cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Showing posts with label Dedy. Show all posts
Showing posts with label Dedy. Show all posts

Monday, 12 June 2017

7 Tahun Kita

By : Dedy PDY

Pernikahan, kata yang tidak asing bagi kita-kita yang sudah menikah (hahaaa... Yaiyalaaaah...), bahkan bagi mereka-mereka yang belum menikah. Dan kalau mereka-mereka sepertinya mendengarnya gimana gitu... Ini katanya "sakral", tahu sakral? "sangat keramat dan langgeng" itu istilah saya sendiri. Tapi meskipun begitu lihat kehidupan lingkungan sekitar kita, banyak kawin cerai, wuihhh ngeri, bray. Naudzubillahi mindzalik.

Dulu waktu masih pacaran sampai manten anyar, hemmm jalan bareng gandengan tangan, dikit-dikit lap keringet pasangan, ceileeh... Begitu keingetnya... Masa itu udah jadi recount, tapi recount yang kadang lupa kadang inget. Gak tahu ini sel otak kadang muncul memorinya kadang enggak. haduhhh...

Sekarang usia nikah udah 7 tahun, bocah udah 2, laki semua... Yang kakak umur 6, adiknya 2. Semua sangat aktif dan berisik. Tapi saya yang lebih temperamen, bisa adem karena si ibuk yang lebih berpikir tenang, meskipun kadang udah terlanjur nyemprot... Hihiii.

Suatu hari si ibuk ngasih nasehat ke saya, "Jadilah orang yang punya mimpi dan keinginan tinggi!". Saya gak punya mimpi, saya gak punya keinginan tinggi. Mimpi dan keinginan udah saya serahkan kepada Allah SWT. Udah yang penting... Nih anak2 pada bener kelakuannya. Cuman saya keselnya mereka kadang pada dimanjain, mentang-mentang kita-kita masih numpang. Ya sutra lah... Sabar... Pelan-pelan kasih contoh aja sama tuh bocah 2.

Saya kadang minder juga, masalahnya sebagai kepala keluarga gak bisa kasih nafkah yang sesuai (tahu ndiri, cuman guru yayasan... Dapat cemban aja udah seneng. Tapi tetep disyukurin). Tapi rizkinya itu (saya mikirnya gitu), mau gimana lagi. Ini masalah finansial... Saya banyak kurangnya disini. Saya inget Cak Lontong bilang bahwa dalam menghadapi masalah beban ekonomi keluarga, kuncinya adalah pasrah, maksudnya pasrahkan istri dan anak-anak ke mertua, Hahaaa... Jadinya beban perekonomian berkurang.

Saya orangnya gak terlalu banyak mikir, capek, momong bocah aja udah capek. Tapi itu energi lain untuk melakukan hal-hal lain juga. Kita harus bangga dengan keluarga kita, orang kita yang membangun, kita yang mempondasi, kita yang memberi atap, kita juga yang mengisi dengan hal-hal yang baik. Untung si ibuk orangnya kecil, jadi kita mau beli perabotan banyak gak masalah. Coba kalo punya istri gemuk, ih pasti gak banyak beli perabotan, soalnya rumah udah berasa penuh. Hihiii...

Kami cuma mau minta doa, supaya pernikahan kami terus lanjut sampai ntar dapet cucu, cicit. Cuman bagaimana mempertahankannya. Caranya? Jangan kebanyakan mikir! Lanjut aja... Ntar ada badai, ya udah laluin aja... Masih percaya Allah SWT? Dia yang memberi cobaan, Dia juga yang membri solusi. Istiqomah...
Read More

Sunday, 11 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-1

Jadi atas nama apa pernikahan diadili? 
Apakah atas nama postingan teman di medsos yang terlihat begitu harmonis?
Apakah atas nama ibu-ibu lain yang sharing foto-foto liburan romantis dengan suami?
Apakah atas nama sahabat kita yang update dengan begitu tlaten aktvitasnya setiap waktu atas nama sebagai istri?

Atau jangan-jangan kita saja yang 'gede rasa' seolah-olah mereka pamer untuk mem-bully keseharian kita yang biasa-biasa saja?

Bukankah tak ada tuntutan bahwa kekinian adalah sesuatu yang seragam? Pun tak ada yang salah dengan segala rupa-rupa status mereka. Memangnya kita siapa sampai harus merasa terintimidasi dan kemudian harus menyaingi? 

==

Jadi, jika kau bertanya apa hubungannya tulisan di atas dengan 7 Tahun Kita? Seungguhnya saya tidak tahu persis, karena saya sedang terburu-buru untuk segera tidur sehingga tidak bisa menulis panjang lebar. Besok adalah hari Senin, selain itu anak-anak sudah tidur sejak jam 5 sore, maka bisa dipastikan besok mereka akan bangun sebelum sahur.

Kebersamaan kami hari ini adalah kebersamaan 7 tahun kurang 1 hari.

Foto ini mulai menghuni dompetku pada Juni 2010, tapi sejak setahun yang lalu aku memutuskan untuk mneghilangkannya dari dompet. Maafkan aku.😢  Aku terpaksa melakukannya =======> karena space foto pada dompetku rusak. Akan aku pasang lagi asal kamu membelikanku dompet baru 😜


Bajuku itu-itu melulu. Hehe... Tapi keren yak, meskipun ga modis tapi tempat nongkrong terromantis kami adalah toko buku. Hunting buku sambil pegangan tangan. Weeks.😃

Read More

Saturday, 10 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-2

Kau tahu, terkadang pernikahan itu mirip sayur bening dengan garam pas-pasan. Bumbunya cuma bawang merah dan bawang putih sekedarnya, maka tanpa rasa garam yang mumpuni ia serasa air leding dengan bayam dan wortel.

7 Tahun. Kau kira kami berhaha hihi melulu? Kau kira kami hanya melanglang ke sana kemari tanpa memikirkan gaji? Kau kira kami hanya menebar senyum sana-sini? Betul kami tak pernah bertengkar, betul kami tak pernah adu nada tinggi, betul kami selalu menggenggam tangan setiap kesana kesini. Tapi kami pernah saling memendam emosi, melambungkan amarah dengan pergi tanpa permisi. 

Dan perkara analogi sayur bening tadi, sungguh memang pernah. 

Ada suatu episode kami, di mana saya merasa bosan. Saya merasa jenuh sejenuh-jenuhnya. Tak ada lagi momentum jatuh cinta. Sampai kemudian ada di antara kami yang mengalah menurunkan ego dengan menciptakan momentum itu, bukan menunggunya. Toh, mustahil bukan untuk ditunggu? Kami sudah terbiasa dengan kehadiran kami masing-masing, kami terbiasa dengan perasaan memiliki. Jadi, menunggu momentum itu tak ubahnya dengan menunggu lebaran kuda yang pernah diguraukan SBY : tak mungkin datang.

Sama halnya dengan kebahagiaan. Ia bukan sejenis gaji ke-15 yang bisa ditunggu. Ia bukan juga semacam tuntutan kepada pasangan seperti: "tolong bahagiakan aku" atau "kamu harusnya begini, harus begitu, biar aku bahagia". Lhah, bukannya bahagia itu kita sendiri yang ciptakan? Menuntut pasangan harus begini begitu biar kita bahagia, mau sampai kapaaan? Ga capek menuntut? Wong suami saya itu ketemu saya sudah berumur 26 tahun. Kita ini baru dia bersamai kemarin sore, ujug-ujug kok minta dia berubah? 

Jadi, sayur beningnya saya tambahi garam dengan takaran yang pas dulu. Saya kasih bawang goreng biar makin gurih alami. Saya makannya enak, trus dia makannya juga lahap, ehh sukur-sukur ada bonus : "masakan Ibuk enak, makasih ya". 😃

Aih pinter ya saya ngomongnya, padahal saya mah apa atuh, baru belajar, termasuk belajar konsisten juga. 

Jadi suami saya membersamai tukang masak sayur bening ini selama 7 tahun kurang 2 hari.

Maret 2016. Foto basi ya, ini ketika wisuda sarjana. Itu Edsel mulutnya pake dimiring-miringin gitu sih Naaaak???

Februari 2016. Tak ada kandidat yang akan menyaingi kecantikan saya.


Pesta kostum kayak gini mah hari hari...
Ini lebih hari hari lagi 😒
NB : Maaf ya jika foto-fotonya sering ga nyambung dengan isi tulisan karena memang ga ada niat untuk menyambungkan, Hanya sebagai tempelan pelengkap kenangan saja.
Read More

Friday, 9 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-3

Sejak saya undur diri dari dunia perbakingan keluarga dikarenakan kehadiran si Akis yang sudah cukup menyita waktu dan energi, maka muncullah dia sosok superhero. Superhero yang sempat saya pandang sebelah mata untuk urusan dapur. Superhero ini mengisi kekosongan camilan homemade untuk anak-anak dari dapur sendiri. Superhero ini adalah Dedy.

Camilan-camilannya sebenarnya sederhana. Jauh lebih rumit kue-kue yang dulu saya buat, yang kadang bikin saya stress sendiri karena target saya yang ketinggian. Dengan perbakingan si dia yang sederhana, tentu waktu membuatnya juga jadi lebih cepat, maka waktu tunggu anak-anak juga lebih singkat. Anehnya anak-anak selalu hebring tiap kali ayahnya memasak snack untuk mereka, apa pun itu. Daaaan ... selalu habis!! Bahkan bikin nagih.😒

Kau tanya cara memandikan bayi? Tanyakan padanya. Sejak Edsel dan Akis masih berupa bayi merah, dia telah memandikannya sendiri_bergantian dengan saya. Pun juga cara menggendong dengan menggunakan kain jarit, dia lebih terampil daripada saya. Menyuapi anak? Mengakali ketika mereka GTM? Dia tak kurang pintarnya dibanding saya, ibu mereka. Apalagi perkara remeh temeh macam mengganti popok, menemani saya bangun untuk menyusui, atau meninabobokan anak-anak, itu mudah saja baginya.

Sebagai seorang ayah, barangkali yang tak bisa dilakukannya hanya hamil dan menyusui.

===

Rumah kami punya lampu tidur dari recycle pralon bekas yang dibuat oleh seorang Dedy.
Saya punya laci unik tempat penyimpan bros-bros, perhiasan, dan perintilan-perintilan kecil lainnya yang tak dijual di toko mana pun di dunia ini, hasil karya seorang Dedy.
Kami punya bingkai-bingkai foto yang terbuat dari karton dengan hiasan pasir pantai, kerang, biji-bijian centil, dan daun kering yang tak kalah cantik dengan yang didisplay di toko souvenir, dan lagi-lagi dari tangan seorang Dedy.
Edsel punya kotak pensil dari kain flanel dengan identitas namanya sendiri, bukan dari hasil hunting-nya di toko, tapi persembahan dari ayahnya yang seorang Dedy.
Dinding kamar mandi kami tertempel gambar tahapan-tahapan wudhu untuk mempermudah Edsel ketika berwudhu. Bukan, bukan stiker atau poster yang dijual di toko-toko itu, tapi gambar hasil goresan tangan ayahnya sendiri, seorang Dedy.

Barangkali yang tak bisa dilakukannya sebagai seorang kepala keluarga banyak, tapi bagi anak-anak, ayahnya adalah seorang creator tanpa banding.

==

Saya ngantuuukkkk, udah ah. Yang jelas pria itu, iya itu, sudah membersamai saya selama 7 tahun kurang 3 hari. Titik. Ayo tidur, besok sahur.

Solo, 2016. No caption more, saya ngantuuuk.

Solo, 2016. Ini juga tak ada tambahan caption, saya ngantuuuuuk.

Edsel. Salah satu hobi usilnya : dandanin anaknya aneh-aneh, trus difoto.



Read More

Thursday, 8 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-4

Postingan H-4 kali ini ditulis sambil terkantuk-kantuk karena energi sudah hampir berada pada titik kritis. Dan parahnya lagi, saya mengetik dalam keadaan ga tahu mau nulis apa. Ngikut aja ni jari menekan-nekan tuts-tuts keyboard.

===

Sadeng, Juli 2010. Ini adalah salah satu bentuk kewarasan kami yang perlu dipertanyakan, karena waktu itu kondisi saya sedang hamil beberapa minggu, tapi sepulang kantor tetep nekat jalan-jalan ke pantai. Hasilnya? Sampai di rumah saat adzan Maghrib dan saya mabok kecapekan.

Dia sudah nulis di wordpress jauh sebelum saya kenal blogspot.
Dia punya banyak koleksi buku bagus dengan katalog yang rapi, jauh sebelum saya 'mulai niat' untuk benar-benar membeli buku dan mengoleksinya.
Dia sudah punya koleksi komik-komik Detektif Conan dan Detektif Kindaichi, padahal saya yang merasa saya jauh lebih ngefans dektektif-detektif itu daripada dia aja belum punya satu pun punya komik-komik itu.😒

Dia ternyata penyuka film dan buku, sama seperti saya.
Dia penyuka kopi, sama seperti saya.
Dan dia suka menulis, sama seperti saya.

Dia tidak suka film drama nan cengeng dan romantis itu, berbeda dengan saya.
Dia tidak suka buku fiksi, tidak membawa kemanfaatan baginya, berbeda dengan saya.
Tingkat ketersinggungannya hampir mendekati nol persen, alias tidak 'nggagasan' ( ga mikir). Sungguh berbeda dengan saya.

Jauh sebelum bertemu, kami sudah punya banyak persamaan tanpa rekayasa. Dalam persamaan itu, dia lebih beberapa etape di depan saya. Meski akhirnya kemudian kami saling membersamai, persamaan itu tetap tak mengeliminasi perbedaan-perbedaan yang memang sudah kami sandang masing-masing. Dan kami telah saling membersamai 'dalam sama dalam beda' selama 7 tahun kurang 4 hari.







Read More

Wednesday, 7 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-5

Aku pernah di titik itu. Titik di mana aku merasa dia begitu menyebalkan. Titik di mana dia adalah laki-laki yang salah. Sampai-sampai aku menjulukinya dalam hati : "Pria Gunung Es".

Arrgghh...jangan kau tanyakan tentang apa itu romantis kepadanya. Jangan-jangan malah dia tak tahu ada istilah itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau jangan-jangan Kamus Oxford Bahasa Inggris yang dia geluti tiap hari, tak tercetak kata itu karena kesalahan teknis. LOL

Sampai kemudian aku sampai pada satu pemahaman_yang entah aku lupa terinspirasi dari sekilas buku apa yang kubaca_maka aku simpulkan bahwa menikah itu bukan seperti ilmu jual beli. Kau memberi apa, pasanganmu harus membalas hal yang serupa. Kau memeluknya, maka kau menuntut pasanganmu untuk memelukmu juga. Kau menghujaninya dengan perhatian maka pasanganmu kau harapkan juga untuk melakukan hal yang sama padamu. Itu jual beli. Itu perhitungan tentang untung dan rugi.

Semestinya, pernikahan itu menggunakan ilmu bertani. Semai saja, sepenuh hati, sepenuh cinta, sepenuh kerja keras, tak usah merisaukan kapan panen. Pasti panen, pasti. Tidak usah dihitung-hitung, bukan urusan kita. 

Panennya seperti apa? Barangkali dalam bentuk pasangan akan terbiasa dengan sikap hangat kita, maka dia akan meniru, mengimbangi. Atau bisa jadi dalam bentuk sikap ikhlas kita, perasaan 'merdeka' kita karena kita tidak terbelenggu untuk mengharapkan balasan. Atau bisa juga dalam bentuk lain. Who knows?

Dan barangkali saya telah panen.
Dia bukan lagi Pria Gunung Es.
Dia adalah pria hangat yang cerdas.
He is family man.

Dan aku telah membersamai pria ini selama 7 tahun kurang 5 hari.


NB: ini foto-foto yang tadinya tidak akan terupload karena culuuuun sekali. Tapi daripada ilang dan demi melengkapi kenangan, maka nekat aja ditempelin di blog. Foto-foto petualangan kami sebelum ini sudah hilang atau nyelip entah di hardisk yang mana.

Terdampar di tepi jalan dalam rangka petualangan ke Jogja. Sumpah, itu efek pencahayaan saja. Aslinya saya lebih putih dari dia. Weeks.



Masih dalam rangka petualangan after married. Itu di Wonogiri, hihi...cuma di WGM


Read More

Tuesday, 6 June 2017

7 Tahun Kita ~ H - 6

Aku sampai pada satu titik di mana aku benar-benar mensyukuri telah diperjodohkan dengannya.

Dia yang sederhana, menyeimbangkan aku yang penuh dengan imajinasi-imajinasi pencapaian.
Dia yang tenang_seperti lautan yang tanpa gelombang,_melengkapi aku yang serba terburu-buru, ceroboh, dan selalu punya target.

Dia bukan suami dengan impian dan obralan cerita tentang mobil mewah, rumah megah, atau harta-harta kekinian. Bukan. Dia adalah suami yang menciptakan ruang diskusi di rumah kami tentang pendidikan, dan segala harta benda tak kasat mata yang aku namai sebagai petualangan. 

Ya, dia laki-laki sederhana ini, telah membersamaiku selama 7 tahun kurang 6 hari. 


Pulang kerja langsung ditodong membacakan buku

Read More

Tuesday, 24 February 2015

Resep - resep Gila

Sejak habis sakit, si Ed punya selera makan yang bikin geleng-geleng kepala. Makan besar 3 kali sehari dengan kadang masih nambah piring. Di sela-sela waktu makan masih minta camilan 2 sampai 3 kali. Mau tidur malam juga nagih camilan.

Nah karena saya sudah kehabisan ide resep yang waras, dan karena si Ed juga gampang bosen dengan resep yang sering diulang-ulang makanya kami berdua sering bikin resep yang asal campur, tanpa takaran, tanpa mematut-matutkan antar bahan, dan hanya melihat ketersediaan bahan yang ada di kulkas. Idenya juga spontan nyelonong begitu aja ketika Edsel lagi pingin makan atau ngemil. Dan seringnya idenya malah dari Edsel sendiri. Dia yang kadang mencetuskan ide kalo buah naga potong ditaburi meises; atau roti tawar disobek-sobek dan dimasukkin ke susu UHT biar kayak sup; atau tempe yang ditusuk-tusuk dan dikasih topping kecap, saus, dan merica; atau ide-ide lain yang kadang ga kepikiran di saya. 

Ide-ide Edsel memang sederhana dan saya sebenarnya agak jijik melihatnya (haha...) tapi saya anggap ini sebagai bagian dari proses belajarnya menciptakan sesuatu di tengah keterbatasan, membuat sesuatu bisa enak dimakan dari bahan yang tersedia. Nilai plusnya, Edsel makan resep-resepnya itu dengan lahaaappp. 

Nah sekarang ga hanya saya dan Edsel aja yang sering bikin resep-resep spontan yang gila, Ayahnya juga ketularan sering masak. Mungkin karena kasian jika malam-malam saya harus klontengan di dapur dengan perut yang makin besar. Thanks Ay, you are super husband. 

Resep andalan Ayah adalah pizza roti. Ini gegara Edsel terobsesi dengan Ninja Turtles yang hobi makan pizza, makanya Ayah bikinin pizza ala dia. Biar pun namanya pizza tapi bahannya cuma roti tawar yang dipotong betuk bulat, dioles margarin, dipanggang di atas teflon, dan dikasih topping sosis dan keju. 

Atau tadi malam ketika Edsel udah gelisah pingin ngemil, Ayah bikinin pisang coklat keju. Bahannya cuma buah pisang matang, dioles margarin, dipanggang di atas teflon. Setelah mateng, dikasih selai coklat, keju parut, dan ditaburi meises. Jangan ditanya lahapnya Edsel yaaa.

Pisang coklat ala Ayah


Kali lain saya ajak Edsel untuk bikin sandwich yang bahannya cuma roti tawar yang diisi dengan telur mata sapi, keju cheddar, dan saus tomat. Atau buah pir dan buah naga potong yang dicampur dengan madu. Hmmm...Edsel sukaaaa sekali. 

Resep-resep kami memang sederhana dan terkadang gila. Tapi dari kegiatan menciptakan resep dan mengolahnya, saya ajarkan banyak hal untuk Edsel. Tentang menciptakan ide di tengah keterbatasan, tentang proses yang harus dilalui untuk mendapatkan sesuatu, tentang asal mula bahan-bahan yang kami gunakan, dan masih banyak lagi. 

Dan satu lagi kebahagiaan tak terkira saya, setiap saya memasak untuknya, Edsel selalu memanggil saya : "chef-nya Edsel"!


Read More

Tuesday, 20 August 2013

Pria-pria di Hatiku ( I )

Sedikitnya saat ini ada dua pria yang menyanding hatiku.

Yang satu cuek, dingin, tidak bisa menggombal merayu. Jangankan merayu, memuji saja seperti memindahkan gunung, beraaattttt. Boro-boro menggombal semanis madu, tersenyum duluan saja bisa meruntuhkan gengsinya. 

Tapiii... aku tahu di balik wajahnya yang sedingin es Antartika itu, hatinya lebih hangat dari secangkir kopi kesukaan kami. Aku juga tahu di balik kata-katanya yang sering kali keras itu, hatinya sering bisa diajak kompromi.

Tidak banyak bicara, tidak bisa membujuk menepuk, cukup lakukan apa yang perlu dilakukan. Seperti di kepanduan "Sedikit bicara banyak bekerja". Tidak pernah menghibur ketika aku teler kecapekan, tahu-tahu cucian dan setrikaan beres. He he he ... Membantu sepenuh hati apa yang perlu dibantu. 

Mentalitas yang tidak semua wanita mendambakannya. Bukankah wanita suka dibujuk dan dirayu? Suka dimanja dan dipuji sampai membumbung tinggi? Tapi percayalah, wanita-wanita manja nan egois seperti aku memang membutuhkan pria seperti ini. Terkadang memang tidak menyenangkan hati, sering malah membuat dongkol sampai menangis sesenggukan. Tapi aku telah sangat percaya bahwa Tuhan Yang Maha Cinta mengirimkan Pria Gunung Es ini untuk mengubah perangaiku. Agar aku tidak melulu selalu minta dicintai, tapi juga belajar mencintai. Agar aku tidak selalu ingin diberi, tapi juga belajar memberi meski tak selalu diberi. Agar tidak terus minta dipahami, tapi juga memahami walau tak sesuai keinginan hati. Agar tak selalu ingin dipuji, namun lebih sering memuji. Agar lebih bisa mengendalikan emosi. Agar tidak banyak memerintah, tidak banyak omong. Dan masih banyak lagi lainnya. Berat? Oh iya. dan semua itu butuh proses. Sampai sekarang pun kami masih menjalani proses itu. Tapi setidak-tidaknya kami telah banyak mengubah diri kami sendiri ke arah yang lebih baik. 

Dan akhirnya memang cinta itu tidak melulu bikin perasaan kita tersanjung sampai ke awang-awang, atau membuat hati kita berbunga-bunga sepanjang hari. Cinta dari Pria Gunung Es ini lebih dari sekedar romantisme itu. 

to be continued ya...
Read More

Friday, 28 June 2013

Warisan Keluarga

Warisan yang saya dimaksud di sini bukan warisan berupa benda berharga atau uang, tapi warisan mainan dan pakaian. Istilah di keluarga saya sih lungsuran. Lantas apa yang membuat lungsuran ini istimewa? Bukannya warisan mainan dan pakaian itu hal yang biasa ya? Dari adik ke kakak, dari anak kita ke ponakan, dan lain sebagainya yang satu generasi atau hampir seumuran.

Tapi jika warisan ini dari ayah ke anaknya atau dari om ke ponakannya, saya menyebutnya istimewa. Kenapa? Karena mereka terpaut umur yang sangat jauh, puluhan tahun. Membayangkan barang-barang anak kita akan kita wariskan untuk cucu kita kelak rasanya kok jauuuhhh sekali ya. Ga kebayang gitu. Kalo cuma disimpen untuk diwariskan ke adiknya nanti sih masih mungkin lah ya. Tapi kalo untuk anak dari anak kita, ah saya pasti udah males liat barang-barang itu menuh-menuhin rumah. Kalo masih bagus ya dikasih ke orang ato disumbangin, tapi kalo udah ga layak ya dimusnahkan. 

Padahal dengan menyimpan dan mewariskan barang-barang ke generasi berikutnya ternyata bisa mengulik kembali cerita indah masa lalu lho. Ada unsur nostalgia, mengenang sejarah, mengingatkan betapa orang tua kita dulu sangat menyayangi kita. Dan itu yang terjadi pada ibu mertua saya. Salut, dua jempol buat beliau.

Ibu mertua saya menyimpan dengan sangat baik mainan, pakaian, selimut, perlak, dan sarung yang dulu dipake suami saya dan adiknya. Memang tidak semuanya karena yang sudah rusak tentu sudah beliau buang, tapi masih cukup banyak. Dan kini barang-barang tersebut diwariskan kepada anak saya, Edsel. Bagaimana keadaannya? Masih bagus dan layak untuk dipake! Dan anehnya Edsel sangat suka dan nyaman banget dengan barang-barang lungsuran ayahnya. Mungkin merasa ada ikatan batin di antara mereka. Anak ayah memakai barang yang sama dengan ayah waktu anak-anak. Hehe... 

Dan ketika kami berkumpul di saat Edsel bermain dan memakai barang-barang warisan itu, suasana menjadi menyenangkan. Ibu mertua bercerita tentang sejarah barang-barang itu, tentang suami saya dan adiknya, kemudian ayah mertua menimpali, suami tersenyum bahagia, saya mendengarkan dengan asyik, dan Edsel ikut tertawa mendengar cerita masa kecil ayahnya. Ahh... hangat sekali. 

Memang barang-barang tersebut sudah sangat ketinggalan modelnya. Ya iyalah, sudah 28 tahun yang lalu. Tapi kita sante-sante aja, ga takut dikatain orang pelit. Lha gimana mo bilang pelit wong ini kan pemberian orang tua sebagai wujud kasih sayang. Dan yang perlu dicatet, ibu mertua saya kalo nyumbang ke orang yang membutuhkan, ga ngasih yang bekas, dia belikan yang baru. Hebat kan?

Nah, jadi Edsel ini dari bayi sebagian barang-barangnya ya udah biasa pake bekas ayah dan omnya. Popok, baju, celana, selimut, itu dari generasi ke generasi. Sampe sekarang usia 2 tahun masih ada aja barang-barang yang 'dikeluarkan' ibu mertua dari lemari ajaibnya. Baju, sarung, boneka. Hehe... 

Ga tahu sampe umur berapa Edsel masih menerima warisan-warisan itu. Kayaknya di setiap fase umur anak saya, ibu selalu punya barang warisan dari suami saya dan adiknya.




gambar: sebagian barang-barang warisan itu
Read More

Thursday, 14 February 2013

A Letter From Ayah

Dear honey,
Something good happen today. I've got wishper to spread my love for many people. But the ones will have a whole of my love. It was you n our beloved son.


Suamiku memang tidak romantis, tidaaakkk sama sekali! Makanya jika tiba-tiba aku dikasih tulisan seperti di atas, siapa yang hatinya tidak menghangat?? Ato tiba-tiba ia ngasih suprise coklat ato parfum yang dibungkus cantik. Arghhh...aku bisa mabuk kepayang...

Peluk.......
Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena