cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Tuesday, 16 August 2016

Mirabella Designer Lipstick 116 Classy

Saya belum bisa move on dari lipstik Sariayu Borneo 01. Warna merah mudanya saya banget. Ketika lipstik ini hampir habis, saya males coba-coba lipstik lain. Lipstik ini memang keluaran udah lama banget, tren warna Sariayu tahun 2014. Tapi tren warna-warna selanjutnya belum ada yang nyantol di hati seperti Borneo 01 ini. Tren warna Sariayu 2016 yang terbaru sih cantik-cantik, tapi mehong abis. Kalo ga cocok, sayang banget kan udah mahal-mahal ga dipake.

Kemarin ke counter Martha Tilaar, ternyata yang seri Borneo lagi kosong semua. Ditawarin SPG-nya Mirabella, tadinya udah ilfill aja karena kurang hits gitu. Lagian juga jarang direview para beauty blogger. Tapi waktu saya tanya harganya cuma 19 ribu perak, dan saya lihat yang nomor 116 mirip dengan Borneo 01, tanpa pikir panjang, tanpa berkali-kali swap di tangan, langsung BUNGKUS!!

Ya ampuun tolong ya para produsen, jangan goda kami perempuan-perempuan lemah iman ini dengan harga murah. Karena itu kelemahan kami.

Kemasan lipstik ini, aduh, saya ga suka banget. Bentuknya lugu dan polos dengan warna ungunya yang ga saya suka. 

Warna lisptik ini terlihat merah cerah dengan nuansa oranye, tapi jika diswap di tangan warnanya pink. Begitu saya coba di bibir, aduh, itu warna lebih pantes buat ibu saya untuk kondangan. Warna merahnya terlalu menor. Kurang fun untuk saya yang lebih suka warna merah mudah segar. Hmm..saya memang wanita awal 30-an yang tidak tahu diri bahwa usia sudah mulai menua dan sudah seharusnya pakai warna-warna gonjreng dan lebih berani. Tidak pantas lagi pake warna-warna centil. Saya memang tidak berani kakak! 



Tadinya lipstik ini mau saya hibahkan saja untuk ibu, tapi kata beliau saya cocok kok pake lipstik ini. Tidak terlihat menor. Jadi saya berani-beraniin pake lipstik merah ini ke kantor. Saya makenya cuma ditotol-totol di bibir biar ga terlalu 'terlihat'. 

Ee lha kok surprise juga dengan lipstik ini. Daya tahannya oke punya untuk ukuran lipstik seharga 19 ribu perak. Saya pake minum ga transfer di gelas. Transfer sih tapi cuma dikiiit aja. Bahkan Sariayu yang biasa saya pake aja kalah. Saya pake ke kantor selama 8 jam, udah dipake makan minum dan wudhu, masih terlihat aja warna merahnya meski udah agak pudar. Jika baru 3 jam-an, wiih masih cakep banget. 



Kayaknya saya ga buruk-buruk amat pake lipstik merah begini. Cuma karena kulit wajah saya sekarang kan agak item (tanpa tahu kenapa), rasanya lipstik merah ga terlalu cocok untuk tone kulit wajah saya. Berasa makin item saja.

Tapi apakah saya akan repurchase? Rasa-rasanya sih iya kalo ada yang mirip dengan warna pink-nya Borneo 01. Suka banget sama daya tahannya, suka banget juga sama harganya yang murah. Hehe...

------------ Bagaimanapun, apapun yang terjadi, saya suka warna peach dan pink. Meski warna peach selalu bikin saya patah hati karena selalu pecah di bibir dan tidak awet. Bahkan lipstik Wardah Long Lasting warna peach yang saya gadang-gadang akan menjadi pelabuhan terakhir saya untuk pencarian lipstik warna peach yang belum pernah ketemu, toh akhirnya kandas juga, sukses parkir di meja rias tanpa sedikitpun tersentuh lagi. Namun lipstik warna ini akan selalu ada di hati.
Read More

Sunday, 14 August 2016

TB Paru Milier dengan Pleura Dextra

Ketika langit benderang
Ketika udara sejuk membelai
Ketika kaki lincah melangkah
Ketika itu kita sering lupa bersyukur,
lupa mendekat, lupa tersungkur bersujud,
lupa menghiba-hiba,
lupa memanggil-manggil keagungan nama-Nya


***

#latepost Juni 2016


Ternyata meski November Rain telah berakhir di mana Ayah telah sembuh Tuberkulosis (TB) Paru, dhuaaaarrrr ... badai selanjutnya datang ! Persis pas Ayah dinyatakan bebas TB, saat pula saya dinyatakan positif TB. Lutut saya langsung lemes, meski sebelumnya sempat kepikiran juga karena 3-4 bulan terakhir nafsu makan saya berkurang, semakin hari semakin parah, ditambah badan yang makin kurus. Tapi tetep saja saya ga siap didiagnosis TB. Anak-anaklah yang membuat pikiran saya terbebani luar biasa. Terbayang anak-anak sudah minum profilkasis TB selama 6 bulan full, sekarang harus minum lagi selama masa pengobatan saya. Sukses mewek deh setiap memikirkan hal itu.

Kesedihan saya tersebut ditambah dengan diagnosis dokter yang menyatakan saya menderita TB paru milier dengan pleura dextra. TB paru milier itu bahasa bodo saya adalah TB paru di mana kuman Mycobacterium tuberculosis - nya menyebar lewat pembuluh darah. Sedangkan pleura dextra adalah terdapat cairan di selaput pleura kanan (selaput yang menyelubungi paru). Ya kurang lebih bahasa sederhana yang bisa saya tangkap seperti itu lah.


Pleura Dextra

Perasaan saya semakin tertekan ketika hasil tes darah menunjukkan SGOT dan SGPT saya tinggi sekali : 3 kali lipat dari nilai normal!! SGPT dan SGOT merupakan enzim-enzim pada hati yang akan meningkat jumlahnya di dalam tubuh jika hati mengalami kerusakan baik kerusakan fungsi hati secara akut maupun kronis. Tingginya nilai SGOT/SGPT membuat saya tidak bisa menjalani pengobatan dengan dosis normal karena dikhawatirkan obat-obatan TB akan membuat fungsi hati saya semakin terganggu. Ya Tuhan apalagi ini??

Maka treatment untuk saya adalah minum obat oral hanya Ethambutol dan Isanizoid dengan dosis rendah dan dikompilasi dengan injeksi Streptomycin. Alamak rempong banget kan disuntik di bokong tiap hari?? Karena dosisnya rendah ditambah pula pengobatan TB milier memang lebih lama dari TB paru biasa, maka dimungkinkan pula masa pengobatan saya juga lebih dari 6 bulan. Bisa 9 bulan, atau bahkan 1 tahun.

Ya Allah langit di atas saya berasa runtuh mendengarnya.

Tidak ketinggalan pula, lambung saya sempat bermasalah ketika itu. Lambung yang tadinya baik-baik saja rupanya ikut-ikutan asamnya naik. Setiap makan bawaannya mau muntah, dipaksain makan malah jadi muntah beneran. Saya jadi lemes karena asupan makanan kurang. Pusing dan berkunang-kunang sudah pasti. 

Kuman TB membuat suhu badan saya selalu naik setiap siang, semakin sore semakin tinggi, malamnya demam tinggi sampe menggigil ga karu-karuan. Setiap hari hanya bisa berbaring di tempat tidur karena lemes, pusing, dan kedinginan. Sedangkan pleura dextra membuat dada sebelah kanan saya terasa nyeri setiap menarik nafas dalam, batuk, ataupun bersin. 


Sepertinya entah kapan saya bisa sembuh dengan kondisi badan dan psikologis seburuk itu.
Itulah November Rain jilid dua bagi saya. Bahkan lebih buruk dari yang pertama. 



Rupanya masa sulit itu selalu ada. Saya stress. Tapi satu sentilan menampar saya ketika suami mengingatkan untuk mendekat selalu pada Allah. Iya, saya lupa. Saya terlalu terfokus pada penyakit ini, pada penderitaan saya. Lupa yang kasih penyakit siapa, lupa mencari maksud Allah memberi sakit ini apa : mungkin saya kurang lama berdoa, ibadah hanya sekadar ritual tanpa menyertakan hati, mungkin saya kurang sedekah, mungkin saya terlalu sibuk dengan anak-anak jarang lagi mengaji jarang buka Qur'an.

Hidup yang selalu terasa mudah, selalu senang, membuat 'hati saya keras'.

Saat sakit itu saya juga merasa bersyukur cuma dikasih sakit seperti itu. Coba di luar sana, ada yang menderita kanker, ada yang dari lahir tidak bisa melihat, ada yang kehilangan tangan atau kaki. Ada yang anaknya kena down syndrom, ada yang anaknya menderita leukimia. Ahh penderitaan saya tidak ada apa-apanya. TB mah keciiilll .... Minum profilaksis mah enteeeng ...


Ah ya.... Rupanya saya perlu dikasih musibah dulu, kesedihan dulu, baru saya mendekat pada Allah.







Read More

Tuesday, 31 May 2016

12 Bulan KRP

Aku selalu menunggu senja 
Menunggumu....

Mendekap senyum dan tawamu 
yang kusimpan erat-erat
di hati
di kepala
di setiap ruang yang bisa kutitipi bayangmu

Senyummu adalah sihir
yang bisa menukar segala letih dan penat se-beban apa pun


I'm 1 year old!

Inginnya sih setiap bulan bisa update milestone-nya si krucil. On time. Tapi apa daya, dengan alasan pekerjaan dan kuliah yang gunung-menggunung, keinginan hanya sebatas keinginan. Beberapa hari terakhir udah agak punya waktu senggang, tapi mau nulis beratnya ampun-ampunan. Lebih milih nonton Sherlock Holmes dengan aktor Benedict Cumberbatch di laptop sambil ngeteh sama si Ayah. Blogger.com pun sementara dilempar ke atas lemari demi agar tidak menganggu mood nonton.

Kembali ke Kesit Raka Panjalu yang tanggal 5 Mei kemarin ulang bulan ke 12 alias sudah setahuuunn!!! Ya ampuun apakah saya melewatkan sesuatu? Kenapa tau-tau si bayi sudah 1 tahun??

  • Masih tetap rambatan. Belum bisa jalan juga. Sabar-sabar. Beda anak beda perkembangan.#elusdada
  • Gampang dibikin hepiiiii. Akis itu selalu sumringah. Ketemu siapa saja, termasuk orang asing, dia akan mudah beradaptasi dan senyum-senyum gembira. 
  • Hobinya buka-buka kulkas. Grrrrrhhhh..... Dan kalau dilarang akan huwaaaa,,, termehek-mehek dengan air mata pilunya.
  • Demen manjat. Banget. Apa aja dipanjat : meja, rak buku, kursi, kaki emaknya, kaki babenya, dan apa pun yang memungkinkan untuk dipanjat.
  • Makan angot-angotan. Kadang lahap, kadang ga habis. Tapi ya pasti makan dalam sehari. 
  • Umur 11 bulan kita kasih beras hitam, dan dia sukaaa sampe sekarang. Lebih suka daripada beras merah. 
  • Giginya 6 biji! Aih...saya pernah jadi korban keganasan si gigi ini. Puting sebelah kanan luka, daleemm banget. Sembuhnya lamaaaa, bahkan sampai kepikiran apa disapih aja yang sebelah kanan karena saking ga kuatnya nahan sakittt. Ah jadi ibu itu ya, sakitnya ga cuma pas melahirkan aja, menyusui pun bisa jejeritan karena tragedi puting luka. Tapi untungnya 2 minggu-an udah sembuh perlahan-lahan.
  • Bulan Mei di ulang tahun pertamanya, kirain itu bulan terakhir minum profilaksis TB, eh ternyata masih ambil obat untuk 1 bulan lagi. Uffttt...sabar ya cintaku. Ibu tidak jadi menghadiahkan free minum obat. Semoga 1 bulan ke depan segera berlalu dan cinta-cintaku tidak perlu minum profilaksis lagi. Ayah juga semoga bener-bener negatif sehingga ikatan solidaritas TB di keluarga kita bisa segera dibubarkan. He he he...
'Coklat kacang almond' ku berulang tahun. Selamat ulang tahun yang pertama Kesit Raka Panjalu. Tetap jadi coklat penyemangatnya Ibu, coklat pembahagia Ibu, coklat cintanya Ibu. Mmuahh mmuuah mmuaaahhhhh.
Read More

Monday, 14 March 2016

5 Tahun EIR

Berapa bulan engkau mengayun dia di rahimmu yang hangat?
Berapa bulan kini engkau merengkuhnya di bahumu yang kukuh?

Dengan segala letih yang engkau berikan
Dengan segala menit yang engkau persembahkan
Dengan segala daya yang engkau pertaruhkan

Dia tetap bukan milikmu ....
Dia milik Sang Maha Memiliki

Sungguh engkau hanya diberi waktu untuk meminjamnya
Untuk dijadikan sarana di antara dua : surga atau neraka

Pintu mana hendak kau tuju?


Jika melihat postingan tentang Edsel di umur 4 tahun di tahun 2015 kemarin, maka akan keliatan perbedaannya dengan sekarang. Edsel sekarang berbeda, sudah berbeda. 



Di tanggal 8 Maret kemarin, sulung saya ini berusia 5 tahun. Melihatnya sekarang seperti melihat ratusan frame yang diputar ulang melewati waktu yang tidak mudah, namun membahagiakan. Edsel adalah pertaruhan kami dengan segala teori yang kami yakini, yang seringnya bertentangan dengan orang-orang lain. Jangan lupa, kami tinggal di kampung yang mana sesuatu yang berbeda sering dianggap keliru. 

1. Edsel sudah lebih bisa mengelola emosi. Maka jarang lagi ada suara teriakan dan tangisan yang dulu hampir setiap hari terdengar dari rumah kami. Bukannya sekarang sudah tidak pernah, tapi jarang sekali.

2. Sudah tidak nonton film lagi sebagai syarat untuk tidur malam. Aktivitas nonton ini hanya kami jadikan ritual malam minggu. Di luar waktu itu, tidak ada nonton. Bahkan kalo dia ketiduran karena siangnya tidak tidur, maka dia harus menunggu malam minggu depannya lagi untuk bisa nonton. Ini memang sengaja diatur oleh suami saya karena kegemaran nontonnya Edsel sudah tidak positif lagi. Dia jadi melewatkan permainan lain karena sibuk nonton setiap malam. Kami juga mengkhawatirkan kesehatan matanya juga sih.

3. Jika dulu melihat TV sempat juga jadi hobinya setiap pagi bangun tidur, sekarang tidak ada lagi nonton TV. Alhamdulillah. Ini gara-gara TV kami rusak, dan saya sengaja tidak memperbaikinya. Biar saja. Terus terang saya mengkhawatirkan pengaruh buruk film, meski film anak-anak tapi banyak sekali adegan kekerasan yang ada di dalamnya. Belum iklan-iklan maupun cuplikan film dewasa yang ada di sela-sela tayangan itu. Saya sih berdoa semoga tidak ada orang lain di keluarga saya yang nekat memperbaiki TV rusak ini.

4. Edsel masuk TPA. Lompatan, bener-bener lompatan. Memang jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya Edsel termasuk terlambat. Anak lain udah kapan tauk masuk TPA, tapi Edsel baru akhir-akhir ini. Dan itu atas inisiatif sendiri. Ya sudah lah, kami memang ga pernah memaksa karena pasti dia berontak dan hasilnya pun ga maksimal.



5. Edsel sekolah. Bukan sekolah beneran sih, karena dia cuma ‘kami titipkan’ Uti yang ngajar di TK. Dia cuma mendengarkan, belum  mau ikut mewarnai, menggambar, dan lain-lain. Belum pake sragam karena belum daftar resmi, tapi pake sepatu. Lumayan sih, sudah ada perubahan dari sebelum ikut sekolah.  Ada tambahan knowledge juga.

6. Masih tetap tidak suka menyanyi. Tapi suka berdendang sendiri.

7. Masih tetap suka bermain peran, dengan dia sebagai pembuat cerita. Jalan ceritanya semakin kompleks dari waktu ke waktu.

8. Masih tetap hobi ‘menciptakan’ sesuatu. Entah itu dari balok-balok lego maupun dari plastisin. Dengan bentuk yang semakin bervariasi dan rumit. ‘barang-barang’ ciptaannya ini kemudian akan dibuat cerita. Sampe hari ini sepertinya menciptakan sesuatu dan membuat cerita itu adalah hobinya yang tak lekang oleh waktu.


9. Kalo makan spagheti dia mau makan sendiri sampe titik penghabisan. Bahkan kalo lagi buru-buru, dia tetep ga mau disuapin. Eh kalo nasi dia masih kesusahan kalo makan sendiri.


10. Edsel sekarang lebih sabar, lebih bisa dikasih tahu dan dikasih nasihat. Dia juga sudah lebih ramah pada orang baru.

Pingin banyak update tentang anak-anak di blog ini, tapi waktunya itu lho! Padahal selain banyak hal di atas, banyak cerita tentang Edsel yang bikin kita bangga, terharu, atau malah pingin jambak rambut sendiri. Ahay... .kopi manisku, selamat ulang tahun ya. Jadi anak shalih ya.


Read More

Friday, 11 March 2016

Sunscreen Wardah



Jadi, kenapa tetiba saya  memakai sunscreen setelah selama ini hanya menjalani ritual make up yang itu-itu saja? 'Itu-itu saja' di sini maksudnya adalah : pelembab - BB cream - bedak tabur.

Ini karena saya baru tahu kalo sunscreen itu produk perawatan maha penting untuk kita yang tinggal di daerah tropis. Salah satunya adalah membuat pori-pori kita tidak terlihat membesar, juga mencegah munculnya bintik-bintik hitam karena efek negatif sinar matahari. Bahkan saat di dalam ruangan kita tetap terpapar dengan sinar matahari UVA yang dapat menembus awan dan kaca. Dan ternyata juga, produk-produk make up yang mengandung SPF sekalipun tidak se-efektif sunscreen itu sendiri. Owalah, pantesan muka saya jadi berbintik-bintik meski tiap hari udah pake pelembab yang ada SPF-nya.

Ah, sudahlah tidak usah saya jelaskan panjang lebar tentang manfaat si sunscreen ini. Wong saya bukan ahli di bidangnya.

Setelah hunting si tabir surya alias sunscreen ini di minimarket, ternyata yang ada hanya merk Wardah. Wew... kayaknya Wardah emang jagonya nyempilin produknya di setiap tempat. Ini terbukti deh, kalo nyari produk Wardah gampang banget, baik di minimarket, toko-toko di pasar, maupun di mall-mall besar. Padahal dari segi kualitas, dia bukan barang abal-abal. Harganya ramah di kantong pulak!  Cuma Rp 27.500,- saja. 

Mengandung SPF 30, Aloe Vera dan Vitamin E. Bentuknya gel dan mudah diaplikasikan. Ga bikin wajah oily sih di saya. Oh iya semenjak pakai sunscreen, saya udah ga pake lagi serum Roro Mendut. Karena setelah saya perhatikan, pemakaian serum itu sebelum berdandan bikin wajah saya cepet berminyaakkk banget. Tapi karena udah kadung beli, cuma saya pake malam sebelum tidur aja. 

Dan bener, setelah ga pake serum itu, cuma sunscreen dan BB cream aja, lumayan wajah saya udah ga terlalu oily.

Saya cocok sih pake Wardah Sunscreen Gel ini, tapi yang jelas karena gampang didapat dan harganya murah. He he....
Read More

Thursday, 10 March 2016

Akhirnya ke Onkologi

#latepost Februari 2016


Masih pada ngeh kan kalo tanggal 4 Februari kemarin diperingat sebagai hari Kanker Sedunia. Tapi sungguh bukan karena itu akhirnya saya mempunyai kesadaran untuk mendatangi klinik Onkologi untuk deteksi dini kanker.

Beberapa minggu terakhir saya merasakan benjolan sebesar kelereng di payudara sebelah kiri atas. Tidak sakit sih, dan sudah saya konsultasikan juga ke bidan dan SPOG, dan kata beliau-beliau tidak apa-apa hanya kelenjar ASI saja. Tapi maraknya kasus kanker payudara yang baru ketauan pada stadium lanjut dikarenakan salah diagnosa, membuat saya memburu dokter spesialisnya untuk bener-bener membuat saya tenang.

Berdasarkan rekomendasi temen-temen meluncurlah saya ke Klinik Onkologi Kota Baru Jogja.

Bangunan klinik ini tidak seperti umumnya rumah sakit atau klinik-klinik lainnya yang berkesan modern dan ‘kaku’. Begitu masuk ke dalam lobi klinik saya agak surprise juga. Ini kayak rumah kuno, betul2 rumah kuno dengan lantai ubin merah, dinding sederhana, dan kusen-kusen kuno. Ada juga lukisan hitam putih kuno dengan yang kayaknya sih tentang dokter jaman dahulu sedang mengobati pasiennya. Ah sayang sekali ga saya foto, padahal pertama kali datang saya langsung tertarik dengan lukisan itu.

Suasana kuno itu justru membuat saya merasa rileks, ga terintimidasi dengan kesan rumah sakit yang biasa menyergap begitu datang. Suasananya cuma kayak berada di rumah biasa aja, bukan di rumah sakit,apalagi rumah sakit dengan nama belakang ‘kanker’, aih denger namanya aja bikin saya keder. Suasana homey itu dilengkap dengan resepsionis yang ramah banget, dan ga pake sragam (!). Yes, saya benci sragam perawat di resepsionis. Bukan benci orangnya, tapi sragam perawat bikin perasaan saya ga nyaman.

Cukup ya tentang deskripsi kliniknya. Oh iya biar ga ngantri kelamaan klinik ini menyarankan untuk daftar via telp atau sms untuk bikin janji dengan dokter spesialis onkologi yg kita pilih. Bisa telp ke 0274-540778 atau sms ke 085292099779.

Berdasarkan rekomendasi temen-temen juga, saya pilih Profesor Teguh. Dari gelar depannya udah pasti tua nih (idih ga sopan ya, bilang-bilang tua). Dan biasanya kalo dokter spesialias yang udah senior bawaannya bete, bicaranya sekedarnya, kalo ditanya panjang lebar jawabannya bukan luas tapi pendek. Udah siap-siap deh kalo dibetein sama dokter tua ini, yang penting dia pinter udah.

Weh ternyata saya underestimate, beliau ga nyebelin kakak! Komunikatif, santun, dan ga buru-buru ‘mengusir’ pasiennya dari kamar praktek. Beliau secara jelas dan bahasa yang mudah kita cerna menjelaskan tentang kondisi kita, bahkan sebelum kita tanya. Masih kita guyur dengan pertanyaan-pertanyaan lain pun beliau masih dengan sabar menjelaskan. Ya benerlah temen-temen rekomen beliau. Lhah top banget gini. Keren lah Prof Teguh ini. Love you deh mister doctor.

Satu lagi yang saya catat, ini dokter bukan  dokter yang main kasih resep aja. Hati-hati betul beliau. Kalo ga butuh obat ya ga perlu kasih resep.

Ternyata dari hasil pemeriksaan dokter Teguh, ga ada yang mengkhawatirkan dari payudara saya. Benjolan itu cuma kelenjar ASI aja. Produksi yang banyak, ga diimbangi dengan pengeluaran yang teratur. Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb. 

Namun untuk lebih memastikan, dokter menyarankan saya untuk USG. Itu pun masih ditawari mau USG di sini atau di tempat lain. Saya jawab, “Di sini dok”. Masih ditawari lagi mau hari ini atau besok-besok lagi. “Sekarang dok, harus saya ketahui hari ini juga dok saya negatif kanker bener tidak”. Eh mantep banget deh tekad saya. Bulat udah.

Nunggu antri USG-nya lamoooo. Untung ada majalah kesayangan saya : Femina!! Oh God... Nunggu sampe tengah malam pun, rasanya saya ga akan mengeluh.

Edsel pun sampe ketiduran saking lamanya nunggu

Pemeriksaan di ruang USG pun dilayani dengan memuaskan. Dokter ahli radiologinya perempuan (yeaayy!) jadi saya ga canggung. Hati-hati dan tlaten betul beliau. Seinci pun ga ada yang dia lewatkan. Ini yang membuat pemeriksaan USG-nya jadi lama karena memang teliti dan hati-hati. 

Akhirnya hasil pemeriksaan USG pun negatif. Alhamdulillah. Kehororan saya selama ini tentang bayang-bayang penyakit kanker payudara lumayan terkikis.

Tinggal satu nih pe-er saya : papsmear! Duh pe-er bener deh ni. Selain karena ga bisa sewaktu-waktu (kalo lagi mens kan ga boleh), juga katanya sakit buk! Aduh harus meringis lagikah daku?
Read More

10 Bulan KRP

Catet ya, mulai tanggal 5 Maret 2016 usia kamu sudah 2 digit bulan.





Eh ya kok tau-tau udah 10 bulan aja. Nanti-nanti tau-tau udah segede si Ed. Nanti tau-tau udah susah kalo mau dipeluk-peluk dicium Ibu setiap saat. Ah anak-anak.... setiap hari melihat mereka tumbuh, setiap hari berharap mereka lekas besar, lekas pintar, lekas belajar banyak hal, tapi di sisi lain ada harapan agar mereka tidak lekas dewasa biar tetap menjadi 'boneka lucu' kita. #mendadakharu.

  • Ulala...ternyata saya salah menandai kalender. Setelah saya cek lagi, tambahan sufornya Akis bukan di akhir bulan ke-8, tapi di pertengahan bulan ke 9. #EmangPentingYa?
  • Konsisten memanggil “Mhao” pada mas Edsel.
  • Konsisten bilang “maem” sambil mulutnya mengecap-ngecap jika waktunya makan dan melihat makanannya sudah siap. Eh ini sebenarnya bukan dimulai bulan ke-9 ding, udah dari bulan keberapa tauk, tapi saya lupa nyatet.
  • Konsisten mengangkat tangan kanannya ke depan tiap lihat ayam dan cicak. Hihi...mau melambai manggil kali yak?
  • Makin ke sini makin sering tepuk tangan jika lagi hepi, atau mendengar kita bernyanyi.
  • Makan udang?? Oh tak masalah! Berarti gen alergi udang dari ayahnya tidak menurun ke Akis. Untunglah nak, Ibu sudah khawatir aja kamu seperti Buapakmu yang gatel tiap makan udang.
  • Sungguh bener teori saya beberapa bulan yang lalu kalo Akis tu hatinya lembut. Terbukti kalo dibentak kakaknya karena merebut mainan, maka dia akan bercucuran air mata, nangis pilu.
  • Rambut apa kabar? Ada setitik harapan untuk bertambah meski hanya satu dua helai. 
Peluk cium Ibu untuk Kesit Raka Panjalu yang agak kurang pelukan. Maafkan Ibu ya sayang, kalo Ibu sering pulang telat. Maafkan Ibu jika kadang Ibu lupa siapin buah potong untukmu. Maafkan Ibu jika sering mengeluh jadi zombie yang kurang tidur karena sering bangun malammu bisa sampe 5 kali (!!). Tapi jangan sering-sering bangun malam dong, nak. Yak? Yak? 
Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena