tidak sengaja berkhianat. 

Pengkhianatan Dewa meluluhlantakkan hubungan mereka berdua. Memisahkan Dewa dari Ra, sumber kebahagiaannya.

"Nafsu yang purba menyeretku ke lubang tanpa jiwa."


Tugas kantor membawa Asma ke Beijing. Beijing yang mempertemukan gadis mungil berkelopak mata indah itu dengan Zongwhen. Zongwhen pemuda Cina yang diam-diam memujanya, merindukannya, dan sampai akhirnya jatuh cinta dengan Islam lewat diskusi-diskusi cerdas mereka. Zhongwhen yang rela terbang ke Indonesia meninggalkan kelurga yang dikasihinya demi Asma dan demi Tuhannya.

"Tuhan, bidadari yang Kau kirimkan sungguh mengingatkanku pada satu hal. Surga-Mu memang ada."


Asma sakit. Sakit parah. Siapa menyangka? Gadis yang begitu dinamis, penuh semangat, yang bahkan patah hati berdarah-darahpun tak sampai membuat semangatnya meredup tiba-tiba dihantam palu godam vonis dokter : Antiphospholid Syndrome (APS)! Maka siapakah dia yang akan bersetia pada gadis itu dengan segala kelebihan maupun ketidakberdayaannya?

"Di antara rembulan yang tersembunyi dalam gelap dan gemerisik angin yang datang dari kejauhan ke mana akan kubisikkan cinta?"

***

Asma Nadia selalu punya kejutan-kejutan romantis di tiap kata-katanya. Dan kejutan itu yang selalu saya tunggu setiap saya membaca karya-karyanya. Pun di novel ini, seperti biasa dia menggunakan ide saktinya itu untuk membuat saya terlena. 

Kisah percintaan yang berakhir patah hati yang kemudian hadir orang ketiga 'sebagai penyelamat sang gadis' sebenarnya sudah sangat biasa. Akan tetapi jika kemudian sang superhero itu menjadi mualaf, tentu saja ini adalah bumbu lain yang membuatnya menjadi lain sekaligus mempertegas bahwa novel ini adalah sastra Islami. Begitu pula perubahan sikap sang gadis yang kemudian menjadi semakin religius karena semangatnya untuk belajar dan mengamalkan perintah Islam dalam kesehariannya.

Tapi sejujurnya menurut saya kisah ini terkesan terlalu dipaksakan. Too good to be true. Bukannya ini buruk, hanya menjadi tidak natural karena di akhir kisah tiba-tiba semua tampak menjadi mulus. Walaupun sebenarnya saya seneng-seneng aja sih dengan kisah yang berakhir hepi. He he he ....
Read More

Monday, 19 December 2016

Pembicaraan Mengenai Menikah (Bersama Edsel)

Suatu sore di warung bakso (tanpa Ayah dan Akis)

Edsel : "Kenapa Ibuk menikah dengan Ayah?"
Saya  : (Geragapan bentar, and then ....) "Karena Ayah laki-laki yang baik. Rajin sholat, pinter ngaji, jujur, dan suka baca buku kayak Ibuk".
.....

Suatu pagi ketika sedang ganti baju

Edsel : "Kenapa manusia menikah, Buk?"
Saya : (Mikir bentar) "Karena Allah menyuruh manusia menikah jadi menikah itu ibadah."
Edsel : "Berarti Edsel besok juga harus menikah?"
Saya : "Nggih, Sayang."

......

Suatu malam ketika sedang mewarnai (kami pun hanya berdua)



Edsel : "Jatuh cinta itu apa sih, Buk? Cintanya jatuh? Trus pecah? He he he." (Ketawa tawa sambil mewarnai gambar)
Saya  : (Mikir agak lama) "Jatuh cinta itu ...umm....senang dan suka untuk yang pertama kali. Misal nih, Ibuk jatuh cinta dengan pensil warna itu. Ibuk liat pensil warna itu tiba-tiba langsung suka dan sayang."
Edsel : "Kalo Ibuk jatuh cinta sama Ayah?"
Saya  : (Ee buset ni anak). "Kalo Ibuk jatuh cinta sama Ayah, Ibuk liat Ayah dan Ibuk cari tahu soal Ayah. Ooh Ayah itu rajin shalat, pinter ngaji, dan baik jadinya Ibuk jatuh cinta deh sama Ayah."
Edsel : "Kalo Edsel besok jatuh cinta sama yang orang yang beragama ******?" (Edsel menyebutkan salah satu agama yang berbeda dengan agama kami).
Saya  : (Garuk-garuk kepala dan mikir agak lama)
Edsel : "Edsel boleh menikah dengan orang itu?"
Saya  : "Menikah itu harus dengan yang satu agama, Sayang. Biar bisa sholat bareng, ngaji bareng, doanya juga bareng, masuk surga juga bareng."
Edsel : "Trus Edsel menikah sama siapa, dong?"
Saya  : "Sama wanita yang baik, yang rajin shalat, rajin ngaji, baik, jujur, berpakaian yang sopan."
Edsel : "Kayak Ibuk dong?"
Saya  : "Lebih baik dari Ibu dong. Makanya Edsel jadi anak yang baik, anak yang sholeh, biar menikah dengan wanita yang sholehah juga."
Edsel :"Kalo Edsel ga bisa milih yang kayak gitu?"
Saya  :"Kan ada Ayah ada Ibuk yang bantu Edsel milihin. Tar nih kalo Edsel jatuh cinta sama wanita, kasih lihat ke Ibuk dan Ayah, biar Ayah dan Ibuk bisa bantu Edsel buat menilai. Kalo menurut Ayah dan Ibuk tidak baik untuk Edsel, ya Edsel harus dengerin kata Ayah dan Ibuk. Kan Ayah dan Ibuk orang tua Edsel. Kalo menurut Ayah dan Ibuk baik, Edsel bisa menikah dengan wanita itu".

(Saya garuk garuk kepala) Duuuh kayak ngobrol sama anak ABG aja niii.


Edsel :" Kalo Edsel menikah dengan Ibuk boleh?"
Saya  : "Gak boleh, Sayang. Kita tidak boleh menikah dengan keluarga, kakak adik ga boleh. Apalagi sama orang tua. Ga boleh banget."
Edsel : "Lha kenapa?"
Saya  :"Allah melarangnya. Lagian kalo menikah dengan keluarga, anak-anak yang dilahirkan nanti bisa tidak sehat. Bisa sakit"
Edsel :"Lha sakit apa, Buk?"
Saya  :"Ya bisa tidak normal, kena penyakit, anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sedarah." (Pemilihan kata saya mulai kacau. Mulai mikir-mikir pemilihan kata dan kalimat yang tepat, sambil mikir akankah berlanjut dengan pembahasan tentang kromosom).
Edsel :"Iya, tapi sakit apa? Pilek? Batuk?"
Saya  : (Masih mikir)
Edsel :"Buk, Ibuk...ini gunungnya Edsel warnai hitam ya?
Saya  :"Lha kenapa hitam? Kenapa tidak hijau seperti di contoh?"
Edsel :"Kata Ibuk kalo mewarnai suka-suka Edsel, ga harus sama dengan contohnya. Kan gunungnya cuma tanah, jadi warnanya hitam."
Saya : "Ooo....iya. Betul-betul" (manggut-manggut sambil merasa bersyukur terselamatkan dari pembicaraan mengenai kromoson perkawinan sedarah. He he he...). 


Note : obrolan di atas sudah saya translate ke Bahasa Indonesia biar lebih mudah dipahami karena saya ngobrolnya pake Bahasa Jawa.

Edsel akhir-akhir ini emang lagi suka ngobrolin tema itu : cinta, menikah, laki-laki dan perempuan. Ya topik-topik dewasa macam itu. Dan jujur saja, ketika ditodong pertanyaan-pertanyaan sejenis itu, saya kadang geragapan. Maka jawabannya pun mungkin tidak sempurna. Karena butuh jawaban yang tidak sekedar benar untuk setiap pertanyaan dari anak-anak. 

Begitulah, selalu ada alasan bagi ibu-ibu untuk khawatir. Khawatir jika kelak anak kita akan dipenuhi berbagai macam pertanyaan kritis_ tentang seks dan lawan jenis misalnya_ dan tidak lari ke kita . Khawatir jika kita tidak bisa mengawal bertumbuhnya titik rawan menjelang dan di awal balighnya. Khawatir ada kompas lain yang di luar Tuhan-nya. Ahh na'udzubillah.

Dan saya pun termenung, terbawa resonansi hujan.

Read More

Tuesday, 13 December 2016

Menepi

Kau tahu, hatiku porak poranda diguyur hujan semalam
Menepi adalah jawaban terbaik
Tapi menepi tetap menyisakan luka berbalut ratusan kecewa

 

Kita gila
        Ah, aku yang gila

Buat apa berkeluh kesah, 
        membawa-bawa nama luka
        membawa-bawa namamu untuk semuanya
Kamu adalah kamu, dan aku telah lupa menamaimu sebagai apa

Tapi sungguh, 
aku berharap pada hujan semalam, agar mengembalikanmu padaku
Meski aku remuk, meski aku terkapar, tapi

aku rindu ...



RAHMAWATI
Pracimantoro, 13 Desember 2016


Read More

Saturday, 3 December 2016

Algoritma yang Kasmaran


Aku adalah kesunyian yang mengendap-endap di antara kedua bola matamu yang senyap
Aku adalah kembang sepatu yang bermain-main dipermainkan angin
Aku adalah layang-layang belah ketupat di atas mega-mega yang pekat

Aku adalah lagu sendumu yang kau cipta pada senar gitar
Aku adalah mimpi tidur siang yang tak terselesaikan
Aku adalah deretan huruf vokal di antara konsonan yang merajalela

Aku adalah Drosophila melanogaster pada diktat-diktat Biologimu
Aku adalah konstanta g dalam rumus gravitasi Newton : 
        biasa, namun tak bisa tak ada
Aku adalah sinus yang mencemburui cosinus
Aku adalah algoritma yang kasmaran

Tapi aku adalah kita melulu
Menekuri hatiku hatimu
Menciptakan genangan-genangan baru
        pada cerita hujan bulan Desember
Menanggalkan rinduku satu satu

Sepi. Sepi. Sepi aku tanpamu


RAHMAWATI
Pracimantoro, 3 Desember 2016

Read More

Friday, 25 November 2016

Sesesap Kenangan


Hanya sesesap kenangan
yang kau jatuhkan perlahan
Dan detik-detik yang berguguran

Aku bergumam pada Atlas lusuh di ujung mejamu
Merayap mencari beribu kenangan
yang berhamburan dari sebuah tempat

Aku tak lagi di sana, Sayangku
Hanya pintu-pintu penuh debu
dan pucuk-pucuk anyelir yang mengering
Menguapkan napas-napas penuh janji
Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena