cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Monday, 12 June 2017

7 Tahun Kita

By : Dedy PDY

Pernikahan, kata yang tidak asing bagi kita-kita yang sudah menikah (hahaaa... Yaiyalaaaah...), bahkan bagi mereka-mereka yang belum menikah. Dan kalau mereka-mereka sepertinya mendengarnya gimana gitu... Ini katanya "sakral", tahu sakral? "sangat keramat dan langgeng" itu istilah saya sendiri. Tapi meskipun begitu lihat kehidupan lingkungan sekitar kita, banyak kawin cerai, wuihhh ngeri, bray. Naudzubillahi mindzalik.

Dulu waktu masih pacaran sampai manten anyar, hemmm jalan bareng gandengan tangan, dikit-dikit lap keringet pasangan, ceileeh... Begitu keingetnya... Masa itu udah jadi recount, tapi recount yang kadang lupa kadang inget. Gak tahu ini sel otak kadang muncul memorinya kadang enggak. haduhhh...

Sekarang usia nikah udah 7 tahun, bocah udah 2, laki semua... Yang kakak umur 6, adiknya 2. Semua sangat aktif dan berisik. Tapi saya yang lebih temperamen, bisa adem karena si ibuk yang lebih berpikir tenang, meskipun kadang udah terlanjur nyemprot... Hihiii.

Suatu hari si ibuk ngasih nasehat ke saya, "Jadilah orang yang punya mimpi dan keinginan tinggi!". Saya gak punya mimpi, saya gak punya keinginan tinggi. Mimpi dan keinginan udah saya serahkan kepada Allah SWT. Udah yang penting... Nih anak2 pada bener kelakuannya. Cuman saya keselnya mereka kadang pada dimanjain, mentang-mentang kita-kita masih numpang. Ya sutra lah... Sabar... Pelan-pelan kasih contoh aja sama tuh bocah 2.

Saya kadang minder juga, masalahnya sebagai kepala keluarga gak bisa kasih nafkah yang sesuai (tahu ndiri, cuman guru yayasan... Dapat cemban aja udah seneng. Tapi tetep disyukurin). Tapi rizkinya itu (saya mikirnya gitu), mau gimana lagi. Ini masalah finansial... Saya banyak kurangnya disini. Saya inget Cak Lontong bilang bahwa dalam menghadapi masalah beban ekonomi keluarga, kuncinya adalah pasrah, maksudnya pasrahkan istri dan anak-anak ke mertua, Hahaaa... Jadinya beban perekonomian berkurang.

Saya orangnya gak terlalu banyak mikir, capek, momong bocah aja udah capek. Tapi itu energi lain untuk melakukan hal-hal lain juga. Kita harus bangga dengan keluarga kita, orang kita yang membangun, kita yang mempondasi, kita yang memberi atap, kita juga yang mengisi dengan hal-hal yang baik. Untung si ibuk orangnya kecil, jadi kita mau beli perabotan banyak gak masalah. Coba kalo punya istri gemuk, ih pasti gak banyak beli perabotan, soalnya rumah udah berasa penuh. Hihiii...

Kami cuma mau minta doa, supaya pernikahan kami terus lanjut sampai ntar dapet cucu, cicit. Cuman bagaimana mempertahankannya. Caranya? Jangan kebanyakan mikir! Lanjut aja... Ntar ada badai, ya udah laluin aja... Masih percaya Allah SWT? Dia yang memberi cobaan, Dia juga yang membri solusi. Istiqomah...
Read More

Sunday, 11 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-1

Jadi atas nama apa pernikahan diadili? 
Apakah atas nama postingan teman di medsos yang terlihat begitu harmonis?
Apakah atas nama ibu-ibu lain yang sharing foto-foto liburan romantis dengan suami?
Apakah atas nama sahabat kita yang update dengan begitu tlaten aktvitasnya setiap waktu atas nama sebagai istri?

Atau jangan-jangan kita saja yang 'gede rasa' seolah-olah mereka pamer untuk mem-bully keseharian kita yang biasa-biasa saja?

Bukankah tak ada tuntutan bahwa kekinian adalah sesuatu yang seragam? Pun tak ada yang salah dengan segala rupa-rupa status mereka. Memangnya kita siapa sampai harus merasa terintimidasi dan kemudian harus menyaingi? 

==

Jadi, jika kau bertanya apa hubungannya tulisan di atas dengan 7 Tahun Kita? Seungguhnya saya tidak tahu persis, karena saya sedang terburu-buru untuk segera tidur sehingga tidak bisa menulis panjang lebar. Besok adalah hari Senin, selain itu anak-anak sudah tidur sejak jam 5 sore, maka bisa dipastikan besok mereka akan bangun sebelum sahur.

Kebersamaan kami hari ini adalah kebersamaan 7 tahun kurang 1 hari.

Foto ini mulai menghuni dompetku pada Juni 2010, tapi sejak setahun yang lalu aku memutuskan untuk mneghilangkannya dari dompet. Maafkan aku.😢  Aku terpaksa melakukannya =======> karena space foto pada dompetku rusak. Akan aku pasang lagi asal kamu membelikanku dompet baru 😜


Bajuku itu-itu melulu. Hehe... Tapi keren yak, meskipun ga modis tapi tempat nongkrong terromantis kami adalah toko buku. Hunting buku sambil pegangan tangan. Weeks.😃

Read More

Saturday, 10 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-2

Kau tahu, terkadang pernikahan itu mirip sayur bening dengan garam pas-pasan. Bumbunya cuma bawang merah dan bawang putih sekedarnya, maka tanpa rasa garam yang mumpuni ia serasa air leding dengan bayam dan wortel.

7 Tahun. Kau kira kami berhaha hihi melulu? Kau kira kami hanya melanglang ke sana kemari tanpa memikirkan gaji? Kau kira kami hanya menebar senyum sana-sini? Betul kami tak pernah bertengkar, betul kami tak pernah adu nada tinggi, betul kami selalu menggenggam tangan setiap kesana kesini. Tapi kami pernah saling memendam emosi, melambungkan amarah dengan pergi tanpa permisi. 

Dan perkara analogi sayur bening tadi, sungguh memang pernah. 

Ada suatu episode kami, di mana saya merasa bosan. Saya merasa jenuh sejenuh-jenuhnya. Tak ada lagi momentum jatuh cinta. Sampai kemudian ada di antara kami yang mengalah menurunkan ego dengan menciptakan momentum itu, bukan menunggunya. Toh, mustahil bukan untuk ditunggu? Kami sudah terbiasa dengan kehadiran kami masing-masing, kami terbiasa dengan perasaan memiliki. Jadi, menunggu momentum itu tak ubahnya dengan menunggu lebaran kuda yang pernah diguraukan SBY : tak mungkin datang.

Sama halnya dengan kebahagiaan. Ia bukan sejenis gaji ke-15 yang bisa ditunggu. Ia bukan juga semacam tuntutan kepada pasangan seperti: "tolong bahagiakan aku" atau "kamu harusnya begini, harus begitu, biar aku bahagia". Lhah, bukannya bahagia itu kita sendiri yang ciptakan? Menuntut pasangan harus begini begitu biar kita bahagia, mau sampai kapaaan? Ga capek menuntut? Wong suami saya itu ketemu saya sudah berumur 26 tahun. Kita ini baru dia bersamai kemarin sore, ujug-ujug kok minta dia berubah? 

Jadi, sayur beningnya saya tambahi garam dengan takaran yang pas dulu. Saya kasih bawang goreng biar makin gurih alami. Saya makannya enak, trus dia makannya juga lahap, ehh sukur-sukur ada bonus : "masakan Ibuk enak, makasih ya". 😃

Aih pinter ya saya ngomongnya, padahal saya mah apa atuh, baru belajar, termasuk belajar konsisten juga. 

Jadi suami saya membersamai tukang masak sayur bening ini selama 7 tahun kurang 2 hari.

Maret 2016. Foto basi ya, ini ketika wisuda sarjana. Itu Edsel mulutnya pake dimiring-miringin gitu sih Naaaak???

Februari 2016. Tak ada kandidat yang akan menyaingi kecantikan saya.


Pesta kostum kayak gini mah hari hari...
Ini lebih hari hari lagi 😒
NB : Maaf ya jika foto-fotonya sering ga nyambung dengan isi tulisan karena memang ga ada niat untuk menyambungkan, Hanya sebagai tempelan pelengkap kenangan saja.
Read More

Friday, 9 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-3

Sejak saya undur diri dari dunia perbakingan keluarga dikarenakan kehadiran si Akis yang sudah cukup menyita waktu dan energi, maka muncullah dia sosok superhero. Superhero yang sempat saya pandang sebelah mata untuk urusan dapur. Superhero ini mengisi kekosongan camilan homemade untuk anak-anak dari dapur sendiri. Superhero ini adalah Dedy.

Camilan-camilannya sebenarnya sederhana. Jauh lebih rumit kue-kue yang dulu saya buat, yang kadang bikin saya stress sendiri karena target saya yang ketinggian. Dengan perbakingan si dia yang sederhana, tentu waktu membuatnya juga jadi lebih cepat, maka waktu tunggu anak-anak juga lebih singkat. Anehnya anak-anak selalu hebring tiap kali ayahnya memasak snack untuk mereka, apa pun itu. Daaaan ... selalu habis!! Bahkan bikin nagih.😒

Kau tanya cara memandikan bayi? Tanyakan padanya. Sejak Edsel dan Akis masih berupa bayi merah, dia telah memandikannya sendiri_bergantian dengan saya. Pun juga cara menggendong dengan menggunakan kain jarit, dia lebih terampil daripada saya. Menyuapi anak? Mengakali ketika mereka GTM? Dia tak kurang pintarnya dibanding saya, ibu mereka. Apalagi perkara remeh temeh macam mengganti popok, menemani saya bangun untuk menyusui, atau meninabobokan anak-anak, itu mudah saja baginya.

Sebagai seorang ayah, barangkali yang tak bisa dilakukannya hanya hamil dan menyusui.

===

Rumah kami punya lampu tidur dari recycle pralon bekas yang dibuat oleh seorang Dedy.
Saya punya laci unik tempat penyimpan bros-bros, perhiasan, dan perintilan-perintilan kecil lainnya yang tak dijual di toko mana pun di dunia ini, hasil karya seorang Dedy.
Kami punya bingkai-bingkai foto yang terbuat dari karton dengan hiasan pasir pantai, kerang, biji-bijian centil, dan daun kering yang tak kalah cantik dengan yang didisplay di toko souvenir, dan lagi-lagi dari tangan seorang Dedy.
Edsel punya kotak pensil dari kain flanel dengan identitas namanya sendiri, bukan dari hasil hunting-nya di toko, tapi persembahan dari ayahnya yang seorang Dedy.
Dinding kamar mandi kami tertempel gambar tahapan-tahapan wudhu untuk mempermudah Edsel ketika berwudhu. Bukan, bukan stiker atau poster yang dijual di toko-toko itu, tapi gambar hasil goresan tangan ayahnya sendiri, seorang Dedy.

Barangkali yang tak bisa dilakukannya sebagai seorang kepala keluarga banyak, tapi bagi anak-anak, ayahnya adalah seorang creator tanpa banding.

==

Saya ngantuuukkkk, udah ah. Yang jelas pria itu, iya itu, sudah membersamai saya selama 7 tahun kurang 3 hari. Titik. Ayo tidur, besok sahur.

Solo, 2016. No caption more, saya ngantuuuk.

Solo, 2016. Ini juga tak ada tambahan caption, saya ngantuuuuuk.

Edsel. Salah satu hobi usilnya : dandanin anaknya aneh-aneh, trus difoto.



Read More

Thursday, 8 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-4

Postingan H-4 kali ini ditulis sambil terkantuk-kantuk karena energi sudah hampir berada pada titik kritis. Dan parahnya lagi, saya mengetik dalam keadaan ga tahu mau nulis apa. Ngikut aja ni jari menekan-nekan tuts-tuts keyboard.

===

Sadeng, Juli 2010. Ini adalah salah satu bentuk kewarasan kami yang perlu dipertanyakan, karena waktu itu kondisi saya sedang hamil beberapa minggu, tapi sepulang kantor tetep nekat jalan-jalan ke pantai. Hasilnya? Sampai di rumah saat adzan Maghrib dan saya mabok kecapekan.

Dia sudah nulis di wordpress jauh sebelum saya kenal blogspot.
Dia punya banyak koleksi buku bagus dengan katalog yang rapi, jauh sebelum saya 'mulai niat' untuk benar-benar membeli buku dan mengoleksinya.
Dia sudah punya koleksi komik-komik Detektif Conan dan Detektif Kindaichi, padahal saya yang merasa saya jauh lebih ngefans dektektif-detektif itu daripada dia aja belum punya satu pun punya komik-komik itu.😒

Dia ternyata penyuka film dan buku, sama seperti saya.
Dia penyuka kopi, sama seperti saya.
Dan dia suka menulis, sama seperti saya.

Dia tidak suka film drama nan cengeng dan romantis itu, berbeda dengan saya.
Dia tidak suka buku fiksi, tidak membawa kemanfaatan baginya, berbeda dengan saya.
Tingkat ketersinggungannya hampir mendekati nol persen, alias tidak 'nggagasan' ( ga mikir). Sungguh berbeda dengan saya.

Jauh sebelum bertemu, kami sudah punya banyak persamaan tanpa rekayasa. Dalam persamaan itu, dia lebih beberapa etape di depan saya. Meski akhirnya kemudian kami saling membersamai, persamaan itu tetap tak mengeliminasi perbedaan-perbedaan yang memang sudah kami sandang masing-masing. Dan kami telah saling membersamai 'dalam sama dalam beda' selama 7 tahun kurang 4 hari.







Read More

Wednesday, 7 June 2017

7 Tahun Kita ~ H-5

Aku pernah di titik itu. Titik di mana aku merasa dia begitu menyebalkan. Titik di mana dia adalah laki-laki yang salah. Sampai-sampai aku menjulukinya dalam hati : "Pria Gunung Es".

Arrgghh...jangan kau tanyakan tentang apa itu romantis kepadanya. Jangan-jangan malah dia tak tahu ada istilah itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau jangan-jangan Kamus Oxford Bahasa Inggris yang dia geluti tiap hari, tak tercetak kata itu karena kesalahan teknis. LOL

Sampai kemudian aku sampai pada satu pemahaman_yang entah aku lupa terinspirasi dari sekilas buku apa yang kubaca_maka aku simpulkan bahwa menikah itu bukan seperti ilmu jual beli. Kau memberi apa, pasanganmu harus membalas hal yang serupa. Kau memeluknya, maka kau menuntut pasanganmu untuk memelukmu juga. Kau menghujaninya dengan perhatian maka pasanganmu kau harapkan juga untuk melakukan hal yang sama padamu. Itu jual beli. Itu perhitungan tentang untung dan rugi.

Semestinya, pernikahan itu menggunakan ilmu bertani. Semai saja, sepenuh hati, sepenuh cinta, sepenuh kerja keras, tak usah merisaukan kapan panen. Pasti panen, pasti. Tidak usah dihitung-hitung, bukan urusan kita. 

Panennya seperti apa? Barangkali dalam bentuk pasangan akan terbiasa dengan sikap hangat kita, maka dia akan meniru, mengimbangi. Atau bisa jadi dalam bentuk sikap ikhlas kita, perasaan 'merdeka' kita karena kita tidak terbelenggu untuk mengharapkan balasan. Atau bisa juga dalam bentuk lain. Who knows?

Dan barangkali saya telah panen.
Dia bukan lagi Pria Gunung Es.
Dia adalah pria hangat yang cerdas.
He is family man.

Dan aku telah membersamai pria ini selama 7 tahun kurang 5 hari.


NB: ini foto-foto yang tadinya tidak akan terupload karena culuuuun sekali. Tapi daripada ilang dan demi melengkapi kenangan, maka nekat aja ditempelin di blog. Foto-foto petualangan kami sebelum ini sudah hilang atau nyelip entah di hardisk yang mana.

Terdampar di tepi jalan dalam rangka petualangan ke Jogja. Sumpah, itu efek pencahayaan saja. Aslinya saya lebih putih dari dia. Weeks.



Masih dalam rangka petualangan after married. Itu di Wonogiri, hihi...cuma di WGM


Read More

Tuesday, 6 June 2017

7 Tahun Kita ~ H - 6

Aku sampai pada satu titik di mana aku benar-benar mensyukuri telah diperjodohkan dengannya.

Dia yang sederhana, menyeimbangkan aku yang penuh dengan imajinasi-imajinasi pencapaian.
Dia yang tenang_seperti lautan yang tanpa gelombang,_melengkapi aku yang serba terburu-buru, ceroboh, dan selalu punya target.

Dia bukan suami dengan impian dan obralan cerita tentang mobil mewah, rumah megah, atau harta-harta kekinian. Bukan. Dia adalah suami yang menciptakan ruang diskusi di rumah kami tentang pendidikan, dan segala harta benda tak kasat mata yang aku namai sebagai petualangan. 

Ya, dia laki-laki sederhana ini, telah membersamaiku selama 7 tahun kurang 6 hari. 


Pulang kerja langsung ditodong membacakan buku

Read More

Friday, 18 July 2014

Catatan Hari Ke-dua puluh

Banyak sekali ya bolong catatannya. Iya, saya sibuukk sekali d kantor. Di rumah juga udah ga sempet mau pegang laptop. Edsel tidurnya malem melulu, paling cepet jam 10 baru tidur. Mana lah saya tega anak masih main mau ditinggal online

Hmm...beberapa hari terakhir ini banyak sekali kegiatan dan kerjaan di kantor. Biasanya juga seperti itu sih, tapi akhir-akhir ini kayaknya ga bisa mikirin yang lain selain kantor. Uff...ni aja mau nulis kayaknya ga mood gitu.

Oh iya, kemarin udah beli timbangan kue sama mikser baru. Ahay, niatnya banget deh pokoknya lebaran kali ini bikin kue yang sesuai resep. Bukannya apa-apa, bukan mau jualan juga, tapi mau dianter ke rumah mertua. Kalo biasanya suka coba-coba resep dengan modifikasi sendiri, sedep-sedep aja kalo dimakan sendiri. Tapi  kalo dikasih orang lain ? Ga pede deh, takut kebangetan ga enaknya. Malu-maluin diri sendiri aja. Runtuhlah nanti imej saya sebagai wanita pembikin kue yang enak. Jiaahh....hahahaha.

Udahan ya. Habis ini mau googling resep. Trus nanti kalo udah libur mau dicobain. See you. Semoga besok mood nulisnya datang lagi.
Read More

Friday, 11 July 2014

Catatan Hari Ke-dua belas

Jika belum tau rasa bubur dengan lauk es krim, mungkin bisa bertanya pada Edsel. Setelah jatuh dengan hasil bibir monyong dan mulut yang terluka kemarin, Edsel ga bisa makan yang kasar-kasar. Makanya saya bikinkan bubur beras yang encer biar mulutnya ga perih. Setelah sekian lama ga makan bubur, ternyata Edsel emohhhh bubur. Bubur beras terakhirnya ketika MPASI usia 1 tahun-an kalo ga salah. Dan sekarang dia jijik dan ga doyan. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya mau juga sesuap dua suap, dan kemudian emoh lagi. Maunya malah makan es krim yang kami beli pagi-pagi di pasar ketika saya ajak dia berbelanja. Saya larang dia makan es krim sebelum bubur ini habis. Minimal setengah mangkuk aja karena kemarin udah ga makan apa-apa, perutnya kosong.

Daannn....si anak Ayah ini mulai menawar. Dia mau makan bubur tapi lauknya es krim boleh ga? Oke deh anak sholeh, boleh, boleh kok, boleh banget yang penting mau makan. Ternyata bubur es krim ini enuaakkk kata si Ed. Dari yang tadinya ga doyan, jadi nambah 2 mangkuk lagi. Ya ampuunn ni anak balas dendam karena kemarin ga makan apa-apa kali ya? Saya sih ga puasa, tapi ogah kalo disuruh nyicipin. Ogah banget deh. Bubur dicampur es krim?? Hoek! Ayahnya yang liat juga cengar-cengir dengan tatapan yang bermakna : MENJIJIKKAN.




Makan siang dan makan malam Ed masih pake bubur dengan lauk ikan dan telur yang dicincang. Jangan ditanya makannya seberapa banyak ya. Banyaakk banget dengan acara nambah pula. Bener-bener deh Edsel balas dendam.

Tarawihnya dong diacungi jempol. Kata Ayahnya Edsel ikut shalat dari awal sampe selesai. Iyah dari shalat sunnah tahiyatul masjid sampe witir. Prok prok prok!! Sampe rumah langsung berlari mencari saya dan pamer banyaknya shalat yang dia lakukan. Apa pasal? Uti janji kalo Ed shalatnya banyak akan dikasih hadiah coklat. Makanya setelah itu kita langsung ke rumah Uti untuk nagih hadiah yang dijanjikan itu. Yayayaya......gapapa deh, untuk penyemangat.

Read More

Thursday, 10 July 2014

Catatan Hari Ke-sebelas

Perayaan kemenangan. Hari kesebelas Ramadhan ini saya menemui 3 jenis perayaan kemenangan di mana-mana. Perayaan pertama, pagi buta. Saat Jerman menampar muka Brasil di rumah sendiri dengan gol 7-1. Tamparan yang menyakitkan, publik Brasil menangis, berdarah-darah. Siapa menyangka Jerman akan semudah itu membuat 7 gol! Bayangkan 7 gol ke gawang sebuah tim yang bahkan bola sudah menjadi seperti agama bagi mereka. Kemenangan yang pantas untuk dirayakan. 

Perayaan kemenangan kedua, siang hari, selepas TPS-TPS ditutup dan hitung cepat mulai ditampilkan. Perayaan kemenangan Jokowi. Meski cuma quick count alias penghitungan berdasarkan sample, tapi capres nomor urut 2 ini sudah merayakan kemenangannya dengan konferensi pers. Kita berpikir positif saja, pertarungan menuju RI 1 kemarin cukup melelahkan, menyita waktu, energi, dan uang tentu saja. Secercah angin kemenangan meski cuma lewat quick count mungkin membuat nafas terasa lega. Walaupun menurut saya deklarasi kemenangan itu terlalu prematur. It's okay, semua berhak membuat konferensi pers, semua berhak mendeklarasikan kemenangan dengan caranya masing-masing. Kita doakan saja semoga hasil resmi dari KPU nanti benar-benar menghasilkan presiden yang tidak cuma sekedar bisa merayakan kemenangan tapi juga membawa kemenangan itu untuk kerja keras dan kerja cerdas selama 5 tahun ke depan. 

Perayaan kemenangan ketiga, buka puasa untuk umat muslim di seluruh dunia. Meski saya masih belum puasa karena masih berhalangan, tapi waktu berbuka tetap saja menyenangkan untuk kami sekeluarga. Sayangnya buka puasa kali ini agak sedikit sedih karena siangnya Edsel jatuh ketimpa kursi. Bibirnya jadi monyong, mulutnya keluar darah banyaaakk sekali, dan 2 gigi depannya goyang. Gara-gara itu dia jadi tidak bisa makan, setiap makanan masuk ke mulut dia meringis. Ga makan siang, ga makan malam, dan ga ngemil juga. Oh anak yang malang. Padahal dia kelaperan, pingin banget bisa makan, apalagi siangnya kami bikin kue stick putri salju bersama dan semangat sekali nunggu mateng. Eh sebelum mateng dia udah jatuh dan bobo siang. 

Liat bibir atasnya, tambah monyong aja

Selamat memasuki 10 hari kedua ya... Ramadhan tahun ini kita telah berhasil menjalani peristiwa penting dalam rangka mencari pemimpin. Semoga senantiasa aman dan tanpa ribut-ribut sampai pelantikan presiden Oktober nanti. Oh iya jangan lupakan Palestina ya. Herannya kok tivi-tivi abai dengan berita tentang Palestina yang sudah dibombardir Israel. Semua berita tentang Piala Dunia dan Pilpres. Ga ada sedikit ruang kosong untuk saudara-saudara kita itu. Atau mungkin saya yang ga liat? Hmmm.....
Read More

Wednesday, 9 July 2014

Tumis Hati Ayam Jamur Kancing

Panjang amat yak namanya? Hahaha... Kisah di balik resep ini adalah saya sukaaa banget jamur kancing (jamur champignon) tapi di sini suka susah nyarinya, ga ada malah. Yah namapun juga di kampung ya, saya kan emang anak kampung. Jadi waktu hari Jumat kemarin ke Jogja sekalian aja beli jamur ini. Sampe tadi pagi belum kepikiran juga mau dimasak apa. Mumpung hari ini libur, niat banget harus eksekusi jamur ini. Buka kulkas cuma ada hati ayam doang, bumbu-bumbu juga ga lengkap. Browsing resep, isi kulkas saya ga memenuhi syarat untuk masak sesuai resep. Maka seperti yang sudah-sudah, masak aja dengan bahan yang ada, abaikan resep, yang penting bisa dimakan. Maka jadilah resep dengan segala keterbatasan materi yang melingkupinya. Tapi namanya dong, mentereng kan ?

Inih jamur favorit saya itu : jamur kancing

Bahan :

  • Jamur kancing belah jadi empat
  • Hati ayam
Bumbu :
  • Bawang putih cincang halus
  • Bawah merah iris tipis
  • Jahe keprak (dikit aja ya, kurleb 3 cm)
  • Cabai merah buang isi, iris serong
  • Merica bubuk
  • Garam
Cara membuat:
  • Hati ayam direbus terlebih dahulu sampe matang, tiriskan, potong dadu.
  • Tumis bawang putih, bawang merah, dan jahe sampe harum.
  • Masukkan hati ayam, aduk-aduk sampe bumbu tercampur rata.
  • Masukkan jamur, cabai merah, merica bubuk, dan garam. 
  • Aduk-aduk dan diamkan beberapa saat sampe bumbu meresap.
  • Angkat, hidangkan.
Tumis hati ayam jamur kancing. Yummy...

Jangan tanya kenapa bahan-bahannya ga ada ukurannya. Semua resep yang saya bikin sendiri memang ga saya ga ada ukurannya, cuma saya kira-kira sendiri, sesuai feeling aja. 

Rasanya menurut saya sih enak, terbukti semua orang juga pada makan dan fine fine aja. Ga pada muntah karena ga enak. Hahaha... ekstrim amat ya indikator enak ga enaknya. Eh tapi serius lho enak kok, cobain deh. Yummy...
Read More

Stick Putri Salju

Kenapa saya jarang banget posting resep? Karena saya malas menjepret step by step-nya. Saya juga malas mengambil gambar hasil akhirnya karena sebelum difoto biasanya udah masuk mulut Ed duluan. Padahal resep tanpa picture pasti ga menarik dong, susah dibayanginnya. Lagipula masakan saya juga ga spesial, seringnya malah dimodif sendiri karena keterbatasan bahan dan alat.

Nah hari ini tumbenan pingin posting resep. Ke dapur bawa camdig, bentar-bentar ambil foto. Sebelum bikin adonan difoto, Edsel lagi marut keju juga difoto, niat banget dah. Soalnya sekarang kalo masak seringnya dibantuin Ed. Jadi itung-itung biar buat dokumentasinya dia deh.

Ed semangat banget tiap diajak masak

Netbook wajib dibawa ke dapur untuk contekan resep. Maklum yah,  ga punya tablet.
,
Ini resep saya ambil dari website-nya Blue Band, tengok-tengok sana deh banyak resep kue kering yang menarik tapi gampang. Ada juga video step by step-nya jadi kita ga perlu susah-susah ngebayanginnya.

Adonan Stick Putri Salju:
  • Blue Band Cake & Cookie
    175 gr
  • Gula halus
    75 gr
  • Kuning telur
    2 butir
  • Tepung terigu serbaguna, ayak
    250 gr
  • Baking powder
    1/4 sdt
  • Tepung maizena 
    50 gr
  • Keju cheddar, parut
    50 gr
  • Keju edam, parut 
    75 gr
  • Kacang Almond, sangrai, tumbuk kasar
    50 gr

Hiasan
Cokelat masak putih, lelehkan            300 gr
  • Kacang Almond, cincang kasar, sangrai 
    100 gr
  • Gula Halus, ayak 
    50 gr
  • Berbagai variasi topping sesuai selera, seperti: meses, trimits, dll


CARA MEMBUAT

Adonan Stick Putri Salju:

  1. Kocok Blue Band Cake & Cookie dan gula halus hingga lembut. Tambahkan kuning telur, kocok rata.
  2. Masukkan tepung terigu dan baking powder. Aduk rata.
  3. Tambahkan sisa bahan, aduk rata.
  4. Giling adonan dan potong memanjang 10 x 1 cm.
  5. Panggang adonan yang telah berbentuk stick tersebut ke dalam oven bersuhu 180⁰C selama ±15 menit. Dinginkan.
  6. Celup ujung stick ke dalam cokelat leleh. Hias dengan kacang atau sesuai selera.
  7. Taburkan gula halus yang telah diayak di bagian yang tidak dicelup cokelat. Sajikan.
Itu resep versi aslinya, tapi beberapa sengaja saya modif :
  • Saya ga punya timbangan kue, jadi berat bahan cuma saya kira-kira aja.
  • Saya ga pake keju edam dan kacang almond karena ga punya.
  • Saya juga ga pake penggiling kue. Adonan cuma saya tekan-tekan aja dengan telapak tangan.
  • Hiasan coklat lelehnya ga pake coklat putih, tapi yang coklat blok warna coklat. Edsel lebih suka yang warna coklat, dan buat saya coklat itu mantepnya ya warna coklat.
  • Karena saya cuma punya oven tangkring (itu lho oven yang cuma ditangkringin di atas kompor dan ga ada alat pengatur suhu) maka manggangenya cuma saya kira-kira aja. Pake api kecil dengan waktu kurang lebih 20 menit. 
  • Setelah mateng ga saya taburi dengan gula halus biar Ed ga kebanyakan makan gula lagi. Cukup dihias dengan coklat leleh dan taburi toping di atasnya.
Ini hasil akhirnya setelah dicelup coklat dan ditaburi toping

Meski ga sesuai dengan resep aslinya tapi rasanya tetep enak lho. Kalo semua bahan dan alat ada memang lebih enak ikut resep asli, tapi jika tidak be creative aja. Yang penting bisa dimakan, hehehe... 
Read More

Tuesday, 8 July 2014

Catatan Hari Ke-sepuluh

Ramadhan hari ke-sepuluh, itu artinya tanggal 8 Juli, artinya pula H-1 menjelang Pemilu Presiden. Tahun ini istimewa ya, 3 pesta besar sekaligus digelar : Piala Dunia, Ramadhan, dan Pilpres. Khusus untuk pilpres, saya tidak pernah menuliskan tentang ini di blog atau media sosial. Bukan apa-apa, tapi males aja karena topik ini udah menjadi topik yang paling sering diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan dipertengkarkan. Takut salah omong, takut salah komen, dan yang jelas sudah sangat bosan dengan perbincangan pilpres yang ujung-ujungnya itu-itu aja, kesitu-situ lagi. Udah ga keren kalo kata saya mah.

  • Hari ini cuaca masih tetep mendung, cuma tipis dan tidak cukup mampu untuk menjatuhkan hujan. Udara dingin. Semoga bisa mendinginkan hati hati yang panas, dan menentramkan jiwa-jiwa yang kalut karna cinta tak berbalas. (Hahaha...makin kacau kan ngomongnya. Mendung emang bisa bikin ngelantur).
  • Tanpa sengaja nemu web-nya Ustadz Yusuf Mansur dari status seorang teman. Like this. Jika ada ustadz yang cerdas, humble, tidak banci infotainment, dan tausiyah -nya bisa sampe ke hati maka itu salah satunya adalah Yusuf Mansur. Dan web-nya ini penuh artikel-artikel yang bermanfaat.
  • Hari ini Edsel TPA seperti biasa dan tarawih seperti biasa. Tak ada yang luar biasa, tapi itulah istimewanya.
  • Ed bobo jam 21.00, wow!! Ini tidur tercepatnya dalam beberapa minggu terakhir. Tapi saking ngantuknya sampe belum gosok gigi dan cuci kaki. Hmmmm....
  • Malam ini Ayah ke TPS, persiapan buat pilpres besok. Semoga sukses ya.
Besok insya Allah kita akan tahu siapa presiden kita yang baru. Siapapun yang jadi nanti, semoga tidak ada permusuhan di antara saudara se-negeri. Lebih baik memilih mendoakan agar pemimpin kita bisa memimpin bangsa ini untuk lebih baik. Toh mau 1 atau 2 yang jadi presiden, jika kita tidak mau mengubah diri sendiri, tetap tidak ada perubahan yang berarti bukan? 

Read More

Catatan Hari Ke-delapan dan Ke-sembilan

Makin pemalas ni, nulisnya dirapel mulu. Tapi sebenarnya bukan males sih ya, tapi karena emang baru sempet. 

Hari ke-delapan
Hai, apa kabar dengan hari ke-delapan?

Es krim ala chef Ed

  • Ini tumbenan hari Minggu ga di tempat Uti. Ayah maunya besok aja hari Senin katanya, sekalian pulang dari sekolah karena si Ed mau ikut ke sekolah Ayah.
  • Kita bikin es krim lho. Gyahaha....es krim abal-abal tapi. Lah wong ga ada krimnya sama sekali. Jadi ni cuma jus buah tuangin ke cetakan es krim, trus ada yang kita variasiin dengan ditambah coklat bubuk dan susu kental manis. Ada juga yang cuma yoghurt cair kita tuang gitu aja ke cetakan. Masukin freezer, beku, udah gitu doang. Enak ga? Nah buktinya Edsel doyan. Dalam tempo sehari habis 5 stik. Rasanya pasti sama aja dengan versi cairnya, tapi sensasi megang stik es krimnya itu yang bikin Ed suka. Apalagi dia ikut bikin, waahh jaminan kalo pasti kemakan deh. Tapi yang dicampur dengan coklat bubuk bikin saya hoek-hoek. Ini emang saya yang dodol. Itu coklat cuma saya campur doang dengan air dingin dan susu kental manis. Terang aja rasanya kayak tepung mentah, hambar dan 'nggilani'. Mungkin seharusnya dilarutkan dulu dengan air panas biar mateng.
  • Hari ini setelah beberes rumah, acara kita cuma main-main. Main dinosaurus-dinosaurusan, masak-masakan, main bola, corat-coret. Hari ini malah ga buka buku sama sekali, ga main sepeda juga.
  • Edsel makannya banyak banget. Pagi sarapan dua piring, siang dua piring, sore dua piring juga. Nugget nih biang keroknya dia makan sebanyak itu.
  • TPA-nya telat lagi. Jadi ketinggalan acara jalan-jalan deh (tiap hari Minggu ada acara jalan kaki keliling kampung dengan rute tertentu).
  • hari ini kerjaan saya banyak dibantu Ayah, banyaaakk sekali. Thanks to Ay. Walaupun sering Ibuk bilang kalo ilmu komunikasimu nilainya C, tapi ilmu ringan tanganmu patut dapat nilai A plus, eh A aja ding.
  • Tarawihnya sama Ayah. Manis dan tanpa kendala

Hari ke-sembilan
  • Hari pertama di minggu kedua. Senin jadi pembuka minggu yang sendu. Memang beberapa hari terakhir ini cuaca di Gunungkidul sendu. Mendung, tapi ga hujan. Berangin tapi ga kenceng. Seumpama anak gadis, cuaca bulan puasa di sepuluh hari pertama ini jinak-jinak merpati. Thanks God, cuaca seperti ini menjadikan kami lebih mudah menjalani ibadah puasa. 
  • Pimpinan yang baru belum datang. Padahal udah penasaran aja kayak apa beliau-nya. Jangan-jangan merasa neg punya staf yang banyak omong macam saya.
  • Rapat pembentukan panitia HUT RI ke-69. Uff...benci sekali rapat kegiatan sosial di jam-jam pagi begini. Bukan apa-apa, tapi kerjaan utama saya jadi ke-pending dong.
  • Pulang langsung ke tempat Uti menyusul anak dan suami yang udah di sana.
  • Sebelum bobo, Ed gosok gigi 4 kali. Modusnya :  makan trus gosok gigi, trus makan lagi biar gosok gigi lagi, dan terus begitu. Ada apa sih? Odolnya baru! 
  • Sebelum bobo malah minta pulang ke rumah. Ada apa lagi? Laptop ketinggalan di rumah, jadi ga bisa nonton film kesayangannya. Jam 9.30 malam kami berduyun-duyun pulang. Ay dan Ed naik motor. Saya naik apa coba? Sepeda gunung dengan berpakaian seragam kantor, bawa tas ransel, dan make sendal Ayah. Kayak orang ga waras deh kalo dilihat.
Udahan ya, besok disambung lagi. Mudah-mudahan tidak ada aral-melintang biar catatannya ga acak-adul.



Read More

Saturday, 5 July 2014

Catatan Hari Ke-enam dan Ke-tujuh



Borongan ya catatannya. Ini juga sempet nulis karena si Ed udah bobo cepet, biasanya paling cepet jam 22.00 baru tidur.

Hari ke-enam 

  • Hari ke-enam puasa, hari Jumat, ga ke kantor karena ada rapat di Kepatihan. Tadinya udah ngebayangin kalo perjalanan pasti panas banget, apalagi cuma naik motor, tapi ternyata mendung dan ga hujan. Jadinya sejuk, enak buat jalan. Alhamdulillah. Tambah seneng lagi karena ga perlu bawa motor sendiri, tapi diboncengin temen. Aihihi.. Dianter temen tidur maksudnya, babe-nya si Ed. Ini berkah puasa kali ya, soalnya baru kali ini rapat dianterin, biasanya pan harus mandiri. Hehehe...
  • Ya nama pun sama suami ya, sekalinya pergi berdua ga mungkin ga, pasti mampir-mampir. Selesai rapat dan shalat Jumat, (niatnya) cuma mampir bentar ke Progo. Mau beli taplak meja dan beberapa kebutuhan harian. Tapi akhirnya jadi keterusa beli mainan si Ed, beli tempat minum, beli wadah sepatu, beli ini, beli itu. Dan sebagaimana layaknya saya, kalo milih ya pasti lama karena pake menimbang dan mengingat, baru memutuskan. Menyesal ? Tidak. Karena semua memang barang yang memang seharusnya dibeli kok. 
  • Alamaaak... sampe rumah badan rasanya remuk-redam, udah hampir Isya' pula. Ga tarawih ke mesjid dulu ya, Nak. Besok lagi deh, besok. Oke? Aih, anak jejaka saya ini emang kesayangan jiwa deh. Ditinggal emak babenya seharian ga rewel, ga ngrepotin orang rumah yang dititipin. Bahkan ketika kami sampe rumah, langsung disambut dengan peluk dan ciuman bertubi-tubi sambil bilang : "Edsel sayang Ayah, Edsel sayang Ibuk".  Hiyaa hatiku menghangat dan kemudian meleleh tanpa ampun. Cinta sama kamu, Nak. Selalu.
  • Mandi, shalat, makan. Habis ngurus diri sendiri, langsung kruntel-kruntelan dengan si peleleh hati sambil ga ketinggalan liat Ice Age, eh bukan ding, malam ini ganti nonton Walking with Dinosaurs The Movie. Belum selesai filmnya, dia udah ga ada suaranya, pertanda : merem. Waktu menunjukkan pukul dua puluh dua we i be.

Hari ke-tujuh
  • Libur. Selalu suka dengan libur di hari Sabtu deh, berasa lama bisa berkumpul dengan anak dan suami.
  • Liburan di rumah memang selalu banyak yang ingin dikerjakan. Bersihin ini itu, rapihin ini itu, nyuci ini itu, dan main ini itu sama si Ed. Tapi selalu ya, puasa di hari libur selalu ngantuk di jam-jam kritis, jam 11-an. Arggh... 
  • Gegara ngantuk ini, saya jadi salah ambil keputusan. Aturannya kalo siang si Ed ga boleh muter film, siang itu waktunya main. Karena ngantuk tak tertahankan saya ajak Ed muter film, niatnya sih biar saya bisa ikutan merem barang sebentar aja. Eh tapi keputusan ini saya sesali sesesal-sesalnya. Besok-besok Si Ed bisa aja jadi sering minta untuk muter film kalo siang. Tadi aja dia kayak ga percaya gitu saya ajak nonton, girang sekali. Bener-bener deh, saya langgar sendiri aturan yang udah kami buat bersama. Doh!
  • Waktu berbuka, masih tetap hangat seperti biasanya.
  • Tarawih, dan bencana pun dimulai dari sini. Kebetulan tadi sore jam 4 saya 'dapet', jadi malam ini ga bisa ikut tarawih ke mesjid. Si Ed ke mesjid cuma sama Ayah. Ga tahu gimana detail ceritanya, belum selesai tarawih (baru selesai shalat Isya' kayaknya) ni anak udah pulang sama Ibu saya. Lah si Ayah mana?? Sampe rumah udah nagih minta jajan sama Ibu saya. Saya larang dong, gimana ceritanya malam-malam jajan, wong di rumah aja udah saya sediain snack baragam-ragam. Megap-megap lah ni anak, sang nenek yang selalu ga tega melihat cucunya bersimbah air mata, nekat ajak dia ke warung tanpa mempedulikan tatapan bengis saya. Pulang dari warung : TIDUR. Ya Allah, saya baru inget, Edsel tadi siang cuma tidur siang sebentar. Kebiasaan ni anak, kalo tidur siangnya kurang, memang suka bad mood kalo malam. Gampang marah begitu kantuk datang. Duh jadi nyesel deh tadi saya ga peluk dia ketika rewel minta jajan. 
Sekarang memang baru hari ketujuh, belum genap dari hitungan jari. Tapi besok, dan besoknya lagi, waktu akan cepat berlalu. Ramadhan seolah berlari kencang. Takut, takut sekali bukan jika tahun depan Ramadhan tak lagi menyapa kita? 
Read More

Thursday, 3 July 2014

Catatan Hari Kelima

Hayuk hayuk.... udah hari kamis, hari kelima !


  • Makan sahurnya kali ini pake sambel goreng tuna sisa buka ya, ditambah cah kangkung dan tempe goreng. Buah pepaya jadi penutupnya deh. Sederhana banget yak? Yang penting lengkap deh komposisinya.
  • Yang jelas hari kelima udah ga pake lemes-lemesan lagi, kan udah terbiasa. Tapi hari ini agak mellow deh, pasalnya menjelang pulang ada berita kalo besok ada pelantikan pejabat. Secara kepala seksi saya kan baru 7 bulan ada di sini, masak iya udah mau ganti lagi. Belum tentu kan dapat pemimpin baru yang lebih baik, udah gitu perlu adaptasi lagi kan sama orang baru. Hiks. Mudah-mudahan dapat pemimpin yang lebih amanah ya besok. Amiin.
  • Hari ini TPA-nya Edsel sukses ya. Duduk manis ngikutin temen-temen lain pada ngaji (liatin doang sih lebih tepatnya, he he he), trus dilanjutin dengerin ceramah dari ustadznya. Duduk manis sampe selesai.
  • Menu berbukanya seru nih : tongseng landak, sayur asem-asem, tempe goreng, tahu goreng. Tak lupa lemon tea panas dan kolak jadi appetizer-nya (ceileh appetizer, sok-sokan bule ). Eh itu tongseng landak-nya cuma pemberian ya, bukan saya masak sendiri. Eike mah ga bisa masak makhluk aneh-aneh gitu, ngeri duluan.
  • Tarawih-nya ganti ke mesjid lain. Ga ke mesjid yang kemarin. Jadi terhitung nih, selama 5 kali tarawih ini kami udah keliling 3 masjid, hehehe.... Untuk memberi pengalaman baru untuk Edsel sih.
  • Edsel bobo jam 22.00 seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula nonton film Ice Age dulu untuk pengantar tidur. Tapi malam ini ganti minta diputerin Ice Age yang nomor 3 : Continental Drift. 
Tapi ngomong-ngomong, kok nulis rutinitas harian gini membosankan ya. Rasanya garing. Beda sama nulis tentang suatu topik. Nulis milestone juga rasanya gini, garing. 

Tapi ga boleh gini ah, ayo kita semangat nulis apa aja. Katanya hobi, hobi ga boleh pilih kasih, bolehnya pilih-pilih cinta. Gyahaha....salam garing deh. Kayaknya tulisan saya memang garing.

Cinta Ramadhan selalu ya.
Read More

Catatan Hari Keempat

Seneng ya kalo Ramadhan, rasanya suasana di keluarga jadi tambah hangaaaatt aja. Paling seneng kalo momen berbuka, semua kumpul berbuka bareng dengan membawa cerita masing-masing, ditambah melihat kekonyolan Edsel. Waahh... ga tergantikan deh. 

Cuma kayak gini, tapi nikmatnya luaarrr biasa.

Selalu konyol 

Hari keempat kemarin ga beda jauh dengan hari-hari sebelumnya, tetep indah, tetep penuh catatan cinta.

  • Hanya makan sahur dengan sop ayam dan tempe goreng. Buahnya jeruk lagi. That's all. Tetap nikmat. Ngebayangin adik saya yang ada di kost, yang mungkin cuma makan nasi bungkus dengan lauk seadanya dan saya yakin tanpa buah, rasanya keterlaluan kalau sop ayam ini kurang nikmat.
  • Kantor tetep ramah buat hari ke-empat ini. Kerjaan yang gede-gede kan udah diselesain sebelum Ramadhan, jadi sekarang cuma tinggal kerjaan yang ga terlalu menguras pikiran. Ramadhan yang sempurna bukan ?
  • Kemarin jadwalnya kita ngasih takjil ke mesjid. Jadi sebelum berangkat TPA mampir dulu beli makanan takjil. Dan sesuai perjanjian sebelumnya, Edsel minta es krim, just ice cream, ga boleh tambah yang lain. Dimakan lah es krim itu sebelum masuk masjid, di depan gerbang yang ada tempat duduknya. Ni anak makannya buru-buru banget, takut kalo TPA nya keburu bubar seperti beberapa hari sebelumnya. 
  • Dug dug dug...! Waktunya berbuka. Sambel goreng tuna, pecel, tempe goreng, kolak singkong, dan lemon tea panas sudah menunggu. Itu singkong hasil panen sendiri lho (ceileh panen, kayak banyak aja). Jadi ceritanya ada sisa pohon singkong di depan rumah yang tinggal 1 batang, tinggal 1 batang doang lho. Pohon singkong lain yang kita tanam di awal musim penghujan lalu udah habis dipanen, udah lamaaa sekali, setengah tahun-an lah. Nah yang itu ketinggalan, ga tau karena lupa atau memang buat kenang-kenangan. He he he... 
  • Tarawih masih jadi hal yang paling ditunggu Edsel. 
Baru 4 hari ya. Kalo udah dapat 10 hari berasa cepet banget berlalunya, trus nyesel kalo ga memanfaatkan dengan baik. 

Always love you, Ramadhan.
Read More

Wednesday, 2 July 2014

Catatan Hari Ketiga

Hari ketiga =  3 Ramadhan 1435 = 01 Juli 2014


  • Makan sahurnya pake apa ? NASI BUNGKUS. Iya nasi bungkus. Jadi ini sahurnya juga masih di rumah mertua, apa pun yang ada ya makan aja lah. Eh tapi nasi bungkusnya enak lho. Saya yang biasanya ga suka sama nasi bungkus, ini bisa habis meskipun nasinya nyisa dikit. Ini komposisinya : nasi, oseng tempe, cap cay dengan sawi hijau yang banyak ( sukaaaaa ), perkedel yang sumpah enak banget, tempe goreng tepung yang renyah garing yang juga sumpah enak banget.
  • Berhubung berangkat tidurnya kemaleman, dan tidurnya bolak-balik bangun karena Edsel minta minum, ditambah habis shalat Subuh liat bola, jadi agak-agak pusing waktu pagi mau berangkat ke kantor. Ini efek kurang tidur nih.
  • Di kantor enak, ga ngantuk, ga lemes. Ini juga karena kerjaan yang udah agak mendingan, jadi ga terlalu ngoyo kerjanya.
  • Edsel ga ikut TPA, bangun tidurnya kesorean jadinya ogah-ogahan diajak segera mandi. Ikut bantuin siram-siram tanaman deh sama Ayahnya, TPA-nya absen dulu.
  • Ini menu buka yang tersedia di meja my mother law : teh manis, jus jambu, kolak pisang kelapa muda, kurma, kroket kentang, agar-agar pelangi, ayam goreng dengan lalapan daun pepaya muda. Ahh... favorit sekali deh, apalagi dengan sambel bawang yang bisa bikin api keluar dari mulutmu. Huaahh pedas, mantaapp. Dan makan besar itu pun ditutup dengan buah pepaya dan jeruk. Cantik sekali. 
  • Tarawih, tarawih ... Ini kegiatan favorit Edsel sekarang. Mungkin bagi dia, ini pengalaman yang menyenangkan melihat orang-orang pada shalat, khusuk, tenang, dan dia bisa jumpalitan seenak udelnya sendirinya tanpa diperhatikan ato digerecokin.
  • Sepulang tarawih Edsel lupa ga minta nyalain kembang api. Padahal kemarin dia bilang kalo 1 malam 1 batang selama bulan puasa. Hehe... lumayan ngirit. Tapi seperti biasa, film pengantar tidurnya ga bakalan pernah lupa : Ice Age 2 Dawn Of  The Dinosaurs. Film itu kan durasinya 1,5 jam, jadi kalo jam 9 baru mulai muter, jam setengah 11 baru bobo. Alamak ! Udah 1 bulan lebih deh tiap mau bobo harus nonton film ini. Sampe saya, Ayahnya, dan dia sendiri hapal sama dialognya. Bujut dah.
Siap-siap tarawih


Kroket dan agar-agarnya cuma beli. Hi hi hi...

Udah ya, sekian catatan cinta hari ketiga. Mau nulis udah taddarus berapa halaman ato shalat sunnah apa aja, tapi takut riya'. Susah lho ngikhlasin hati kalo udah kesebar-sebar gitu. Lagian malu juga karena ga ada apa-apanya dibanding teman-teman lain. 

Oke... selamat melanjutkan Ramadhan ya untuk semuanya.
Read More

Tuesday, 1 July 2014

Catatan Hari Kedua

2nd day..!! Yeayy, alhamdulillah. 

Hari kedua itu kemarin ya, Senin, tapi baru ditulis sekarang.

Oh ya, tadi malam ada yang tanya via inbox kenapa Ramadhan tahun ini lebih indah ? Salah satunya karena tahun ini bisa puasa penuh, ga bolong-bolong kayak tahun kemarin-kemarin karena hamil dan menyusui. Juga bisa tarawih jamaah di masjid karena Edsel udah bisa diajak tarawih sampe selesai. Itu sih yang utama, jadi Ramadhannya bener-bener berasa Ramadhan. Yang lain-lainnya yaaa mungkin karena banyak banget yang bikin saya bahagia bersyukur, Edsel udah gede, kelurga kami sehat dan utuh, dan masih banyak lagi yang Allah saja yang tahu kenapa saya begitu bahagia.

Oke, kembali ke catatan cinta Ramadhan hari kedua ya.

  • Menu sahur : orak-arik sayuran, tempe goreng, ikan goreng, dan buah jeruk (lagi !!). Sederhana sekali kan menu sahur kami? He he....
  • Edsel TPA sama Ayahnya, Ibuk ga ikut karena belum pulang dari kantor. 
  • Menu bukanya apa ? Nah lumayan lengkap nih karena kami di tempat Uti. Ada teh manis, kurma, kolak pisang, jus jeruk, soto ayam, ayam goreng kremes, tahu tempe bacem, tahu isi, sayur lombok ijo, dan bothok terong. Buahnya juga tinggal pilih : ada jeruk, apel, anggur, semangka kuning. Hiahaha...memang selalu makmur ya kalo buka puasa di rumah mertua.
  • Ini tarawih kami yang ketiga, Edsel semangat sekali seperti biasa. Dia guling-guling, lari-lari, lompat-lompat, dan naikin punggung saya ketika sujud dan rukuk. Untung ga sampe mengganggu jamaah lain, jadi dia mainnya di space yang kosong. Eee... tapi ketika kami shalat witir di rakaat terakhir, dia jatuh. Keras banget dan sakit banget kayaknya! Eh tapi dia ga nangis lho. Padahal semua yang denger suara benturannya aja pada kaget dan histeris. Edsel emang gitu sih, dia anaknya gengsian. Gengsi nangis, gengsi ngaku sakit, gengsi kalo ga bisa melakukan sesuatu, gengsi kalo ga terlihat pintar. Padahal boleh banget lho nangis dan kesakitan, saya ga pernah melarangnya. Bahkan saya sering bilang boleh nangis, boleh bilang sakit, ga perlu ditahan. Tapi Edsel tetaplah anak Ayah : GENGSI-AN.
  • Habis tarawih beli kembang api. Ini karena saya ga tega liat anak jejaka yang badannya gemetar habis jatuh trus bilang : " bal talweh tumbas kembang api yo Buk" (habis tarwih beli kembang api ya buk). Sejak sore dia memang udah minta kembang api, tapi kami bilang kalo belinya setelah pulang tarawih. Jadi dia 'mengobati' rasa sakitnya dengan membayangkan bahwa sebentar lagi akan beli barang yang udah dia tunggu-tunggu itu.
  • Hari kedua puasa saya capeekk sekali di kantor, karena memang banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Jadi dari pagi sampe jam kantor bubar pun, masih riweuh. Memang beda sih 'ketahanannya' dibanding ga puasa, jadi lebih gampang capek. Tapi .... tetep semangat !!!
Udahan ya. Sebenarnya masih banyak yang mau dicatat, tapi ini masih banyak yang harus saya kerjakan karena online di kantor. Mudah-mudahan selanjutnya bisa online di rumah lagi. Port USB di laptop saya lagi ngambek, dicolokin modem ga bisa, makanya ini nebeng update blog di kantor.

See you. 


Read More

Sunday, 29 June 2014

Catatan Hari Pertama

Cinta, cintaaaa sekali dengan Ramadhan tahun ini. Meskipun Ramadhan-ramadhan sebelumnya juga istimewa, tapi tahun ini indaaahh sekali rasanya sampe tak henti-henti bersyukur dan merasa malu jika rasa syukur ini kurang (dan memang tak pernah cukup bukan?)

Sejauh ini, sejauh baru hari pertama maksudnya, hehe... ini catatan-catatan cinta itu :

  • Edsel yang udah berumur 3 tahun 3 bulan udah bisa diajak tarawih ke mesjid sampe selesai. Tanpa rewel tanpa ngajakin pulang. Dia malah hepi banget ikut tarawih. Yaaahh meskipun kerjaannya cuma lari-larian dan duduk-duduk aja sih. Ini jauh jauuuhhh lebih bagus daripada tahun kemarin yang baru satu dua rakaat aja udah ribut minta pulang. Setiap memandanginya riang gembira di masjid, saya selalu berdoa dalam hati : "Ya Allah terima kasih Engkau telah memberikan kami anak yang sehat, cerdas, ceria, dan lucu. Ingatkan kami untuk selalu bersyukur atas hadiah ini ya Rabb, bantu kami untuk menjadikan dia anak yang soleh".
  • Edsel ikut TPA, tapi datengnya telat. Baru dateng udah pembagian takjil, kecewa deh ini anak. Ini gegara saya sibuk beberes rumah dan dia minta makan dulu sebelum berangkat. Jadi tambah lama deh tu, lhah makannya aja nambah dua kali.
  • Edsel maniiissss banget. Waktunya makan minta makan, waktunya tidur mapan sendiri, ga boleh makan coklat banyak-banyak nurut, rambutnya panjang minta cukur, ga pernah absen gosok gigi dan pipis sebelum tidur, jarang tantrum (baru 1 kali kayaknya setelah umurnya 3 tahun ini), gampang banget deh dibilangin. Ah, Ibuk selalu cinta kamu Nak.
  • Hari pertama puasa ini saya berasa lemes, mungkin karena libur jadi bawaannya ga semangat dan pingin tidur aja.
  • Menu sahur hari ini : cah kangkung, telur dadar, mi goreng, dan buah jeruk.
  • Menu buka : bubur mutiara, teh manis, sayur asem, ikan goreng, sambel terasi, tahu goreng, dan buah jeruk.
Lemon tea hangat dan air putih adalah menu buka puasa yang tak pernah absen

Besok-besok semoga makin oke deh catatan cintanya. Marhaban ya ramadhan 1435 H , terima kasih engkau datang kepada kami lagi.


Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena