cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Monday, 31 August 2015

Cerita 5 - 5 - 2015

#latepost

Hari Senin siang dengan badan yang masih segar bugar dan ketawa-ketiwi lepas, saya meluncur ke rumah sakit dengan tim yang lengkap minus Ayah. Si Ayah akan menyusul kemudian karena harus mengawasi UN (Ujian Nasional) SMP dulu.

Selasa, pukul 5 pagi saya sudah bersiap-siap untuk mandi dengan pertimbangan karena mau keramas maka mandi saya ga boleh mepet-mepet dengan jadwal operasi, biar rambutnya bisa kering dulu. Menurut bidannya sih jadwal operasinya pukul 10. Tapi jam 06.00 saya sudah mulai 'dipersiapkan' untuk operasi. Mulai dari dipakaikan baju operasi, dipasangi kateter (Ya Allah, kalo boleh hamba memohon, cukup dua kali hamba dipasangi alat ini, ya Allah. Ini yang terakhir), dipasangi selang infus, dan habis itu tiduran di tempat tidur ber-roda yang sama sekali ga nyaman itu. 

Cerita mengenai selang infus ini cukup menyebalkan sodara. Kebetulan karena ini rumah sakit pemerintah, maka yang 'mempersiapkan' saya untuk operasi adalah perawat yang statusnya mahasiswa praktek. Alamaakkk....berkali-kali dia gagal menyuntik selang infus yang untuk lewat obat. Sampe bocor lho selangnya. Sampe menetes-netes basah kuyup gitu tangan saya. Ketika saya protes tentang ini, cuma diplester aja berkali-kali, sambil bilang "gapapa bu, selang infus ya memang begini". Ya ampuunn mbak, memangnya saya tidak tahu bedanya bocor dan tidak. Untungnya di ruang operasi selang infus ini kemudian diganti oleh perawat yang berkompeten. Grrhh...

Ke-sebel-an kedua, operasi dimulai bukan jam 10, tapi jam setengah 12 ! Bayangkan saya tiduran dengan rambut basah dari jam 06.00 sampe jam 11.30 dengan menahan rasa tidak nyaman karena kateter dan infus, ditambah lagi dengan perut lapaarrrr dan kepala kliyengan karena puasa sejak jam 12 malam. Onde mande....

Alhamdulillah akhirnya saya masuk ruang operasi. Nah, ini yang bikin saya lega. Tidak seseram waktu operasi pertama. Dokternya ramah-ramah, baik, dan ketika waktunya suntik pembiusan langsung jadi, tidak sesakit waktu melahirkan si Ed dulu. Yess, alhamdulillah.! 

Operasi kedua ini saya lebih santai ya, mungkin karena udah pernah ngejalanin jadi udah bisa memprediksi aja tar gimana-gimana. Tapi over all, saya merasa lebih nyaman di SC kedua ini. Lebih siap, dan tim dokter (dokter bedah, dokter anestesi, dokter anak, perawat, dan bidan) juga lebih sipp.

Dia adalah yang tangisnya paling kenceng di antara teman-teman se-geng hari itu

Dan setelah penantian saya selama 38 minggu, hari Selasa tanggal 5 - 5 - 2015 pukul 11.55 WIB inilah dia saya persembahkan : Kesit Raka Panjalu dengan berat 2,6 kg panjang 46 cm. Aihhh mungil amat ya. Perkiraan dokter sekitar 2,8 kg-3 kg. Ah si kecil mungilku, Ibu lega Nak akhirnya kau hadir dengan sehat selamat. Ibu cinta ibu cinta ibu ciinnttaaaa....
Read More

Sunday, 30 August 2015

3 bulan KRP

#latepost


Hadeh ini adalah postingan yang melompat-lompat. Belum sempat posting tentang kelahiran tau-tau udah 3 bulan aja. Iya, saya super-super sibuk. Mengurus 2 balita memang menguras waktu dan energi. Tapi bahagianya itu, subhanallah, tak terganti. Serius.

Oke, oke ... karena cerita kelahiran belum diposting juga, maka nama 2nd baby ini belum nongol di blog juga. His name is Kesit Raka Panjalu, yeayy yeaayy.. I love loveeee this name. You can call him Kesit or Akis. Hahhh Akis?? Kenapa jadi Akis?? Banyak ya yang tanya gitu. Ada sejarahnya, tanya sama Ayahnya ya. Tapi saya suka aja kata itu, terdengar manis didengar.  

3 Bulannya baby Akis tanggal 5 bulan Agustus kemarin. Sehari setelahnya, yaitu tanggal 6, dia tengkurap sendiri. Sampai hari ini nih, dia semangaaaatt banget tengkurapnya meski kadang musti extra effort.  Ya itulah bayi, sudah dikasih insting buat usaha dan belajar ga kenal lelah. Kalo ngeliat dia usaha tengkurap trus ga jadi-jadi, saya gemes banget pingin ngebantu #emakgategaan.

Beberapa hari terakhir, dia udah bisa balik sendiri. Jadi dia nih tengkurapnya dari arah sisi kanan, trus baliknya ke kiri. Persis kayak si Ed dulu. Usia mulai dia tengkurap juga hampir sama dengan kakaknya, 3 bulan. Cuman duluan si Akis ini karena persis pas 3 bulan udah tengkurap.

Berat badan juga sama persis, usia 3 bulan beratnya 6,6 kg. Agak khawatir nih dengan kenaikan berat badannya karena sejak saya tinggal kerja mulai tanggal 4 Agustus, minum ASIP-nya cuma dikit. Pake media apa pun sama ajah! Cup feeder, dot, gelas kecil, sendok : NIHIL. Jadinya setiap jam istirahat makan siang, saya belain-belain pulang untuk menyusui langsung. Lumayanlah 8 km bolak-balik 4 kali dalam sehari.

Nah, bocah laki-laki saya yang kedua ini juga udah mulai ngrespon balik orang yang udah familiar sama dia. Kayaknya dimulai di bulan kedua deh. Kalo kita ngomong sama dia nih, dia akan "ao..ao.." kayak njawab obrolan kita. Eh apalagi kalo Ayahnya atau Om-nya yang ngajak ngobrol, kayak dua manusia sahut-sahutan dengan dua bahasa yang berbeda aja. Ha ha ...

Ngeliat Ayahnya dia akan senyum, diajak ngomong sama ibu saya dia senyum, dibecandain om-nya tertawa ngikik-ngikik, saya masang muka-muka aneh senyum lagi. Ngeliat objek yang warna-warni, atau bahkan cuma liat pohon yang tertiup angin ngikik-ngikik juga. Geliginya itu loh, aaak saya jatuh cinta lagiiii...

Tapi untuk orang yang jarang begaul sama dia (cie begaul...), senyumnya terlampau mahal untuk dipersembahkan. Ahh, ini mah kakaknya banget.

Pojok favoritnya Akis itu dinding kamar yang ada gambar Pooh-nya. Dalam keadaan rewel mau minum, galau, atau sedih yang kayak apapun setiap dia ngeliat dinding itu, bisa dipastikan dia akan tersenyum bahagiaaa sekali.

Kesimpulan sampe hari ini Akis itu Easy Boy. Sejak bayi sampe 3 bulan lebih ini dia ga pernah rewel yang sampe bikin kita gaduh. Dia ga pernah begadang (iyyess!). Dia punya jadwal tidur malam dan bangun pagi yang lumayan teratur. Berangkat tidur sekitar pukul 19.00, bangun pagi sekitar pukul 05.30. Bangun malam pun cuma satu kali : di sekitaran pukul 01.30 dini hari cuma buat minum ASI, habis itu bobo lagi dengan gampangnya. Otomatis jadwal mandi pagi dan minum ASI-nya sebelum saya tinggal kerja pun jadi ajeg. Dan jadi gampang juga buat nyusun jadwal untuk kegiatan yang lain. Pokoknya emaknya merdeka banget dah.

Ahh bocah laki-lakiku. Tetaplah jadi Easy Boy ya, Nak. Jadi anak shalih.
Read More

Saturday, 29 August 2015

Barang KW

Bukan saya hendak kampanye anti barang KW ya. Meskipun yah tentu saja ini bukan tindakan yang benar, dari aspek hak cipta itu tindakan melawan hukum. Belum kalo nyangkut perasaan sang pembuat alias tim kreatifnya, deuuhh sakit bener sesuatu yang kita bikin dengan mengerahkan segala ide, kreativitas, dan kemampuan dijiplak dengan tanpa prosedur yang sesuai. 

Tapi sekali lagi, saya bukan hendak kampanye anti barang KW. Karena jika kita lihat lebih ke dalam ya, ke dalaamm banget dan pake sisi berpikir yang berbeda barang per-KW-an di Indonesia ini telah menghidupi banyak orang. Mulai dari produksi hingga penjual. Dari yang gede hingga akar rumput reseller kecil-kecil yang jualan via BBM.

Nah sekarang saya fokusin ke tas dan dompet KW aja ya. Saya sendiri jarang beli tas/dompet KW. Kayaknya baru dua kali saya beli tas-tas KW dengan merk luar ternama itu. Dulu, sekitar 5 tahun yang lalu. Dan terkadang sekarang masih saya pakai karena sayang. Setelah itu saya lebih memilih membeli buatan lokal aja. Kenapa? Soalnya merk-merk macam Gucci, Hermes, Chanel, dan brand-brand dunia ngetop lainnya banyak yang nyamain, dan pastinya itu KW. Di kota kecil seperti tempat saya tinggal, jarang ada yang beli tas ori. Jadi yang bertebaran bersliweran sambil nenteng tas-tas bermerk itu pastilah KW. Ga nyaman aja rasanya barang kepunyaan kita banyak kembarannya, palsu pulak. 

Menurut saya, ini menurut saya lho, boleh yang punya pendapat berbeda. Jika saya memang tidak mampu beli yang ori_yang harganya puluhan bahkan ratusan juta itu_ bukankah lebih bermartabat saya memakai barang produk lokal, asli dan tentu saja harganya lebih murah. Banyak lho sekarang brand tas lokal yang kualitasnya bagus. Modelnya juga ga niru-niru brand-brand terkenal itu, jadinya kan lebih unik bukan? Rasanya jelas lebih rasa kita, rasa Indonesia. Ga melulu seragam bentuk Gucci, Hermes, Chanel, dll. Walaupun memang, dibandingkan harga KW 3, brand lokal ini agak sedikit  lebih mahal. Tapi memang begitulah harga kreativitas, kita belajar menghargai daya mencipta itu lho karena ga semua orang bisa. Kita belajar juga menghargai hak cipta. Ga melulu gradak-gruduk njiplak-njiplak melulu.

Ini adalah dompet Makara yang saya beli lebih dari 1 tahun yang lalu. Harganya murah aja, dan ga kalah cantik dengan barang KW kan?


Terlebih ni, jika kita sangkut pautin dengan nilai dollar yang terus merangkak. Ini kan sebenarnya bisa menjadi momentum bagi kita untuk menghargai dan selanjutnya memakai barang buatan Indonesia. Ketika suatu saat dollar naik tangga lagi (kayaknya udah bukan suatu saat lagi ya), kita udah pede aja karena toh kita punya barang lokal yang berkualitas, dan kita make itu. Belum kalo disangkut pautin lagi tentang pelanggaran hak cipta. Aww...kalo bener-bener diterapin ngeri bok (untungnya susah ya nyari siapa yang salah karena saking banyaknya. Amannn..amaann.. Hehe).

Akhir kata, ini hanya buah pemikiran saya aja. Ada yang setuju, ada yang tidak suka, monggo. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, barang KW memang telah membuka peluang kerja bagi banyak orang. Tapiii....jika kita belajar menghargai dan akhirnya memakai produk negeri sendiri, maka bukankah permintaan akan produk itu juga makin banyak, dan akhirnya peluang kerja juga tercipta. Selain itu dengan banyaknya permintaan maka harga akan bersaing, ujung-ujungnya kita, konsumen juga yang akan diuntungkan karena mendapat barang berkualitas dengan harga terjangkau.

Yaahh semoga ya akan bermunculan brand-brand lokal dengan kualitas oke ya sehingga kita akan malu memakai barang KW.

Read More

Friday, 14 August 2015

I'm Back

Halohaa....

Aih, 3 bulan ya nggak pernah nengokin blog. Boro-boro nulis, bukak aja nggak pernah. Sukses dianggurin deh ni blog. Akhirnya hari ini bisa kembali, tapi nggak tau dah bisa konsisten nulis apa nggak.  Seperti semua ibu bekerja dengan 2 balita, 24 jam sehari 7 hari seminggu rasanya tidak pernah bisa cukup waktu selain untuk mengurusi anak dan keluarga.

Oiya pe-er saya banyak sekali nih. Pingin sharing tentang kelahiran 2nd baby saya yang saat ini udah berusia 3 bulan (yeayy...), cerita sedih tentang 2nd baby yang harus difototerapi, tentang si Ed, tentang saya yang harus kembali bekerja dengan kondisi si bayi ogah minum ASIP dengan berbagai macam media, dan cerita-cerita lain yang kayaknya hanya sekedar pasang niat saja karena kenyataannya susah sekali mencari waktu luang untuk ngeblog. Hehe...

Oke, sekian dulu pemanasannya yaaa.... Sekarang jam 19.32 waktu rumah saya, dan saya masih harus mensterilkan pompa dan botol-botol yang tadi siang dipake. Juga musti nyiapin segala tetek bengek untuk 2 krucil kesayangan saya karena meskipun besok hari Sabtu tapi saya harus ke kantor untuk gladi bersih upacara 17 Agustus.  Ahh, Agustus memang SELALU menjadi bulan yang sibuk untuk kita semua. 

See you ...
Read More

Monday, 20 April 2015

(Lagi-lagi) Tentang Ibu Sejati



Saya sudah pernah menuliskan tentang 'ketersinggungan' saya mengenai predikat ibu sejati ini di sini. Saya pikir di jaman sekarang ini predikat tentang ibu sejati yang dinilai dari cara dia melahirkan sudah tidak laku lagi alias sudah usang. Olala..ternyata saya salah. Jadi ternyata kesejatian saya berkurang karena perineum yang tidak robek dan bekas sayatan di perut yang seolah berbunyi "BUKAN IBU SEJATI". 

Siang ini saya kembali dikomentarin tentang ketidaksejatian saya menjadi ibu karena saya tidak bisa melahirkan dengan cara normal. Karena ketidaknormalan bentuk panggul, bisa jadi di kelahiran kedua nanti pun saya harus menyiapkan mental untuk bersalin dengan cara caesar lagi (mudah-mudahan tidak ya Allah...). 

Hendak saya jelaskan panjang lebar betapa saya sangat sangaat sangaaat menginginkan melahirkan dengan cara normal baik dulu maupun sekarang. Hendak saya katakan ingin sekali saya bisa melahirkan normal agar bayi saya melalui apa yang seharusnya dia lalui. Hendak saya katakan bahwa keputusan operasi caesar bagi saya adalah laksana palu godam menyakitkan yang dipukulkan keras-keras kepada hati saya. Hendak saya uraikan bahwa begitu banyak prosedur menyakitkan yang harus saya lalui untuk mengambil buah hati tercinta melalui meja operasi. Hendak pula saya katakan bahwa pembedahan itu sakit, sakiit sekali. Hendak saya debat bahwa betapa saya ingin segera memeluk, menimang, menyusui, berjalan-jalan dengan bayi saya segera setelah melahirkan, bukan malah tergeletak tak berdaya menahan sakit pasca perut dan rahim saya yang berlapis-lapis disayat.  Apakah kesejatian saya berkurang dengan semua itu?

Bukankah saya juga memberi ASI eksklusif meski harus jatuh bangun dengan jadwal di kantor, sama seperti kalian? Bukankah saya juga memasak dengan tangan sendiri MPASI sejak usia 6 bulan sampe sekarang, sama seperti kalian?Bukankah kami selalu belajar untuk menjadi ibu yang cerdas dengan banyak-banyak membaca dan mencari tahu, sama seperti kalian? Bukankah saya selalu menyediakan waktu untuk bermain untuk anak meski lelah dan letih luar biasa, sama seperti kalian? Lantas di mana bedanya? 

Ingin saya katakan itu semua. Ingin. Tapi akhirnya saya urungkan dan saya tanggapi dengan senyum yang sebenarnya sudah tak manis lagi. Buat apa? Toh saya melakukan itu semua bukan karena ingin dipuji atau diapresiasi. Kalo saya utarakan jangan-jangan saya malah jadi tidak ikhlas. Padahal sampe sekarang saya juga masih khawatir, jangan-jangan niat saya karena anak bukan ikhlas karena Allah.

Saya hanya pingin, pleaseeee.... Saya pingin sekali, cukupkah membanding-bandingkan kami dengan mereka atau dengan kalian. Bercanda bolehlah, tapi tolong diukur sebelum bercanda, mana hal yang pantas untuk dicandakan mana yang tidak. Hal-hal sensitif yang masuk area perasaan dan privasi janganlah dijadikan bahan bercanda. Bukan lucu yang didapat, tapi sakit yang dituai.

Sekian. 


Read More

Friday, 17 April 2015

Edsel is Edsel

Pernah tidak rasanya PINGIN teriak sekenceng-kencengnya menghadapi kelakuan anak balita kita? Atau PINGIN marah-marah meluapkan kekesalan kita menghadapi anak yang susah diatur? Atau berbicara dengan nada tinggi sambil membanding-bandingkan dengan anak sebelah yang seolah tanpa cela? Saya pernah (catet ya, cuma PINGIN), bahkan di usia Edsel yang sekarang 4 tahun rasanya kesabaran saya sedang getol-getolnya diuji, terlebih dengan perut membuncit yang sampe rumah aja lelahnya luar biasa. 

Untungnya saya tidak pernah kalap sampe berteriak kencang atau marah-marah dengan durasi yang lama. Tapi kalo berbicara dengan nada tinggi atau marah sepersekian menit sih sekarang malah jadi sering. Dan ujung-ujungnya saya nangis tersedu-sedu, menangisi kelakuan si Ed, menangisi ketidaksabaran saya, menangisi ketidakbisaan saya untuk mengasuh dia 24 jam. Ending-nya saya akan memeluk dia sambil berkata bahwa saya sangat sayaaaangg sekali padanya, dan dia kemudian meminta maaf sama saya, kami akan berpelukan lamaa. Sesudah itu suasana akan kembali mencair, kami bermain bersama, dan di sela-sela main itu saya akan berbicara tentang perbuatannya yang tidak baik beserta akibatnya. Dia setuju dengan kata-kata saya dan selalu mengulang lagi permintaan maafnya dengan sangat-sangat manis dan kembali memeluk saya. 

Setelah itu apa dia akan berubah? Oh tidak!! Kekacauan demi kekacauan akan tetap terulang. 

Biar sedikit saya gambarkan tentang sifat Edsel di usianya yang 4 tahun ini. Biar fair, random aja saya ceritakan, artinya bukan melulu hal yang buruk saja.

1. Edsel itu moody, berubah-ubah suasana hati dalam sesaat. Sebentar tertawa, sebentar kemudian nangis teriak-teriak. Sebentar suka sama orang, sebentar kemudian bete dengan orang itu. Termasuk dengan adik dan kakak sepupunya yang berusia 1 tahunan. Kadang perhatian dan seneng banget main sama mereka. Eh nanti kalo dia main ke rumah lagi, bisa diusir-usir disuruh pulang. Haduuhh...parah banget kan.

2. Sebelum tidur malam dia wajib nonton film di laptop. Ini wajib, makanya jika kami nginep di rumah Uti harus bawa file film. Dan begitu dia suka dengan suatu film maka setiap malam yang dia putar ya itu itu terus, bahkan bisa sampai 2 bulan berturut-turut!! Dia sampai hapal setiap detail ceritanya. Saat ini dia sedang tergila-gila dengan film Frozen. Tanyain deh setiap detail cerita, warna baju, dan lain-lain di tiap adegan. Dia hapal saking seringnya nonton. Kalo filmnya berbahasa Indonesia dia akan hapal dialog-dialognya, namun karena beberapa film favorit dia berbahasa Inggris dia agak susah hapalnya hanya sepotong-sepotong yang dia dengar dengan jelas aja.

Oh iya ngomongin soal film, Edsel ini adalah pecinta film sejati (haha...belagu bahasa emaknya). Maksudnya ketika nonton film, dia akan bener-bener konsen untuk melihat dan mendengarkan film itu dengan sungguh-sungguh. Tidak disambil ngapa-ngapain, kalo terpaksanya harus melakukan sesuatu di tengah-tengah film maka filmnya akan di-pause dulu. Dan jangan harap boleh berbicara sepatah kata pun atau mengeluarkan berisik di dekatnya ketika sedang nonton. Dia takut akan kehilangan sedikit saja dialog atau suara dari film itu.  

3. Mainan sepanjang masanya (paling tidak sampai saat ini) adalah lego. Entah dari umur berapa lego itu dibelikan Ayahnya, sampai sekarang masih tetap menjadi mainan favoritnya. Palingan cuma bentuk-bentuk yang dia susun aja yang berubah dan semakin bervariasi seiring dengan meningkatnya kemampuan.

4. Edsel itu kompetitif. Apa-apa dikompetisikan, dibanding-bandingkan. Membanding-bandingkan kemampuan dirinya atau kepunyaannya dengan teman-temannya. Dia juga hobi membanding-bandingkan antara tokoh film si A dengan si B. Tapi saya agak ngeri dengan jiwa kompetitifnya itu, soalnya Edsel belum siap kalah. Ketika dia menemui kenyataan bahwa dia kalah main ular tangga misalnya, dia tidak bisa terima kekalahan itu. Dia bersikukuh untuk diulang sampe dia menang, atau yang lebih parah dia akan ngambek dan marah. Widdiiihhh...ampun Tuhan.

5. Edsel dicap bandel oleh tetangga-tetangga saya. Kenapa? Karena dia suka manjat pohon, manjat pager, manjat tangga, lari-larian, melompat-lompat, dan aktivitas fisik lain yang memang ga pernah saya larang. Akibatnya teman-temannya suka ikut-ikutan, padahal ibu-ibu mereka ngelarang untuk aktivitas gitu-gituan, takut jatuh, takut panas, takut bahaya. Nah lho, jadinya Edsel itu jadi momok buat ibu-ibu di lingkungan saya karena dianggap biang kerok. Cap bandel itu juga karena sering terdengar suara tangisan atau teriakan Edsel dari rumah kami. Edsel memang ekspresif. Jika tidak suka ya bilang tidak suka, tidak bisa basa-basi. Jika dipaksa akan teriak. Jika emosi akan meluapkan emosinya tanpa mikir malu atau takut dengan siapa pun.

6. Edsel suka sekali dibacakan buku cerita dan atau cerita bergambar. Jika suka dengan suatu cerita, cerita itu akan minta diulang-ulang terus, bukan hanya diulang besok atau nanti. tapi bahkan saat cerita itu selesai, dia akan minta dibacakan lagi dan lagi. Edsel juga sedang senang-senangnya mengerjakan aktivitas di majalah anak-anak semacam Mombi TK, Buncil, atau Bobo Junior.

7. Edsel tidak suka dibantu, bahkan ketika kita anggap dia udah kesulitan pun dia tetap tidak suka dibantu. Dia akan bilang sendiri ketika dia merasa butuh bantuan. Pake sepatu sendiri, pake baju sendiri, habis jatuh bangun sendiri, nyelesaiin puzzle sendiri, benerin mainan rusak sendiri, dan lain-lain. Beda lagi kalo makan, dia masih males makan sendiri. Padahal kalo terpaksa ya bisa juga. Ini pe-er banget ni buat saya untuk memotivasi dia mau makan sendiri. Kalo dibandingkan dengan anak lain mungkin Edsel termasuk terlambat ya mandirinya? Cebok sehabis BAB juga belum bisa sendiri.




8. Edsel belum bisa baca tulis. Memang sengaja belum saya ajarin, dan sepertinya dia belum tertarik tuh. Kalo berhitung sih dia memang suka, bukan karena saya ajarin, tapi memang tertarik sendiri. Tapi untuk mengenali bentuk angka-angka dia belum tertarik. Kalo bentuk-bentuk huruf kadang dia suka bertanya. Tapi hanya sebatas bertanya, ga saya suruh ngapalin juga. Menurut saya ada banyak hal penting lain yang perlu dia pelajari dan kembangkan sebelum usianya 5 tahun ini dibandingkan calistung.

9. Kepala Edsel kerasnya seperti batu. Untuk bisa menerima nasihat harus dengan cara-cara yang lembut dan pake trik. Dan bukan sembarang orang bisa melakukan ini. Untuk saat ini baru Ayahnya dan saya yang bisa meluluhkan si batu itu, itu pun tidak selalu berhasil.

10. Edsel bukan anak yang mau didikte. Dia cenderung semau gue dan punya prinsip sendiri. Jangan harap dia akan mau disuruh-suruh untuk bernyanyi lagu anak-anak populer (macam Balonku, Tukang Pos, dll) atau berjoget layaknya temennya yang lain. Dia lebih suka menyenandungkan soundtrack-nya Frozen atau Ice Age. Nah ketika lagi sendiri atau memang lagi mau, dia akan bersenandung sendiri lagu anak-anak populer itu.

11. Edsel juga bukan anak yang ramah dengan kedatangan orang/anak baru. Kalo misal ada tamu ke rumah kami, dia belum tentu mau untuk salaman atau menyapa. Bahkan dengan saudara yang sudah lama kenal pun belum tentu dia ramah, tergantung mood-nya dia.

Yaahh...pada akhirnya Edsel is Edsel. Dia tidak bisa disamakan dengan anak lain. Dia punya sifat, cara berpikir, dan emosi sendiri. Kadang kalo lagi mikir betapa sulitnya Edsel, saya akan berkata pada suami bahwa kita dikasih Edsel dengan segala sifatnya adalah karena kita dianggap mampu oleh Allah untuk mendidik dia. Ini amanah dan belum tentu semua orang tua sanggup dititipi anak seperti Edsel.

Iih sok wise ya saya? Hehe... Tapi memang begitu lah. Edsel memang bukan anak yang selamanya manis. Tapi saya bangga dan sayaaaangg sekali padanya.

Catatan untuk si Ed : "Bukan maksud Ibuk untuk buka aib kamu di media ya, Nak. Ini hanya sebagai catatan milestone aja, untuk kamu baca kelak".
Read More

Wednesday, 15 April 2015

Semau Gue di Trimester Ketiga

Ini minggu ke 33, padahal sekarang udah minggu ke-36. Lagi males update foto ...!!


Sudah sebulan terakhir saya males sekali ngeblog. Bisa ditengok deh postingan saya yang terakhir adalah 17 Maret, berarti memang hampir sebulan yang lalu ya. Tadinya karena sedang fokus ngerjain skripsi dan beberapa kerjaan kantor yang harus segera diselesaikan. Eh tapi berhubung si skripsi masih revisi lagi revisi lagi saya jadi males mau utak-utik lagi. Sepertinya semangat saya yang menggebu-gebu untuk segera ujian di bulan ini tidak diimbangi dengan semangat dosen yang sepertinya asoy geboy aja dengan dikit-dikit nyuruh benerin sebuaik-buaiknya tulisan saya. Hmm... Dasarnya saya yang oon kali ya. Udah berapa kali saya kirim email tapi masih juga ada perbaikan. Padahal memperbaikinya lumayan menguras pikiran dan ujung-ujungnya saya jadi stress karena nulis sambil dikejar target untuk ujian sebelum melahirkan. Beuhh...kasian amat si adek. Makanya saya putuskan di minggu-minggu terakhir kehamilan ini saya akan SEMAU GUE !

Dan bener deh saya jadi 'semau gue' beneran. Ga kejar target apa-apa, ga nglakuin apa yang saya ga suka. Maunya cuma menuruti apa yang bikin saya seneng dan ga membebani pikiran. Ke-'semauan gue' ini diawali dengan ga nyentuh lagi benda yang namanya skripsi. Jika biasanya ini yang paling saya prioritaskan ketika di rumah, maka sekarang ini saya ucapkan selamat tinggal untuk sementara. Saya pingin bener-bener hepi dan menikmati 1 bulan terakhir menjadi wanita hamil. Begitu sampai di rumah saya tanggalkan semua pikiran tentang kantor dan kuliah. Saya seneng-seneng aja bercengkrama dengan Edsel dan Ayahnya.

Trus saya juga belanja-belanja untuk diri sendiri. Saya beli-beli baju kancing depan yang nyaman dan lucu-lucu. Tapi belinya bertahap ga sekali belanja langsung beli 3 potong misalnya. Beli 1 dulu, trus minggu depan cuma lihat-lihat. Minggu depannya lagi beli 1 stel. Acara melihat-lihat dan belanja ini cukup ampuh buat bikin hepi. Apalagi membayangkan saya akan pakai baju baru setelah proses melahirkan yang berat. Dulu waktu lahiran si Ed, baju saya setelah melahirkan ga kepikiran, alhasil saya pake kemeja suami dan pinjam baju nyokap. Aduuh di mana nyamannya di rumah pake kemeja? Dan baju nyokap?? Haha...ga saya banget deh. Tapi waktu itu yang saya pikirkan cuma keperluan bayi aja. Untuk kesenangan diri sendiri ga pernah terlintas.

Acara beli-beli untuk diri sendiri ini berlanjut ke area yang paling paling saya sukai : pojok membaca ! Jika sebelumnya saya mikir-mikir untuk beli suatu tabloid atau majalah atau buku dengan pertimbangan di bulan yang sama sudah membeli bahan bacaan sejumlah dan sebesar sekian rupiah, maka di akhir kehamilan ini napsu saya untuk membeli bacaan saya umbar dengan bebas. Jika kebetulan lagi ke minimarket dan pingin beli tabloid atau majalah ya beli. Jika saya ingin membaca buku apa, ya saya turutin selama masih rasional dengan anggaran yang saya punya. Bahkan saya sudah request untuk dibelikan suami judul buku tertentu dan majalah untuk menemani saya usai melahirkan. Berdasarkan pengalaman melahirkan si Ed kemarin, saya berada dalam situasi yang amat sakit, berat, dan stress ketika di rumah sakit. Harapan saya, dengan membaca buku, situasi yang tidak mengenakkan itu tidak akan terulang, yah minimal bisa berkurang lah. 

Sikap semau gue ini juga berlaku untuk setiap pekerjaan yang saya lakukan. Tapi bukan dalam artian bekerja seenaknya ya, tapi saya akan berhenti bilamana tubuh saya mengisyaratkan untuk berhenti. Jika sebelum-sebelumnya saya hanya akan berhenti sampai suatu pekerjaan bener-bener selesai atau sampai saya bener-bener tidak mampu lagi untuk melakukannya, maka sekarang ini saya akan berhenti ketika pingin berhenti. Ketika capek mengerjakan sesuatu, istirahat, lanjutkan nanti. Ketika jenuh dan bosan, berhenti, lanjutkan nanti ketika sudah fresh lagi. Bener-bener ga ngoyo lagi saya.  

Bahkan ketika pulang pergi ke kantor naik motor pun saya cuma memacu pelaaaaan sambil bernyanyi dan menikmati udara sejuk dan pemandangan. Tidak berambisi untuk segera sampai agar bisa segera mengerjakan yang harus dikerjakan. Hahaha...kesannya kayak menjadi males ya gara-gara hamil? Ah tidak juga, saya hanya ingin santai dan hepi, dan tidak ingin si adek yang 100% tergantung dengan saya akan terpengaruh dengan menjadi stress juga gara-gara sifat saya yang terlalu ngoyo, terlalu apa-apa dipikirkan, terlalu buru-buru, dan terlalu terlalu lain yang tidak menyenangkan. Hanya itu sih...  

Dan ternyata, santai itu enak lho. Hahaha....
Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena