cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Tuesday, 18 February 2014

Bukan Taman Biasa


Sstt... ada Pipa Bercerita

Dari namanya udah ketauan kalo ni taman bukan sekedar taman bermain biasa. Yeah, that is Taman Pintar. Terletak di Jl. Panembahan Senopati 1-3, Taman Pintar tepat berada di jantung kota Jogja. Tempat ini memadukan tempat rekreasi dan edukasi.

Taman pintar memiliki arena bermain dan sekaligus sarana edukasi yang terbagi dalam beberapa zona. Ada Playground, Gedung Heritage, Gedung Oval, dan Gedung Kotak. Bagian pertama yaitu Playground merupakan area penyambutan, permainan, juga sebagai ruang publik bagi pengunjung. Di tempat ini terdapat sejumlah wahana bermain untuk anak seperti Forum Batu, Pipa Bercerita, Rumah Pohon, Parabola Berbisik, Air Menari, Desaku Permai, Jembatan Goyang, Spektrum Warna, Dinding Berdendang, Sistem Katrol, Istana Pasir, Engklek, dan Jungkat-jungkit.

Taman Air Menari. Jangan lupa bawa baju ganti kalo ke sini.


Tau kalo mau difoto, si Ed narik katrol dengan ekspresi datar



Lihat gambar atas dan bawah. Edsel tetep yah dengan gaya andalannya : telunjuk di pipi !

Bagian Kedua adalah Gedung Heritage. Gedung ini diperuntukkan bagi anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Di dalamnya terdapat pendidikan dan permainan untuk anak-anak seusia itu. Kebanyakan sih yang masuk ke gedung ini dari rombongan sekolah. Makanya kita ga masuk kesini karena mengingat waktu yang terbatas dan belum sesuai aja untuk usia si Ed. Takutnya si Ed kurang bisa menikmati.

Bagian selanjutnya yaitu Gedung Oval. Gedung Oval terdiri dari zona pengenalan lingkungan dan ekshibisi ilmu pengetahuan, zona pemaparan, ilmu pengetahuan dan teknologi.


Di dalam Gedung Oval, cakep ya?


Tebak ini apa? Ini bocah eike yang guling-gulingan di lantai. Kesenengan liat gambar ikan yang bisa idup dan gerak. Ckckc...

Nah yang terakhir atau keempat adalah Gedung Kotak yang mempunyai tiga lantai. Lantai pertama ada radio anak Jogja, ruang pameran, food court, ruang audiovisual, dan souvenir counter. Lantai kedua sebagai zona materi dasar dan penerapan iptek yang terdiri dari jembatan sains, perpustakaan, Indonesiaku, teknologi canggih, dan teknologi populer. Sedangkan lantai ketiga terdiri dari laboratorium courses class, sains,animasi, dan tv


Nah beli tiketnya meskipun ada dalam 1 loket, tapi tiketnya sendiri-sendiri sesuai gedung mana yang ingin kita masuki. Harga masing-masing tiket juga beda-beda. Misalnya nih, kalo cuma masuk ke Gedung Kotak plus Gedung Oval (ni Gedung nyambung ya, jadi tiketnya juga cuma 1) bayarnya 15 ribu. Gedung PAUD udah beda lagi tiketnya. Trus kalo nanti mo main clay atau lukis gerabah juga beli tiket sendiri 5 ribu perak. Gitu juga kalo mo nonton film 3 Dimensi, dan yang lain-lain. Jadi beli tiketnya sesuai kebutuhan aja ya.

Ups, jangan lupa, di Taman Pintar ini juga ada Planetariumnya. Keren lho, ga kalah ama yang ada di Jakarta. Harga tiketnya @ 15 ribu untuk dewasa. Kalo ga salah dalam sehari ada 2 kali pertunjukan, dengan durasi 30 menit. Sayangnya Edsel ga suka di Planetarium ini. Jadi selama pertunjukan berlangsung, dia merem atau noleh ke samping, ga mau lihat ke atas. Ehh tau-tau ketiduran deh. Hehehe. Katanya sih dia ga suka nonton dengan ruangan gelap gitu. Alamaakk...ga bisa diajak nonton ke bioskop dong kalo gitu. Padahal emak babenya demen nonton film.

Gelap-gelapan di Planetarium. Edsel doesn't like !!

Oh iya, kalo ke sini kamu bisa sekalian mampir ke Shopping, karena memang ada akses langsung ke situ. Deretan toko-toko buku yang bikin ngiler pingin borong buku-buku bagus. Jangan lupa nawar ya. 

Kalo lapar juga ada food court di lantai dasar, tapi mahaall dan kurang enak. Kalo mau mantep, nyebrang aja ke pinggir jalan. Ada tenda yang jualan lotek, gado-gado, dan pecel yang bikin nagih. Harganya juga terjangkau. Mak nyuss deh dibandingin makan di food court, cuma tempatnya emang kurang nyaman. 

Saran saya yang terakhir ni, di dalem lokasi ada yang jual sosis bakar yang enaaakkk bangeeett. Tapi tanya dulu harganya ya, jangan sampe terbelalak kayak saya yang udah kadung borong banyak. Hihihi... 

Selamat menjelajahi Taman Pintar. Saya sukaaa liburan.


Read More

Saturday, 8 February 2014

Sudut Pandang Lelaki

Beberapa hari yang lalu salah seorang sahabat saya_sebut saja namanya Rosa (bukan nama sebenarnya) mengirim email kepada saya. Bercerita tentang betapa ia sudah seminggu ini tidak berselera makan, tidak nyenyak tidur. Selain itu ia juga jadi sering melamun. Pekerjaan yang biasanya selesai dalam waktu 15 menit misalnya, bisa mengacau menjadi setengah jam gara-gara diselingi melamun.

Akibat kurang makan, ia terkena penyakit maag. Ia juga sekarang sedang flu berat karena daya tahan tubuhnya disabotase kualitas tidur yang buruk. Aduh kalo membaca tulisannya, saya membayangkan ia sedang menghadapi masalah yang berat. Tetapi email selanjutnya membuat saya tertawa sekaligus prihatin. Aiihh..ia ternyata sedang jatuh cinta!

Tadinya saya hendak tertawa dan bilang, "Jadi kamu CUMA jatuh cinta?? Sampe segitu rupa??"

Ups... kemudian saya sadar, bagi Rosa jatuh cintanya ini bukan sekedar 'CUMA'. Ia seorang wanita dewasa, cerdas, dengan karir yang bagus. Ia juga bukan baru pertama kali ini jatuh cinta. Ia bukan anak ingusan polos yang baru pertama kali tertarik dengan lawan jenis. Tentu akan sangat salah sekali jika saya meneriakinya 'cuma jatuh cinta'.

Pertanyaannya selanjutnya membuat saya mengerutkan dahi, "Apa laki-laki juga begini jika jatuh cinta? Tidak enak makan, tidak enak tidur, ritme hidup jadi kacau balau. Rasanya kok tidak adil jika wanita sampe begini, tapi lelaki yang kami 'jatuh-cintai' adem-ayem saja."


Hmmm..saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena toh jika saya tanyai suami apa ia pernah kalang kabut ketika jatuh cinta dengan saya, maka suami saya nan dingin itu pasti menjawab tidak. 

Mungkin saya pernah mengalami masa-masa seperti itu. Yaa tidak separah itu sih, tapi mirip. Di mana komunikasi masih terbatas, ketemu juga sangat sulit, maka kondisinya bisa seperti Rosa tadi, kepikiran terruuss. Saya juga pernah iseng menulis di buku diary, apa si dia juga memikirkan saya hingga seperti ini? Tapi kalo pun tidak, saya sudah cukup maklum. Saya tidak pernah merasa diperlakukan tidak adil. Jatuh cinta dari sudut pandang lelaki_menurut saya lho ya_ tidak perlu dimaknai sangat melankolis. Ia suka, ia cinta, dan itu ia tanam cukup di hatinya. Tidak perlu digembar-gemborkan, tidak mempengaruhi aktivitasnya. Kalo pun mempengaruhi, itu sangat sedikit. Tidak sampe lah membuat lelaki-lelaki ini terdampar sakit. Selembut apa pun hati lelaki, ia punya rasa gengsi dan kekuatan yang membuat ia tidak perlu menjadi cemen oleh perasaan. Berbeda sekali dengan kita yang mudah tersentuh perasaannya. Ketika sedang bahagia, bahagianya sampe semua anggota tubuh kita seolah-olah bisa tersenyum semua. Kalo sedang sedih juga kayaknya pingin nangis terus aja. ( idihh...analoginya ga bagus gitu ya? Hehe )

Nah kalo menuntut lelaki untuk sama seperti kita, ya ga bisa jeng. Meskipun mungkin rasa cinta si lelaki ga kurang banyaknya dengan wanita. Tapi ia ga sampe gegulingan berdarah-darah karena rasa kangen yang tak tersalurkan. Lelaki ingin juga segera nyamperin wanita ketika sedang kangen, sehingga tidak perlu menahan rasa yang mengharu biru (maaf ya tulisan kali ini sangat-sangat lebay). Tapi lelaki dewasa, yang sudah punya banyak urusan dan pekerjaan, tidak bisa langsung tancap gas semudah itu. Ia punya banyak pertimbangan, mana yang lebih penting, mana yang lebih baik untuk segera didahulukan dan mana yang bisa nanti-nanti. Dan nikmati saja, kelak kalo ia sudah jadi milikmu seutuhnya, ia juga akan seperti itu kok. Tidak langsung mendatangimu hanya karena kangen. Hahaha...

Maaf para lelaki yang membaca tulisan ini jika ternyata pendapat saya salah. Hehe...
Read More

Thursday, 6 February 2014

Sok Investasi



Hidup di jaman sekarang, musti pinter-pinter ngakalin deh. Gimana ga? Yang tempoe dulu jadi kebutuhan sekunder sekarang jadi primer, dulu tersier sekarang sekunder, dulu cuma ngayal sekarang jadi tersier. Nah lho, daily need kita makin tambah sekarang, ga cuma urusan perut doang.

Itu baru ngomongin pergeseran kebutuhan. Belum soal hari depan, investasi. Eh, tapi investasi masuk kebutuhan juga kan yak? Beuhh...ujung-ujungnya kebutuhan kita makin banyak deh. Soal pendidikan anak nih yang sering jadi kepikiran saya. Someday, Edsel pasti sekolah. Kami sebagai orang tuanya mungkin ga akan bisa ngasih bekal harta benda yang cukup sampe ia dewasa. Tapi paling tidak kami harus memberi ia pendidikan yang layak, yang cukup bagi dia untuk bekal hidup. Nah liat biaya sekolah sekarang aja udah cukup bikin merinding, gimana belasan tahun mendatang?? Hiii... bikin pikir-pikir lagi mau punya anak banyak. Hehe... Karena 'kemerindingan' itulah makanya kami jadi berpikir untuk MEMBELI MASA DEPAN DENGAN HARGA SEKARANG (minjem istilahnya Pak Muhammad Nuh ya, sang menteri pendidikan). Ngumpulin duitnya sekarang, tapi diharapkan bisa membiayai ia sampe sekolah tinggi nanti. Muluk banget ya bok?? Hehe... biar!

Ngumpulin duitnya kalo dengan cara nabung konvensional, rugi cin! Bunga bank, atau bunga deposito sekali pun ga akan bisa mengimbangi laju inflasi yang per tahunnya bisa mencapai 12%. Beli cabai yang 10 tahun lalu ....(isi sendiri ya), sekarang ...(isi sendiri juga,hehe). Gilak kan? Bayangin kalo sekarang saya punya tabungan 10 juta, 15 tahun mendatang saat Edsel kuliah, duit  segitu mungkin cuma cukup buat uang makan 1 bulan, atau mungkin kurang?

Pinginnya sih beli tanah atawa rumah di tempat yang strategis, trus dikontrakkin. Duit mengalir tiap bulan sementara harga aset kita itu pun terus menanjak naik. Apalagi kalo tanah atau rumah kita itu barang sepuluh biji, hahaha .... Ongkang-ongkang di rumah aja kita. Yahud kan? Tapi ga setiap orang punya modal buat beli properti, termasuk saya. Harga tanah yang gila-gilaan, apalagi di lokasi yang bagus, membuat investasi ini ga bisa terjangkau oleh semua lapisan. Akhirnya investasi kami berhenti di logam mulia dan reksadana saja.

Logam mulia atau emas masih merupakan pilihan favorit untuk banyak kalangan. Harganya yang rata-rata terus naik dan kemudahannya untuk dijual kapan saja merupakan salah satu alasan emas masih diminati, selain juga bling-bling cantiknya yang digilai kaum wanita. Tapi saya nih, untuk keperluan investasi sengaja pilih yang emas batangan, bukan perhiasan. Harga emas perhiasan dibebani biaya pembuatannya, ketika menjualnya pun masih dipotong harga pembuatannya itu sehingga kurang maksimal untuk tujuan investasi. 

Logam mulia (khususnya yang keluaran Antam) yang asli ada sertifikatnya, jadi dijual di mana pun harganya sama mengikuti harga emas dunia. O iya, jangan terkecoh dengan mitos bahwa harga emas terus naik ya. Harga emas bisa naik, sering juga turun. Tapiii... untuk jangka panjang memang cenderung naik. So disaranin  untuk investasi si kuning ini paling ga 1 tahun, baru dijual gitu bok. Soalnya kalo kurang dari 1 tahun udah main jual aja, kemungkinan rugi. Apalagi dengan kondisi kayak sekarang yang harga emas terus jatuh. Kalo mau tlaten, beli pas harga rendah/turun, jual pas harga naik. Di situ margin keuntungannya. Tapi kalo saya mah ga suka ribet. Punya duit beli, simpen, anggap ga punya. Kan udah diniatin buat sekolah anak, jadi jualnya besooooookkkk kalo udah butuh duit buat sekolah.

Instrumen investasi kedua, reksadana. Ini nih yang saya sering tutup mata, bener-bener anggap ga punya. Soalnya kalo dicek melulu bisa ketar-ketir karena IHSG sekarang turun mulu, kagak pernah melaju naik kayak yang dulu-dulu. Bukannya untung, tapi bangkrut. Bayangin salah satu reksadana yang saya beli dengan NAB harga 3.000, sekarang anjlok jadi 2.300. Tega banget kan?? Tapi lagi-lagi karena emang udah diniatin untuk jangka panjang, untuk sekolah Edsel, asumsinya ke depan tetep bakalan untung daripada nabung konvensional. Iya lah, kalo ga mikir gitu, bisa langsung kalap saya, jual juaal juaaall !!!

Intinya, walaupun duit kami saat ini cuma seiprit, keadaan ekonomi kami juga belum bisa dikatakan mapan, tapi ga adil rasanya kalo kami hanya memikirkan kebutuhan masa sekarang. Semua habis untuk konsumsi sekarang.

Nanti memang lah tetap nanti, tapi jika 'nanti' itu bisa diusahakan sekarang, kenapa tidak? Paling ga itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Hasilnya? Serahkan saja pada Yang Maha Kaya. Kami mah si miskin yang cuma berusaha.

Siap untuk investasi? Investasi itu mudah, ga perlu nunggu kaya.


Read More

Wednesday, 29 January 2014

99 Cahaya di Langit Eropa

"Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illaallah, Hanum", ungkap Marion akhirnya.

....

Kopi dan buku bagus, siapa yang bisa menolak?

Di antara sekian banyak novel yang telah saya baca, mungkin ini lah novel yang telah benar-benar membuka cakrawala berpikir saya.

Bagi saya yang menggilai kalimat-kalimat yang indah dan tak biasa di sebuah karya sastra, sebenarnya novel ini masuk kategori biasa. Tapi tema-nya itu, bobot ceritanya itu, ke-fakta-annya ituuuu yang membuat saya tak bisa berkutik. Ditulis oleh duet suami istri Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, novel ini merupakan catatan perjalanan mereka selama tinggal di Eropa. Seperti yang Penulis tuturkan di bagian prolog :
Catatan perjalanan ini berdasarkan kisah nyata saya dan Rangga dalam berinteraksi sosial dan mengusung fakta sejarah yang sebenarnya. Namun untuk melindungi privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita ini, nama mereka sengaja disamarkan. Tutur dialog dan alur cerita yang terjadi dalam buku ini juga direkonstruksi ulang untuk memperkuat bangunan cerita, tanpa menghilangkan esensinya.

Selama ini saya cenderung beranggapan bahwa Eropa dan Islam adalah dua kutub yang tolak-menolak. Tak ada jejak Islam sama sekali di Eropa. Mana? Mana?? Tak ada media yang memunculkannya. Kalo pun ada itu sangat sedikiiittt sekali, dan bukan sesuatu yang besar dan membanggakan. Dan buku ini telah membuktikan bahwa saya salah.

Simak bagaimana Fatma Pasha menunjukkan bahwa Wina ternyata menyimpan sejarah Islam masa lalu. Turki pernah hampir menguasai Eropa Barat. Sekitar 300 tahun lalu, pasukan Turki yang sudah mengepung kota Wina akhirnya dipukul mundur oleh gabungan Jerman dan Polandia dari atas bukit Kahlenberg. Wina adalah kota terakhir tempat ekspansi Islam berhenti.

Cermati juga tentang Marion Latimer menceritakan sejarah Paris yang ternyata ada rahasia-rahasia kebesaran Islam di dalamnya. Tentang kisah-kisah Islam tersembunyi di Museum Louvre, tentang Napoleon Bonaparte yang menata kotanya ke arah Mekkah, tentang arsitektur gereja Notre Dame yang terpengaruh budaya Islam, atau tentang jubah pengangkatan Raja Katholik_Roger of Sicily II_ yang berhiaskan tulisan Arab.

Tak berhenti sampe di situ, Hanum dan Rangga juga menelusuri jejak kebesaran Islam hingga ke Cordoba di Spanyol. Kota yang merupakan pusat peradaban Islam di Eropa ribuan tahun lampau, di mana Mezquita yang dulunya masjid terbesar termegah pada masanya, kini berubah fungsi menjadi gereja. Bangunan itu adalah refleksi kejayaan Islam sekaligus kejatuhannya. Indahnya Istana Al-Hambra di Granada, juga kecantikan Hagia Sophia dan Blue Mosque di Turki merupakan bukti tak terbantahkan dari kedigdayaan Islam di Eropa.

Menurut saya kehadiran buku ini bukan untuk mem-versus-kan Barat dengan Islam. Bukan untuk menunjukkan Islam lebih baik dari Nasrani atau sebaliknya. Bukan juga untuk mengasihani Islam yang telah tenggelam dari hiruk-pikuk peradaban Eropa. Bukan. Novel ini melakukan tugasnya untukmenunjukkan mata rantai yang hilang, yang mungkin telah banyak dilupakan, tentang sebuah peradaban besar yang telah turut andil memberikan kontribusi besar bagi Eropa, bahkan dunia.

Lebih dari itu, Hanum dan Rangga berhasil menginspirasi saya untuk menemukan 'sesuatu' di setiap jalan-jalan saya. Jalan-jalan yang tidak sekedar senang-senang, tapi mencari nilai lebih untuk memperkaya jiwa. Semoga.

Epilog :
...
Seribu tahun Islam bersinar, lalu pelan-pelan memudar. Aku bertanya, mengapa? Karna sebagian umat Islam sudah mulai melupakan apa ynng telah diperdengarkan Jibril kepada Muhammad SAW pertama kali. Karena kita terlalu sibuk becumbu dengan kata jihad yang salah dimaknai dengan pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan).
Read More

Friday, 24 January 2014

Il Mondo

Demen makan pizza? Biasanya makan di mana? Pizza Hut? Papa Ron? Ituh pizza ala Amerika, yang rotinya tebel-tebel itu. Padahal pizza aslinya dari mana? Italia kan? Pizza Italia lebih tipis dan kriuk daripada pizza-nya franchise yang merajalela di seluruh dunia itu. Iyah, itulah hebatnya Amrik. Makanan punya orang pun bisa jadi jualan mereka. Bahkan saking terkenalnya restoran pizza itu, sampe-sampe banyak lho yang ga kenal pizza-nya Italia, nenek moyang roti bundar pipih ini. Mereka taunya pizza ya Pizza Hut. Ga beda jauh sih sama saya. Hehe...

Nah enakan mana pizza Italia sama pizza Amerika? Ya tergantung selera masing-masing. Kalo saya, lebih suka pizza Italia karna memang begitulah seharusnya pizza (deuu...sok tau). Pizza yang rotinya tebel ala Pizza Hut bikin saya eneg dan gampang kenyang sebelum puas. Walaupun tetep doyan juga sih kalo dikasih gratisan#minta digampar.

Sekarang di Jogja kalo mo nyari pizza Italia nan kriuk dan yummy ini ga sulit lho. Ada banyak bertebaran resto yang menyajikan pizza tradisional ini. Salah satunya Il Mondo Pizza.

Il Mondo terletak di Jl. Cendrawasih No. 21. Resto ini punya dua lantai. Nuansanya remang-remang dengan dinding bata ekspose dan beberapa lukisan tokoh (saya ga tahu siapa, tapi kayaknya musisi Barat deh). Suasananya friendly, khas anak muda walau ga pa pa juga orang-orang tua ke sini. Kalo kita ke sini sama pasangan berasa ga pingin pulang aja (apa hubungannya coba??Haha).

Suka deh sama interiornya

Di lantai satu, ada dapur terbuka sehingga kita bisa melihat proses pembuatan pizza secara langsung. Sayang saya ga sempet liat karena Edsel lagi ga mood. Lantai dua, ini lah yang paling asik, bisa menikmati pizza dengan bonus udara segar dan view kota dari atas. Jadi kalo bisa, pilih meja deket jendela. Oh iya, kalo kesini di atas jam 19.00 biasanya rame, makanya saya dateng jam 17.00 biar bisa bebas milih tempat dan lebih tenang.

Tadinya minta panjat jendela. No no no baby!

Pemandangan dari tempat duduk kami

Dari review temen-temen blogger, juaranya Il Mondo ini adalah Di Carni. Daripada salah pilih dan takut ga doyan (padahal ga mungkin ga ke-makan, orang saya bawa KPK-Komisi Pemberantasan Konsumsi_Mr. Dedy), pesen Di Carni itulah saya. Suami mah iya iya aja, lha dia segala jenis pizza dianggap enak. Ternyata Di Carni ini asli geday!! Tadinya suami udah ribut aja mo pesen 2, takut ga kenyang. Tapi saya dong yang ga mau rugi, "pesen atu dulu, nanti kalo kurang pesen lagi". Feeling saya yang menteri keuangan ini mengatakan kalo ni pizza udah pasti cukup buat berdua (Edsel dianggap tidak ada karena dia ga doyan). Dan emang bener, pizza ini udah lebih dari cukup buat perut kami berdua, bahkan tadinya mo nyisa 1, tapi dilelep Mas Dedy demi alasan kemubadziran.

Cuma dimakan berdua

Di Carni ini sumpah, enak banget! Dengan topping daging ayam, daging sapi, bawang bombay, sosis, dan keju mozarella yang meleleh-leleh menggoda, maka dia sempurna untuk saya yang ga suka eneg. Minumnya juga ga mengecewakan. Mas Dedy pesen hot capuccino latte yang menurut saya sih ga kalah sama punya Pizza hut. Sedangkan black avocado punya saya, jus alpukat yang dicampur kopi. Unik dan sepadan lah dengan harganya. Sayangnya guava juice-nya Edsel agak pahit dan terlalu encer, kurang nendang rasa jambunya.

Masih ceriwis bilang kalo dia ga takut manjat di jendela itu

Dan sayangnya lagi, pelayannya mahal senyum. Dihhh... Responnya kurang cepet juga. Jarak antara pizza sama minumnya lama banget. Pizza udah dateng, kita udah huh hah huh hah kepedesen, minumnya belum jadi juga. Udah gitu, saya minta sendok garpu ga dikasih, sampe kami selesai makan, ga dateng tuh sendok garpunya. Males kan mau nanyain mulu, orang pelayannya di lantai satu. Saya pikir pelayannya cepet tanggap gitu, permintaan pelanggan diingat-ingat. 

Tapi sambil melihat pemandangan Jl. Cendrawasih dari lantai dua, dengan suasana yang masih tenang, semua kekurangan itu sudah ditukar. Petang itu pun jadi milik kami. Ahay...indahnya Jogja.

Eits... jangan salah ya, harga di Il Mondo ini ga bakalan ngempesin kantong kamu deh. At least dibandingkan dengan makan di Pizza Hut ya, atau resto Pizza Italia lainnya. Harga menu yang paling mahal aja cuma 50 ribu, kayak Di Carni tadi. Minumnya standar lah, 12 ribu-an rata-rata. Selain pizza ada menu Italia lain, kayak spagheti, pasta, beragam lah. Tinggal pilih yang kamu suka. Ahh kapan-kapan musti ke sini lagi deh buat nyobain yang lain.

Jalan-jalan mulu kapan kayanya?? Haha... 

Hati senang walaupun tak punya uang la la la .... #mulai berdendang dengan suara sumbang.

Read More

Friday, 17 January 2014

Kids Fun Emang Bikin Fun

Satu kali bayar dan kamu bisa main sepuasnya. Sukaaa deh dengan sistem seperti ini, jadi kita ga perlu bentar-bentar antri di loket, bentar-bentar bayar. Bebas aja mau main yang mana sampe gempor. Konsekuensinya kita jadi merasa rugi kalo ga nyobain semua wahana. Hihi...

Selamat datang di Kids Fun Parcs

Yep, di Kids Fun Parcs dengan membayar Rp 55.000 untuk wahana anak dan Rp 45.000 untuk wahana dewasa kita bisa seharian main di sini. Tapi kalo lagi rame tahu diri juga ya, gantian sama pengunjung lain. Saya sempat berpikir kenapa wahana anak lebih mahal daripada dewasa. Mungkin karena wahana untuk anak safety-nya lebih 'mahal' daripada dewasa gitu ya. Atau mungkin karena jumlahnya lebih banyak, ada 20 permainan buk! Sedangkan untuk yang dewasa hanya ada 7 wahana permainan. Dan ingat-ingat aja, wahana anak khusus untuk anak, ga boleh didampingi ortu. Biarpun kita nyembah-nyembah sama petugasnya biar diperbolehkan mendampingi anak, ga bakalan dikasih. Ini saya banget ni, model ngrayu-ngrayu gini saya banget. Di beberapa wahana Edsel ga berani sendiri. Saya dong yang ga mau rugi, coba-coba ngrayu Mbak petugasnya biar boleh ikut. Ga cuma 1, tapi 3 wahana! Gyahaha... Eh asli lho, petugasnya sama ajah, ga ada belas kasihannya. Biar kata udah dijelasin kalo badan saya tu kecil, ga bakalan bikin rusak wahana. Beuhh.. tetep aja hatinya dingin, dingin! Tapi sodara sodara, memang beginilah seharusnya mental orang-orang di negeri ini. Ga mempan suap dan gratifikasi. Two thumbs for them.

Perompak-perompak nan menawan. Diihhh




Kids Fun Parcs Jogja berlokasi di Jl. Wonosari Km.10. Bukan di pusat kota memang, tapi kalo hari libur jangan ditanya, penuh beudd... Tipsnya nih, dateng pagi-pagi biar bisa bebas naik semua wahana tanpa antri. Atau dateng ke sini bukan pas musim libur.

Menurut saya sih, taman bermain ini sudah bisa banget jadi tujuan wisata buat anak-anak. Atau buat yang ortunya pingin pacaran aja juga oke, wahana dewasanya seru kok. Ada Grand Canyon perahu karet dengan jalur berliku-liku yang asyik, ada Aqua Bike yang bikin kaki kamu sehat, haha.., ada Paratrooper yang sempat bikin saya bersumpah ga akan naik ini lagi, dan lain-lain deh.

Aqua Bike

Paratrooper. Bersumpah ga akan naik kayak gini lagiiii kecuali ditemenin.

Untuk wahana anak, bener-bener deh bisa puasin anak-anak, secara bejibun banget pilihannya. Tapi memang ada beberapa yang belum sesuai untuk batita. Edsel aja maju mundur mau naik beberapa wahana, dan lebih seringnya mundur. Hehehe... Udah disemangatin tetep aja ga mau. Dia takut naik sendiri, tapi kalo ditemenin petugasnya malu. Deuuhh... penyakit kambuhan ni, malu sama cewek. 

Arung Jeram. Edsel ogah naik sendirian, padahal ga boleh didampingi

Nah selain wahana khusus anak dan dewasa, ada juga wahana yang bisa untuk kedua-duanya. Wahana kayak gini ni yang bener-bener bisa kita nikmati bareng-bareng. Saya paling terkesan dengan Jurasic Park. Di sini kita mengelilingi taman buatan yang didesain seperti tempat hidup dinosaurus dengan naik kereta pribadi yang digerakkan otomatis. Edsel paling hepi di sini nih, soalnya keretanya ada kemudinya, dikiranya dia yang nyetir beneran. Padahalnya setirnya ga disentuh pun, keretanya tetap bisa jalan. Hehe...

Keluar dari Jurasic Park


Sang kemudi kapal

Oh ya kalo laper ga perlu bingung, ada cafe-cafe yang menyediakan menu yang cukup lengkap. Sayangnya, menurut saya kurang mantep sih. Tapi ga tau ya kalo tempat lain, soalnya saya baru nyobain 2 tempat. Di Saurus Cafe ada makanan berat (nasi) dan lauk-pauknya, tinggal pilih ambil sendiri. Jika pingin yang bukan nasi, di Viva Cafe menyediakan hotdog, burger, pizza, kopi, cappucino dan masih banyak lagi. Harganya? Standar sih, tapi dengan harga segitu saya mengharapkan yang lebih.#gamaurugi.

Makan siang di Saurus Cafe

Kalo mo shalat ada fasilitas mushola-nya juga, tapi harus keluar dulu karena letaknya di area parkir. Sayang banget deh, padahal saat azan Dzhuhur belum tentu kita udah selesai main.

Eh kelupaan, Kis Fun ada waterboom-nya juga loh, namanya Aqua Splash. Harga tiketnya Rp 22.500, dan bisa lebih murah lagi kalo belinya satu paket dengan tiket masuk taman. Karna saya ga masuk ke Aqua Splash ini, jadi ga bisa cerita banyak.

Weekk...

Bujut daahh..anak siapa ini kebelet pipis.

Wis, itu dulu ya... Nanti bersambung lagi cerita liburannya.
Read More

Thursday, 9 January 2014

Bermalam di Kampung Turis

Mencari tempat menginap di Jogja pada musim liburan bukan gampang gampang susah. Tapi susyeee banget..! Padahal saya hunting udah 1 bulan sebelum menginap lho. Kebayang kan, gimana kalo kita reservasinya dadakan.

Tempat menginap yang saya maksud tentu saja yang terjangkau sejangkauan dompet backpacker atau pelancong miskin macam kami. Bukan yang bintangnya banyak sekelas Grand Aston atau Melia Purosani, ngeri bok harganya! Apalagi peak season kayak gini rata-rata penginapan menaikkan harga.

Nah... buat yang belum pernah ke Jogja, ada daerah yang asik dan unik buat menginap. Apalagi kalo bukan Prawirotaman! Yup, kawasan ini menawarkan banyak sekali penginapan dengan harga terjangkau, fasilitas yang oke, dan rancang bangun yang unik. Ada yang bergaya Jawa klasik, modern, tropis, green gouse, apa lagi lah saya ga mudeng.

Prawirotaman I adalah kawasan yang paling terkenal. Di sini tidak hanya ada penginapan saja, tapi juga berjejer cafe, resto, bookshop, artshop, tempat spa & massage, agen tur, penukaran mata uang asing, rental sepeda, sepeda motor, mobil. Semua yang kamu butuhkan sebagai pelancong ada di sini. Beuhh... kece deh!

Di sini pula kita berasa ada di Bali karena saking banyaknya turis yang lalu lalang, nongkrong di cafe minum wine, bercengkrama di resto menyantap masakan lokal atau internasional sambil ditemani pengamen yang menyanyikan lagu Barat. Makanya Prawirotaman dikenal sebagai kampung turis. Bahkan namanya sudah mendunia sebagai referensi menginap di Jogja yang 'ngampung' tapi modern.

Saya dan suami kesengsem dengan salah satu hotel berdesain Jawa yang pelayananan dan fasilitasnya oke punya : Kampung Jawa Hotel! Dengan harga yang murah, hotel ini bener-bener membuat tamunya betah dan nyaman. Suasananya sejuk, hijau, dan homy banget. Teh dan kopi tersedia kapan pun kamu mau, sarapannya enak, bahkan saya dapat tambahan 1 porsi breakfast karena membawa anak balita. Pegawainya ramahhhh banget, gape pula bicara bahasa Inggris meski sudah ga muda lagi.


di dalam kamar

asri banget kan?

kopi dan teh, bikin kapan pun kamu mau

Spreinya wangi (haha..emang penting ya? Penting nih buat ane, biar bisa yakin kalo itu bersih), desain kamar mandinya keren, shower air hangatnya berfungsi baik. Meski udara Jogja panas, tapi suasana di kamar adem meski ga pake AC. Apa mungkin karena dindingnya bata ekspose? Tauk deh, pokoknya nyaman banget deh di dalam. Oh iya, di sini kamu bebas pake dapur. Saya tiap pagi dan malam bikin susu dan nyuci botol minumnya Ed di dapur yang terletak di depan kamar.  

mejeng di koridor

tiap kamar punya teras pribadi

pintu masuk hotel

kamar mandi

Yup, itu dulu cerita liburannya, nanti disambung lagi. Yang jelas, hotel ini recomendded buat yang lagi hunting penginapan dengan harga murce tapi kece. Hidup emak-emak irit!!








Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena