cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Wednesday, 9 July 2014

Tumis Hati Ayam Jamur Kancing

Panjang amat yak namanya? Hahaha... Kisah di balik resep ini adalah saya sukaaa banget jamur kancing (jamur champignon) tapi di sini suka susah nyarinya, ga ada malah. Yah namapun juga di kampung ya, saya kan emang anak kampung. Jadi waktu hari Jumat kemarin ke Jogja sekalian aja beli jamur ini. Sampe tadi pagi belum kepikiran juga mau dimasak apa. Mumpung hari ini libur, niat banget harus eksekusi jamur ini. Buka kulkas cuma ada hati ayam doang, bumbu-bumbu juga ga lengkap. Browsing resep, isi kulkas saya ga memenuhi syarat untuk masak sesuai resep. Maka seperti yang sudah-sudah, masak aja dengan bahan yang ada, abaikan resep, yang penting bisa dimakan. Maka jadilah resep dengan segala keterbatasan materi yang melingkupinya. Tapi namanya dong, mentereng kan ?

Inih jamur favorit saya itu : jamur kancing

Bahan :

  • Jamur kancing belah jadi empat
  • Hati ayam
Bumbu :
  • Bawang putih cincang halus
  • Bawah merah iris tipis
  • Jahe keprak (dikit aja ya, kurleb 3 cm)
  • Cabai merah buang isi, iris serong
  • Merica bubuk
  • Garam
Cara membuat:
  • Hati ayam direbus terlebih dahulu sampe matang, tiriskan, potong dadu.
  • Tumis bawang putih, bawang merah, dan jahe sampe harum.
  • Masukkan hati ayam, aduk-aduk sampe bumbu tercampur rata.
  • Masukkan jamur, cabai merah, merica bubuk, dan garam. 
  • Aduk-aduk dan diamkan beberapa saat sampe bumbu meresap.
  • Angkat, hidangkan.
Tumis hati ayam jamur kancing. Yummy...

Jangan tanya kenapa bahan-bahannya ga ada ukurannya. Semua resep yang saya bikin sendiri memang ga saya ga ada ukurannya, cuma saya kira-kira sendiri, sesuai feeling aja. 

Rasanya menurut saya sih enak, terbukti semua orang juga pada makan dan fine fine aja. Ga pada muntah karena ga enak. Hahaha... ekstrim amat ya indikator enak ga enaknya. Eh tapi serius lho enak kok, cobain deh. Yummy...
Read More

Stick Putri Salju

Kenapa saya jarang banget posting resep? Karena saya malas menjepret step by step-nya. Saya juga malas mengambil gambar hasil akhirnya karena sebelum difoto biasanya udah masuk mulut Ed duluan. Padahal resep tanpa picture pasti ga menarik dong, susah dibayanginnya. Lagipula masakan saya juga ga spesial, seringnya malah dimodif sendiri karena keterbatasan bahan dan alat.

Nah hari ini tumbenan pingin posting resep. Ke dapur bawa camdig, bentar-bentar ambil foto. Sebelum bikin adonan difoto, Edsel lagi marut keju juga difoto, niat banget dah. Soalnya sekarang kalo masak seringnya dibantuin Ed. Jadi itung-itung biar buat dokumentasinya dia deh.

Ed semangat banget tiap diajak masak

Netbook wajib dibawa ke dapur untuk contekan resep. Maklum yah,  ga punya tablet.
,
Ini resep saya ambil dari website-nya Blue Band, tengok-tengok sana deh banyak resep kue kering yang menarik tapi gampang. Ada juga video step by step-nya jadi kita ga perlu susah-susah ngebayanginnya.

Adonan Stick Putri Salju:
  • Blue Band Cake & Cookie
    175 gr
  • Gula halus
    75 gr
  • Kuning telur
    2 butir
  • Tepung terigu serbaguna, ayak
    250 gr
  • Baking powder
    1/4 sdt
  • Tepung maizena 
    50 gr
  • Keju cheddar, parut
    50 gr
  • Keju edam, parut 
    75 gr
  • Kacang Almond, sangrai, tumbuk kasar
    50 gr

Hiasan
Cokelat masak putih, lelehkan            300 gr
  • Kacang Almond, cincang kasar, sangrai 
    100 gr
  • Gula Halus, ayak 
    50 gr
  • Berbagai variasi topping sesuai selera, seperti: meses, trimits, dll


CARA MEMBUAT

Adonan Stick Putri Salju:

  1. Kocok Blue Band Cake & Cookie dan gula halus hingga lembut. Tambahkan kuning telur, kocok rata.
  2. Masukkan tepung terigu dan baking powder. Aduk rata.
  3. Tambahkan sisa bahan, aduk rata.
  4. Giling adonan dan potong memanjang 10 x 1 cm.
  5. Panggang adonan yang telah berbentuk stick tersebut ke dalam oven bersuhu 180⁰C selama ±15 menit. Dinginkan.
  6. Celup ujung stick ke dalam cokelat leleh. Hias dengan kacang atau sesuai selera.
  7. Taburkan gula halus yang telah diayak di bagian yang tidak dicelup cokelat. Sajikan.
Itu resep versi aslinya, tapi beberapa sengaja saya modif :
  • Saya ga punya timbangan kue, jadi berat bahan cuma saya kira-kira aja.
  • Saya ga pake keju edam dan kacang almond karena ga punya.
  • Saya juga ga pake penggiling kue. Adonan cuma saya tekan-tekan aja dengan telapak tangan.
  • Hiasan coklat lelehnya ga pake coklat putih, tapi yang coklat blok warna coklat. Edsel lebih suka yang warna coklat, dan buat saya coklat itu mantepnya ya warna coklat.
  • Karena saya cuma punya oven tangkring (itu lho oven yang cuma ditangkringin di atas kompor dan ga ada alat pengatur suhu) maka manggangenya cuma saya kira-kira aja. Pake api kecil dengan waktu kurang lebih 20 menit. 
  • Setelah mateng ga saya taburi dengan gula halus biar Ed ga kebanyakan makan gula lagi. Cukup dihias dengan coklat leleh dan taburi toping di atasnya.
Ini hasil akhirnya setelah dicelup coklat dan ditaburi toping

Meski ga sesuai dengan resep aslinya tapi rasanya tetep enak lho. Kalo semua bahan dan alat ada memang lebih enak ikut resep asli, tapi jika tidak be creative aja. Yang penting bisa dimakan, hehehe... 
Read More

Tuesday, 8 July 2014

Catatan Hari Ke-sepuluh

Ramadhan hari ke-sepuluh, itu artinya tanggal 8 Juli, artinya pula H-1 menjelang Pemilu Presiden. Tahun ini istimewa ya, 3 pesta besar sekaligus digelar : Piala Dunia, Ramadhan, dan Pilpres. Khusus untuk pilpres, saya tidak pernah menuliskan tentang ini di blog atau media sosial. Bukan apa-apa, tapi males aja karena topik ini udah menjadi topik yang paling sering diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan dipertengkarkan. Takut salah omong, takut salah komen, dan yang jelas sudah sangat bosan dengan perbincangan pilpres yang ujung-ujungnya itu-itu aja, kesitu-situ lagi. Udah ga keren kalo kata saya mah.

  • Hari ini cuaca masih tetep mendung, cuma tipis dan tidak cukup mampu untuk menjatuhkan hujan. Udara dingin. Semoga bisa mendinginkan hati hati yang panas, dan menentramkan jiwa-jiwa yang kalut karna cinta tak berbalas. (Hahaha...makin kacau kan ngomongnya. Mendung emang bisa bikin ngelantur).
  • Tanpa sengaja nemu web-nya Ustadz Yusuf Mansur dari status seorang teman. Like this. Jika ada ustadz yang cerdas, humble, tidak banci infotainment, dan tausiyah -nya bisa sampe ke hati maka itu salah satunya adalah Yusuf Mansur. Dan web-nya ini penuh artikel-artikel yang bermanfaat.
  • Hari ini Edsel TPA seperti biasa dan tarawih seperti biasa. Tak ada yang luar biasa, tapi itulah istimewanya.
  • Ed bobo jam 21.00, wow!! Ini tidur tercepatnya dalam beberapa minggu terakhir. Tapi saking ngantuknya sampe belum gosok gigi dan cuci kaki. Hmmmm....
  • Malam ini Ayah ke TPS, persiapan buat pilpres besok. Semoga sukses ya.
Besok insya Allah kita akan tahu siapa presiden kita yang baru. Siapapun yang jadi nanti, semoga tidak ada permusuhan di antara saudara se-negeri. Lebih baik memilih mendoakan agar pemimpin kita bisa memimpin bangsa ini untuk lebih baik. Toh mau 1 atau 2 yang jadi presiden, jika kita tidak mau mengubah diri sendiri, tetap tidak ada perubahan yang berarti bukan? 

Read More

Catatan Hari Ke-delapan dan Ke-sembilan

Makin pemalas ni, nulisnya dirapel mulu. Tapi sebenarnya bukan males sih ya, tapi karena emang baru sempet. 

Hari ke-delapan
Hai, apa kabar dengan hari ke-delapan?

Es krim ala chef Ed

  • Ini tumbenan hari Minggu ga di tempat Uti. Ayah maunya besok aja hari Senin katanya, sekalian pulang dari sekolah karena si Ed mau ikut ke sekolah Ayah.
  • Kita bikin es krim lho. Gyahaha....es krim abal-abal tapi. Lah wong ga ada krimnya sama sekali. Jadi ni cuma jus buah tuangin ke cetakan es krim, trus ada yang kita variasiin dengan ditambah coklat bubuk dan susu kental manis. Ada juga yang cuma yoghurt cair kita tuang gitu aja ke cetakan. Masukin freezer, beku, udah gitu doang. Enak ga? Nah buktinya Edsel doyan. Dalam tempo sehari habis 5 stik. Rasanya pasti sama aja dengan versi cairnya, tapi sensasi megang stik es krimnya itu yang bikin Ed suka. Apalagi dia ikut bikin, waahh jaminan kalo pasti kemakan deh. Tapi yang dicampur dengan coklat bubuk bikin saya hoek-hoek. Ini emang saya yang dodol. Itu coklat cuma saya campur doang dengan air dingin dan susu kental manis. Terang aja rasanya kayak tepung mentah, hambar dan 'nggilani'. Mungkin seharusnya dilarutkan dulu dengan air panas biar mateng.
  • Hari ini setelah beberes rumah, acara kita cuma main-main. Main dinosaurus-dinosaurusan, masak-masakan, main bola, corat-coret. Hari ini malah ga buka buku sama sekali, ga main sepeda juga.
  • Edsel makannya banyak banget. Pagi sarapan dua piring, siang dua piring, sore dua piring juga. Nugget nih biang keroknya dia makan sebanyak itu.
  • TPA-nya telat lagi. Jadi ketinggalan acara jalan-jalan deh (tiap hari Minggu ada acara jalan kaki keliling kampung dengan rute tertentu).
  • hari ini kerjaan saya banyak dibantu Ayah, banyaaakk sekali. Thanks to Ay. Walaupun sering Ibuk bilang kalo ilmu komunikasimu nilainya C, tapi ilmu ringan tanganmu patut dapat nilai A plus, eh A aja ding.
  • Tarawihnya sama Ayah. Manis dan tanpa kendala

Hari ke-sembilan
  • Hari pertama di minggu kedua. Senin jadi pembuka minggu yang sendu. Memang beberapa hari terakhir ini cuaca di Gunungkidul sendu. Mendung, tapi ga hujan. Berangin tapi ga kenceng. Seumpama anak gadis, cuaca bulan puasa di sepuluh hari pertama ini jinak-jinak merpati. Thanks God, cuaca seperti ini menjadikan kami lebih mudah menjalani ibadah puasa. 
  • Pimpinan yang baru belum datang. Padahal udah penasaran aja kayak apa beliau-nya. Jangan-jangan merasa neg punya staf yang banyak omong macam saya.
  • Rapat pembentukan panitia HUT RI ke-69. Uff...benci sekali rapat kegiatan sosial di jam-jam pagi begini. Bukan apa-apa, tapi kerjaan utama saya jadi ke-pending dong.
  • Pulang langsung ke tempat Uti menyusul anak dan suami yang udah di sana.
  • Sebelum bobo, Ed gosok gigi 4 kali. Modusnya :  makan trus gosok gigi, trus makan lagi biar gosok gigi lagi, dan terus begitu. Ada apa sih? Odolnya baru! 
  • Sebelum bobo malah minta pulang ke rumah. Ada apa lagi? Laptop ketinggalan di rumah, jadi ga bisa nonton film kesayangannya. Jam 9.30 malam kami berduyun-duyun pulang. Ay dan Ed naik motor. Saya naik apa coba? Sepeda gunung dengan berpakaian seragam kantor, bawa tas ransel, dan make sendal Ayah. Kayak orang ga waras deh kalo dilihat.
Udahan ya, besok disambung lagi. Mudah-mudahan tidak ada aral-melintang biar catatannya ga acak-adul.



Read More

Saturday, 5 July 2014

Catatan Hari Ke-enam dan Ke-tujuh



Borongan ya catatannya. Ini juga sempet nulis karena si Ed udah bobo cepet, biasanya paling cepet jam 22.00 baru tidur.

Hari ke-enam 

  • Hari ke-enam puasa, hari Jumat, ga ke kantor karena ada rapat di Kepatihan. Tadinya udah ngebayangin kalo perjalanan pasti panas banget, apalagi cuma naik motor, tapi ternyata mendung dan ga hujan. Jadinya sejuk, enak buat jalan. Alhamdulillah. Tambah seneng lagi karena ga perlu bawa motor sendiri, tapi diboncengin temen. Aihihi.. Dianter temen tidur maksudnya, babe-nya si Ed. Ini berkah puasa kali ya, soalnya baru kali ini rapat dianterin, biasanya pan harus mandiri. Hehehe...
  • Ya nama pun sama suami ya, sekalinya pergi berdua ga mungkin ga, pasti mampir-mampir. Selesai rapat dan shalat Jumat, (niatnya) cuma mampir bentar ke Progo. Mau beli taplak meja dan beberapa kebutuhan harian. Tapi akhirnya jadi keterusa beli mainan si Ed, beli tempat minum, beli wadah sepatu, beli ini, beli itu. Dan sebagaimana layaknya saya, kalo milih ya pasti lama karena pake menimbang dan mengingat, baru memutuskan. Menyesal ? Tidak. Karena semua memang barang yang memang seharusnya dibeli kok. 
  • Alamaaak... sampe rumah badan rasanya remuk-redam, udah hampir Isya' pula. Ga tarawih ke mesjid dulu ya, Nak. Besok lagi deh, besok. Oke? Aih, anak jejaka saya ini emang kesayangan jiwa deh. Ditinggal emak babenya seharian ga rewel, ga ngrepotin orang rumah yang dititipin. Bahkan ketika kami sampe rumah, langsung disambut dengan peluk dan ciuman bertubi-tubi sambil bilang : "Edsel sayang Ayah, Edsel sayang Ibuk".  Hiyaa hatiku menghangat dan kemudian meleleh tanpa ampun. Cinta sama kamu, Nak. Selalu.
  • Mandi, shalat, makan. Habis ngurus diri sendiri, langsung kruntel-kruntelan dengan si peleleh hati sambil ga ketinggalan liat Ice Age, eh bukan ding, malam ini ganti nonton Walking with Dinosaurs The Movie. Belum selesai filmnya, dia udah ga ada suaranya, pertanda : merem. Waktu menunjukkan pukul dua puluh dua we i be.

Hari ke-tujuh
  • Libur. Selalu suka dengan libur di hari Sabtu deh, berasa lama bisa berkumpul dengan anak dan suami.
  • Liburan di rumah memang selalu banyak yang ingin dikerjakan. Bersihin ini itu, rapihin ini itu, nyuci ini itu, dan main ini itu sama si Ed. Tapi selalu ya, puasa di hari libur selalu ngantuk di jam-jam kritis, jam 11-an. Arggh... 
  • Gegara ngantuk ini, saya jadi salah ambil keputusan. Aturannya kalo siang si Ed ga boleh muter film, siang itu waktunya main. Karena ngantuk tak tertahankan saya ajak Ed muter film, niatnya sih biar saya bisa ikutan merem barang sebentar aja. Eh tapi keputusan ini saya sesali sesesal-sesalnya. Besok-besok Si Ed bisa aja jadi sering minta untuk muter film kalo siang. Tadi aja dia kayak ga percaya gitu saya ajak nonton, girang sekali. Bener-bener deh, saya langgar sendiri aturan yang udah kami buat bersama. Doh!
  • Waktu berbuka, masih tetap hangat seperti biasanya.
  • Tarawih, dan bencana pun dimulai dari sini. Kebetulan tadi sore jam 4 saya 'dapet', jadi malam ini ga bisa ikut tarawih ke mesjid. Si Ed ke mesjid cuma sama Ayah. Ga tahu gimana detail ceritanya, belum selesai tarawih (baru selesai shalat Isya' kayaknya) ni anak udah pulang sama Ibu saya. Lah si Ayah mana?? Sampe rumah udah nagih minta jajan sama Ibu saya. Saya larang dong, gimana ceritanya malam-malam jajan, wong di rumah aja udah saya sediain snack baragam-ragam. Megap-megap lah ni anak, sang nenek yang selalu ga tega melihat cucunya bersimbah air mata, nekat ajak dia ke warung tanpa mempedulikan tatapan bengis saya. Pulang dari warung : TIDUR. Ya Allah, saya baru inget, Edsel tadi siang cuma tidur siang sebentar. Kebiasaan ni anak, kalo tidur siangnya kurang, memang suka bad mood kalo malam. Gampang marah begitu kantuk datang. Duh jadi nyesel deh tadi saya ga peluk dia ketika rewel minta jajan. 
Sekarang memang baru hari ketujuh, belum genap dari hitungan jari. Tapi besok, dan besoknya lagi, waktu akan cepat berlalu. Ramadhan seolah berlari kencang. Takut, takut sekali bukan jika tahun depan Ramadhan tak lagi menyapa kita? 
Read More

Thursday, 3 July 2014

Catatan Hari Kelima

Hayuk hayuk.... udah hari kamis, hari kelima !


  • Makan sahurnya kali ini pake sambel goreng tuna sisa buka ya, ditambah cah kangkung dan tempe goreng. Buah pepaya jadi penutupnya deh. Sederhana banget yak? Yang penting lengkap deh komposisinya.
  • Yang jelas hari kelima udah ga pake lemes-lemesan lagi, kan udah terbiasa. Tapi hari ini agak mellow deh, pasalnya menjelang pulang ada berita kalo besok ada pelantikan pejabat. Secara kepala seksi saya kan baru 7 bulan ada di sini, masak iya udah mau ganti lagi. Belum tentu kan dapat pemimpin baru yang lebih baik, udah gitu perlu adaptasi lagi kan sama orang baru. Hiks. Mudah-mudahan dapat pemimpin yang lebih amanah ya besok. Amiin.
  • Hari ini TPA-nya Edsel sukses ya. Duduk manis ngikutin temen-temen lain pada ngaji (liatin doang sih lebih tepatnya, he he he), trus dilanjutin dengerin ceramah dari ustadznya. Duduk manis sampe selesai.
  • Menu berbukanya seru nih : tongseng landak, sayur asem-asem, tempe goreng, tahu goreng. Tak lupa lemon tea panas dan kolak jadi appetizer-nya (ceileh appetizer, sok-sokan bule ). Eh itu tongseng landak-nya cuma pemberian ya, bukan saya masak sendiri. Eike mah ga bisa masak makhluk aneh-aneh gitu, ngeri duluan.
  • Tarawih-nya ganti ke mesjid lain. Ga ke mesjid yang kemarin. Jadi terhitung nih, selama 5 kali tarawih ini kami udah keliling 3 masjid, hehehe.... Untuk memberi pengalaman baru untuk Edsel sih.
  • Edsel bobo jam 22.00 seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula nonton film Ice Age dulu untuk pengantar tidur. Tapi malam ini ganti minta diputerin Ice Age yang nomor 3 : Continental Drift. 
Tapi ngomong-ngomong, kok nulis rutinitas harian gini membosankan ya. Rasanya garing. Beda sama nulis tentang suatu topik. Nulis milestone juga rasanya gini, garing. 

Tapi ga boleh gini ah, ayo kita semangat nulis apa aja. Katanya hobi, hobi ga boleh pilih kasih, bolehnya pilih-pilih cinta. Gyahaha....salam garing deh. Kayaknya tulisan saya memang garing.

Cinta Ramadhan selalu ya.
Read More

Catatan Hari Keempat

Seneng ya kalo Ramadhan, rasanya suasana di keluarga jadi tambah hangaaaatt aja. Paling seneng kalo momen berbuka, semua kumpul berbuka bareng dengan membawa cerita masing-masing, ditambah melihat kekonyolan Edsel. Waahh... ga tergantikan deh. 

Cuma kayak gini, tapi nikmatnya luaarrr biasa.

Selalu konyol 

Hari keempat kemarin ga beda jauh dengan hari-hari sebelumnya, tetep indah, tetep penuh catatan cinta.

  • Hanya makan sahur dengan sop ayam dan tempe goreng. Buahnya jeruk lagi. That's all. Tetap nikmat. Ngebayangin adik saya yang ada di kost, yang mungkin cuma makan nasi bungkus dengan lauk seadanya dan saya yakin tanpa buah, rasanya keterlaluan kalau sop ayam ini kurang nikmat.
  • Kantor tetep ramah buat hari ke-empat ini. Kerjaan yang gede-gede kan udah diselesain sebelum Ramadhan, jadi sekarang cuma tinggal kerjaan yang ga terlalu menguras pikiran. Ramadhan yang sempurna bukan ?
  • Kemarin jadwalnya kita ngasih takjil ke mesjid. Jadi sebelum berangkat TPA mampir dulu beli makanan takjil. Dan sesuai perjanjian sebelumnya, Edsel minta es krim, just ice cream, ga boleh tambah yang lain. Dimakan lah es krim itu sebelum masuk masjid, di depan gerbang yang ada tempat duduknya. Ni anak makannya buru-buru banget, takut kalo TPA nya keburu bubar seperti beberapa hari sebelumnya. 
  • Dug dug dug...! Waktunya berbuka. Sambel goreng tuna, pecel, tempe goreng, kolak singkong, dan lemon tea panas sudah menunggu. Itu singkong hasil panen sendiri lho (ceileh panen, kayak banyak aja). Jadi ceritanya ada sisa pohon singkong di depan rumah yang tinggal 1 batang, tinggal 1 batang doang lho. Pohon singkong lain yang kita tanam di awal musim penghujan lalu udah habis dipanen, udah lamaaa sekali, setengah tahun-an lah. Nah yang itu ketinggalan, ga tau karena lupa atau memang buat kenang-kenangan. He he he... 
  • Tarawih masih jadi hal yang paling ditunggu Edsel. 
Baru 4 hari ya. Kalo udah dapat 10 hari berasa cepet banget berlalunya, trus nyesel kalo ga memanfaatkan dengan baik. 

Always love you, Ramadhan.
Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena