cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Monday, 12 November 2018

Hidup yang Tercerabut

Lama ya saya tida nge-blog? Alasan pertama tentu saja tidak sempat, tidak punya waktu untuk bisa curi-curi kesempatan nulis. Alasan pertama tadi bisa jadi merupakan alasan ‘pembenaran’ untuk saya yang mulai menggunakan waktu luang bukan lagi untuk nulis di blog, seperti dulu. Seperti dulu yang tiap liat meja kerja di kamar bawaaannya pingin bikin kopi aja trus buru-buru nge-blog. Sekarang? Jika punya me-time_jika tidak sedang punya buku baru untuk dibaca atau nonton film bareng suami, saya main Twitter laaaah.

Gambar diambil dari sini

Dulu saya sering membatin, hidup saya bisa tercerabut oleh medsos. Betapa tidak? Yang harusnya saya bisa menulis, membaca, atau berdiskusi dengan suami, saya malah sahut-meyahut chat di grup WA, liat & komen status temen di FB, liat foto di IG, atau terjebak serunya cuitan di Twitter. Dan saya pastikan 80% hal-hal tersebut ga begitu penting-penting amat untuk kemaslahatan hidup saya. Lantas bagaimana hidup saya tidak tercerabut?

Tapi bagaimana dengan alasan kedua? Alasan kedua, karena sekarang saya berubah menjadi penakut!

Saya takut tulisan saya akan menyinggung orang lain. Saya takut tulisan saya akan membuat marah orang lain. Dan parahnya, saya takut isi tulisan saya dibantai orang lain. Iya iya, saya akui ini berbeda dengan saya yang dulu. Dulu di mana saya bebas mau teriak-teriak apapun di blog, cerita apapun di blog, toh blog blog saya ini. Rumah rumah saya.

Tapi situasi sekarang memang sudah berbeda dengan yang dulu. 

Dulu sebelum medsos dan ponsel Android menjadi candu untuk kita (eh atau hanya saya?). Dulu semasih bebas menulis apa saja tanpa takut di-bully, hanya ingin didengar, hanya ingin dimengerti ‘inilah saya’. Dulu, iya dulu sebelum medsos begitu riuhnya. Sebelum beberapa orang di jagat net menjadi gampang nge-gas. Sebelum segala cincong akan disangkut-pautkan dengan pilihan capres (ealaahh). Sebelum orang akan sibuk menakar keimananmu dari pilihan bahasa kita yang ga keArab-araban. Sebelum orang berduyun-duyun memilihkan surga atau neraka untukmu hanya karena kita seorang ibu bekerja atau memilih mereview produk kecantikan alih-alih mengulas tentang pengajian yang tadi pagi kita datangi.

Maka diri saya pun, hidup saya, kembali tercerabut. 

Maka kemudian, FB dan IG lebih sering menjadi tempat saya mengarsipkan foto (sekarang lagi mikir-mikir untuk hanya menyimpannya di Google Drive dan DropBox) jarang lagi menjadi ruang saya untuk mengungkapkan pendapat pendek. Karena apa yang saya tulis di FB, acapkali membuat orang menjadi salah paham, salah tangkap, salah mengerti yang ingin disampaikan. Berbeda dengan bahasa lisan yang mempunyai kekuatan nada suara, intonasi, dan mimik wajah untuk memperjelas apa yang ingin kita sampaikan.

Satu-satunya medsos yang bikin saya tetap nyaman adalah Twitter. Saya bisa jadi apa adanya saya. Mungkin karena tidak banyak orang yang kenal saya di Twitter, atau bisa jadi atmosfer di Twitter lebih open minded, renyah, dan santai. Enam tahun di Twitter dan saya masih tetap nyaman. Bahkan saya jadi sering dapet giveaway dan teman diskusi baru.

Tetapi, tetiba hari ini saya rindu nge-blog. Iseng-iseng saya ingin membuktikan bahwa saya tidak akan kalah dari medsos, tidak ingin hidup saya benar-benar tercerabut. 

Read More

Monday, 25 September 2017

3 Keinginan

Saya suka iseng bikin 3 daftar keinginan duniawi yang bisa saya wujudkan dalam waktu dekat. Memang ga selalu bisa terwujud semua sih, bahkan kadang tak ada satu pun yang terwujud. Bhahaha... Tapi, minimal saya jadi punya 'pagar pembatas' untuk fokus membeli atau bikin yang ada dalam list itu, bukan ngelantur ke hal-hal di luar daftar.

Bulan ini saya punya 3 keinginan yang agak tidak sederhana.

1. Jaket Ako

Ya ampuuun jaket ini sudah lama masuk dalam list keinginan saya nun entah kapan tahu. Tapi belum juga saya wujudkan karena harganya yang mehong di kantong saya. Selain itu jaket yang lama masih baguuus, muluuuus, hadiah dari Abangda Dedy *haelah jadi ikut-ikutan pake bahasa Muzammil Hasballah-Sonia Ristanti. 

Seminggu yang lalu jaket hadiah itu sudah RESMI rusak, tak bisa dipakai lagi!. Eng ing eenggg... Oh inikah waktunya untuk membeli jaket Ako?? 😰

Jaket Ako warna magenta terlihat manis.
Nah Ako yang ini terlihat unik


2. Novel Murder on The Orient Express karangan Agatha Christie

Tetiba saya rindu kejeniusan  Agatha Christie meramu alur cerita misteri pembunuhan setelah sekian lama hanya melulu nguber Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle yang cool itu. Dan meski sejak dulu saya penggemar buku-buku Agatha Christie, tapi memang belum ada satu pun buku dia yang saya punya. Dulu hanya modal pinjem di perpustakaan doang.😃. So....bolehlah kali ini saya memanjakan diri dengan memasukkan buku ini dalam daftar keinginan. Terlebih kalau bisa punya yang seri bundel. Haappp, macam ketiban durian runtuh.

Gambar diambil dari id.carousell.com


3. Pergola tanaman rambat

Dilatarbelakangi oleh jendela sisi barat rumah yang terbuat dari kaca_yang jika di siang dan sore yang terik, ruangan dengan jendela itu akan terasa panas dan silau tanpa ampun_maka saya pun mendamba punya pergola yang ditumbuhi tanaman rambat yang rimbun. Aihh.... cantik sejuk di mata nian andai itu terwujud. Dan pastinya panas dan silaunya jadi jauh berkurang.

Jangan su'udzon ya, ini bukan rumah saya.😁. (Tapi tolong doakan agar rumah saya bisa seperti ini. aamiin)

Jangan curiga lagi, ini juga bukan rumah saya. Hahaha... Tapi bolehlah ya jadi rumah saya 😊

Yeah, meskipun di antara 2 keinginan yang lain, keinginan yang terakhir ini yang paling sulit terwujud, tapi tetep harus saya masukkan nih dalam daftar. Itung-itung doa, dan biar makin semangat mewujudkan. Sulitnya yaitu ada pada ketersediaan sisa lahan. Sisa lahan sebelah barat bangunan hanya tinggal kurleb 0,5 meter. Gila kan men mau nanem dengan lebar cuma segitu. Ke timur mentok dinding rumah, ke barat nyenggol pekarangan orang. Sebenarnya bisa sih ditanam di pot, tapi pertumbuhan kurang bagus, mau sampai kapan bisa tumbuh sampai atas agar menaungi jendela?? Atau opsi lain, perkerasan di sisa lahan itu dihancurleburkan trus tanam tumbuhan rambat tak berkayu. Tapi apa kabar dengan selokan yang ada di situ?? Hiks.

Kesulitan lain, bikin pergolanya mahal yak? Arrghhh.   End.


Jadi sesungguhnya apa niat di balik tulisan ga penting ini? Tulisan ini adalah pengalihan isu atas apa yang sebenarnya ingin saya tulis, tapi kayaknya topiknya berat. Ouch... Makin nulis kok makin ga karuan isinya, menyinggung pihak sana pihak sini. Maka mari mendinginkan pikiran dengan menulis yang ringan-ringan saja. Siapa tahu ada yang lagi nyari kado buat ulang tahun saya bulan depan, maka mari melihat daftar di atas. Hahaha... #losehat?






Read More

Wednesday, 6 September 2017

Utang Pada Negeri


Membaca tulisan Frans Pati Herin di harian Kompas pada edisi Sabtu, 2 September 2017 berjudul Ke Pelosok Demi Membayar 'Utang', sungguh membuat saya mau tidak mau melongok kembali fakta di sana-sini tentang cerita anak negeri era dewasa ini.

Ke Pelosok Demi Membayar Utang adalah berita tentang anak-anak muda berusia 20-an yang meninggalkan kenyamanannya di rumah untuk mengabdi dan mengajar di daerah terpencil dan perbatasan. Bukan, bukan daerah terpencil di Pulau Jawa yang seterpencil-pencilnya masih bisa dijangkau dengan transportasi darat yang lumayan, tapi ke pelosok nun di pulau-pulau yang saya saja megap-megap membayangkannya. Untuk bisa mencapai ke daerah itu bisa berganti armada hingga 5-6 kali dengan pergantian moda ransportasi yang komplit : bis, pesawat udara, perahu, ojek, perahu cepat, jalan kaki! Jangan tanya soal biaya yang dibutuhkan untuk ke sana, bisa mencapai jutaan rupiah. Jangan tanya pula tentang waktu perjalanan dan rasa lelahnya. Pun jangan tanya tentang mahalnya harga barang-barang di sana dan kondisi sederhana yang mereka jalani karena uang saku dari pemerintah daerah yang jauh di bawah kebutuhan.

Jadi apa? Apa yang mereka cari dengan semua kegilaan itu? Mereka bukan PNS yang sudah diberi jaminan gaji oleh negara. Mereka tidak dipaksa oleh entitas apa pun untuk melakukan semua itu.

"Hampir sebagian besar biaya pendidikan saya adalah beasiswa. Itu saya anggap sebagai utang dan mengabdi ke pelosok adalah cara saya membayar 'utang' itu kepada negara," kata Atina.

Utang. Membaca sepenggal jawaban dari Atina Handayani (28) lulusan Sastra Perancis Universitas Gadjah Mada yang berasal di Yogyakarta sontak membuat saya malu. Selanjutnya menggigil, mencari-cari apa yang sudah saya baktikan demi utang yang juga saya punyai untuk negeri ini?

Sejak SD sampai SMA saya juga sering mendapat beasiswa. Kuliah pun tak sepeser saya keluar uang. Lalu sampai di mana 'pembayaran utang' saya? Dengan pengabdian saya yang hanya dimulai dari pukul 07.30 sampai dengan 15.30? Dengan jaminan setiap bulan mendapat gaji yang lebih dari cukup untuk saya syukuri? Kemudian tidak bisa tidak, saya mulai usil membandingkan dengan keadaan di sana sini sebagian kecil dari kita yang mendapat keberuntungan beasiswa pendidikan ditambah keberuntungan langsung ditempatkan sebagai PNS, namun kemudian ongkang-ongkang kaki tanpa loyalitas memadai. Apa kabar mereka? Berapa utang mereka pada negeri? Berapa ongkos mereka untuk berbakti? 

Ahh, ujungnya-ujungnya saya hanya jadi tukang teriak-teriak saja di blog. Betapa makin menumpuknya utang yang tidak saya tunaikan.
 
Read More

Sunday, 27 August 2017

Lawakan Tak Lucu

Percaya atau tidak, terkadang habitat pergaulan adalah suatu rimba raya yang kejam. Sebuah habitat, di mana banyak orang berinteraksi di dalamnya dengan berbagai tipe dan watak personal yang terkadang abai dengan sisi sensitif seseorang.



Ada beberapa tipe teman yang doyaaan sekali becanda. Iya, lucu memang. Begitu dia membuka sesi guyonannya, dapat dipastikan semua orang akan tertawa. Teman begini memang paling asik. Dia dapat mencairkan segala jenis kebekuan dan ketegangan. Asiknya lagi, dia tipe pelawak stand up comedy, jadi yang dia jadikan bahan becandaan adalah kekonyolannya sendiri atau bisa juga pinter otak-atik kalimat sehingga hal yang biasa-biasa aja jadi unpredictable. Tipe ginian mirip Cak Lontong, lucu tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Etapi ada tipe pelawak yang lain. Melucu dengan menjadikan kekurangan, aib, atau keburukan orang lain sebagai bahan lawakan. Lucu? Tentu. Semua terbahak karena entah mengapa aib orang adalah sesuatu yang gurih untuk dicandakan. 
Ada yang marah? Ada. 
Ada yang tersinggung? Banyak
Hanya saja mereka masih menahan diri untuk tidak mengeluarkan emosinya. Why?? Karena ga ada gunanya. Ngadepin orang ginian sekali kita meledak-ledak marah, dianya malah ketawa seolah-olah kita ga bisa diajak becanda. Nah lho. Padahal selalu ada batas di mana suatu hal itu pantas dijadikan bahan becandaan atau tidak boleh disentuh sama sekali. Itulah gunanya empati. Dan menurut saya itu adalah salah satu etika.

Sudahkah teman dengan gaya lawakan seperti ini menengok sisi hati yang lain? Sisi hati yang barangkali hanya diam saja, memendam rasa sakit hati dengan berpura-pura tersenyum? Pernah? 

Sungguh saya terkadang takut jika saya adalah salah satu di antaranya. Takut jika tanpa sengaja telah menyinggung perasaan orang lain meski hanya sekedar bercanda. Saya takut ada hati yang diam-diam terluka. Saya ngeri ada hati yang diam-diam berdoa atas sakit hati yang telah dia rasakan.

Duuhh....ingatkan saya untuk berhati-hati selalu ya Allah.


Read More

Monday, 12 June 2017

7 Tahun Kita

By : Dedy PDY

Pernikahan, kata yang tidak asing bagi kita-kita yang sudah menikah (hahaaa... Yaiyalaaaah...), bahkan bagi mereka-mereka yang belum menikah. Dan kalau mereka-mereka sepertinya mendengarnya gimana gitu... Ini katanya "sakral", tahu sakral? "sangat keramat dan langgeng" itu istilah saya sendiri. Tapi meskipun begitu lihat kehidupan lingkungan sekitar kita, banyak kawin cerai, wuihhh ngeri, bray. Naudzubillahi mindzalik.

Dulu waktu masih pacaran sampai manten anyar, hemmm jalan bareng gandengan tangan, dikit-dikit lap keringet pasangan, ceileeh... Begitu keingetnya... Masa itu udah jadi recount, tapi recount yang kadang lupa kadang inget. Gak tahu ini sel otak kadang muncul memorinya kadang enggak. haduhhh...

Sekarang usia nikah udah 7 tahun, bocah udah 2, laki semua... Yang kakak umur 6, adiknya 2. Semua sangat aktif dan berisik. Tapi saya yang lebih temperamen, bisa adem karena si ibuk yang lebih berpikir tenang, meskipun kadang udah terlanjur nyemprot... Hihiii.

Suatu hari si ibuk ngasih nasehat ke saya, "Jadilah orang yang punya mimpi dan keinginan tinggi!". Saya gak punya mimpi, saya gak punya keinginan tinggi. Mimpi dan keinginan udah saya serahkan kepada Allah SWT. Udah yang penting... Nih anak2 pada bener kelakuannya. Cuman saya keselnya mereka kadang pada dimanjain, mentang-mentang kita-kita masih numpang. Ya sutra lah... Sabar... Pelan-pelan kasih contoh aja sama tuh bocah 2.

Saya kadang minder juga, masalahnya sebagai kepala keluarga gak bisa kasih nafkah yang sesuai (tahu ndiri, cuman guru yayasan... Dapat cemban aja udah seneng. Tapi tetep disyukurin). Tapi rizkinya itu (saya mikirnya gitu), mau gimana lagi. Ini masalah finansial... Saya banyak kurangnya disini. Saya inget Cak Lontong bilang bahwa dalam menghadapi masalah beban ekonomi keluarga, kuncinya adalah pasrah, maksudnya pasrahkan istri dan anak-anak ke mertua, Hahaaa... Jadinya beban perekonomian berkurang.

Saya orangnya gak terlalu banyak mikir, capek, momong bocah aja udah capek. Tapi itu energi lain untuk melakukan hal-hal lain juga. Kita harus bangga dengan keluarga kita, orang kita yang membangun, kita yang mempondasi, kita yang memberi atap, kita juga yang mengisi dengan hal-hal yang baik. Untung si ibuk orangnya kecil, jadi kita mau beli perabotan banyak gak masalah. Coba kalo punya istri gemuk, ih pasti gak banyak beli perabotan, soalnya rumah udah berasa penuh. Hihiii...

Kami cuma mau minta doa, supaya pernikahan kami terus lanjut sampai ntar dapet cucu, cicit. Cuman bagaimana mempertahankannya. Caranya? Jangan kebanyakan mikir! Lanjut aja... Ntar ada badai, ya udah laluin aja... Masih percaya Allah SWT? Dia yang memberi cobaan, Dia juga yang membri solusi. Istiqomah...
Read More

Sunday, 11 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-1

Jadi atas nama apa pernikahan diadili? 
Apakah atas nama postingan teman di medsos yang terlihat begitu harmonis?
Apakah atas nama ibu-ibu lain yang sharing foto-foto liburan romantis dengan suami?
Apakah atas nama sahabat kita yang update dengan begitu tlaten aktvitasnya setiap waktu atas nama sebagai istri?

Atau jangan-jangan kita saja yang 'gede rasa' seolah-olah mereka pamer untuk mem-bully keseharian kita yang biasa-biasa saja?

Bukankah tak ada tuntutan bahwa kekinian adalah sesuatu yang seragam? Pun tak ada yang salah dengan segala rupa-rupa status mereka. Memangnya kita siapa sampai harus merasa terintimidasi dan kemudian harus menyaingi? 

==

Jadi, jika kau bertanya apa hubungannya tulisan di atas dengan 7 Tahun Kita? Seungguhnya saya tidak tahu persis, karena saya sedang terburu-buru untuk segera tidur sehingga tidak bisa menulis panjang lebar. Besok adalah hari Senin, selain itu anak-anak sudah tidur sejak jam 5 sore, maka bisa dipastikan besok mereka akan bangun sebelum sahur.

Kebersamaan kami hari ini adalah kebersamaan 7 tahun kurang 1 hari.

Foto ini mulai menghuni dompetku pada Juni 2010, tapi sejak setahun yang lalu aku memutuskan untuk mneghilangkannya dari dompet. Maafkan aku.😢  Aku terpaksa melakukannya =======> karena space foto pada dompetku rusak. Akan aku pasang lagi asal kamu membelikanku dompet baru 😜


Bajuku itu-itu melulu. Hehe... Tapi keren yak, meskipun ga modis tapi tempat nongkrong terromantis kami adalah toko buku. Hunting buku sambil pegangan tangan. Weeks.😃

Read More

Saturday, 10 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-2

Kau tahu, terkadang pernikahan itu mirip sayur bening dengan garam pas-pasan. Bumbunya cuma bawang merah dan bawang putih sekedarnya, maka tanpa rasa garam yang mumpuni ia serasa air leding dengan bayam dan wortel.

7 Tahun. Kau kira kami berhaha hihi melulu? Kau kira kami hanya melanglang ke sana kemari tanpa memikirkan gaji? Kau kira kami hanya menebar senyum sana-sini? Betul kami tak pernah bertengkar, betul kami tak pernah adu nada tinggi, betul kami selalu menggenggam tangan setiap kesana kesini. Tapi kami pernah saling memendam emosi, melambungkan amarah dengan pergi tanpa permisi. 

Dan perkara analogi sayur bening tadi, sungguh memang pernah. 

Ada suatu episode kami, di mana saya merasa bosan. Saya merasa jenuh sejenuh-jenuhnya. Tak ada lagi momentum jatuh cinta. Sampai kemudian ada di antara kami yang mengalah menurunkan ego dengan menciptakan momentum itu, bukan menunggunya. Toh, mustahil bukan untuk ditunggu? Kami sudah terbiasa dengan kehadiran kami masing-masing, kami terbiasa dengan perasaan memiliki. Jadi, menunggu momentum itu tak ubahnya dengan menunggu lebaran kuda yang pernah diguraukan SBY : tak mungkin datang.

Sama halnya dengan kebahagiaan. Ia bukan sejenis gaji ke-15 yang bisa ditunggu. Ia bukan juga semacam tuntutan kepada pasangan seperti: "tolong bahagiakan aku" atau "kamu harusnya begini, harus begitu, biar aku bahagia". Lhah, bukannya bahagia itu kita sendiri yang ciptakan? Menuntut pasangan harus begini begitu biar kita bahagia, mau sampai kapaaan? Ga capek menuntut? Wong suami saya itu ketemu saya sudah berumur 26 tahun. Kita ini baru dia bersamai kemarin sore, ujug-ujug kok minta dia berubah? 

Jadi, sayur beningnya saya tambahi garam dengan takaran yang pas dulu. Saya kasih bawang goreng biar makin gurih alami. Saya makannya enak, trus dia makannya juga lahap, ehh sukur-sukur ada bonus : "masakan Ibuk enak, makasih ya". 😃

Aih pinter ya saya ngomongnya, padahal saya mah apa atuh, baru belajar, termasuk belajar konsisten juga. 

Jadi suami saya membersamai tukang masak sayur bening ini selama 7 tahun kurang 2 hari.

Maret 2016. Foto basi ya, ini ketika wisuda sarjana. Itu Edsel mulutnya pake dimiring-miringin gitu sih Naaaak???

Februari 2016. Tak ada kandidat yang akan menyaingi kecantikan saya.


Pesta kostum kayak gini mah hari hari...
Ini lebih hari hari lagi 😒
NB : Maaf ya jika foto-fotonya sering ga nyambung dengan isi tulisan karena memang ga ada niat untuk menyambungkan, Hanya sebagai tempelan pelengkap kenangan saja.
Read More

Friday, 9 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-3

Sejak saya undur diri dari dunia perbakingan keluarga dikarenakan kehadiran si Akis yang sudah cukup menyita waktu dan energi, maka muncullah dia sosok superhero. Superhero yang sempat saya pandang sebelah mata untuk urusan dapur. Superhero ini mengisi kekosongan camilan homemade untuk anak-anak dari dapur sendiri. Superhero ini adalah Dedy.

Camilan-camilannya sebenarnya sederhana. Jauh lebih rumit kue-kue yang dulu saya buat, yang kadang bikin saya stress sendiri karena target saya yang ketinggian. Dengan perbakingan si dia yang sederhana, tentu waktu membuatnya juga jadi lebih cepat, maka waktu tunggu anak-anak juga lebih singkat. Anehnya anak-anak selalu hebring tiap kali ayahnya memasak snack untuk mereka, apa pun itu. Daaaan ... selalu habis!! Bahkan bikin nagih.😒

Kau tanya cara memandikan bayi? Tanyakan padanya. Sejak Edsel dan Akis masih berupa bayi merah, dia telah memandikannya sendiri_bergantian dengan saya. Pun juga cara menggendong dengan menggunakan kain jarit, dia lebih terampil daripada saya. Menyuapi anak? Mengakali ketika mereka GTM? Dia tak kurang pintarnya dibanding saya, ibu mereka. Apalagi perkara remeh temeh macam mengganti popok, menemani saya bangun untuk menyusui, atau meninabobokan anak-anak, itu mudah saja baginya.

Sebagai seorang ayah, barangkali yang tak bisa dilakukannya hanya hamil dan menyusui.

===

Rumah kami punya lampu tidur dari recycle pralon bekas yang dibuat oleh seorang Dedy.
Saya punya laci unik tempat penyimpan bros-bros, perhiasan, dan perintilan-perintilan kecil lainnya yang tak dijual di toko mana pun di dunia ini, hasil karya seorang Dedy.
Kami punya bingkai-bingkai foto yang terbuat dari karton dengan hiasan pasir pantai, kerang, biji-bijian centil, dan daun kering yang tak kalah cantik dengan yang didisplay di toko souvenir, dan lagi-lagi dari tangan seorang Dedy.
Edsel punya kotak pensil dari kain flanel dengan identitas namanya sendiri, bukan dari hasil hunting-nya di toko, tapi persembahan dari ayahnya yang seorang Dedy.
Dinding kamar mandi kami tertempel gambar tahapan-tahapan wudhu untuk mempermudah Edsel ketika berwudhu. Bukan, bukan stiker atau poster yang dijual di toko-toko itu, tapi gambar hasil goresan tangan ayahnya sendiri, seorang Dedy.

Barangkali yang tak bisa dilakukannya sebagai seorang kepala keluarga banyak, tapi bagi anak-anak, ayahnya adalah seorang creator tanpa banding.

==

Saya ngantuuukkkk, udah ah. Yang jelas pria itu, iya itu, sudah membersamai saya selama 7 tahun kurang 3 hari. Titik. Ayo tidur, besok sahur.

Solo, 2016. No caption more, saya ngantuuuk.

Solo, 2016. Ini juga tak ada tambahan caption, saya ngantuuuuuk.

Edsel. Salah satu hobi usilnya : dandanin anaknya aneh-aneh, trus difoto.



Read More

Thursday, 8 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-4

Postingan H-4 kali ini ditulis sambil terkantuk-kantuk karena energi sudah hampir berada pada titik kritis. Dan parahnya lagi, saya mengetik dalam keadaan ga tahu mau nulis apa. Ngikut aja ni jari menekan-nekan tuts-tuts keyboard.

===

Sadeng, Juli 2010. Ini adalah salah satu bentuk kewarasan kami yang perlu dipertanyakan, karena waktu itu kondisi saya sedang hamil beberapa minggu, tapi sepulang kantor tetep nekat jalan-jalan ke pantai. Hasilnya? Sampai di rumah saat adzan Maghrib dan saya mabok kecapekan.

Dia sudah nulis di wordpress jauh sebelum saya kenal blogspot.
Dia punya banyak koleksi buku bagus dengan katalog yang rapi, jauh sebelum saya 'mulai niat' untuk benar-benar membeli buku dan mengoleksinya.
Dia sudah punya koleksi komik-komik Detektif Conan dan Detektif Kindaichi, padahal saya yang merasa saya jauh lebih ngefans dektektif-detektif itu daripada dia aja belum punya satu pun punya komik-komik itu.😒

Dia ternyata penyuka film dan buku, sama seperti saya.
Dia penyuka kopi, sama seperti saya.
Dan dia suka menulis, sama seperti saya.

Dia tidak suka film drama nan cengeng dan romantis itu, berbeda dengan saya.
Dia tidak suka buku fiksi, tidak membawa kemanfaatan baginya, berbeda dengan saya.
Tingkat ketersinggungannya hampir mendekati nol persen, alias tidak 'nggagasan' ( ga mikir). Sungguh berbeda dengan saya.

Jauh sebelum bertemu, kami sudah punya banyak persamaan tanpa rekayasa. Dalam persamaan itu, dia lebih beberapa etape di depan saya. Meski akhirnya kemudian kami saling membersamai, persamaan itu tetap tak mengeliminasi perbedaan-perbedaan yang memang sudah kami sandang masing-masing. Dan kami telah saling membersamai 'dalam sama dalam beda' selama 7 tahun kurang 4 hari.







Read More

Wednesday, 7 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-5

Aku pernah di titik itu. Titik di mana aku merasa dia begitu menyebalkan. Titik di mana dia adalah laki-laki yang salah. Sampai-sampai aku menjulukinya dalam hati : "Pria Gunung Es".

Arrgghh...jangan kau tanyakan tentang apa itu romantis kepadanya. Jangan-jangan malah dia tak tahu ada istilah itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau jangan-jangan Kamus Oxford Bahasa Inggris yang dia geluti tiap hari, tak tercetak kata itu karena kesalahan teknis. LOL

Sampai kemudian aku sampai pada satu pemahaman_yang entah aku lupa terinspirasi dari sekilas buku apa yang kubaca_maka aku simpulkan bahwa menikah itu bukan seperti ilmu jual beli. Kau memberi apa, pasanganmu harus membalas hal yang serupa. Kau memeluknya, maka kau menuntut pasanganmu untuk memelukmu juga. Kau menghujaninya dengan perhatian maka pasanganmu kau harapkan juga untuk melakukan hal yang sama padamu. Itu jual beli. Itu perhitungan tentang untung dan rugi.

Semestinya, pernikahan itu menggunakan ilmu bertani. Semai saja, sepenuh hati, sepenuh cinta, sepenuh kerja keras, tak usah merisaukan kapan panen. Pasti panen, pasti. Tidak usah dihitung-hitung, bukan urusan kita. 

Panennya seperti apa? Barangkali dalam bentuk pasangan akan terbiasa dengan sikap hangat kita, maka dia akan meniru, mengimbangi. Atau bisa jadi dalam bentuk sikap ikhlas kita, perasaan 'merdeka' kita karena kita tidak terbelenggu untuk mengharapkan balasan. Atau bisa juga dalam bentuk lain. Who knows?

Dan barangkali saya telah panen.
Dia bukan lagi Pria Gunung Es.
Dia adalah pria hangat yang cerdas.
He is family man.

Dan aku telah membersamai pria ini selama 7 tahun kurang 5 hari.


NB: ini foto-foto yang tadinya tidak akan terupload karena culuuuun sekali. Tapi daripada ilang dan demi melengkapi kenangan, maka nekat aja ditempelin di blog. Foto-foto petualangan kami sebelum ini sudah hilang atau nyelip entah di hardisk yang mana.

Terdampar di tepi jalan dalam rangka petualangan ke Jogja. Sumpah, itu efek pencahayaan saja. Aslinya saya lebih putih dari dia. Weeks.



Masih dalam rangka petualangan after married. Itu di Wonogiri, hihi...cuma di WGM


Read More

Tuesday, 6 June 2017

7 Tahun Kita ~ H - 6

Aku sampai pada satu titik di mana aku benar-benar mensyukuri telah diperjodohkan dengannya.

Dia yang sederhana, menyeimbangkan aku yang penuh dengan imajinasi-imajinasi pencapaian.
Dia yang tenang_seperti lautan yang tanpa gelombang,_melengkapi aku yang serba terburu-buru, ceroboh, dan selalu punya target.

Dia bukan suami dengan impian dan obralan cerita tentang mobil mewah, rumah megah, atau harta-harta kekinian. Bukan. Dia adalah suami yang menciptakan ruang diskusi di rumah kami tentang pendidikan, dan segala harta benda tak kasat mata yang aku namai sebagai petualangan. 

Ya, dia laki-laki sederhana ini, telah membersamaiku selama 7 tahun kurang 6 hari. 


Pulang kerja langsung ditodong membacakan buku

Read More

Friday, 28 April 2017

Barisan Wanita yang Lain

Sering dapet meme atau broadcast message atau bahkan guyonan temen-temen di kantor kalo wanita (baca : istri) tuh, sinonim dari suatu makhluk yang mewakili kata bawel, tukang marah-marah pada suami, tukang banting-banting panci kalo lagi capek, tukang mendelik mengerikan kalo uang belanja ga cukup, tukang kritik nomor satu.  Seolah-olah emang dari sononya wanita ya begitu itu.

Well, ga ada salahnya juga. Tapi tidak sepenuhnya benar. Dan rasanya risih juga kalo predikat di atas dianggap mewakili semua koloni wanita.

Meski konon, kaum wanita_kaum istri begitu sajalah biar jelas, termahsyur sebagai makhluk dengan simpanan kata-kata yang banyak. tapi periode panjang lontaran kata-kata itu tak melulu identik dengan omelan dan cerocosan tak merdu. Kami juga bisa berbicara santun pada suami. Kami adalah makmum, dan dia imam.

Kami adalah wanita abad milenia yang akrab dengan mesin pencari. Istri cerdas yang bisa dengan mudah mencari paparan ilmu psikologi. Lupakan Kanjeng Mami, dengan segala aroma cerewet dan sengaknya. Bukan, bukan ia tak baik. Tapi kita lebih baik mencontoh Aisyah, dengan segala kecerdasan dan kehausan ilmunya, dengan kolokannya yang elegan hingga Rasulullah memanjakannya. Atau kenapa kita tak menengok Ainun yang santun, dengan jiwa pengabdian yang teguh pada Habibi sang suami pujaan hati.

Jadi maaf maaf saja, tak semua dari kami adalah tukang menggerutu dan tukang ngomel. 

Sering kami mengalah demi menjaga atmosfer rumah tangga tetap berada pada derajat aman. Mengalah tidak melulu memendam perasaan dan menunggunya pecah suatu saat. Mengalah adalah menurunkan level titik didih. Dan kemudian menunggu beberapa saat untuk sama-sama bisa dincip lebih nikmat.

Barangkali rumah tangga kami tak sempurna, tak semanis Rapunzel dan Flynn. Pasti kami-kami ini ada ngambek-ngambeknya juga. Ada sewot-sewotnya juga. Tapi jangan lupa, kami barisan para wanita ini, punya cara elegan untuk menyelesaikan masalah. Kami terbiasa berdiskusi untuk menyelesaikan masalah. Kami punya buku, punya kopi, dan punya film untuk mediasi, bukan dengan cara banting panci. 

====

Tulisan yang saya buat menjelang pulang kantor. Menjelang long weekend May Day. 
Tulisan yang sebenarnya membuat saya malu.

Mungkin gambar ini kurang relevan dengan isi tulisan. Kutipan ini juga membuat saya malu semalu-malunya, tapi biarlah untuk menampar diri sendiri

Hepi wiken!
Read More

Tuesday, 7 March 2017

Dia yang Antagonis

Si tengil dalam film Ratatouille, Skinner!!

"Selalu akan ada tokoh antagonis dalam kehidupan kita"
Bertahun silam, sahabat saya pernah mengatakan hal itu. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, namun jika dipikirkan, kalimat itu ada benarnya juga.

Memang akan selalu ada episode di mana seseorang yang_entah dia sadari atau tidak, dia sengaja atau tidak,_akan membuat raut muka kita menegang memerah, membuat kesabaran kita perlu diorder ulang, membuat kita tergugu di sembarang waktu tak tentu, atau membuat kita takluk kepayahan. Ada, memang selalu ada. Entah dia seseorang yang telah kita kenal bertahun-tahun, seumur-umur, atau mungkin hanya dia yang mampir tanpa pernah mengakrabi sejarah panjang perjuangan kita.

Selalu akan ada tokoh antagonis. Benar, memang benar.

Dan kita yang sok belagak jadi sang protagonis ini seolah-olah jadi yang terdzolimi. Seolah paling benar, paling lemah.  Seolah paling patut dikasihani. Begitu kah? Jika memang begitu, mungkin ini saya. Tapi malu, malu rasanya. Kayak kurang piknik aja. Kayak ga pernah jalan-jalan. Tapi memang begitulah adanya. Rasanya pingin tampar, pingin teriak. Tapi seharusnya tidak begitu. Barangkali kita memang patut dibikin merah wajah kita karena kita keterlaluan. Barangkali kita kita perlu dibikin menangis, agar kita tidak melulu egois. 

Pada akhirnya dia yang antagonis akan membuat kita lebih kuat, lebih tegar berdiri di badai-badai selanjutnya. Meski sulit dan mata berkaca-kaca menciptakan butir-butir berkilau yang akan jatuh perlahan, tapi ucapkan pada sang antogonis (dalam hati saja ya.he he he) : "kamu telah memilih orang yang salah untuk disakiti".
Read More

Monday, 6 March 2017

Seandainya

Seandainya kita tahu dengan siapa kita menghabiskan sisa usia, barangkali kita hanya terus disibukkan dengan mencari dia, atau bahkan merutuki nasib (?)
Seandainya kita tahu bagaimana rasanya patah hati, barangkali kita akan berpikir ribuan kali untuk jatuh cinta
Seandainya kita tahu bagaimana perihnya cemburu, mungkin kita akan membatasi memberikan hati seutuh-utuhnya
Seandainya kita tahu di mana kita akan mati, mungkin kita tidak akan menyambangi tempat itu barang sejengkal
Seandainya kita tahu bagaimana rasanya miskin, mungkin kita tidak akan berhenti sedetik pun untuk mensyukuri yang kita punya saat ini
Seandainya kita tahu bahwa tidak semua janji akan ditepati, barangkali kita akan bersiap untuk hari itu_hari di mana ada janji yang terabai

Seandainya saya tahu saya akan terlihat pucat, barangkali saya akan memakai sedikit lipstik. Hi hi... 

Selamat datang Maret 2017, aku menyayangimu meski pada awal minggu telah kau hadiahkan air mata, sedikit cemburu yang menyusup, dan degup-degup dalam rasa antah berantah. Tapi telah kau berikan kecupan manis, seteguk kopi, dan coklat dengan sedikit pahit dan manis yang elegan.

Selamat datang Maret 2017, semoga tetap seterong!!!
Read More

Monday, 19 December 2016

Pembicaraan Mengenai Menikah (Bersama Edsel)

Suatu sore di warung bakso (tanpa Ayah dan Akis)

Edsel : "Kenapa Ibuk menikah dengan Ayah?"
Saya  : (Geragapan bentar, and then ....) "Karena Ayah laki-laki yang baik. Rajin sholat, pinter ngaji, jujur, dan suka baca buku kayak Ibuk".
.....

Suatu pagi ketika sedang ganti baju

Edsel : "Kenapa manusia menikah, Buk?"
Saya : (Mikir bentar) "Karena Allah menyuruh manusia menikah jadi menikah itu ibadah."
Edsel : "Berarti Edsel besok juga harus menikah?"
Saya : "Nggih, Sayang."

......

Suatu malam ketika sedang mewarnai (kami pun hanya berdua)



Edsel : "Jatuh cinta itu apa sih, Buk? Cintanya jatuh? Trus pecah? He he he." (Ketawa tawa sambil mewarnai gambar)
Saya  : (Mikir agak lama) "Jatuh cinta itu ...umm....senang dan suka untuk yang pertama kali. Misal nih, Ibuk jatuh cinta dengan pensil warna itu. Ibuk liat pensil warna itu tiba-tiba langsung suka dan sayang."
Edsel : "Kalo Ibuk jatuh cinta sama Ayah?"
Saya  : (Ee buset ni anak). "Kalo Ibuk jatuh cinta sama Ayah, Ibuk liat Ayah dan Ibuk cari tahu soal Ayah. Ooh Ayah itu rajin shalat, pinter ngaji, dan baik jadinya Ibuk jatuh cinta deh sama Ayah."
Edsel : "Kalo Edsel besok jatuh cinta sama yang orang yang beragama ******?" (Edsel menyebutkan salah satu agama yang berbeda dengan agama kami).
Saya  : (Garuk-garuk kepala dan mikir agak lama)
Edsel : "Edsel boleh menikah dengan orang itu?"
Saya  : "Menikah itu harus dengan yang satu agama, Sayang. Biar bisa sholat bareng, ngaji bareng, doanya juga bareng, masuk surga juga bareng."
Edsel : "Trus Edsel menikah sama siapa, dong?"
Saya  : "Sama wanita yang baik, yang rajin shalat, rajin ngaji, baik, jujur, berpakaian yang sopan."
Edsel : "Kayak Ibuk dong?"
Saya  : "Lebih baik dari Ibu dong. Makanya Edsel jadi anak yang baik, anak yang sholeh, biar menikah dengan wanita yang sholehah juga."
Edsel :"Kalo Edsel ga bisa milih yang kayak gitu?"
Saya  :"Kan ada Ayah ada Ibuk yang bantu Edsel milihin. Tar nih kalo Edsel jatuh cinta sama wanita, kasih lihat ke Ibuk dan Ayah, biar Ayah dan Ibuk bisa bantu Edsel buat menilai. Kalo menurut Ayah dan Ibuk tidak baik untuk Edsel, ya Edsel harus dengerin kata Ayah dan Ibuk. Kan Ayah dan Ibuk orang tua Edsel. Kalo menurut Ayah dan Ibuk baik, Edsel bisa menikah dengan wanita itu".

(Saya garuk garuk kepala) Duuuh kayak ngobrol sama anak ABG aja niii.


Edsel :" Kalo Edsel menikah dengan Ibuk boleh?"
Saya  : "Gak boleh, Sayang. Kita tidak boleh menikah dengan keluarga, kakak adik ga boleh. Apalagi sama orang tua. Ga boleh banget."
Edsel : "Lha kenapa?"
Saya  :"Allah melarangnya. Lagian kalo menikah dengan keluarga, anak-anak yang dilahirkan nanti bisa tidak sehat. Bisa sakit"
Edsel :"Lha sakit apa, Buk?"
Saya  :"Ya bisa tidak normal, kena penyakit, anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sedarah." (Pemilihan kata saya mulai kacau. Mulai mikir-mikir pemilihan kata dan kalimat yang tepat, sambil mikir akankah berlanjut dengan pembahasan tentang kromosom).
Edsel :"Iya, tapi sakit apa? Pilek? Batuk?"
Saya  : (Masih mikir)
Edsel :"Buk, Ibuk...ini gunungnya Edsel warnai hitam ya?
Saya  :"Lha kenapa hitam? Kenapa tidak hijau seperti di contoh?"
Edsel :"Kata Ibuk kalo mewarnai suka-suka Edsel, ga harus sama dengan contohnya. Kan gunungnya cuma tanah, jadi warnanya hitam."
Saya : "Ooo....iya. Betul-betul" (manggut-manggut sambil merasa bersyukur terselamatkan dari pembicaraan mengenai kromoson perkawinan sedarah. He he he...). 


Note : obrolan di atas sudah saya translate ke Bahasa Indonesia biar lebih mudah dipahami karena saya ngobrolnya pake Bahasa Jawa.

Edsel akhir-akhir ini emang lagi suka ngobrolin tema itu : cinta, menikah, laki-laki dan perempuan. Ya topik-topik dewasa macam itu. Dan jujur saja, ketika ditodong pertanyaan-pertanyaan sejenis itu, saya kadang geragapan. Maka jawabannya pun mungkin tidak sempurna. Karena butuh jawaban yang tidak sekedar benar untuk setiap pertanyaan dari anak-anak. 

Begitulah, selalu ada alasan bagi ibu-ibu untuk khawatir. Khawatir jika kelak anak kita akan dipenuhi berbagai macam pertanyaan kritis_ tentang seks dan lawan jenis misalnya_ dan tidak lari ke kita . Khawatir jika kita tidak bisa mengawal bertumbuhnya titik rawan menjelang dan di awal balighnya. Khawatir ada kompas lain yang di luar Tuhan-nya. Ahh na'udzubillah.

Dan saya pun termenung, terbawa resonansi hujan.

Read More

Wednesday, 26 October 2016

Curhatan Lagi



Hari ini saya bingung, dapat pertanyaan via email, "Mba, gimana ya caranya agar calon suami saya melupakan mantannya? Soalnya mantannya itu pintar memasak sedangkan saya tidak".

Sebenarnya saya heran sekaligus geli. Pertama, dia bertanya sesuatu kepada saya yang notabene bukan expert di bidang itu.Yakali saya psikolog atau saya pernah punya 'saingan' yang pintar memasak. 

Kedua, ini pertanyaan yang paling aneh yang pernah saya 'tampung'. Biasanya orang curhat sama saya tentang ASI, MPASI, GTM, ya sejenisnya lah. Atau karna kemarin saya posting tentang Onkologi maka banyak juga yang nanya-nanya soal kanker payudara. Lah ini? Konsultasi soal cinta yang akar masalahnya juga ga umum. Err..sebenarnya bukan ga umum sih, ini kalo saya tarik, akarnya cuma satu : ga percaya diri.

Bukan saya menertawakan atau meremehkan pertanyaan ini, bukan! Saya hanya takut salah jawab. Makanya hal pertama yang saya lakukan sebelum menjawab pertanyaan itu adalah menempatkan diri saya menjadi dia. Bagaimana seandainya saya punya calon suami dan kami sebentar lagi menikah. Sedangkan kemampuan memasak saya biasa-biasa saja, bahkan cenderung payah. Dan di pihak lain, mantan istri calon suami saya itu seorang wanita yang pintar memasak. Sehingga calon suami saya itu terbiasa punya istri yang pintar memasak. (Eh ribet ga sih kalimat saya? Hehehe).

Tetapi semakin saya berandai-andai, semakin saya punya jawaban yang simpel : so what?.
So what jika mantannya itu pintar memasak sedang saya tidak?
So what jika calon suami saya terbiasa makan yang enak-enak dari hasil tangan istrinya (kala itu)?
So what jika saya tidak bisa memasak sepintar mantan istrinya?
So what????

Saya punya kecerdasan lain yang tidak dipunyai mantan istrinya. Saya punya kelebihan lain dibanding mantan istrinya. Dan di atas semua itu, saya adalah saya, bukan mantan istrinya atau siapapun. Saya mencintai calon suami saya dan selalu belajar menjadi lebih baik. That's all.

Udah saya cuma mau bilang gitu aja. Tak perlu lah mengusahakan si calon melupakan eks-nya? Buat apa? Masa lalu tidak harus dan tidak bisa dipaksa dilupakan kan?

Terkadang kita punya penyakit tidak percaya diri hanya karena kita secara kasat mata kurang dari yang lain. Padahal belum tentu juga kita tidak lebih baik dari orang lain. Saya juga kadang minder, tapi ujung-ujungnya saya pede aja. Toh orang lain belum tentu sehebat yang kita kira kan? Kalopun mereka emang bener hebat justru kita jadi tertantang untuk lebih baik lagi kan?

Note : percaya atau tidak, sejak punya blog, saya sering dapat pertanyaan-pertanyaan yang meminta nasihat. Meski kita ga expert dan ga merasa lebih tau, tapi paling tidak kita bisa share pengalaman, atau bahkan cuma jadi temen sharing doang. Dan kamu tau gimana rasanya? Waarbyasahh!
Read More

Sunday, 14 August 2016

TB Paru Milier dengan Pleura Dextra

Ketika langit benderang
Ketika udara sejuk membelai
Ketika kaki lincah melangkah
Ketika itu kita sering lupa bersyukur,
lupa mendekat, lupa tersungkur bersujud,
lupa menghiba-hiba,
lupa memanggil-manggil keagungan nama-Nya


***

#latepost Juni 2016


Ternyata meski November Rain telah berakhir di mana Ayah telah sembuh Tuberkulosis (TB) Paru, dhuaaaarrrr ... badai selanjutnya datang ! Persis pas Ayah dinyatakan bebas TB, saat pula saya dinyatakan positif TB. Lutut saya langsung lemes, meski sebelumnya sempat kepikiran juga karena 3-4 bulan terakhir nafsu makan saya berkurang, semakin hari semakin parah, ditambah badan yang makin kurus. Tapi tetep saja saya ga siap didiagnosis TB. Anak-anaklah yang membuat pikiran saya terbebani luar biasa. Terbayang anak-anak sudah minum profilkasis TB selama 6 bulan full, sekarang harus minum lagi selama masa pengobatan saya. Sukses mewek deh setiap memikirkan hal itu.

Kesedihan saya tersebut ditambah dengan diagnosis dokter yang menyatakan saya menderita TB paru milier dengan pleura dextra. TB paru milier itu bahasa bodo saya adalah TB paru di mana kuman Mycobacterium tuberculosis - nya menyebar lewat pembuluh darah. Sedangkan pleura dextra adalah terdapat cairan di selaput pleura kanan (selaput yang menyelubungi paru). Ya kurang lebih bahasa sederhana yang bisa saya tangkap seperti itu lah.


Pleura Dextra

Perasaan saya semakin tertekan ketika hasil tes darah menunjukkan SGOT dan SGPT saya tinggi sekali : 3 kali lipat dari nilai normal!! SGPT dan SGOT merupakan enzim-enzim pada hati yang akan meningkat jumlahnya di dalam tubuh jika hati mengalami kerusakan baik kerusakan fungsi hati secara akut maupun kronis. Tingginya nilai SGOT/SGPT membuat saya tidak bisa menjalani pengobatan dengan dosis normal karena dikhawatirkan obat-obatan TB akan membuat fungsi hati saya semakin terganggu. Ya Tuhan apalagi ini??

Maka treatment untuk saya adalah minum obat oral hanya Ethambutol dan Isanizoid dengan dosis rendah dan dikompilasi dengan injeksi Streptomycin. Alamak rempong banget kan disuntik di bokong tiap hari?? Karena dosisnya rendah ditambah pula pengobatan TB milier memang lebih lama dari TB paru biasa, maka dimungkinkan pula masa pengobatan saya juga lebih dari 6 bulan. Bisa 9 bulan, atau bahkan 1 tahun.

Ya Allah langit di atas saya berasa runtuh mendengarnya.

Tidak ketinggalan pula, lambung saya sempat bermasalah ketika itu. Lambung yang tadinya baik-baik saja rupanya ikut-ikutan asamnya naik. Setiap makan bawaannya mau muntah, dipaksain makan malah jadi muntah beneran. Saya jadi lemes karena asupan makanan kurang. Pusing dan berkunang-kunang sudah pasti. 

Kuman TB membuat suhu badan saya selalu naik setiap siang, semakin sore semakin tinggi, malamnya demam tinggi sampe menggigil ga karu-karuan. Setiap hari hanya bisa berbaring di tempat tidur karena lemes, pusing, dan kedinginan. Sedangkan pleura dextra membuat dada sebelah kanan saya terasa nyeri setiap menarik nafas dalam, batuk, ataupun bersin. 


Sepertinya entah kapan saya bisa sembuh dengan kondisi badan dan psikologis seburuk itu.
Itulah November Rain jilid dua bagi saya. Bahkan lebih buruk dari yang pertama. 



Rupanya masa sulit itu selalu ada. Saya stress. Tapi satu sentilan menampar saya ketika suami mengingatkan untuk mendekat selalu pada Allah. Iya, saya lupa. Saya terlalu terfokus pada penyakit ini, pada penderitaan saya. Lupa yang kasih penyakit siapa, lupa mencari maksud Allah memberi sakit ini apa : mungkin saya kurang lama berdoa, ibadah hanya sekadar ritual tanpa menyertakan hati, mungkin saya kurang sedekah, mungkin saya terlalu sibuk dengan anak-anak jarang lagi mengaji jarang buka Qur'an.

Hidup yang selalu terasa mudah, selalu senang, membuat 'hati saya keras'.

Saat sakit itu saya juga merasa bersyukur cuma dikasih sakit seperti itu. Coba di luar sana, ada yang menderita kanker, ada yang dari lahir tidak bisa melihat, ada yang kehilangan tangan atau kaki. Ada yang anaknya kena down syndrom, ada yang anaknya menderita leukimia. Ahh penderitaan saya tidak ada apa-apanya. TB mah keciiilll .... Minum profilaksis mah enteeeng ...


Ah ya.... Rupanya saya perlu dikasih musibah dulu, kesedihan dulu, baru saya mendekat pada Allah.







Read More

Thursday, 10 March 2016

Akhirnya ke Onkologi

#latepost Februari 2016


Masih pada ngeh kan kalo tanggal 4 Februari kemarin diperingat sebagai hari Kanker Sedunia. Tapi sungguh bukan karena itu akhirnya saya mempunyai kesadaran untuk mendatangi klinik Onkologi untuk deteksi dini kanker.

Beberapa minggu terakhir saya merasakan benjolan sebesar kelereng di payudara sebelah kiri atas. Tidak sakit sih, dan sudah saya konsultasikan juga ke bidan dan SPOG, dan kata beliau-beliau tidak apa-apa hanya kelenjar ASI saja. Tapi maraknya kasus kanker payudara yang baru ketauan pada stadium lanjut dikarenakan salah diagnosa, membuat saya memburu dokter spesialisnya untuk bener-bener membuat saya tenang.

Berdasarkan rekomendasi temen-temen meluncurlah saya ke Klinik Onkologi Kota Baru Jogja.

Bangunan klinik ini tidak seperti umumnya rumah sakit atau klinik-klinik lainnya yang berkesan modern dan ‘kaku’. Begitu masuk ke dalam lobi klinik saya agak surprise juga. Ini kayak rumah kuno, betul2 rumah kuno dengan lantai ubin merah, dinding sederhana, dan kusen-kusen kuno. Ada juga lukisan hitam putih kuno dengan yang kayaknya sih tentang dokter jaman dahulu sedang mengobati pasiennya. Ah sayang sekali ga saya foto, padahal pertama kali datang saya langsung tertarik dengan lukisan itu.

Suasana kuno itu justru membuat saya merasa rileks, ga terintimidasi dengan kesan rumah sakit yang biasa menyergap begitu datang. Suasananya cuma kayak berada di rumah biasa aja, bukan di rumah sakit,apalagi rumah sakit dengan nama belakang ‘kanker’, aih denger namanya aja bikin saya keder. Suasana homey itu dilengkap dengan resepsionis yang ramah banget, dan ga pake sragam (!). Yes, saya benci sragam perawat di resepsionis. Bukan benci orangnya, tapi sragam perawat bikin perasaan saya ga nyaman.

Cukup ya tentang deskripsi kliniknya. Oh iya biar ga ngantri kelamaan klinik ini menyarankan untuk daftar via telp atau sms untuk bikin janji dengan dokter spesialis onkologi yg kita pilih. Bisa telp ke 0274-540778 atau sms ke 085292099779.

Berdasarkan rekomendasi temen-temen juga, saya pilih Profesor Teguh. Dari gelar depannya udah pasti tua nih (idih ga sopan ya, bilang-bilang tua). Dan biasanya kalo dokter spesialias yang udah senior bawaannya bete, bicaranya sekedarnya, kalo ditanya panjang lebar jawabannya bukan luas tapi pendek. Udah siap-siap deh kalo dibetein sama dokter tua ini, yang penting dia pinter udah.

Weh ternyata saya underestimate, beliau ga nyebelin kakak! Komunikatif, santun, dan ga buru-buru ‘mengusir’ pasiennya dari kamar praktek. Beliau secara jelas dan bahasa yang mudah kita cerna menjelaskan tentang kondisi kita, bahkan sebelum kita tanya. Masih kita guyur dengan pertanyaan-pertanyaan lain pun beliau masih dengan sabar menjelaskan. Ya benerlah temen-temen rekomen beliau. Lhah top banget gini. Keren lah Prof Teguh ini. Love you deh mister doctor.

Satu lagi yang saya catat, ini dokter bukan  dokter yang main kasih resep aja. Hati-hati betul beliau. Kalo ga butuh obat ya ga perlu kasih resep.

Ternyata dari hasil pemeriksaan dokter Teguh, ga ada yang mengkhawatirkan dari payudara saya. Benjolan itu cuma kelenjar ASI aja. Produksi yang banyak, ga diimbangi dengan pengeluaran yang teratur. Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb. 

Namun untuk lebih memastikan, dokter menyarankan saya untuk USG. Itu pun masih ditawari mau USG di sini atau di tempat lain. Saya jawab, “Di sini dok”. Masih ditawari lagi mau hari ini atau besok-besok lagi. “Sekarang dok, harus saya ketahui hari ini juga dok saya negatif kanker bener tidak”. Eh mantep banget deh tekad saya. Bulat udah.

Nunggu antri USG-nya lamoooo. Untung ada majalah kesayangan saya : Femina!! Oh God... Nunggu sampe tengah malam pun, rasanya saya ga akan mengeluh.

Edsel pun sampe ketiduran saking lamanya nunggu

Pemeriksaan di ruang USG pun dilayani dengan memuaskan. Dokter ahli radiologinya perempuan (yeaayy!) jadi saya ga canggung. Hati-hati dan tlaten betul beliau. Seinci pun ga ada yang dia lewatkan. Ini yang membuat pemeriksaan USG-nya jadi lama karena memang teliti dan hati-hati. 

Akhirnya hasil pemeriksaan USG pun negatif. Alhamdulillah. Kehororan saya selama ini tentang bayang-bayang penyakit kanker payudara lumayan terkikis.

Tinggal satu nih pe-er saya : papsmear! Duh pe-er bener deh ni. Selain karena ga bisa sewaktu-waktu (kalo lagi mens kan ga boleh), juga katanya sakit buk! Aduh harus meringis lagikah daku?
Read More

Wednesday, 13 January 2016

November Rain

Ini bukan cerita tentang November yang basah. Karena toh bulan November kemarin di tempat tinggal saya memang belum turun hujan. Bukan pula saya akan bercerita tentang puisi, atau syair lagu nan romantis.

November kemarin adalah November hujan untuk hati saya. November yang basah. Bisa dikatakan bulan itu adalah masa terberat selama 5 tahun pernikahan saya.

Suami dirawat di RS dengan diagnosa TB paru. Menyebut penyakit ini membuat kepala saya mendadak terasa berat dan perut mual. TB memang bukan penyakit kutukan yang tidak bisa disembuhkan, tapi pengobatan yang lama, disiplin, dan kemungkinan penularan yang besar sudah sungguh menguras pikiran saya. Saya berada dalam masa ter-stress selama hidup saya sepertinya. Menjaga suami yang sakit di rumah sakit, sambil mengasuh balita berumur 4,5 tahun, dan merawat bayi 6 bulan memerlukan tidak cuma tenaga dan waktu. Tapi juga pikiran dan perasaan. Terlebih di masa-masa kritis itu ternyata pikiran dan perasaan negatif yang justru dominan. Alhasil saya capek luar dalam.

Pikiran dan emosi negatif itu diperkuat dengan Edsel yang 3 bulan terakhir berat badannya terus turun, batuk sudah hampir 3 minggu. Duh Gusti,...belum selesai shock saya, selama 3 hari dirawat ternyata suami tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan, malah sepertinya tambah parah. Badannya semakin lemah, intensitas batuk dahak dengan darah (!!) semakin tinggi.

Selama usia anak-anak saya, saya tidak pernah mengasuh anak sendiri. Selalu ada suami yang ikut membantu dan menguatkan saya dalam kondisi apa pun. Sehingga saya bisa menjalani peran sebagai ibu bekerja dengan manis. Bahkan ketika masa-masa anak-anak sering terbangun malam, suami saya lah yang menidurkan kembali agar saya tidak kecapekan karena harus bolak-balik bangun. Sehingga saya sering bersyukur, "Ah apa jadinya jika saya harus mengasuh anak sendiri tanpa dukungan suami". Belum lagi jika dilihat persentase ketergantungan saya pada suami, waduh. Saya ini benar-benar istri yang manja. Pilek sedikit, ah ada suami yang bantu jaga anak-anak. Pusing dikit, ah ga usah masak, suami dengan suka rela akan membelikan makanan untuk semuanya. Urusan motor? Saya nol besar. Saya ini tahunya hanya pakai. Urusan bensin, servis, cuci motor, dll saya mah ga pernah tau. Kalo mau berangkat kerja, ga ada cerita saya manasin motor atau minimal lap-lap, ga ada.

Sehingga ketika tiba-tiba saya dihadapkan pada kenyataan suami dirawat, saya benar-benar limbung. Terlebih selama perjalanan rumah tangga kami, belum pernah kami diberi cobaan yang 'berat'. Palingan hanya yang ringan-ringan dan mudah. Jadi peristiwa itu seperti memaksa saya untuk bangun dan kuat, bukan melulu berleha-leha. Bukan melulu menggantungkan diri pada suami.

Alhamdulillah ketika suami dipindah rawat di RS Paru Surakarta, kondisi berangsur membaik. Dan setelah 4 hari di sana, suami dibolehkan pulang. Maka, ujian selanjutnya menunggu saya. Karena ayahnya positif TB paru, maka saya dan anak-anak juga harus diskrinning. Bayangkan betapa melelahkannya membawa dua balita hampir setiap hari bolak-balik ke rumah sakit. Karena tes untuk mendeteksi TB pada anak-anak bukan tes yang langsung bisa dilihat hasilnya hari itu juga. Tes yang namanya kerennya Mantoux ini, harus dilihat indurasinya minimal 3 hari sesudah penyuntikan. (Mudah-mudahan tentang tes Mantoux bisa saya tulis di postingan tersendiri). Padahal jarak dari rumah ke rumah sakit paru itu tidak kurang dari 80 km.

Thanks God, saya dan anak-anak negatif TB setelah melalui rangkaian tes. Karena saya dan anak-anak tidak ada keluhan batuk lama, penurunan berat badan, nafsu makan, atau keluhan lainnya maka saya hanya perlu pemeriksaan rontgen dada. Sedangkan si Ed rontgen dada dan tes Mantoux. Akis cukup tes Mantoux saja.

Saking seringnya kesini dan saking seringnya antri jadi udah ga canggung aja gleseran kayak gini di koridor

Yang bikin saya tetap termehek-mehek adalah meskipun anak-anak negatif, tapi mereka tetap harus minum profilaksis (pencegahan), yaitu tablet INH. INH itu sebenarnya juga salah satu obat TB tapi dikombinasikan dengan beberapa obat lain. Kalo untuk pencegahan cukup minum INH saja. Si INH ini harus diminum setiap hari selama ayahnya dalam masa pengobatan. Berarti minimal 6 bulan. 

Ahhh...termehek-meheklah daku.


Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena