cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Friday, 2 June 2017

Wardah Matte Lipstick Gorgeous Pink 17

Sekian waktu telah berhasil meyakinkan diri bahwa "ternyata dunia baik-baik saja tanpa lipstik baru". Sekian waktu pula setiap melewati counter kecantikan, saya telah dengan begitu mudahnya melenggang tanpa menoleh untuk sekedar mengintip deretan koleksi lipstik. O yeah ternyata benar, dunia baik-baik saja. Daya gravitasi masih berjalan tanpa gangguan, buktinya saya tidak oleng meski tidak membeli lipstik baru selama beberapa bulan.

Sampai kemudian ada drama antara saya dan anak muda di rumah : Akis nyembunyiin lipstik emaknya ini entah di mana! 5 Biji. Iya, 5 biji!! Sudah saya bongkar-bongkar segala perkakas dan harta benda, tetap tak ketemu.

Oh oke, saya masih punya 3 lipstik. Dunia masih baik-baik saja.

Etapi tunggu... Meski masih punya 3 buah, tapi itu yg bener-bener saya pakai cuma 2 lho. Karena yang satu warnanya terlalu gonjreng. Kemudian di antara 2 itu, salah satunya dalam keadaan patah dan tanpa tutup (yang lagi-lagi adalah hasil tangan kreatif anak muda 2 tahun itu).

Ah ga pa pa. Pake seadanya. Toh cuma lipstik ini.


Beli sabun, intip bentar ke counter kecantikan.

Beli logistik dapur, nengok dikit ke etalase lipstik.
Nunggu Ed milih pasta gigi, nyoba-nyoba tester di booth Sariayu, melangkah ke Mirabella, dan kacep di booth Wardah.
Maka, ending-nya bisa ditebak : BUNGKUS!!

Wardah Matte Lipstik mungkin udah ga hits lagi. Tapi saya memang jarang beli sesuatu karena tren. Saya beli karena butuh dan suka aja. Menurut saya sih warna Wardah Matte Lipstik Gorgeous Pink 17 ini cantik_terlepas dari hits atau ga_saya suka! Bikin wajah jadi terlihat seger.



Ini bukan tipe lipstik yang bener-bener matte meski judulnya matte. Di bibir saya justru malah terlihat glossy. Bibir juga berasa lembab. Tapi meski ga totally matte, saya molesnya musti hati-hati. Soalnya pernah saya nyobain langsung pulas dengan berani dan percaya diri kayak mulas lipstik jenis creamy atau satin, eeeh warnanya terlihat cetar ga cocok dengan tone kulit wajah saya. Selain itu bibir terlihat kering gitu. Jelek deh di saya. Padahal sebetulnya warna lipstiknya tu cantiiiiik banget.

So, saya mengaplikasinnya dengan cara di-tap tap tap gitu aja di bibir. Hasilnya jauh lebih kalem dan cantik.


Daya tahan? Kalo ga dipakai makan dan minum sih bisa tahan 6 jam-an. Tapi jangan berharap muluk-muluk kalo udah dipake makan, minum, dan wudhu. Mending di touch up lagi deh.

Packaging? Suka! Kayaknya kemasan lipstik Wardah dari berbagai jenis saya selalu suka. Selalu terlihat elegan dan ga nyusahin kalo dibawa-bawa.

Harga? Aaakkk....saya lupa. Struk pembayarannya udah saya buang. Tapi harganya berkisar 30 ribuan. Ga sampe 40 ribu.

Umm...jadi apakah dunia semakin baik-baik saja jika kita punya lipstik baru? Kayaknya sih enggak ya, yang ada meja rias kamu akan semakin penuh. He he he. Tapi lipstik baru emang bikin kita tambah semangat kerja sih. Aaaahh, pembenaran.






Read More

Saturday, 13 May 2017

24 Bulan KRP

#latepost 



2015
Penyambutan itu,sempurna.
Saya telah menyiapkan kedatangannya dengan sempurna. 

Saya hamil tanpa derita morning sickness yang menyiksa. Saya juga menjalani kehamilan dengan full energi, full semangat, full aktivitas dan full kebahagiaan. Rasa-rasanya selama kehamilan saya ga pernah mengalami bad day, males atau ogah-ogahan. Nope. Rasa-rasanya selama hamil saya justru punya ide-ide segar dan mengerjakan banyak 'proyek'. Bahahaha....proyek di sini maksudnya bukan proyek yang akan menghasilkan rupiah. Ini cuma proyek aktivitas pribadi dan keluarga sajah.

Menjelang kelahirannya, saya prepare segala sesuatu dari yang besar sampai printilan yang kecil-kecil. Tak secuilpun ketinggalan. Saya juga membeli buku dan majalah yang sengaja saya persiapkan untuk saya bawa ke Rumah Sakit demi membunuh rasa bosan ketika menunggu jadwal operasi ataupun mengurangi rasa sakit pasca lahiran. 

Jadi apa yang Ibu lewatkan untukmu, Sayang?


2015 ~ 3 hari pasca keluar dari Rumah Sakit
Mungkin penyambutanku sempurna.
Tapi rencananya untuk menempa kami jauh lebih sempurna.

Jaundice. Fototerapi. Dua istilah konyol yang tak pernah sedikitpun terbayang akan mampir ke dalam cerita kelahiran anak kedua saya. Dua istilah konyol yang tidak saya antisipasi dalam penyambutannya (Tapi memangnya siapa sih yang tau bayi kita akan kena jaundice?)

Fototerapi 36 jam dari yang tadinya hanya ke Rumah Sakit untuk kontrol pascalahir. Hanya disinar ini. Hanya kuning ini. Apanya yang perlu dikhawatirkan?? 
Saya tidak khawatir kok. Saya hanya takut. Saya hanya menangis sampai mata bengkak. Saya hanya browsing tentang jaundice setiap menit. Saya hanya tidak selera makan dan minum. Saya hanya bangun setiap 2 jam tanpa telat semenitpun untuk menyusuinya. Saya hanya tergugu setiap menyusuinya. Saya hanya terisak setiap memandangnya bertelanjang dada dalam boks di bawah sinar biru dengan mata ditutup kain hitam. Saya hanya tak henti mencecar dokter anak setiap visit. Saya hanya ... Ahh. 

Ya saya hanya seperti itu. Saya tidak khawatir. Hiks


penghujung Mei 2016 ~ selang berapa minggu dari ulang tahun pertamanya
Ya, bayi kecil saya mulai bisa menapak bumi dengan kedua kakinya sendiri.

Bumi Allah luas, Sayang. Berjalanlah.


masih 2016 ~ selang sedikit bulan dari dia mulai bisa berjalan
Tak ada lagi ngompol-mengompol. Tak ada pula diapers.
Dia akan membangunkan kami ketika tengah malam merasa ingin pipis.
Atau pada siang hari dia akan mendekat kepada yang berada di dekatnya dan berbisik "pipih" sebagai permintaan tolong untuk melepaskan celana dan membantunya buang air kecil.


Mei 2017
5 hari menjelang tahun ke-2 nya, penyambutan dilakukan oleh keluarga virus Picornaviridae yaitu Coxsackie tipe A dan Enterovirus 71. Ya, Hand Foot Mouth Disease (HFMD) atau istilah genitnya Flu Singapura. Akis terinfeksi dan baru membaik pada tanggal 6 Mei_satu hari pasca umurnya genap 2 tahun.

Flu Singapurn telah membuatnya benar-benar tidak mau makan dan minum susu selama 3 hari. Sampai kondisinya membaik pun, bahkan sampai makannya kembali lahap pun, dia masih trauma dengan dot sehingga secara kebetulan dia menyapih dirinya sendiri dari dot. Bravo! 

Sebenarnya kami sudah mencoba perlahan-lahan mengurangi pemakaian dotnya dengan target pada usia 2 tahun dia akan tersapih dari dot. Tapi selalu gagal! Maka kami ucapkan terima kasih untuk Flu Singapura dan teruntuk Akis sayang.

Terrible two! Yeah, entah karena kebetulan habis sakit saja atau memang benar teori tentang terrible two itu bahwa menginjak usia 2 tahun akan mulai masa-masa mood swing, tantrum, kerap melawan, membantah. Ucapkan selamat tinggal pada bayi manis kita yang menggemaskan dan suka mengumbar senyum manis sana-sini. Perbarui saja energi dan kesabaranmu mulai usianya ini. 

Kesit Raka Panjalu, 5 Mei 2017 kamu membersamai kami selama 2 tahun. Adakah yang lebih manis dari senyummu? Adakah yang lebih membuat Ibu kecanduan selain panggilan "Ibu"mu untuk Ibu? Adakah Ibu pantas mendustakan nikmat menjadi ibumu? 

Dua tahun memilikimu, dan sungguh banyak yang belum Ibu persiapkan untuk hidupmu.










Read More

Friday, 28 April 2017

Barisan Wanita yang Lain

Sering dapet meme atau broadcast message atau bahkan guyonan temen-temen di kantor kalo wanita (baca : istri) tuh, sinonim dari suatu makhluk yang mewakili kata bawel, tukang marah-marah pada suami, tukang banting-banting panci kalo lagi capek, tukang mendelik mengerikan kalo uang belanja ga cukup, tukang kritik nomor satu.  Seolah-olah emang dari sononya wanita ya begitu itu.

Well, ga ada salahnya juga. Tapi tidak sepenuhnya benar. Dan rasanya risih juga kalo predikat di atas dianggap mewakili semua koloni wanita.

Meski konon, kaum wanita_kaum istri begitu sajalah biar jelas, termahsyur sebagai makhluk dengan simpanan kata-kata yang banyak. tapi periode panjang lontaran kata-kata itu tak melulu identik dengan omelan dan cerocosan tak merdu. Kami juga bisa berbicara santun pada suami. Kami adalah makmum, dan dia imam.

Kami adalah wanita abad milenia yang akrab dengan mesin pencari. Istri cerdas yang bisa dengan mudah mencari paparan ilmu psikologi. Lupakan Kanjeng Mami, dengan segala aroma cerewet dan sengaknya. Bukan, bukan ia tak baik. Tapi kita lebih baik mencontoh Aisyah, dengan segala kecerdasan dan kehausan ilmunya, dengan kolokannya yang elegan hingga Rasulullah memanjakannya. Atau kenapa kita tak menengok Ainun yang santun, dengan jiwa pengabdian yang teguh pada Habibi sang suami pujaan hati.

Jadi maaf maaf saja, tak semua dari kami adalah tukang menggerutu dan tukang ngomel. 

Sering kami mengalah demi menjaga atmosfer rumah tangga tetap berada pada derajat aman. Mengalah tidak melulu memendam perasaan dan menunggunya pecah suatu saat. Mengalah adalah menurunkan level titik didih. Dan kemudian menunggu beberapa saat untuk sama-sama bisa dincip lebih nikmat.

Barangkali rumah tangga kami tak sempurna, tak semanis Rapunzel dan Flynn. Pasti kami-kami ini ada ngambek-ngambeknya juga. Ada sewot-sewotnya juga. Tapi jangan lupa, kami barisan para wanita ini, punya cara elegan untuk menyelesaikan masalah. Kami terbiasa berdiskusi untuk menyelesaikan masalah. Kami punya buku, punya kopi, dan punya film untuk mediasi, bukan dengan cara banting panci. 

====

Tulisan yang saya buat menjelang pulang kantor. Menjelang long weekend May Day. 
Tulisan yang sebenarnya membuat saya malu.

Mungkin gambar ini kurang relevan dengan isi tulisan. Kutipan ini juga membuat saya malu semalu-malunya, tapi biarlah untuk menampar diri sendiri

Hepi wiken!
Read More

Tuesday, 18 April 2017

Sparks Eau De Toilette Wardah

Saya belum bisa move on dari aroma Sparks Eau De Toilette (EDT) Wardah.

WARDAH EDT. Gayanya motret outdoor. Harap maklum jika hasilnya menjadi obat sedih alias tertawaan.

Jika biasanya saya tidak pernah repurchase begitu satu botol habis, kali ini saya kok belum bosan dengan segernya Sparks. Klaim di kemasannya sih, Sparks ini :

"Kesegaran yang membangkitkan semangat untuk memulai aktivitas. Nikmati aroma apel, sitrus, melon, dan berry yang menyegarkan, ditambah keharuman rose dan violet serta sentuhan musk yang lembut membuat wewangian ini jadi favorit. Cocok untuk Anda yang berjiwa muda, enerjik, dan menyenangi kesegaran alam".

Blep blep blep ... jadi ge-er sendiri, jangan-jangan saya memang berjiwa muda, enerjik, dan menyenangi kesegaran alam. Huahahaha ...

'Garis'  wewangian favorit saya sejak jaman baheulak memang seperti Sparks ini : musk yang dijerumuskan ke dalam aroma buah segar. Hasilnya? Bikin fresh, semangat. Mood booster banget untuk pagi hari sebelum ngantor.

Saya memang kurang suka aroma wewangian yang dominan bunga, terlalu feminim buat saya. Terlalu manis. Terlalu 'baik-baik saja'. Terlalu aman.

EDT Wardah ini ukurannya sedang, tergolong imut malah. Nettonya 35 ml sajah! Botolnya ga gede-gede amat. Jadi kalo bosen, ga kelamaan nunggu habis untuk disingkirkan dan digantikan dengan yang lain. Praktis juga dibawa kemana-mana.

Soal harga? Ramah di kantong lah, secara dia produk lokal. Tetapi meski harganya terjangkau, rata-rata kualitas produk Wardah emang ga diragukan sih, termasuk EDT-nya ini. Saya beli di Baru Swalayan, Wonogiri seharga Rp 42.000. Harganya bisa berbeda di tempat lain. Saya pernah nanya di counter Wardah di Matahari harganya 50-ribuan lebih. 

Wanginya ga begitu tahan lama sih. Mahfum dia golongannya EDT, jadi kadar wanginya di bawah EDP.  Di saya biasanya tahan sekitar 2 jam-an aja, kecuali kalo kita nyiumnya sampe nempel di hidung banget kayak orang mau pamitan. Kalo dengan metode nyium seperti itu, seharian juga wanginya masih nempel di baju. He he he. Kalo di kulit, ga janji. Biasanya ya cuma 2 jam-an itu tadi.

Nanti repurchase lagi ga untuk botol ketiga? Umm....belum tau ya. Pingin nyobain EDP nya Mustika Ratu sebenarnya, yang Tropical Fruit itu. Tapi belum pernah nyobain testernya. Ngeri juga kalo ternyata wanginya ga cocok, atau tetiba bosen. 100 ml cintah!

EDP Mustika Ratu, parfum lokal yang lagi ngehits di kalangan emak-emak Female Daily

Read More

Thursday, 13 April 2017

Secangkir Sajak Untuk Suamiku

Dan beginilah waktu mengikat kita

Bersama secangkir kopi hitam yang kuhidangkan pagi ini untukmu
pada jarum jam pukul 7
dengan setangkup cintaku yang hangat
            beroles manisnya bibirku yang legit
sedikit taburan cemburu yang pedasnya hanya seperih merica bubuk sachetan



Aku mengerling manja, merayu hatimu untuk berpesta
merayapi setiap inci wajahmu yang kadang serupa Rahwana
Hey, jangan marah. Rahwana punya cinta yang tak kan habis
                untuk Shinta ....

                cinta yang dibawanya mati, meski seluruh semesta mencaci


-- Rahmawati
Pracimantoro, 13 April 2017
Read More

Tuesday, 11 April 2017

Pap Smear, Misi yang Terselesaikan

#latepost 23 April 2016

Ini adalah postingan yang bener-bener kebangetan telatnya. Hampir 1 tahun yang lalu maaaakkk!! #tepokjidat. Karena saking malesnya nulis tentang ini, jadi ketumpuk sama postingan-postingan lain yang datang belakangan (atau dasarnya saya memang males??).

Setelah selesai menjalankan misi dan ambisi untuk deteksi dini kanker payudara dengan periksa ke klinik onkologi (sudah saya posting di  Akhirnya ke Onkologi ), misi saya selanjutnya di tahun 2016 adalah melakukan pap smear. Misi bukan sembarang misi karena denger-denger pap smear ini cakit cekaliiii, melibatkan korek-mengorek organ yang itu tuuu. Desas desus korek-mengorek itu yang membuat saya sering menunda-nunda dan menghibur diri bahwa 'saya pasti baik-baik saja kok meski tanpa pap smear'.

Tapi, saya ini memang dasarnya ga tenang kalo punya target tidak terlaksana. Daaann, dengan meneguhkan keberanian sekuat baja, tanpa ditemani suami (si Ay harus ngajar, tidak bisa izin), berangkatlah saya. Sendiri!

Saya datang ke RB (Rumah Bersalin) Mardi Waluyo Wonogiri, nama kondangnya sih Klinik Bu Nafsi. Diperiksa, sharing-sharing, dan konsultasi dengan Dokter Dewi yang super duper sabar. 

Sebelum dilakukan pap smear, dilakukan pemeriksaan klinis dulu, standar lah : timbang berat badan, tekanan darah, denyut nadi. Kemudian rahimnya di-USG. Trus kita disuruh duduk di kursi pemeriksaan yang biasa dipakai untuk meriksa organ kewanitaan bagian bawah (yang bikin kaki kita jadi terbuka lebar itu tu). 

Daaannn memang di situ klimaks horornya. 

Pertama petugas/dokter akan memeriksa bagian luar vagina, normal ga ni. Kemudian ke dalam vagina akan dimasukkan alat bernama spekulum yang gunanya untuk membuka vagina.  Duuhh ... saya bener-bener keinget pas pemeriksaan dalam menjelang lahiran. Dan dalam keadaan takut, refleks saya adalah memegang tangan suami. untuk mencari perlindungan. Padahal waktu itu saya cuma sendiri, wakakakak!! Maka saya meminta salah satu perawat untuk berdiri di samping saya, untuk saya pinjam tangannya buat digenggam. (hahaha... dasar emak-emak romantis!!).

Noh, spekulum noh!! Ha ha ha ...(gambar diambil dari www.alodokter.com)

Spekulum ini akan memungkinkan petugas/dokter untuk dapat melihat bagian dalam vagina seperti dinding vagina sekaligus bagian mulut rahim atau serviks. Setelah alat spekulum sudah benar-benar pada posisinya, petugas medis akan mengambil sampel dari jaringan yang berada pada mulut rahim bagian luar dengan menggunakan alat yang kayak spatula gitu. Nah kemudian, diteruskan pengambilan sampel jaringan yang berada di bagian saluran mulut rahim serta bagian dalam rahim. Ini pake alat yang mirip sikat kecil, namanya cytobrush. Hedeehh ....

Nah udah, selesai deh. Spekulum yang tadi dipasang akan dilepas 

Ilustrasi pap smear

Sampel jaringan yang sudah diambil nantinya akan dikirim ke laboratorium untuk proses pemeriksaan guna melihat sel-sel tersebut dengan menggunakan mikroskop. Proses ini nantinya dapat melihat apakah sel-sel ini merupakan sel yang normal ataukah sel yang abnormal.

Untuk RB Mardi Waluyo, sampel dikirim ke Prodia karena mereka kerjasamanya dengan laboratorium itu. Jadi kenapa saya tidak datang langsung ke Prodia? Karena saya tidak tahu yang meriksa di sana nanti laki atau perempuan. Risih juga kalo petugas medisnya laki-laki. Kalo di RB kan saya udah tau pasti semua dokter dan petugas medisnya perempuan, dan sabar banget menghadapi kehororan saya.

FYI, saya tes pap smear dengan metode Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC) dengan total yang harus saya bayar mulai dari pemeriksaan dokter sampai hasil tes jadi kalo ga salah 350 ribu lebih (saya lupa pastinya).

Ga nyaman memang pap smear itu, sungguh! Tapi saya lega luar biasa sudah menyelesaikan misi berat ini. Dan lebih lega lagi setelah melihat hasilnya kurang dari seminggu sesudahnya: NEGATIF. Alhamdulillah

Ayo ayo yang belum pap smear, sekarang malah sering ada program pap smear gratis lho pake BPJS. Asal rajin cari-cari info aja,








Read More

6 Tahun EIR

#latepost 8 Maret 2017



Edsel Ilmi Rakasiwi.
Bayi kecil kami yang seperti tiba-tiba cepat besar. 

Dia adalah anak kecil nan ajaib yang pernah menjadi satu-satunya tujuan dan harapan apa yang saya lakukan dalam hidup. Saya bangun malam setiap 2 jam sekali hanya untuk menyusui dan pumping ASI untuknya. Saya bangun dini hari hanya untuk menyiapkan segala keperluannya. Saya masak sehari bisa sampe puluhan kali hanya demi memerangi GTM-nya. Saya belajar investasi dengan tujuan masa depannya. Saya belajar apapun, iya apapun, hanya jika itu menyangkut tentangnya. Dan lain-lain, dan lain-lain. Rasanya tak ada yang tak saya lakukan untuknya.

Kini, ia adalah bocah 6 tahun yang bulan Juli nanti sudah masuk SD. Putra sulung kesayangan saya yang bahkan kini saya peluk di depan orang lain pun kadang ogah-ogahan karena malu. Rasanya ah, betapa tidak relanya. Dulu, waktu-waktunya hanya untuk saya dan Ayahnya. Kini kami harus rela berbagi dengan teman-teman mainnya, dengan kesibukan hobinya sendiri, dengan saudara-saudara dan keluarga lainnya. Ah, tak ada lagi ketergantungan mutlak dengan kami.

Satu sisi bahagia karena dia tumbuh dengan sehat, dengan mandiri. Sisi lain?? Jangan cepat besar anakkuuuu, Ibu masih ingin berlama-lama memeluk dan menciummu.

1. Bangun tidur Subuh buta, langsung mandi, pakai baju seragam dan sepatu, daaaan.... liat TV sambil nunggu sarapan siap. Jam 6.15 sudah minta diantar ke rumah Uti untuk berangkat sekolah. Alamaaaak rajinnya anakkuuuu.

2. Sering bete dengan adikknya. Soalnya si Akis memang suka ngrecokin kakaknya. Kakaknya lagi makan ikut-ikutan nimbrung, kakaknya lagi belajar ikut-ikutan gabung, kakaknya lagi main juga maunya main bareng juga. Padahal si Ed kadang pingin melakukan sesuatu secara privat, ga suka dibareng-barengin.

3. Eh, seringnya Ed juga sih yang suka godain adiknya. Adiknya lagi anteng main, mainannya malah dirampas sambil ketawa-ketawa ngledek. Adiknya lagi baca buku sama saya, dianya ndusel-ndusel di antara kami biar adiknya terganggu. Edsel terlihat puaaas gitu kalo liat adiknya teriak-teriak sebel. Apalagi kalo adiknya sampai nangis, waaah dia bakalan tertawa lebaaar. Gimana kalo adiknya lagi ga ada? Ed kesepian juga sebenarnya. Kelimpungan ga ada temen main, ga ada yang digodain. Begitu juga dengan Akis, kalo kakaknya lagi ga di rumah dia manggil-manggil Edsel melulu. Berasa kehilangan.

4. Edsel belum bisa membaca. Dan saya? Santai ajah!! Tenang aja, boy. Jatah belajarmu masih panjang. Nikmati aja masa-masa TK ini dengan bermain dan apapun yang membuatmu jadi sebenar-benarnya anak-anak. Masa anak-anak itu cuma sebentar, kelak kamu akan melahap itu baca tulis sepanjang waktu. 

5. Dia suka berhitung. Soal-soal penjumlahan dan pengurangan, atau kombinasi keduanya, sudah bisa dia selesaikan.

6. Edsel agak kurusan, deh. Pipi udah ga tembem-tembem amat kayak dulu. Berat badan turun sih enggak, tapi karena tambah tinggi dan pertambahan berat badan ga sesignifikan dulu. 

7. Makan? Teuteup sukanya protein doang. Jangan tanya sayur pada kami. Jangan.

   Tapi kabar baiknya, dia kini makin pinter makan sendiri. Ahhh cintaku.

8. Lego masih jadi mainan favorit sepanjang umurnya saat ini.

9. Nonton film? Hanya saat malam Minggu. Itu jadwalnya, dan dia patuh sepatuh-patuhnya. Sekepingin apa pun dia nonton.

10. Kesukaannya akan buku agak sedikit terdegradasi. Tersubstitusi dengan bermain bersama teman-teman yang porsinya kini bertambah. 

Terima kasih telah bersama kami selama 6 tahun kopi manisku. Ayah dan terlebih-lebih Ibu, minta maaf untuk waktu yang terbatas untukmu, untuk hak-hak yang belum kami tunaikan untukmu. 








Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena