cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Showing posts with label Edsel. Show all posts
Showing posts with label Edsel. Show all posts

Tuesday, 11 April 2017

6 Tahun EIR

#latepost 8 Maret 2017



Edsel Ilmi Rakasiwi.
Bayi kecil kami yang seperti tiba-tiba cepat besar. 

Dia adalah anak kecil nan ajaib yang pernah menjadi satu-satunya tujuan dan harapan apa yang saya lakukan dalam hidup. Saya bangun malam setiap 2 jam sekali hanya untuk menyusui dan pumping ASI untuknya. Saya bangun dini hari hanya untuk menyiapkan segala keperluannya. Saya masak sehari bisa sampe puluhan kali hanya demi memerangi GTM-nya. Saya belajar investasi dengan tujuan masa depannya. Saya belajar apapun, iya apapun, hanya jika itu menyangkut tentangnya. Dan lain-lain, dan lain-lain. Rasanya tak ada yang tak saya lakukan untuknya.

Kini, ia adalah bocah 6 tahun yang bulan Juli nanti sudah masuk SD. Putra sulung kesayangan saya yang bahkan kini saya peluk di depan orang lain pun kadang ogah-ogahan karena malu. Rasanya ah, betapa tidak relanya. Dulu, waktu-waktunya hanya untuk saya dan Ayahnya. Kini kami harus rela berbagi dengan teman-teman mainnya, dengan kesibukan hobinya sendiri, dengan saudara-saudara dan keluarga lainnya. Ah, tak ada lagi ketergantungan mutlak dengan kami.

Satu sisi bahagia karena dia tumbuh dengan sehat, dengan mandiri. Sisi lain?? Jangan cepat besar anakkuuuu, Ibu masih ingin berlama-lama memeluk dan menciummu.

1. Bangun tidur Subuh buta, langsung mandi, pakai baju seragam dan sepatu, daaaan.... liat TV sambil nunggu sarapan siap. Jam 6.15 sudah minta diantar ke rumah Uti untuk berangkat sekolah. Alamaaaak rajinnya anakkuuuu.

2. Sering bete dengan adikknya. Soalnya si Akis memang suka ngrecokin kakaknya. Kakaknya lagi makan ikut-ikutan nimbrung, kakaknya lagi belajar ikut-ikutan gabung, kakaknya lagi main juga maunya main bareng juga. Padahal si Ed kadang pingin melakukan sesuatu secara privat, ga suka dibareng-barengin.

3. Eh, seringnya Ed juga sih yang suka godain adiknya. Adiknya lagi anteng main, mainannya malah dirampas sambil ketawa-ketawa ngledek. Adiknya lagi baca buku sama saya, dianya ndusel-ndusel di antara kami biar adiknya terganggu. Edsel terlihat puaaas gitu kalo liat adiknya teriak-teriak sebel. Apalagi kalo adiknya sampai nangis, waaah dia bakalan tertawa lebaaar. Gimana kalo adiknya lagi ga ada? Ed kesepian juga sebenarnya. Kelimpungan ga ada temen main, ga ada yang digodain. Begitu juga dengan Akis, kalo kakaknya lagi ga di rumah dia manggil-manggil Edsel melulu. Berasa kehilangan.

4. Edsel belum bisa membaca. Dan saya? Santai ajah!! Tenang aja, boy. Jatah belajarmu masih panjang. Nikmati aja masa-masa TK ini dengan bermain dan apapun yang membuatmu jadi sebenar-benarnya anak-anak. Masa anak-anak itu cuma sebentar, kelak kamu akan melahap itu baca tulis sepanjang waktu. 

5. Dia suka berhitung. Soal-soal penjumlahan dan pengurangan, atau kombinasi keduanya, sudah bisa dia selesaikan.

6. Edsel agak kurusan, deh. Pipi udah ga tembem-tembem amat kayak dulu. Berat badan turun sih enggak, tapi karena tambah tinggi dan pertambahan berat badan ga sesignifikan dulu. 

7. Makan? Teuteup sukanya protein doang. Jangan tanya sayur pada kami. Jangan.

   Tapi kabar baiknya, dia kini makin pinter makan sendiri. Ahhh cintaku.

8. Lego masih jadi mainan favorit sepanjang umurnya saat ini.

9. Nonton film? Hanya saat malam Minggu. Itu jadwalnya, dan dia patuh sepatuh-patuhnya. Sekepingin apa pun dia nonton.

10. Kesukaannya akan buku agak sedikit terdegradasi. Tersubstitusi dengan bermain bersama teman-teman yang porsinya kini bertambah. 

Terima kasih telah bersama kami selama 6 tahun kopi manisku. Ayah dan terlebih-lebih Ibu, minta maaf untuk waktu yang terbatas untukmu, untuk hak-hak yang belum kami tunaikan untukmu. 








Read More

Monday, 19 December 2016

Pembicaraan Mengenai Menikah (Bersama Edsel)

Suatu sore di warung bakso (tanpa Ayah dan Akis)

Edsel : "Kenapa Ibuk menikah dengan Ayah?"
Saya  : (Geragapan bentar, and then ....) "Karena Ayah laki-laki yang baik. Rajin sholat, pinter ngaji, jujur, dan suka baca buku kayak Ibuk".
.....

Suatu pagi ketika sedang ganti baju

Edsel : "Kenapa manusia menikah, Buk?"
Saya : (Mikir bentar) "Karena Allah menyuruh manusia menikah jadi menikah itu ibadah."
Edsel : "Berarti Edsel besok juga harus menikah?"
Saya : "Nggih, Sayang."

......

Suatu malam ketika sedang mewarnai (kami pun hanya berdua)



Edsel : "Jatuh cinta itu apa sih, Buk? Cintanya jatuh? Trus pecah? He he he." (Ketawa tawa sambil mewarnai gambar)
Saya  : (Mikir agak lama) "Jatuh cinta itu ...umm....senang dan suka untuk yang pertama kali. Misal nih, Ibuk jatuh cinta dengan pensil warna itu. Ibuk liat pensil warna itu tiba-tiba langsung suka dan sayang."
Edsel : "Kalo Ibuk jatuh cinta sama Ayah?"
Saya  : (Ee buset ni anak). "Kalo Ibuk jatuh cinta sama Ayah, Ibuk liat Ayah dan Ibuk cari tahu soal Ayah. Ooh Ayah itu rajin shalat, pinter ngaji, dan baik jadinya Ibuk jatuh cinta deh sama Ayah."
Edsel : "Kalo Edsel besok jatuh cinta sama yang orang yang beragama ******?" (Edsel menyebutkan salah satu agama yang berbeda dengan agama kami).
Saya  : (Garuk-garuk kepala dan mikir agak lama)
Edsel : "Edsel boleh menikah dengan orang itu?"
Saya  : "Menikah itu harus dengan yang satu agama, Sayang. Biar bisa sholat bareng, ngaji bareng, doanya juga bareng, masuk surga juga bareng."
Edsel : "Trus Edsel menikah sama siapa, dong?"
Saya  : "Sama wanita yang baik, yang rajin shalat, rajin ngaji, baik, jujur, berpakaian yang sopan."
Edsel : "Kayak Ibuk dong?"
Saya  : "Lebih baik dari Ibu dong. Makanya Edsel jadi anak yang baik, anak yang sholeh, biar menikah dengan wanita yang sholehah juga."
Edsel :"Kalo Edsel ga bisa milih yang kayak gitu?"
Saya  :"Kan ada Ayah ada Ibuk yang bantu Edsel milihin. Tar nih kalo Edsel jatuh cinta sama wanita, kasih lihat ke Ibuk dan Ayah, biar Ayah dan Ibuk bisa bantu Edsel buat menilai. Kalo menurut Ayah dan Ibuk tidak baik untuk Edsel, ya Edsel harus dengerin kata Ayah dan Ibuk. Kan Ayah dan Ibuk orang tua Edsel. Kalo menurut Ayah dan Ibuk baik, Edsel bisa menikah dengan wanita itu".

(Saya garuk garuk kepala) Duuuh kayak ngobrol sama anak ABG aja niii.


Edsel :" Kalo Edsel menikah dengan Ibuk boleh?"
Saya  : "Gak boleh, Sayang. Kita tidak boleh menikah dengan keluarga, kakak adik ga boleh. Apalagi sama orang tua. Ga boleh banget."
Edsel : "Lha kenapa?"
Saya  :"Allah melarangnya. Lagian kalo menikah dengan keluarga, anak-anak yang dilahirkan nanti bisa tidak sehat. Bisa sakit"
Edsel :"Lha sakit apa, Buk?"
Saya  :"Ya bisa tidak normal, kena penyakit, anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sedarah." (Pemilihan kata saya mulai kacau. Mulai mikir-mikir pemilihan kata dan kalimat yang tepat, sambil mikir akankah berlanjut dengan pembahasan tentang kromosom).
Edsel :"Iya, tapi sakit apa? Pilek? Batuk?"
Saya  : (Masih mikir)
Edsel :"Buk, Ibuk...ini gunungnya Edsel warnai hitam ya?
Saya  :"Lha kenapa hitam? Kenapa tidak hijau seperti di contoh?"
Edsel :"Kata Ibuk kalo mewarnai suka-suka Edsel, ga harus sama dengan contohnya. Kan gunungnya cuma tanah, jadi warnanya hitam."
Saya : "Ooo....iya. Betul-betul" (manggut-manggut sambil merasa bersyukur terselamatkan dari pembicaraan mengenai kromoson perkawinan sedarah. He he he...). 


Note : obrolan di atas sudah saya translate ke Bahasa Indonesia biar lebih mudah dipahami karena saya ngobrolnya pake Bahasa Jawa.

Edsel akhir-akhir ini emang lagi suka ngobrolin tema itu : cinta, menikah, laki-laki dan perempuan. Ya topik-topik dewasa macam itu. Dan jujur saja, ketika ditodong pertanyaan-pertanyaan sejenis itu, saya kadang geragapan. Maka jawabannya pun mungkin tidak sempurna. Karena butuh jawaban yang tidak sekedar benar untuk setiap pertanyaan dari anak-anak. 

Begitulah, selalu ada alasan bagi ibu-ibu untuk khawatir. Khawatir jika kelak anak kita akan dipenuhi berbagai macam pertanyaan kritis_ tentang seks dan lawan jenis misalnya_ dan tidak lari ke kita . Khawatir jika kita tidak bisa mengawal bertumbuhnya titik rawan menjelang dan di awal balighnya. Khawatir ada kompas lain yang di luar Tuhan-nya. Ahh na'udzubillah.

Dan saya pun termenung, terbawa resonansi hujan.

Read More

Monday, 21 November 2016

Panggilan Candu

"Ibu"  adalah mantra yang selalu bisa kau panggil saat lelah dan kalah

Hingga hari ini_setelah 5 setengah tahun menjadi orang tua_ ada satu panggilan yang tetap membuat saya bergetar meski tiap hari selama 5 setengah tahun itu saya mendengarnya setiap hari : panggilan “Ibu”.

Panggilan itu tetap menjadi ring tone favorit bagi telinga melankolis saya.  Entah si sulung Mas Ed atau si keci Akis meneriakkan panggilan itu dengan nada apapun_merengek, riang, manja, merajuk, merayu, atau bahkan dengan marah sekalipun! Saya tetap suka mendengar mereka memanggil saya “Ibuuuu” atau “ Buuukkkk”, atau Akis yang suka sekali mengayun-ayunkan nadanya naik turun “Iiibbbuuukkkk”. Ahhh gemash!

Ketika mereka memanggil saya dengan sebutan “Ibu”, saya seperti mengunyahnya pelan-pelan, mencecap berbagai rasa memenuhi rongga hati saya : syahdu; bangga; dan merasa dibutuhkan, selanjutnya mencernanya dengan perlahan, dan kemudian menimbulkan rasa ‘lapar’ untuk dipanggil “ibu” lagi.

Saya yang ketika dipanggil oleh mereka selalu buru-buru menjawab : “dalem, Sayang” (dalem adalah bahasa Jawa halus yang artinya adalah “saya” atau “iya”) selalu berusaha menjawab dengan nada yang hangat dan enak didengar, meski kadang tergoda juga untuk menambahkan falset tinggi di nada yang terakhir karena didera rasa capek dan stress karena tingginya tingkat beban rutinitas atau atas kondisi tak terkendali.

Dalem, Sayang” memang sudah menjadi 'merk dagang’ bagi saya sejak mereka masih orok hingga Edsel sebesar sekarang dan Akis seumur saat ini dengan harapan mereka juga akan terbiasa menjawab setiap panggilan dengan 'halus' dan enak. Rasanya ada pengikat tak terlihat dalam jawaban saya itu. Pengikat yang hendak selalu saya eratkan kepada mereka setiap waktu agar mereka tidak pernah lupa bahwa sampai kapan pun, mereka tetaplah anak kesayangan saya yang bisa selalu datang ke pelukan saya. Pelukan yang tetap kukuh, meski fisik dikejar rapuh.

“Ibu” adalah panggilan yang terhebat untuk saya. Membuat jiwa saya bergelenyar.
Se-under dog apapun saya di mata orang lain, tapi panggilan “Ibu” telah dengan serta merta menobatkan saya menjadi ratu nomor satu untuk kedua nyawa yang di dalam mata mereka saya berutang bahagia.

“Ibu” adalah panggilan candu untuk saya.
Read More

Monday, 14 March 2016

5 Tahun EIR

Berapa bulan engkau mengayun dia di rahimmu yang hangat?
Berapa bulan kini engkau merengkuhnya di bahumu yang kukuh?

Dengan segala letih yang engkau berikan
Dengan segala menit yang engkau persembahkan
Dengan segala daya yang engkau pertaruhkan

Dia tetap bukan milikmu ....
Dia milik Sang Maha Memiliki

Sungguh engkau hanya diberi waktu untuk meminjamnya
Untuk dijadikan sarana di antara dua : surga atau neraka

Pintu mana hendak kau tuju?


Jika melihat postingan tentang Edsel di umur 4 tahun di tahun 2015 kemarin, maka akan keliatan perbedaannya dengan sekarang. Edsel sekarang berbeda, sudah berbeda. 



Di tanggal 8 Maret kemarin, sulung saya ini berusia 5 tahun. Melihatnya sekarang seperti melihat ratusan frame yang diputar ulang melewati waktu yang tidak mudah, namun membahagiakan. Edsel adalah pertaruhan kami dengan segala teori yang kami yakini, yang seringnya bertentangan dengan orang-orang lain. Jangan lupa, kami tinggal di kampung yang mana sesuatu yang berbeda sering dianggap keliru. 

1. Edsel sudah lebih bisa mengelola emosi. Maka jarang lagi ada suara teriakan dan tangisan yang dulu hampir setiap hari terdengar dari rumah kami. Bukannya sekarang sudah tidak pernah, tapi jarang sekali.

2. Sudah tidak nonton film lagi sebagai syarat untuk tidur malam. Aktivitas nonton ini hanya kami jadikan ritual malam minggu. Di luar waktu itu, tidak ada nonton. Bahkan kalo dia ketiduran karena siangnya tidak tidur, maka dia harus menunggu malam minggu depannya lagi untuk bisa nonton. Ini memang sengaja diatur oleh suami saya karena kegemaran nontonnya Edsel sudah tidak positif lagi. Dia jadi melewatkan permainan lain karena sibuk nonton setiap malam. Kami juga mengkhawatirkan kesehatan matanya juga sih.

3. Jika dulu melihat TV sempat juga jadi hobinya setiap pagi bangun tidur, sekarang tidak ada lagi nonton TV. Alhamdulillah. Ini gara-gara TV kami rusak, dan saya sengaja tidak memperbaikinya. Biar saja. Terus terang saya mengkhawatirkan pengaruh buruk film, meski film anak-anak tapi banyak sekali adegan kekerasan yang ada di dalamnya. Belum iklan-iklan maupun cuplikan film dewasa yang ada di sela-sela tayangan itu. Saya sih berdoa semoga tidak ada orang lain di keluarga saya yang nekat memperbaiki TV rusak ini.

4. Edsel masuk TPA. Lompatan, bener-bener lompatan. Memang jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya Edsel termasuk terlambat. Anak lain udah kapan tauk masuk TPA, tapi Edsel baru akhir-akhir ini. Dan itu atas inisiatif sendiri. Ya sudah lah, kami memang ga pernah memaksa karena pasti dia berontak dan hasilnya pun ga maksimal.



5. Edsel sekolah. Bukan sekolah beneran sih, karena dia cuma ‘kami titipkan’ Uti yang ngajar di TK. Dia cuma mendengarkan, belum  mau ikut mewarnai, menggambar, dan lain-lain. Belum pake sragam karena belum daftar resmi, tapi pake sepatu. Lumayan sih, sudah ada perubahan dari sebelum ikut sekolah.  Ada tambahan knowledge juga.

6. Masih tetap tidak suka menyanyi. Tapi suka berdendang sendiri.

7. Masih tetap suka bermain peran, dengan dia sebagai pembuat cerita. Jalan ceritanya semakin kompleks dari waktu ke waktu.

8. Masih tetap hobi ‘menciptakan’ sesuatu. Entah itu dari balok-balok lego maupun dari plastisin. Dengan bentuk yang semakin bervariasi dan rumit. ‘barang-barang’ ciptaannya ini kemudian akan dibuat cerita. Sampe hari ini sepertinya menciptakan sesuatu dan membuat cerita itu adalah hobinya yang tak lekang oleh waktu.


9. Kalo makan spagheti dia mau makan sendiri sampe titik penghabisan. Bahkan kalo lagi buru-buru, dia tetep ga mau disuapin. Eh kalo nasi dia masih kesusahan kalo makan sendiri.


10. Edsel sekarang lebih sabar, lebih bisa dikasih tahu dan dikasih nasihat. Dia juga sudah lebih ramah pada orang baru.

Pingin banyak update tentang anak-anak di blog ini, tapi waktunya itu lho! Padahal selain banyak hal di atas, banyak cerita tentang Edsel yang bikin kita bangga, terharu, atau malah pingin jambak rambut sendiri. Ahay... .kopi manisku, selamat ulang tahun ya. Jadi anak shalih ya.


Read More

Friday, 17 April 2015

Edsel is Edsel

Pernah tidak rasanya PINGIN teriak sekenceng-kencengnya menghadapi kelakuan anak balita kita? Atau PINGIN marah-marah meluapkan kekesalan kita menghadapi anak yang susah diatur? Atau berbicara dengan nada tinggi sambil membanding-bandingkan dengan anak sebelah yang seolah tanpa cela? Saya pernah (catet ya, cuma PINGIN), bahkan di usia Edsel yang sekarang 4 tahun rasanya kesabaran saya sedang getol-getolnya diuji, terlebih dengan perut membuncit yang sampe rumah aja lelahnya luar biasa. 

Untungnya saya tidak pernah kalap sampe berteriak kencang atau marah-marah dengan durasi yang lama. Tapi kalo berbicara dengan nada tinggi atau marah sepersekian menit sih sekarang malah jadi sering. Dan ujung-ujungnya saya nangis tersedu-sedu, menangisi kelakuan si Ed, menangisi ketidaksabaran saya, menangisi ketidakbisaan saya untuk mengasuh dia 24 jam. Ending-nya saya akan memeluk dia sambil berkata bahwa saya sangat sayaaaangg sekali padanya, dan dia kemudian meminta maaf sama saya, kami akan berpelukan lamaa. Sesudah itu suasana akan kembali mencair, kami bermain bersama, dan di sela-sela main itu saya akan berbicara tentang perbuatannya yang tidak baik beserta akibatnya. Dia setuju dengan kata-kata saya dan selalu mengulang lagi permintaan maafnya dengan sangat-sangat manis dan kembali memeluk saya. 

Setelah itu apa dia akan berubah? Oh tidak!! Kekacauan demi kekacauan akan tetap terulang. 

Biar sedikit saya gambarkan tentang sifat Edsel di usianya yang 4 tahun ini. Biar fair, random aja saya ceritakan, artinya bukan melulu hal yang buruk saja.

1. Edsel itu moody, berubah-ubah suasana hati dalam sesaat. Sebentar tertawa, sebentar kemudian nangis teriak-teriak. Sebentar suka sama orang, sebentar kemudian bete dengan orang itu. Termasuk dengan adik dan kakak sepupunya yang berusia 1 tahunan. Kadang perhatian dan seneng banget main sama mereka. Eh nanti kalo dia main ke rumah lagi, bisa diusir-usir disuruh pulang. Haduuhh...parah banget kan.

2. Sebelum tidur malam dia wajib nonton film di laptop. Ini wajib, makanya jika kami nginep di rumah Uti harus bawa file film. Dan begitu dia suka dengan suatu film maka setiap malam yang dia putar ya itu itu terus, bahkan bisa sampai 2 bulan berturut-turut!! Dia sampai hapal setiap detail ceritanya. Saat ini dia sedang tergila-gila dengan film Frozen. Tanyain deh setiap detail cerita, warna baju, dan lain-lain di tiap adegan. Dia hapal saking seringnya nonton. Kalo filmnya berbahasa Indonesia dia akan hapal dialog-dialognya, namun karena beberapa film favorit dia berbahasa Inggris dia agak susah hapalnya hanya sepotong-sepotong yang dia dengar dengan jelas aja.

Oh iya ngomongin soal film, Edsel ini adalah pecinta film sejati (haha...belagu bahasa emaknya). Maksudnya ketika nonton film, dia akan bener-bener konsen untuk melihat dan mendengarkan film itu dengan sungguh-sungguh. Tidak disambil ngapa-ngapain, kalo terpaksanya harus melakukan sesuatu di tengah-tengah film maka filmnya akan di-pause dulu. Dan jangan harap boleh berbicara sepatah kata pun atau mengeluarkan berisik di dekatnya ketika sedang nonton. Dia takut akan kehilangan sedikit saja dialog atau suara dari film itu.  

3. Mainan sepanjang masanya (paling tidak sampai saat ini) adalah lego. Entah dari umur berapa lego itu dibelikan Ayahnya, sampai sekarang masih tetap menjadi mainan favoritnya. Palingan cuma bentuk-bentuk yang dia susun aja yang berubah dan semakin bervariasi seiring dengan meningkatnya kemampuan.

4. Edsel itu kompetitif. Apa-apa dikompetisikan, dibanding-bandingkan. Membanding-bandingkan kemampuan dirinya atau kepunyaannya dengan teman-temannya. Dia juga hobi membanding-bandingkan antara tokoh film si A dengan si B. Tapi saya agak ngeri dengan jiwa kompetitifnya itu, soalnya Edsel belum siap kalah. Ketika dia menemui kenyataan bahwa dia kalah main ular tangga misalnya, dia tidak bisa terima kekalahan itu. Dia bersikukuh untuk diulang sampe dia menang, atau yang lebih parah dia akan ngambek dan marah. Widdiiihhh...ampun Tuhan.

5. Edsel dicap bandel oleh tetangga-tetangga saya. Kenapa? Karena dia suka manjat pohon, manjat pager, manjat tangga, lari-larian, melompat-lompat, dan aktivitas fisik lain yang memang ga pernah saya larang. Akibatnya teman-temannya suka ikut-ikutan, padahal ibu-ibu mereka ngelarang untuk aktivitas gitu-gituan, takut jatuh, takut panas, takut bahaya. Nah lho, jadinya Edsel itu jadi momok buat ibu-ibu di lingkungan saya karena dianggap biang kerok. Cap bandel itu juga karena sering terdengar suara tangisan atau teriakan Edsel dari rumah kami. Edsel memang ekspresif. Jika tidak suka ya bilang tidak suka, tidak bisa basa-basi. Jika dipaksa akan teriak. Jika emosi akan meluapkan emosinya tanpa mikir malu atau takut dengan siapa pun.

6. Edsel suka sekali dibacakan buku cerita dan atau cerita bergambar. Jika suka dengan suatu cerita, cerita itu akan minta diulang-ulang terus, bukan hanya diulang besok atau nanti. tapi bahkan saat cerita itu selesai, dia akan minta dibacakan lagi dan lagi. Edsel juga sedang senang-senangnya mengerjakan aktivitas di majalah anak-anak semacam Mombi TK, Buncil, atau Bobo Junior.

7. Edsel tidak suka dibantu, bahkan ketika kita anggap dia udah kesulitan pun dia tetap tidak suka dibantu. Dia akan bilang sendiri ketika dia merasa butuh bantuan. Pake sepatu sendiri, pake baju sendiri, habis jatuh bangun sendiri, nyelesaiin puzzle sendiri, benerin mainan rusak sendiri, dan lain-lain. Beda lagi kalo makan, dia masih males makan sendiri. Padahal kalo terpaksa ya bisa juga. Ini pe-er banget ni buat saya untuk memotivasi dia mau makan sendiri. Kalo dibandingkan dengan anak lain mungkin Edsel termasuk terlambat ya mandirinya? Cebok sehabis BAB juga belum bisa sendiri.




8. Edsel belum bisa baca tulis. Memang sengaja belum saya ajarin, dan sepertinya dia belum tertarik tuh. Kalo berhitung sih dia memang suka, bukan karena saya ajarin, tapi memang tertarik sendiri. Tapi untuk mengenali bentuk angka-angka dia belum tertarik. Kalo bentuk-bentuk huruf kadang dia suka bertanya. Tapi hanya sebatas bertanya, ga saya suruh ngapalin juga. Menurut saya ada banyak hal penting lain yang perlu dia pelajari dan kembangkan sebelum usianya 5 tahun ini dibandingkan calistung.

9. Kepala Edsel kerasnya seperti batu. Untuk bisa menerima nasihat harus dengan cara-cara yang lembut dan pake trik. Dan bukan sembarang orang bisa melakukan ini. Untuk saat ini baru Ayahnya dan saya yang bisa meluluhkan si batu itu, itu pun tidak selalu berhasil.

10. Edsel bukan anak yang mau didikte. Dia cenderung semau gue dan punya prinsip sendiri. Jangan harap dia akan mau disuruh-suruh untuk bernyanyi lagu anak-anak populer (macam Balonku, Tukang Pos, dll) atau berjoget layaknya temennya yang lain. Dia lebih suka menyenandungkan soundtrack-nya Frozen atau Ice Age. Nah ketika lagi sendiri atau memang lagi mau, dia akan bersenandung sendiri lagu anak-anak populer itu.

11. Edsel juga bukan anak yang ramah dengan kedatangan orang/anak baru. Kalo misal ada tamu ke rumah kami, dia belum tentu mau untuk salaman atau menyapa. Bahkan dengan saudara yang sudah lama kenal pun belum tentu dia ramah, tergantung mood-nya dia.

Yaahh...pada akhirnya Edsel is Edsel. Dia tidak bisa disamakan dengan anak lain. Dia punya sifat, cara berpikir, dan emosi sendiri. Kadang kalo lagi mikir betapa sulitnya Edsel, saya akan berkata pada suami bahwa kita dikasih Edsel dengan segala sifatnya adalah karena kita dianggap mampu oleh Allah untuk mendidik dia. Ini amanah dan belum tentu semua orang tua sanggup dititipi anak seperti Edsel.

Iih sok wise ya saya? Hehe... Tapi memang begitu lah. Edsel memang bukan anak yang selamanya manis. Tapi saya bangga dan sayaaaangg sekali padanya.

Catatan untuk si Ed : "Bukan maksud Ibuk untuk buka aib kamu di media ya, Nak. Ini hanya sebagai catatan milestone aja, untuk kamu baca kelak".
Read More

Friday, 13 March 2015

3 M = Masa Masa Mesra

Saya adalah penggemar berat lagu-lagu Sherina Munaf masa kecil seperti Pelangiku, Andai Aku Besar Nanti, Dua Balerina, dan yang lain. Sejak dulu, hingga sekarang sudah hampir beranak dua saya masih sering menyenandungkannya. Saya tidak pernah bosan dengan lagu-lagunya karena liriknya yang tidak terlalu sederhana, musiknya yang bikin nyamaaaan banget, juga suara Sherina cilik yang menggemaskan tapi luar biasa merdu. 

Di antara semua lagunya, saat ini saya sedang tergila-gila dengan satu lagunya berjudul Andai Aku Besar Nanti. Ini gegara akhir-akhir ini Edsel mesraaaa sekali dengan saya. Tidur yang biasanya dengan Ayah sekarang harus dikeloni Ibu, makan, mandi, membaca buku, bermain, dan apapun harus dengan Ibu. Tidak boleh tidak ! Jika Ibu ada di rumah, hukumnya fardhu ain untuk melakukan segala sesuatu dengan Ibu. Selain itu Edsel serriinggg sekali tiba-tiba memeluk dan mencium saya sambil bilang, "Ibuku yang cantik". Frekuensi dalam sehari bahkan bisa melebihi hitungan jari tangan. Aduuhh hati saya meleleh seleleh-lelehnya. Belum lagi jika dia terbangun tengah malam. Bibirnya langsung mencium pipi saya dan kembali tidur sambil mengeloni saya. 

Hal-hal kecil seperti itu yang membuat saya mbrebes mili setiap mendengarkan lagu Andai Aku Besar Nanti. Liriknya membuat saya berandai-andai jika itu adalah suara hati Edsel untuk ayah ibunya. Musik yang indah mendayu, dan suara khas Sherina kecil yang kekanak-kanakan tapi serius membuat saya selalu memutar mp3-nya di kantor sambil menambah kadar rindu saya untuk si anak lanang yang saat ini sudah berumur 4 tahun. Hmm...masa-masa mesra ini jangan cepat berlalu ya meski kelak engkau dewasa, Nak.


Andai aku t'lah dewasa
Apa yang 'kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah... Oh...

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu

Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu

Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta

I love you, Ayah... I love you, Bunda...



Read More

Friday, 6 March 2015

Hello Maret !

Bulan ketiga di tahun 2015,...., hello !

Bulan ini masih seperti bulan sebelumnya masih banyak pe-er yang sudah dimulai tapi belum tuntas :
Pencarian freezer second  belum membuahkan hasil. Aduh kenapa sih ngotot beli second ? Ya karna demi pengiritan kaaannn. Lagian makenya juga sebentar. Cuma selama nabung ASI aja untuk si dedek ntar, palingan cuma 2 tahun. Sayang kan kalo beli yang baru.

Trus masih hunting juga tempat lahiran yang pas di hati dan mau terima BPJS, kan sayang tiap bulan potong gaji untuk BPJS tapi ga bisa kepake. Nanti pake acara mboyong si Ed juga ke RS selama lahiran, jadi emang lebih ribet daripada lahiran pertama dulu karena yang sekarang musti mempertimbangkan faktor kenyamanan dan jarak ke rumah juga. Sejauh ini sih udah ngincer 2 RS, mudah-mudahan pilihan saya ga salah.

Masih ada lagi : skripsi yang baru berbentuk proposal yang sudah 3 kali revisi dan masih juga dikembalikan (uff...).

Little  gears pegimane? Haha...ini ga masuk dalam daftar pe-er yang sudah dimulai. Anak kedua ini agak lebih santai sih dan ga terlalu napsu untuk belanja perlengkapan bayi. Selain karna udah pernah mengalami euforia belanja little gears pas jamannya Edsel, juga karena demi penghematan karena ada barang-barang Edsel yang masih bisa dipake. Kemarin udah bongkar-bongkar lemari, sebagian besar sih udah dilungsurin ke sodara yang punya bayi, tapi sebagian lain masih bisa dipake dan masih lumayan banyak. Rencana tar aja bulan-bulan ke 8 atau 9 beli yang masih diperlukan. 

Ternyata enaknya punya anak dengan jarak yang ga terlalu jauh adalah bisa hemat #emakirit. Haaha.. Popok-popok; celana; baju bayi; selimut; sarung tangan dan kaki; bak mandi;, kain jarit; kain bedong; diaper bag; bantal guling; berbagai wadah/toples untuk penyimpanan ( untuk tempat kapas bulat, first aid, dan lain sebagainya ), gurita ibu melahirkan, masih lumayan kondisinya. Trus peralatan ASI ( breast pump, botol kaca ASIP, cooler bag, dan ice gel ) yang harganya lumayan ga murah (menurut kantong saya) masih oke banget untuk dipakai. Juga alat-alat MPASI masih saya simpan dan bisa dipake dengan baik. Dulu waktu membeli alat-alat ini saya memang berpikir bahwa alat ASI dan MPASI bisa dijadikan investasi untuk anak kedua sih, jadi ga ragu beli yang agak bagus sekalian.

Kerjaan kantor ? Alhamdulillah udah bisa bernafas sih. Udah ga terlalu berat dan bertumpuk kayak kemarin-kemarin. Malah sekarang gayanya udah mulai ngajarin dan bagi tugas ke temen dikit-dikit biar nanti pas saya cuti ga kalang kabut.

Yeah...itu lah pembuka Maret kali ini. Oh iya, Edsel tanggal 8 nanti ulang tahun lho. Dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ga ada tradisi perayaan di keluarga kami. Biasanya cuma main ke mana gitu yang agak jauh, tapi berhubung Maret kali ini intensitas hujan masih banyak dan perut ibunya juga kadang udah bikin sesak nafas, jadi nanti mau bagi-bagi makanan aja ke temen-temennya. Yes, kami memang keluarga yang sederhana. Hehe...


Read More

Tuesday, 24 February 2015

Resep - resep Gila

Sejak habis sakit, si Ed punya selera makan yang bikin geleng-geleng kepala. Makan besar 3 kali sehari dengan kadang masih nambah piring. Di sela-sela waktu makan masih minta camilan 2 sampai 3 kali. Mau tidur malam juga nagih camilan.

Nah karena saya sudah kehabisan ide resep yang waras, dan karena si Ed juga gampang bosen dengan resep yang sering diulang-ulang makanya kami berdua sering bikin resep yang asal campur, tanpa takaran, tanpa mematut-matutkan antar bahan, dan hanya melihat ketersediaan bahan yang ada di kulkas. Idenya juga spontan nyelonong begitu aja ketika Edsel lagi pingin makan atau ngemil. Dan seringnya idenya malah dari Edsel sendiri. Dia yang kadang mencetuskan ide kalo buah naga potong ditaburi meises; atau roti tawar disobek-sobek dan dimasukkin ke susu UHT biar kayak sup; atau tempe yang ditusuk-tusuk dan dikasih topping kecap, saus, dan merica; atau ide-ide lain yang kadang ga kepikiran di saya. 

Ide-ide Edsel memang sederhana dan saya sebenarnya agak jijik melihatnya (haha...) tapi saya anggap ini sebagai bagian dari proses belajarnya menciptakan sesuatu di tengah keterbatasan, membuat sesuatu bisa enak dimakan dari bahan yang tersedia. Nilai plusnya, Edsel makan resep-resepnya itu dengan lahaaappp. 

Nah sekarang ga hanya saya dan Edsel aja yang sering bikin resep-resep spontan yang gila, Ayahnya juga ketularan sering masak. Mungkin karena kasian jika malam-malam saya harus klontengan di dapur dengan perut yang makin besar. Thanks Ay, you are super husband. 

Resep andalan Ayah adalah pizza roti. Ini gegara Edsel terobsesi dengan Ninja Turtles yang hobi makan pizza, makanya Ayah bikinin pizza ala dia. Biar pun namanya pizza tapi bahannya cuma roti tawar yang dipotong betuk bulat, dioles margarin, dipanggang di atas teflon, dan dikasih topping sosis dan keju. 

Atau tadi malam ketika Edsel udah gelisah pingin ngemil, Ayah bikinin pisang coklat keju. Bahannya cuma buah pisang matang, dioles margarin, dipanggang di atas teflon. Setelah mateng, dikasih selai coklat, keju parut, dan ditaburi meises. Jangan ditanya lahapnya Edsel yaaa.

Pisang coklat ala Ayah


Kali lain saya ajak Edsel untuk bikin sandwich yang bahannya cuma roti tawar yang diisi dengan telur mata sapi, keju cheddar, dan saus tomat. Atau buah pir dan buah naga potong yang dicampur dengan madu. Hmmm...Edsel sukaaaa sekali. 

Resep-resep kami memang sederhana dan terkadang gila. Tapi dari kegiatan menciptakan resep dan mengolahnya, saya ajarkan banyak hal untuk Edsel. Tentang menciptakan ide di tengah keterbatasan, tentang proses yang harus dilalui untuk mendapatkan sesuatu, tentang asal mula bahan-bahan yang kami gunakan, dan masih banyak lagi. 

Dan satu lagi kebahagiaan tak terkira saya, setiap saya memasak untuknya, Edsel selalu memanggil saya : "chef-nya Edsel"!


Read More

Wednesday, 18 February 2015

Karena Kami Terlalu Sombong

Hanya ingin menulis marathon saja tanpa banyak mikir. Ini postingan yang terlambat di tanggal 8 Februari kemarin.

Si Ed demam dari Minggu siang dan baru turun di hari Selasa pagi dengan keadaan yang lemes dan batuk-batuk parah. Belum ada 72 jam sebenarnya, dan belum ada kondisi yang memenuhi syarat untuk dibawa ke RS. Aduuh...tapi saya udah panik karena si calon kakak ini tidak mau makan dan minum. 

Meski kondisinya mengerikan tapi belum ada tanda-tanda dehidrasi berat. Saya yang biasanya bisa berpikir rasional ketika Ed sakit, tetiba jadi irasional. Karena apa? Karena saya lagi hamil dan karena maraknya kasus DB saat ini sempurna membuat irasional saya menggandakan diri berkali-kali lipat. Dengan saran dari keluarga kiri kanan, tanpa berpikir panjang saya langsung telpon ke RS swasta di Solo Baru pesen nomor antrian untuk konsultasi dengan salah satu DSA.

Dan hari Selasa tanggal 10 Januari 2015 itu pun menjadi saat yang bersejarah untuk Edsel karena itulah pertama kali di seumur hidupnya dia dibawa ke RS untuk diperiksa DSA. Dan itu lah saat pertama kali dia berkenalan dengan jarum, dengan tes darah, dengan obat, dan serangkaian pemeriksaan lainnya yang melelahkan lainnya di rumah pesakitan. Juga itulah saat pertama kali dalam hidup saya manut apapun yang dikatakan dokter, tanpa bersikap kritis, tanpa protes, dan tanpa penentangan. 

Anak kesayanganku yang cuma diem anteng, ga nangis, ga meringis, ga teriak ketika diambil darahnya. Luv u boy....

Rabu dini hari Edsel mulai demam lagi. Oh maigat...demamnya berangsur naik tanpa basa-basi, tubuhnya juga lemes. Tidak mau makan sama sekali, minum juga hanya sedikit-sedikit. Kali ini saya balas dendam, tidak mau panik dengan mengabaikan akal sehat. Saya observasi terus keadaannya dengan lebih jeli. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi meski demamnya berada di kisaran 39,5 dercel ditandai dengan pipis yang masih normal meski tidak sesering biasanya, bibir juga ga kering, dan mata ga cekung, jika kulitnya dicubit juga segera kembali ke semula. Okay...ni anak tidak perlu dibawa ke RS lagi, cukup dijaga asupan cairannya untuk mencegah dehidrasi.

Rabu malam kebetulan udara sangat sangat dingin, ditambah dengan hujan deras ga henti henti dari siang membuat batuk Ed kian parah, suhu tubuhnya juga manteng di angka 39,8 dercel. Dengan batuk yang seperti itu dan demam yang tinggi membuat Edsel ga bisa tidur, padahal 2 malam sebelumnya dia juga sudah terjaga semalam suntuk karena demam. Alhasil, proses sembuhnya juga lambat.

Sampai Kamis malam Jumat si Ed masih lemes dan belum mau makan, tapi minum udah lebih mendingan dari sebelumnya. Dia juga udah nonton film Padlle Pop setelah hari-hari sebelumnya cuma maunya merem aja. Suhu tubuh masih di angka 39,1 dercel. 

Jam 9 malam suhu tubuhnya di angka 38,8 dercel, alhamdulillah udah turun meski masih tergolong demam. Tidurnya pun udah pules tanpa terbangun meski diselingi batuk-batuk kecil. Paginya.....taraaaa.....si anak bawang ini udah seger, udah bangun sendiri dari tempat tidur, suhu tubuh normal, udah banyak omong, dan udah request mau sarapan apa. Habis mandi juga udah ribet minta main, meski masih lemes dikit. 

Alhamdulillah....finally...

Hmm...dalam rentang waktu 3 minggu ini Edsel udah 2 kali sakit. Sepertinya ada yang salah. Mungkin saya terlalu sombong, terlalu pede menganggap Edsel jarang sakit sebagai keberhasilan saya dalam merawatnya. Padahal Allah yang membuat Edsel senantiasa sehat dan belum pernah 'tersentuh' obat serta RS. Bukan saya atau ayahnya. Kadang kami lupa bahwa usaha kami menjadi orang tua yang smart hanyalah perantara, perantara ilmu-Nya, perantara penjagaan-Nya terhadap Edsel. Kami lupa mengingat itu. Kami terlalu sombong.
Read More

Friday, 9 January 2015

His First Pet

Saya tidak terlalu antusias ketika beberapa minggu yang lalu Edsel membeli 3 ekor ikan bersama ayahnya. Ah palingan ntar juga bosen sendiri, soalnya Edsel memang sedikit banyak mirip-mirip saya yang ga terlalu tertarik dengan hewan peliharaan. 

Ikan kecil-keciiil banget, dengan warna dan bentuk yang ga menarik. Harganya juga murce, 3 biji cuma lima ribu perak. Tiap hari ikannya diobok-obok, dipegang-pegang, diangkat-angkat. Kata Edsel itu tanda dia sayang sama ikannya, pengganti peluk cium katanya. Tiap pagi, siang, dan sore Edsel rajin kasih makan ikannya, ga pernah lupa. Saking perhatiannya, makanan ikan yang bulet-bulet kecil itu dihancurin dulu biar gampang dimakan ikan karena_masih menurut Edsel_ ikannya itu susah nelen kalo makanannya dikasih utuh. Bener ato ga nya saya juga ga tahu. Hehehe....  Tiap 3 hari sekali, air dalam toples (iya, cuma ditaruh dalam toples bekas karna kami ga punya akuarium, hehehe.....) diganti. Bahkan ketiga ikannya itu dikasih nama : Egbert, Chelly, dan Yoko. 

Lihat, betapa sederhananya akuarium abal-abal ini. Sengaja sih biar Edsel belajar belajar untuk memanfaatkan barang yang ada dulu.


Beberapa hari yang lalu ketika saya pulang kantor, Edsel kasih laporan kalo 2 ikannya mati, yang masih hidup tinggal satu. Nah dari situ kami bisa kasih nasihat kalo ikannya bisa sakit kalo dipegang-pegang, terus lama-lama bisa mati, kasihan. Kalo Edsel sayang, biarin ikannya berenang bebas di toples. 

Kehilangan 2 ikan itu sih ga bikin Edsel terlalu sedih, tapiiii dia makiiiin perhatian dengan ikan yang tinggal 1 ekor itu. Bentar-bentar ditengokin, diperiksa airnya udah kotor apa belum, dikasih liat ke semua orang (Edsel punya kebiasaan menceritakan semua hal yang menyenangkan ke semua orang), pokoknya bener-bener merasa memiliki deh. 

Nah tadi malam_seperti biasa_ Edsel nengokin ikannya dan berseru giraaaanggg sekali. Ikannya bertelur dan menetas. Edsel takjub melihat anak ikan yang banyak berenang berseliweran kesana kemari. Mungkin jumlahnya sekitar 20-an ekor. Tadinya saya yang lagi makan ga terlalu percaya ketika Edsel memanggil-manggil saya sambil bilang kalo ikannya punya anak. Saya pikir dia cuma salah liat atau hanya berimajinasi. Tapi ternyata beneran. Oh jadi ikan yang tinggal 1 ekor itu, yang kata Edsel namanya Chelly, perutnya selama ini gendut karena hamil, bukan karena bentuknya memang buncit. 

Subhanallah saya haru sekali melihat betapa mata Edsel tampak sangaaaat bahagia. Dan cerita 'kelahiran' itu pun langsung dia sebarkan kepada semua orang yang dia temui sambil menunjukkan bayi-bayi ikan yang ukurannya bener-bener kecil itu.

Sejak kehadiran 'anggota keluarga' kami yang baru itu, saya jadi berpikir bahwa kegiatan Edsel memelihara hewan kesayangan merupakan hal yang positif. Edsel jadi belajar disiplin untuk kasih makan dan mengganti air, Edsel jadi belajar tentang tanggung jawab, Edsel jadi belajar tentang kasih sayang. Maka saya memutuskan untuk terlibat juga biar dia makin semangat. Yaahh meskipun nanti dia bisa bosan juga dengan 'hobinya' kali ini, tapi paling tidak sudah ada hal positif yang dia dapat.

Nah saya jadi berpikir juga untuk mencarikan Edsel toples yang lebih gede karena sekarang kan penghuninya sudah bertambah. Atau beli akuarium sederhana saja biar kalo Edsel udah bosan pelihara ikan, kami ga rugi? Hahaha....
Read More

Thursday, 8 January 2015

Rindu

Rindu adalah sesuatu yang kau selipkan di sela-sela kalbu
Menggerayangi logika
Menelanjangi kesombongan
Menitipkan kencan manis pada pendar-pendar mata
Meracuni mimpi dengan batas-batas kabur


Ibu rindu Nak ……

Tata Pemerintahan room : 11.27 pm
Read More

Thursday, 18 December 2014

Mendefinisikan Edsel



Edsel adalah tentang  semua hal yang kusebut cinta
Edsel adalah separuh ruh yang lebih berat kadarnya dibanding separuh ruh yang lain
Edsel adalah isak tangisku yang tertahan di setiap ketakutan, rasa khawatir, penyesalan, dan kerinduan
Edsel adalah senyumku tanpa beban, tawa tanpa risau
Edsel adalah penyunting kebahagiaan tanpa permisi
Edsel adalah tambahan menit-menit doa di setiap simpuh sujud

Edsel lebih nikmat dari secangkir kopi, sepotong  coklat, dan novel Sherlock Holmes



3 Tahun 9 Bulan

Dia masih tetap berpipi gembil dengan rambut yang hitam dan sedikit kaku

Dia suka bertanya membanding-bandingkan banyak hal : antara kekuatan Tyrex dan Krisna, kekuatan Ayah dengan dirinya, lebih besar mana sandalnya dengan sandal Najwa (teman mainnya), kuat mana antara Casper dengan Bima, dan semua hal lain yang ingin dia bandingkan. Suka-suka dia.

Dia masih suka dengan dinosaurus, dengan favoritnya tetap Tyrex.

Dia penyuka tokoh antagonis di setiap dongeng, cerita, dan film.

Dia tidak lagi menolak ketika di foto atau direkam

Dia masih tetap berkeringat asem

Jika mandi masih sulit untuk diguyur wajahnya.

Coklat masih menjadi makanan kesukaannya 

Tidak makan permen lagi meskipun pingiiiiinnnya sampe ke ubun-ubun

Rutin gosok gigi sesudah makan dan sebelum tidur, meski mata sudah berat mengantuk

Mood-nya sering berubah tiba-tiba. Sekarang lagi ketawa-ketiwi, 5 detik kemudian jadi monyong kesel

Tantrum ? Never !




Read More

Thursday, 13 November 2014

Edsel Ingin ke Alaska

Alaska

Wakakak...kalo orang lain yang denger mungkin ngakak kalo Edsel bilang pingin ke Alaska. Mustahil banget kan kedengarannya ? Emak bapaknya cuma pegawai rendahan, trus ga juga bakalan dapat warisan yang geday dari moyang. Tapi kalo Edsel bilangnya ke saya? Saya cuma tersenyum sambil bilang, "Amiinn, kalo Edsel pintar insya Allah kita bisa ke sana".

Edsel emang sering gitu, suka punya keinginan yang aneh-aneh. Yang kadang bilang pingin ke Alaska, kadang bilang pingin ke Afrika biar liat ular Mamba Hitam, ato kadang pingin nyobain makan daging Tyrex, dan macem-macem lainnya. Dan keinginan anehnya ini konsisten, bukannya hari ini bilang terus besok lupa. Dia akan terus ngulang lagi besoknya kalo ingat. 

Ga terhitung lagi orang yang nyengir, ketawa, ato malah histeris dengan keinginan ga umumnya itu. Tapi menurut saya bukankah anak seumuran Edsel memang suka berimajinasi? Dia sering nonton film atau membaca buku (membaca di sini maksudnya membuka-buka buku ya, atau kami yang bacakan karena Ed memang belum bisa membaca) tentang hal-hal yang nun jauh dari logika seperti itu. 

Sejauh ini saya menganggapnya masih normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya ambil sisi positifnya saja bahwa Edsel pintar berimajinasi, bukankah ini hal yang bagus untuk anak-anak? Dan itu bisa sebagai pelecut dia dan kami orang tuanya (yaa siapa tahu saja kelak Edsel bisa ke Alaska beneran, hehehe....)
Read More

Thursday, 18 September 2014

Drama Pagi Hari

Sudah tiga minggu belakangan, Edsel selalu rewel tiap saya tinggal bekerja. Rewelnya ga kira-kira, dimulai dari merengek membujuk-bujuk saya untuk ga berangkat kerja, kemudian berlanjut dengan memohon-mohon minta ikut ke kantor, setelah itu memeluk kaki saya sambil nangis-nangis kecil, dilanjutkan dengan menangis beneran, trus banjir air mata dengan teriakan kenceng, dan ending-nya berlari mengikuti motor saya. Haduuhh....hati saya pilu piluuuuuu demi melihat anak semata wayang seperti itu setiap pagi.

Jika dirunut ke belakang, Edsel bukanlah anak yang sulit ditinggal pergi oleh Ayah Ibunya. Asalkan kami pergi dengan ritual pamit ( jabat tangan, cium pipi kanan kiri, cium kening, cium bibir, peluk) maka sampai seberapa lama pun kami pergi akan dia ikhlaskan dengan senyum paling manis. Tapi entah kenapa sekarang jadi berubah dengan tiba-tiba seperti itu.

Kadang saya introspeksi diri, apakah ada yang berubah dari kasih sayang saya kepadanya. Rasanya tidak. Saya masih tetap menemaninya bermain, baca buku, makan, mandiin, tidur, jalan-jalan pagi, bahkan masak pun bareng Edsel. Masih sama seperti dulu, bahkan lebih. Lantas apa gerangan penyebabnya?

Jika itu karena usia dia yang semakin bertambah sehingga membuatnya sudah bisa keukeuh mempertahankan keinginan untuk terus bersama ibunya, itu masuk akal. Dia merasa nyaman dengan saya, jika kenyamanan itu diputus oleh 'waktu bekerja' dia tidak rela. Dan dia memilih untuk mempertahankan zona nyamannya itu alih-alih menerima kondisi lain. Itu hanya dugaan saja.

Atau bisa juga dia rewel karena 'tertular' dari pikiran saya yang juga lagi rusuh. FYI, sebulan terakhir ini saya lagi ada PR yang lumayan menguras pikiran, energi, dan uang tentu saja. Hal ini juga masuk akal karena dari artikel yang pernah saya baca kalo anak di bawah 7 tahun itu masih terkoneksi dengan perasaan ibunya. Jadi kalo ibunya bete, anaknya juga ikut uring-uringan.

Cara yang pernah saya coba tak ada yang membuahkan hasil. Dimulai dari iming-iming hadiah jika dia tidak menangis, mengajaknya jalan-jalan tiap akhir pekan untuk 'merapel' kebersamaan kami, atau menyisipi nasihat dengan cara menyenangkan ketika kami bermain. Si Ed tidak tergoda, dia tidak mempan hadiah, dia tidak ingat janjinya untuk tidak menangis. Nihil. 

Dan setiap pagi pun selalu saya awali dengan drama yang mengiris hati ibu mana pun.
Read More

Friday, 11 July 2014

Catatan Hari Ke-dua belas

Jika belum tau rasa bubur dengan lauk es krim, mungkin bisa bertanya pada Edsel. Setelah jatuh dengan hasil bibir monyong dan mulut yang terluka kemarin, Edsel ga bisa makan yang kasar-kasar. Makanya saya bikinkan bubur beras yang encer biar mulutnya ga perih. Setelah sekian lama ga makan bubur, ternyata Edsel emohhhh bubur. Bubur beras terakhirnya ketika MPASI usia 1 tahun-an kalo ga salah. Dan sekarang dia jijik dan ga doyan. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya mau juga sesuap dua suap, dan kemudian emoh lagi. Maunya malah makan es krim yang kami beli pagi-pagi di pasar ketika saya ajak dia berbelanja. Saya larang dia makan es krim sebelum bubur ini habis. Minimal setengah mangkuk aja karena kemarin udah ga makan apa-apa, perutnya kosong.

Daannn....si anak Ayah ini mulai menawar. Dia mau makan bubur tapi lauknya es krim boleh ga? Oke deh anak sholeh, boleh, boleh kok, boleh banget yang penting mau makan. Ternyata bubur es krim ini enuaakkk kata si Ed. Dari yang tadinya ga doyan, jadi nambah 2 mangkuk lagi. Ya ampuunn ni anak balas dendam karena kemarin ga makan apa-apa kali ya? Saya sih ga puasa, tapi ogah kalo disuruh nyicipin. Ogah banget deh. Bubur dicampur es krim?? Hoek! Ayahnya yang liat juga cengar-cengir dengan tatapan yang bermakna : MENJIJIKKAN.




Makan siang dan makan malam Ed masih pake bubur dengan lauk ikan dan telur yang dicincang. Jangan ditanya makannya seberapa banyak ya. Banyaakk banget dengan acara nambah pula. Bener-bener deh Edsel balas dendam.

Tarawihnya dong diacungi jempol. Kata Ayahnya Edsel ikut shalat dari awal sampe selesai. Iyah dari shalat sunnah tahiyatul masjid sampe witir. Prok prok prok!! Sampe rumah langsung berlari mencari saya dan pamer banyaknya shalat yang dia lakukan. Apa pasal? Uti janji kalo Ed shalatnya banyak akan dikasih hadiah coklat. Makanya setelah itu kita langsung ke rumah Uti untuk nagih hadiah yang dijanjikan itu. Yayayaya......gapapa deh, untuk penyemangat.

Read More

Wednesday, 9 July 2014

Stick Putri Salju

Kenapa saya jarang banget posting resep? Karena saya malas menjepret step by step-nya. Saya juga malas mengambil gambar hasil akhirnya karena sebelum difoto biasanya udah masuk mulut Ed duluan. Padahal resep tanpa picture pasti ga menarik dong, susah dibayanginnya. Lagipula masakan saya juga ga spesial, seringnya malah dimodif sendiri karena keterbatasan bahan dan alat.

Nah hari ini tumbenan pingin posting resep. Ke dapur bawa camdig, bentar-bentar ambil foto. Sebelum bikin adonan difoto, Edsel lagi marut keju juga difoto, niat banget dah. Soalnya sekarang kalo masak seringnya dibantuin Ed. Jadi itung-itung biar buat dokumentasinya dia deh.

Ed semangat banget tiap diajak masak

Netbook wajib dibawa ke dapur untuk contekan resep. Maklum yah,  ga punya tablet.
,
Ini resep saya ambil dari website-nya Blue Band, tengok-tengok sana deh banyak resep kue kering yang menarik tapi gampang. Ada juga video step by step-nya jadi kita ga perlu susah-susah ngebayanginnya.

Adonan Stick Putri Salju:
  • Blue Band Cake & Cookie
    175 gr
  • Gula halus
    75 gr
  • Kuning telur
    2 butir
  • Tepung terigu serbaguna, ayak
    250 gr
  • Baking powder
    1/4 sdt
  • Tepung maizena 
    50 gr
  • Keju cheddar, parut
    50 gr
  • Keju edam, parut 
    75 gr
  • Kacang Almond, sangrai, tumbuk kasar
    50 gr

Hiasan
Cokelat masak putih, lelehkan            300 gr
  • Kacang Almond, cincang kasar, sangrai 
    100 gr
  • Gula Halus, ayak 
    50 gr
  • Berbagai variasi topping sesuai selera, seperti: meses, trimits, dll


CARA MEMBUAT

Adonan Stick Putri Salju:

  1. Kocok Blue Band Cake & Cookie dan gula halus hingga lembut. Tambahkan kuning telur, kocok rata.
  2. Masukkan tepung terigu dan baking powder. Aduk rata.
  3. Tambahkan sisa bahan, aduk rata.
  4. Giling adonan dan potong memanjang 10 x 1 cm.
  5. Panggang adonan yang telah berbentuk stick tersebut ke dalam oven bersuhu 180⁰C selama ±15 menit. Dinginkan.
  6. Celup ujung stick ke dalam cokelat leleh. Hias dengan kacang atau sesuai selera.
  7. Taburkan gula halus yang telah diayak di bagian yang tidak dicelup cokelat. Sajikan.
Itu resep versi aslinya, tapi beberapa sengaja saya modif :
  • Saya ga punya timbangan kue, jadi berat bahan cuma saya kira-kira aja.
  • Saya ga pake keju edam dan kacang almond karena ga punya.
  • Saya juga ga pake penggiling kue. Adonan cuma saya tekan-tekan aja dengan telapak tangan.
  • Hiasan coklat lelehnya ga pake coklat putih, tapi yang coklat blok warna coklat. Edsel lebih suka yang warna coklat, dan buat saya coklat itu mantepnya ya warna coklat.
  • Karena saya cuma punya oven tangkring (itu lho oven yang cuma ditangkringin di atas kompor dan ga ada alat pengatur suhu) maka manggangenya cuma saya kira-kira aja. Pake api kecil dengan waktu kurang lebih 20 menit. 
  • Setelah mateng ga saya taburi dengan gula halus biar Ed ga kebanyakan makan gula lagi. Cukup dihias dengan coklat leleh dan taburi toping di atasnya.
Ini hasil akhirnya setelah dicelup coklat dan ditaburi toping

Meski ga sesuai dengan resep aslinya tapi rasanya tetep enak lho. Kalo semua bahan dan alat ada memang lebih enak ikut resep asli, tapi jika tidak be creative aja. Yang penting bisa dimakan, hehehe... 
Read More

Tuesday, 8 July 2014

Catatan Hari Ke-delapan dan Ke-sembilan

Makin pemalas ni, nulisnya dirapel mulu. Tapi sebenarnya bukan males sih ya, tapi karena emang baru sempet. 

Hari ke-delapan
Hai, apa kabar dengan hari ke-delapan?

Es krim ala chef Ed

  • Ini tumbenan hari Minggu ga di tempat Uti. Ayah maunya besok aja hari Senin katanya, sekalian pulang dari sekolah karena si Ed mau ikut ke sekolah Ayah.
  • Kita bikin es krim lho. Gyahaha....es krim abal-abal tapi. Lah wong ga ada krimnya sama sekali. Jadi ni cuma jus buah tuangin ke cetakan es krim, trus ada yang kita variasiin dengan ditambah coklat bubuk dan susu kental manis. Ada juga yang cuma yoghurt cair kita tuang gitu aja ke cetakan. Masukin freezer, beku, udah gitu doang. Enak ga? Nah buktinya Edsel doyan. Dalam tempo sehari habis 5 stik. Rasanya pasti sama aja dengan versi cairnya, tapi sensasi megang stik es krimnya itu yang bikin Ed suka. Apalagi dia ikut bikin, waahh jaminan kalo pasti kemakan deh. Tapi yang dicampur dengan coklat bubuk bikin saya hoek-hoek. Ini emang saya yang dodol. Itu coklat cuma saya campur doang dengan air dingin dan susu kental manis. Terang aja rasanya kayak tepung mentah, hambar dan 'nggilani'. Mungkin seharusnya dilarutkan dulu dengan air panas biar mateng.
  • Hari ini setelah beberes rumah, acara kita cuma main-main. Main dinosaurus-dinosaurusan, masak-masakan, main bola, corat-coret. Hari ini malah ga buka buku sama sekali, ga main sepeda juga.
  • Edsel makannya banyak banget. Pagi sarapan dua piring, siang dua piring, sore dua piring juga. Nugget nih biang keroknya dia makan sebanyak itu.
  • TPA-nya telat lagi. Jadi ketinggalan acara jalan-jalan deh (tiap hari Minggu ada acara jalan kaki keliling kampung dengan rute tertentu).
  • hari ini kerjaan saya banyak dibantu Ayah, banyaaakk sekali. Thanks to Ay. Walaupun sering Ibuk bilang kalo ilmu komunikasimu nilainya C, tapi ilmu ringan tanganmu patut dapat nilai A plus, eh A aja ding.
  • Tarawihnya sama Ayah. Manis dan tanpa kendala

Hari ke-sembilan
  • Hari pertama di minggu kedua. Senin jadi pembuka minggu yang sendu. Memang beberapa hari terakhir ini cuaca di Gunungkidul sendu. Mendung, tapi ga hujan. Berangin tapi ga kenceng. Seumpama anak gadis, cuaca bulan puasa di sepuluh hari pertama ini jinak-jinak merpati. Thanks God, cuaca seperti ini menjadikan kami lebih mudah menjalani ibadah puasa. 
  • Pimpinan yang baru belum datang. Padahal udah penasaran aja kayak apa beliau-nya. Jangan-jangan merasa neg punya staf yang banyak omong macam saya.
  • Rapat pembentukan panitia HUT RI ke-69. Uff...benci sekali rapat kegiatan sosial di jam-jam pagi begini. Bukan apa-apa, tapi kerjaan utama saya jadi ke-pending dong.
  • Pulang langsung ke tempat Uti menyusul anak dan suami yang udah di sana.
  • Sebelum bobo, Ed gosok gigi 4 kali. Modusnya :  makan trus gosok gigi, trus makan lagi biar gosok gigi lagi, dan terus begitu. Ada apa sih? Odolnya baru! 
  • Sebelum bobo malah minta pulang ke rumah. Ada apa lagi? Laptop ketinggalan di rumah, jadi ga bisa nonton film kesayangannya. Jam 9.30 malam kami berduyun-duyun pulang. Ay dan Ed naik motor. Saya naik apa coba? Sepeda gunung dengan berpakaian seragam kantor, bawa tas ransel, dan make sendal Ayah. Kayak orang ga waras deh kalo dilihat.
Udahan ya, besok disambung lagi. Mudah-mudahan tidak ada aral-melintang biar catatannya ga acak-adul.



Read More

Saturday, 5 July 2014

Catatan Hari Ke-enam dan Ke-tujuh



Borongan ya catatannya. Ini juga sempet nulis karena si Ed udah bobo cepet, biasanya paling cepet jam 22.00 baru tidur.

Hari ke-enam 

  • Hari ke-enam puasa, hari Jumat, ga ke kantor karena ada rapat di Kepatihan. Tadinya udah ngebayangin kalo perjalanan pasti panas banget, apalagi cuma naik motor, tapi ternyata mendung dan ga hujan. Jadinya sejuk, enak buat jalan. Alhamdulillah. Tambah seneng lagi karena ga perlu bawa motor sendiri, tapi diboncengin temen. Aihihi.. Dianter temen tidur maksudnya, babe-nya si Ed. Ini berkah puasa kali ya, soalnya baru kali ini rapat dianterin, biasanya pan harus mandiri. Hehehe...
  • Ya nama pun sama suami ya, sekalinya pergi berdua ga mungkin ga, pasti mampir-mampir. Selesai rapat dan shalat Jumat, (niatnya) cuma mampir bentar ke Progo. Mau beli taplak meja dan beberapa kebutuhan harian. Tapi akhirnya jadi keterusa beli mainan si Ed, beli tempat minum, beli wadah sepatu, beli ini, beli itu. Dan sebagaimana layaknya saya, kalo milih ya pasti lama karena pake menimbang dan mengingat, baru memutuskan. Menyesal ? Tidak. Karena semua memang barang yang memang seharusnya dibeli kok. 
  • Alamaaak... sampe rumah badan rasanya remuk-redam, udah hampir Isya' pula. Ga tarawih ke mesjid dulu ya, Nak. Besok lagi deh, besok. Oke? Aih, anak jejaka saya ini emang kesayangan jiwa deh. Ditinggal emak babenya seharian ga rewel, ga ngrepotin orang rumah yang dititipin. Bahkan ketika kami sampe rumah, langsung disambut dengan peluk dan ciuman bertubi-tubi sambil bilang : "Edsel sayang Ayah, Edsel sayang Ibuk".  Hiyaa hatiku menghangat dan kemudian meleleh tanpa ampun. Cinta sama kamu, Nak. Selalu.
  • Mandi, shalat, makan. Habis ngurus diri sendiri, langsung kruntel-kruntelan dengan si peleleh hati sambil ga ketinggalan liat Ice Age, eh bukan ding, malam ini ganti nonton Walking with Dinosaurs The Movie. Belum selesai filmnya, dia udah ga ada suaranya, pertanda : merem. Waktu menunjukkan pukul dua puluh dua we i be.

Hari ke-tujuh
  • Libur. Selalu suka dengan libur di hari Sabtu deh, berasa lama bisa berkumpul dengan anak dan suami.
  • Liburan di rumah memang selalu banyak yang ingin dikerjakan. Bersihin ini itu, rapihin ini itu, nyuci ini itu, dan main ini itu sama si Ed. Tapi selalu ya, puasa di hari libur selalu ngantuk di jam-jam kritis, jam 11-an. Arggh... 
  • Gegara ngantuk ini, saya jadi salah ambil keputusan. Aturannya kalo siang si Ed ga boleh muter film, siang itu waktunya main. Karena ngantuk tak tertahankan saya ajak Ed muter film, niatnya sih biar saya bisa ikutan merem barang sebentar aja. Eh tapi keputusan ini saya sesali sesesal-sesalnya. Besok-besok Si Ed bisa aja jadi sering minta untuk muter film kalo siang. Tadi aja dia kayak ga percaya gitu saya ajak nonton, girang sekali. Bener-bener deh, saya langgar sendiri aturan yang udah kami buat bersama. Doh!
  • Waktu berbuka, masih tetap hangat seperti biasanya.
  • Tarawih, dan bencana pun dimulai dari sini. Kebetulan tadi sore jam 4 saya 'dapet', jadi malam ini ga bisa ikut tarawih ke mesjid. Si Ed ke mesjid cuma sama Ayah. Ga tahu gimana detail ceritanya, belum selesai tarawih (baru selesai shalat Isya' kayaknya) ni anak udah pulang sama Ibu saya. Lah si Ayah mana?? Sampe rumah udah nagih minta jajan sama Ibu saya. Saya larang dong, gimana ceritanya malam-malam jajan, wong di rumah aja udah saya sediain snack baragam-ragam. Megap-megap lah ni anak, sang nenek yang selalu ga tega melihat cucunya bersimbah air mata, nekat ajak dia ke warung tanpa mempedulikan tatapan bengis saya. Pulang dari warung : TIDUR. Ya Allah, saya baru inget, Edsel tadi siang cuma tidur siang sebentar. Kebiasaan ni anak, kalo tidur siangnya kurang, memang suka bad mood kalo malam. Gampang marah begitu kantuk datang. Duh jadi nyesel deh tadi saya ga peluk dia ketika rewel minta jajan. 
Sekarang memang baru hari ketujuh, belum genap dari hitungan jari. Tapi besok, dan besoknya lagi, waktu akan cepat berlalu. Ramadhan seolah berlari kencang. Takut, takut sekali bukan jika tahun depan Ramadhan tak lagi menyapa kita? 
Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena