cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Friday, 28 June 2013

Warisan Keluarga

Warisan yang saya dimaksud di sini bukan warisan berupa benda berharga atau uang, tapi warisan mainan dan pakaian. Istilah di keluarga saya sih lungsuran. Lantas apa yang membuat lungsuran ini istimewa? Bukannya warisan mainan dan pakaian itu hal yang biasa ya? Dari adik ke kakak, dari anak kita ke ponakan, dan lain sebagainya yang satu generasi atau hampir seumuran.

Tapi jika warisan ini dari ayah ke anaknya atau dari om ke ponakannya, saya menyebutnya istimewa. Kenapa? Karena mereka terpaut umur yang sangat jauh, puluhan tahun. Membayangkan barang-barang anak kita akan kita wariskan untuk cucu kita kelak rasanya kok jauuuhhh sekali ya. Ga kebayang gitu. Kalo cuma disimpen untuk diwariskan ke adiknya nanti sih masih mungkin lah ya. Tapi kalo untuk anak dari anak kita, ah saya pasti udah males liat barang-barang itu menuh-menuhin rumah. Kalo masih bagus ya dikasih ke orang ato disumbangin, tapi kalo udah ga layak ya dimusnahkan. 

Padahal dengan menyimpan dan mewariskan barang-barang ke generasi berikutnya ternyata bisa mengulik kembali cerita indah masa lalu lho. Ada unsur nostalgia, mengenang sejarah, mengingatkan betapa orang tua kita dulu sangat menyayangi kita. Dan itu yang terjadi pada ibu mertua saya. Salut, dua jempol buat beliau.

Ibu mertua saya menyimpan dengan sangat baik mainan, pakaian, selimut, perlak, dan sarung yang dulu dipake suami saya dan adiknya. Memang tidak semuanya karena yang sudah rusak tentu sudah beliau buang, tapi masih cukup banyak. Dan kini barang-barang tersebut diwariskan kepada anak saya, Edsel. Bagaimana keadaannya? Masih bagus dan layak untuk dipake! Dan anehnya Edsel sangat suka dan nyaman banget dengan barang-barang lungsuran ayahnya. Mungkin merasa ada ikatan batin di antara mereka. Anak ayah memakai barang yang sama dengan ayah waktu anak-anak. Hehe... 

Dan ketika kami berkumpul di saat Edsel bermain dan memakai barang-barang warisan itu, suasana menjadi menyenangkan. Ibu mertua bercerita tentang sejarah barang-barang itu, tentang suami saya dan adiknya, kemudian ayah mertua menimpali, suami tersenyum bahagia, saya mendengarkan dengan asyik, dan Edsel ikut tertawa mendengar cerita masa kecil ayahnya. Ahh... hangat sekali. 

Memang barang-barang tersebut sudah sangat ketinggalan modelnya. Ya iyalah, sudah 28 tahun yang lalu. Tapi kita sante-sante aja, ga takut dikatain orang pelit. Lha gimana mo bilang pelit wong ini kan pemberian orang tua sebagai wujud kasih sayang. Dan yang perlu dicatet, ibu mertua saya kalo nyumbang ke orang yang membutuhkan, ga ngasih yang bekas, dia belikan yang baru. Hebat kan?

Nah, jadi Edsel ini dari bayi sebagian barang-barangnya ya udah biasa pake bekas ayah dan omnya. Popok, baju, celana, selimut, itu dari generasi ke generasi. Sampe sekarang usia 2 tahun masih ada aja barang-barang yang 'dikeluarkan' ibu mertua dari lemari ajaibnya. Baju, sarung, boneka. Hehe... 

Ga tahu sampe umur berapa Edsel masih menerima warisan-warisan itu. Kayaknya di setiap fase umur anak saya, ibu selalu punya barang warisan dari suami saya dan adiknya.




gambar: sebagian barang-barang warisan itu
Read More

Wednesday, 26 June 2013

Dari Mana Google Dapet Duit

Saya sering baca kalo google si search engine yang sangat populer itu kayaaa bangeeeett. Bahkan perusahaan itu terkenal sangat memanjakan pegawainya dengan fasilitas yang mewah dan gaji yang selangit. Tapi saya heran dari mana google dapet duit. Saya dan jutaan orang di dunia ini memang tiap hari ceklak-ceklik dan ga bisa idup tanpa google (lebay, tapi bener kan? hehe), tapi kita ga keluar duit sepeser pun tuh. Bahkan mo download berton-ton byte juga gratis gratis aja kan? Lhah trus dari mana dong dia bisa kaya?


 










Gambar : suasana di kantor google

Nah, ternyata setelah googling sana-sana (pake google lagiii, emang saya ga bisa idup tanpa google deh), saya dapetin sumber dana perusahaan super duper kaya itu. Cekidot!
( source-nya dari sini )

1. SPONSOR. Ketika kamu mengetikkan kata kunci tertentu pada google search engine, maka akan muncul hasil di sebelah kanan layar komputer (sponsored result). Website yang muncul pada sponsored result ini memiliki perjanjian khusus dengan google untuk menampilkan website mereka pada hasil pencariaan tertentu. Contoh apabila kita memasukkan kata kunci “bonsai trees” pada search engine, maka mungkin akan muncul link website yang menjual pohon bonsai pada sponsored result section. Pertanyaannya, bagaimana google menghasilkan uang dari cara ini? Fasilitas google adwords memungkinkan pengiklan potensial untuk memasang iklan mereka, dengan menentukan kata kunci. Setelah menilai iklan tersebut, maka google dapat menentukan penawaran mereka. Mereka menjual kata kunci/keyword ke pengiklan, dan keyword populer dihargai sampai 4rb dolar. Bayangin 1 keyword 4rb dolar kalo ada 10 pengiklan yang memasang iklan di keyword tersebut dan diklik 1 kali tiap hari 1 bulan dapat berapa tuh dari 1 keyword.

2. ADSENSE. Ini adalah program pengiklanan yang paling populer dimana para publisher dapat menghasilkan uang secara online. Pemilik website atau blogger adalah orang yang megambil manfaat besar dari fasilitas ini. Hal ini tergantung traffic dari suatu website atau blog, di mana google akan membayar dengan jumlah tertentu dari setiap iklan yang diklik oleh pengunjung. Dari sini google akan memdapat uang dari sisa harga iklan yang dibayarkan ke publisher website.

3. IMAGE SEARCH.Selain web search, google juga menampilkan iklan-iklan sponsor untuk pencarian gambar. Ini merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan uang.

4. GMAIL. ini adalah salah satu layanan email gratisan yang paling populer milik google. Ketika kamu membuat akun email di gmail maka akan muncul pula iklan adsense seperti yang ada pada hasil search engine sesuai dengan relevansi email yang dibuka.

5. YOUTUBE. Saat ini youtube adalah salah satu situs terpopuler sekaligus menjadi portal video terbesar di dunia. Beberapa tahun yang lalu google membeli youtube dan memanfaatkannya untuk memasang iklan adsense pada video dan sidebar youtube.

6. ORKUT. Orkut merupakan social networking milik google. Iklan adsense juga ditampilkan di halaman profil pengguna orkut.  

7. Social networking google-google +

8. ANDROID OS. Sejak booming beberapa tahun yang lalu android segera merangsek ke pasar OS smartphone dan seluler. Dengan membawa nama besar google android kini bersaing dengan windows mobile dan symbian pada segmen ini. Dalam hal ini google berperan sebagai pemberi lisensi untuk google apps yang ditanamkan pada OS android kebanyakan seperti google maps, google earth, atau google news. Dengan ini google akan mendapat uang dari setiap aplikasi yang dibeli oleh pengguna OS ini. Bahkan untuk aplikasi gratispun google tetap mendapat uang dari pengembang yang harus membayar untuk mendapat akun dalam membuat aplikasi tersebut. Pada interface web di OS android, google juga menanamkan fleksibilitas tampilan iklan adsense untuk mempermudah tampilan iklan sponsor melalui google.


Canggih kan cara mereka dapet duit? Jadi saya ga heran lagi deh gimana mereka bisa kaya. Ya selama pengguna google masih banyak, masih banyak juga dong pundi-pundi keuangan mereka. Meski kita ga keluar duit ketika make google, tapi kita lah pasar potensial dari iklan-iklan yang jadi sumber dana google. 


Kira-kira sampe kapan ya google berjaya seperti ini? Hehe..sampe ada pesaing yang lebih hebat.
Read More

Wednesday, 12 June 2013

Apa Dosa Si Caesar?

Suka sedih deh kalo kalo dikomentarin :
 " Wah kalo caesar ga ngrasain jadi ibu dong. Perjuangan ibu itu kan saat kita merasakan sakit ketika melahirkan."

Edodoeee.... please ya, dengan cara melahirkan apa pun kami tetap ibu lho. Lagian siapa yang bilang Sectio Caesaria (SC) itu ga sakit? Siapa siapa?? Sakiiitt booookkk! Trus siapa yang memilih SC? Kan bukan kita, tapi dokter yang memutuskan karena melihat kondisi ibu dan bayi. Bukan kami yang sok genit ga mau susah-susah ngeden.

Kalo disuruh milih mah, saya (dan semua ibu-ibu yang berpikiran sehat di luar sana) pasti menginginkan bersalin dengan cara normal (kecuali yang memilih SC karena milih tanggal lahir cantik, no comment ya untuk yang ini). Ya iya lah, persalinan normal itu merupakan pilihan terbaik. Penyembuhan luka ibu lebih cepat, bayi mendapatkan bakteri baik selama menuju jalan lahir, bayi juga ga shock, dan sederet kebaikan lainnya. Itu kalo kondisi kita memungkinkan. Kalo ga memungkinkan ya jalan satu-satunya dioperasi.

Dan jangan dikira operasi itu menyenangkan ya. Sekedar sharing pengalaman SC saya :
Pada usia kehamilan 39 minggu dokter memvonis bahwa panggul saya sempit, kepala bayi tidak bisa masuk panggul. Dengan kondisi demikian, saya harus melahirkan dengan cara operasi, tidak bisa tidak. Pun hingga usia kehamilan lebih dari 40 minggu saya belum merasakan kontraksi sedikit pun. Padahal ketika di-USG kondisi air ketuban sudah tidak 'sehat' untuk si adek bayi. Ya sudahlah, malam itu yang niatnya cuma mo periksa akhirnya jadi nginep di Rumah Sakit karena besok pagi-pagi mau dioperasi.

Malam sebelum operasi. Saya berusaha tenang, tapi laki-laki di samping saya itu ga pernah bisa senyum sampe pagi 

Daaannn... semalaman saya ga bisa bobo sedetik pun di Rumah Sakit. Saya ini dalam kondisi ga ada apa-apa aja kadang sulit tidur, apalagi ini mau disayat-sayat dibelah-belah. Huaaaa.... Apalagi tangan kiri dipasangin selang infus, otomatis ga bisa gerak bebas, sakit pula kan. Mo miring kiri ga bisa, miring kanan terus ya pegeeeel. Ke kamar kecil juga nenteng-nenteng infus (padahal wanita hamil tua kan bentar-bentar buang air kecil). Amboiii. 

Belum kalo setiap beberapa jam sekali ada perawat (ato bidan ya?) yang 'merogoh' saya udah bukaan apa belum. Saya benciiii banget pemeriksaan ini. Sakittt. 

Paginya setelah mandi (yang tentu saja tidak bersih karena tangan terbelenggu infus) saya dipasangin kateter urin, ini yang paling saya tidak suka, hiks. Kemudian saya digeledek ke ruang operasi, tanpa boleh ditemani siapa pun termasuk suami. Maluuu boookk, semua dokternya laki-laki, cuma ada satu asisten yang perempuan. Hadeehh smoga makin banyak deh perempuan yang jadi DSOG biar para wanita yang mo melahirkan ga menahan malu karena harus telanjang ketika melahirkan.

Saya disuntik bius spinal (separuh badan) di tulang punggung oleh dokter anestesi yang juga laki- laki (!!). Karena saya sciliosis, dokter susah menemukan titik yang tepat. Sampai 2 kali suntikan belum berhasil. Saya meringis, tegang, sakit, sampai-sampai dokter tersebut menyuruh saya memeluknya ketika saya akan disuntik untuk ketiga kalinya. Beuuhhhh...*Maafken aku suamiku.

Perlahan-lahan kaki saya terasa hilang, pertanda obat bius mulai bekerja. Dan saya mulai merasakan perut saya dikoyak-koyak, kepala pusiingg minta ampun. Sembari bekerja dokter-dokter berusaha mencairkan ketegangan dengan mengajak saya ngobrol santai. Padahal saya males sebenarnya. Sudah habis energi saya untuk merasakan perut terkoyak dan pusing yang ga habis-habis ini. 

10 menit kemudian operasi selesai, saya mendengarkan tangisan pertama Edsel. Tidak ada haru biru ato perasaan ingin menangis karena bahagia. Saya justru sebal karena dokter tidak menunjukkan si bayi yang baru saja diambilnya dari perut saya kepada saya. Bahkan permintaan IMD saya ditolaknya juga. Nanti katanya, kalo ibu udah ke ruang pemulihan dan bayi udah dibersihkan. Yaaa... serius ga sih ni? Masak prosedurnya begitu?

Sesaat setelah lahir
Saya masuk ruang pemulihan. Dan saya menagih janji kepada perawat untuk IMD, meskipun sudah terlambat. Bayi diantar, dengan sudah memakai popok dan baju. Saya minta perawat untuk meletakkan Edsel di perut saya dan berusaha untuk IMD 'terlambat' ini. Ga ada yang mendampingi saya dan bayi, kami cuma sendiri.

Sesaat setelah Edsel diambil untuk dikembalikan ke ruang perinat. DAAARRR...saya merasakan perih yang luar biasa di perut bekas sayatan operasi. Luar biasa sakitnya!  Rasa perih ini berlanjut hingga keesokan harinya, dan besoknya lagi. Untuk bergerak sedikit saja sakitnya minta ampun. Kondisi ini diperparah dengan tranfusi darah yang harus saya lakukan, juga demam tinggi karena ASI yang seharusnya dikeluarkan tidak dihisap bayi karena kami tidak bisa rawat gabung. Semua itu menyebabkan saya semakin susah tidur. Jadi terhitung 3 hari 3 malam saya ga tidur. Ajaib saya ga tumbang. Saya cuma sedih setiap kali ada yang nengokin dan berkomentar ga enak seperti di atas. Setelah semua yang saya rasakan di atas, masih tega juga ngatain saya bukan ibu sejati.

Ibu sejati itu bukan tergantung dari cara seperti apa dia melahirkan, tetapi tentang bagaimana dia berusaha menjaga kehamilannya, merawat, mengasuh, dan mendidik anaknya.

Hiks jadi mellow. Semoga ada yang setuju deh.
Read More

Monday, 3 June 2013

Main Hujan, So What?

Saya suka ga ngerti deh kenapa sih anak-anak dilarang main hujan? Main hujan itu mengasyikkan sekali lho buat mereka. Lihat ekspresi dan binar-binar bahagia di matanya ketika mereka dibebaskan bermain hujan. Amazing...! 

Kata si anu hujan bikin pilek, kata si itu hujan bikin masuk angin, ahhh kalo saya musingin terus apa kata orang-orang, bisa-bisa anak saya ga belajar apa-apa dong. Jadi meski suka ditentang mertua dan tetangga, kita mah maju terus ngajak Edsel main hujan. Alhamdulillah sampe hari ini, bocah gendut saya ini ga pernah sakit karena hujan-hujanan.


Menurut Mira D. Amir, Psi. bermain hujan mempunyai beberapa manfaat positif, di antaranya :

1. Mengembangkan daya eksplorasi anak
Saat butir-butir hujan turun, anak-anak biasanya selalu ingin mengeksplorasinya. Ternyata air hujan itu bisa membuat rumput pekarangan rumah terendam air. Juga got-got di jalan meluap hingga menyebabkan jalan tergenang. Manfaatnya peristiwa itu untuk memberikan masukan kepada anak. "Makanya, kalau buang bungkus permen jangan sembarangan, soalnya bisa membuat got tersumbat dan akhirnya mengakibatkan banjir."

2. Melatih motorik kasar
Bermain hujan-hujanan kerap diiringi berbagai permainan aktif. Anak-anak bisa berlari-larian, berloncat-loncatan, atau saling mencipratkan air. Permainan tersebut sangat baik untuk melatih motorik kasar, juga melatih kekuatan otot-otot tubuhnya. Aktivitas ini ibarat olahraga yang mampu membuat tubuh anak sehat dan bugar.

3. Melatih sosialisasi
Bermain saat hujan biasanya dilakukan secara berkelompok. Permainan yang dilakukan secara berkelompok memang dirasakan lebih menarik. Saat bermain, anak belajar bergaul dan beradaptasi dengan teman-temannya.

4. Mengasah kecerdasan alam
Lewat bermain hujan-hujanan, orang tua bisa mengenalkan berbagai fenomena alam dengan bahasa sederhana. Orang tua bisa mengenalkan fenomena hujan. Dengan begitu, kecerdasan alam anak akan semakin terasah. Anak-anak setidaknya tahu apa yang terjadi dalam lingkungannya.

5. Mengembangkan imajinasi
Saat bermain, anak-anak juga kerap mengembangkan imajinasinya. Di bawah terpaan hujan anak dapat mengumpamakan dirinya sebagai seorang penari. Juga ada anak yang membayangkan dirinya sebagai seorang jagoan. Semua itu bisa berdampak positif terhadap perkembangan mental anak. Selain imajinasi, anak-anak juga bebas mengembangkan ekspresinya. Mereka bebas berteriak, melompat, dan berlari-larian.

6. Menghilangkan stres
Aktivitas bermain membuat anak gembira. Terlebih jika ia sudah ikut kegiatan "sekolah". Aktivitas-aktivitas di "sekolah" yang membosankan bisa membuat anak stres. Nah, dengan bermain, anak bisa menghilangkan stresnya.


Tapi main hujan juga ada aturan mainnya lho. Perhatiin nih ya :

1. Lihat dulu kondisi anak, sedang fit atau tidak. Lihat pula, apakah kondisi curah hujannya lebat berangin atau tidak, lebih baik jangan diijinkan bila kondisi curah hujannya lebat, berangin kencang dan disertai petir.

2. Berilah pelindung tubuh (jas hujan dan sepatu boot), untuk melindungi anak bila main becek-becekan di air comberan yang tentunya mengandung banyak kuman. Tapi bila hanya bermain di halaman rumah, rasanya aman-aman saja bila tidak memakai pelindung.

3. Pastikan perutnya sudah diisi makanan yang cukup, jangan dalam keadaan kosong.

4. Lakukan dalam keadaan bugar (setelah istirahat)

5. Batasi waktunya (jangan biarkan berlama-lama), idealnya 30 menit adalah waktu yang cukup.

6. Setelah bermain, segera bilas dengan air bersih atau air hangat lebih bagus.

7. Balur tubuh si kecil dengan minyak kayu putih agar hangat.


Jadi, main hujan? So what??
Read More

Tuesday, 28 May 2013

Ada Jet Li di Dapurku

Telur mata sapi!! 


Ya ampuun tak terkira gimana doyannya Edsel sama makanan ini. Tapi sering merasa bersalah juga kalo tiap masak telur cuma diceplok dibikin mata sapi. Kayak ga ada usaha lebih ngurusi anak gitu lho, hehe... *sok banget deh ah.



Waktu main-main ke Mommies Daily kok ada resep berbahan telur, boleh juga ni. Sempet males waktu baca sekilas resepnya yang kayaknya ribet. Ehh..tapi setelah dibaca beneran, gampang euy..! Nama masakannya Jet Li. Ih lucu ya? Apa hubungannya sama Jet Li yang artis kungfu itu? Penulisnya ngakunya juga ga tahu sih, cuma yang jelas ngakunya : ENAK. Yuk mari kita coba!



Bahan:
3 telur ayam
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 cabai merah besar (atau sesuai selera)
2 cabai rawit merah  (atau sesuai selera)
Garam dan merica secukupnya
Kecap manis
Sawi hijau (sesuai selera)
Daun bawang (sesuai selera)
2 pcs Sosis, potong tipis-tipis (jika suka)
2 gelas air matang (bila ingin lebih gurih, ganti air matang dengan kaldu ayam)
2 sdm minyak canola
Cara Membuat:
-          Blender bawang merah, bawang putih, cabai merah dan cabai rawit sampai halus
-          Panaskan minyak canola, tumis bumbu halus sampai wangi.
-          Masukkan sosis, tumis dengan bumbu sampai matang
-          Tambahkan air atau kaldu ayam, tunggu sampai mendidih.
-          Masukkan telur, lalu aduk sedikit agar agak ‘pecah’ dan matang di dalam kuah
-          Tambahkan kecap manis, garam dan merica sesuai selera
-          Masukkan sawi, aduk-aduk sekitar 1 menit.
-          Hidangkan

Biar Edsel tertarik, saya bilangnya ini telur mata sapi tapi pake kuah. Makanya saya ngaduknya ga terlalu heboh supaya bentuk telur ga terlalu 'pecah', supaya mirip dengan telur ceplok yang biasa saya bikin.

Ini biasanya untuk lauk nasi sarapannya Edsel, tapi kalo saya sih lebih suka dimakan doang tanpa nasi. Apalagi kalo masih hangat, uhh.. syeedepp... 
Read More

Friday, 24 May 2013

Bicara Dandan

Siapa yang tampangnya pas-pasan? Saya!!
Siapa yang ga pernah perawatan? Saya!!
Siapa yang dandannya ala kadarnya? Saya!!


Aduuhh ksian sekali muka saya ya, si pemilik ga pernah memanjakannya. Muup muup. 

Jadi ritual make up saya tuh cuma pake pelembab, BB cream, bedak tabur, lipbalm, lipstik. Kadang pake pensil alis kalo lagi pengen. Udah gitu aja.

Cerita soal pelembab nih, saya pake Olay udah 7 tahun. Bayangin! Dari jaman kuliah sampe sekarang kerja ga pernah gonta-ganti. Harusnya saya dapet award nih dari Olay karena udah jadi pelanggan setianya.

Mulai dari Olay White Radiance SPF 19. Ihh saya suka banget deh sama Olay yang ini. Teksturnya ga terlalu cair, kekentalannya sedang, jadi  mudah diaplikasikan. Wanginya juga saya suka. Agak mengkilap tapi jadi bagus kalo ditimpa bedak, apalagi efeknya bikin wajahku kliatan putih. 

Sayangnya produk ini kemudian udah ga keluar lagi *atau mungkin masih ada tapi udah susaaahh banget nyarinya. Trus beralihlah ke Olay White Radiance SPF 24. SPF-nya sih emang lebih mantap tapi saya ga suka teksturnya yang terlalu cair. Kalo diaplikasikan juga terlalu mengkilap. Tapi mau bagaimana lagi wong produk yang lama udah ga ada nyari kemana-mana. Udah kadung cinta sama Olay, ogah kalo disuruh pake yang lain. Olay ni sukses bikin muka saya terasab lembab dan kenyal. Pernah coba pake PO*DS, tapi ga nyaman di wajah. Terasa gerah dan berminyak banget. Sampe hari ini nih, masih tetep pake Olay WR SPF 24.
Olay WR SPF 19


Olay WR SPF 24

Nah BB cream, saya pake yang merk Maybelline. Dulu sebelum BB cream ini mudah didapet, saya ga pake apa-apa after pelembab. Pelembab timpa bedak, that's all. Nah berhubung si BB ini udah ada di toko waralaba macam Indomaret, makin bernafsu pakainya soalnya dia bikin wajah kliatan kayak pake foundie tapi ringan. Saya pingin sebenarnya pake foundie, tapi ga pernah berhasil bikin foundie rata en bagus di wajah. Palingan bagus di awal doang, tar udah siangan dikit bubar jalan pecah-pecah kena kringet. Males jadinya. Sempet tergoda pake BB merk Caring Colour, tapi susah diaplikasikan karena terlalu creamy, warnanya juga ga cocok di wajah saya.

BB Cream Maybelline

Untuk bedaknya saya pilih yang tabur biar bisa kontrol minyak di wajah and kliatan natural. Merknya yang ada aja. Kebetulan saat ini pake Caring Colour, hadiah paketan dari BB Caring yang juga sempat saya beli. 

Lipstik mana lipstik?? Aihh..saya banci lipstik deh. Terhitung sekarang ada 5 lipstik yang saya pake ganti-ganti, ga banyak sih ya? Hehe... Tapi dibandingin perkakas make-up saya yang lain yang cume sebiji, lipstik ini menduduki tempat teragung di antara teman-temannya. Warna oranye dan pink dari Maybelline, 2 warna peach dari La Tulipe dan Wardah, dan yang sering saya pake warna oranye dari Sariayu.

Yah cuma itu doang perkakas nglenong saya. Garing ya? Pas-pasan pula. Hehe... Maklum deh, saya  emang males dandan. Dandan hanya biar kliatan ga pucet dan kusam aja. Apalagi treatment khusus wajah, apaan tuh? Ga pernah sama sekali. Boro-boro mo facial, maskeran, scrub, atau apa lah yang lain, pake krim malam aja saya ga pernah bok! Paling banter nih ya, saya cuma membersihkan muka pake pembersih wajah setiap pulang dari kantor. Untungnya wajah saya ini emang bandel bener, ga pernah kena masalah kulit kayak jerawat, komedo, dan lainnya. Mulus mulus aja tuh. Cuma emang sekarang-sekarang ini mulai muncul flek-flek kecil di pipi. Dikit sih ga terlalu kliatan tapi kalo dibiarin tambah banyak ga sih? Ah udah tua emang.  Udah saatnya mikirin ngrawat wajah kali ya?

Kasih ide dan ilmu buat saya dong! Sharing tentang treatment wajah kalian.

Read More

Tuesday, 21 May 2013

Edsel dan Emosinya

Pernah kapan hari ada cerita yang beredar di lingkungan rumah kalo Edsel tu anak bandel, galak, nakal. Malah udah terkenal seantero kampung kalo anak saya tu suka teriak, nangis jejeritan, tantrum gilak lah. 'Penyakit' yang muncul di 2 tahun 1 bulan-nya itu sempet sembuh agak lama, tapi sekarang 2 tahun 2 bulan kambuh lagi tu tantrum.

Malu kah saya? No!
Bingung mengklarifikasi ke sana kemarikah saya? No!

Buat apa? Emang kenyataannya anak saya bukan anak yang manis di setiap waktu kok. Ada saat ketika dia emosi dan tidak bisa mengendalikannya maka dia akan rewel. Apa dosanya? Emosi itu kan pemberian Tuhan. Dan watak manusia itu berbeda-beda, ada yang sabar, namun ada juga yang gampang tersulut emosinya. Nah watak itu inborn talent atau bakat alias gawan bayi kata orang Jawa. Trus siapa yang mau dianugerahin emosi yang over? Ga ada, karena emang bukan kita yang menentukan. Ini udah satu paket sama jabang bayi, sama air ketuban, sama plasenta, sama sifat-sifat genetis yang lain. Habis perkara! 

Masalahnya sekarang adalah, he is just a baby. He isn't a adult. Menjadi salah ketika sebagai orang dewasa tidak bisa mengendalikan emosi karena ia sudah dilengkapi dengan segala fasilitas otak secara sempurna. Dia harus menggunakannya untuk berpikir mengendalikan emosinya. Tapi bocah 2 tahun?? Pliss deh, dia baru hidup 2 tahun you know? Apa yang kamu harapkan dari bocah 2 tahun 2 bulan tentang mengendalikan emosi dengan bijak? Kita, kita lah yang harus bijak. Bijak untuk tidak men-judge, bijak untuk memfasilitasi secara pasif emosinya. 

Pernah suatu kali Edsel melihat temannya makan permen, dia pingin dan minta. Saya udah bikin peraturan bahwa dia tidak boleh makan permen. Biar kata dia menghiba-hiba dengan memelas, teriak-teriak sampe didengerin orang sekampung, nangis jerit-jerit sampe 1 jam, ga bakalan saya kasih. Kejam? Saya sebenarnya ga tega kok, pingin nangis juga ketika dia menangis seperti itu. Tapi dia harus tahu, he isn't a king. Dia bukan raja kecil yang ngrengek dikit diturutin, nangis dikit dikasih. No! Dia harus tahu bahwa tangisnya bukan senjata yang ampuh untuk ayah ibunya. Kalo saya nurutin kemauan dia karena alasan ga tega, bisa-bisa dia akan terus berstrategi biar ayah ibunya nurutin semua keinginannya. Bahaya kan?

Saya cuma membujuknya untuk diam. Membujuk secara wajar, ga berlebihan. Ketika dia sudah tidak bisa ditenangkan secara wajar, ya udah saya biarin aja. Hanya saya jagain biar dia ga membahayakan dirinya ketika proses tantrum itu terjadi. Kalo perlu, saya kunci pintu dari dalam biar ga ada yang mengganggu kami. Kan suka ada tuh orang lain (biasanya sih keluarga kita) yang ga tega denger anak kita nangis meraung-raung kemudian berusaha ikut menenangkan atau lebih parahnya lagi kasih kemauan anak kita yang jadi penyebab rewelnya dia tadi. Wah kalo kejadiannya kayak gini, si kecil bisa berstrategi bahwa dia akan mendapat apa yang dia mau kalo sama si ini atau si itu.

Nanti kalo udah capek, Edsel akan diam sendiri dan kemudian saya peluk sambil saya jelaskan bahwa ayah dan ibu sayang sekali padanya, tapi bukan berarti dia akan mendapat permen. Karena permen itu bikin sakit gigi, trus nanti Edsel bisa kesedak juga. Biar pun Edsel nangis tetep ga akan dikasih apa yang sudah dilarang. Jadi percuma nangisnya. Sambil misek-misek dia akan manggut-manggut seperti mengerti (entah mengerti beneran ato ga).

Trus apakah setelah ini dia tidak akan tantrum lagi? Ya ga juga. Tapi biar bagaimana pun dia harus belajar untuk memahami bahwa tidak semua hal itu bisa dia dapatkan, apalagi cuma dengan 'bekal' menangis. Ada hal-hal yang bisa membuat dia kecewa, dan dia harus belajar kecewa. Karena lagi-lagi, he isn't a king.

Dan mari kita belajar mengendalikan emosi kita, Nak! Emosi kamu dan Ibu. Karena ga ada yang salah dengan emosi kita. Yang salah adalah jika kita tidak berusaha menempatkannya di tempat yang
seharusnya.

I love u boy, u're my everything.



Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena