cinta kami ada dalam secangkir kopi, sepotong coklat, dan di blog ini..

Tuesday, 21 May 2013

Edsel dan Emosinya

Pernah kapan hari ada cerita yang beredar di lingkungan rumah kalo Edsel tu anak bandel, galak, nakal. Malah udah terkenal seantero kampung kalo anak saya tu suka teriak, nangis jejeritan, tantrum gilak lah. 'Penyakit' yang muncul di 2 tahun 1 bulan-nya itu sempet sembuh agak lama, tapi sekarang 2 tahun 2 bulan kambuh lagi tu tantrum.

Malu kah saya? No!
Bingung mengklarifikasi ke sana kemarikah saya? No!

Buat apa? Emang kenyataannya anak saya bukan anak yang manis di setiap waktu kok. Ada saat ketika dia emosi dan tidak bisa mengendalikannya maka dia akan rewel. Apa dosanya? Emosi itu kan pemberian Tuhan. Dan watak manusia itu berbeda-beda, ada yang sabar, namun ada juga yang gampang tersulut emosinya. Nah watak itu inborn talent atau bakat alias gawan bayi kata orang Jawa. Trus siapa yang mau dianugerahin emosi yang over? Ga ada, karena emang bukan kita yang menentukan. Ini udah satu paket sama jabang bayi, sama air ketuban, sama plasenta, sama sifat-sifat genetis yang lain. Habis perkara! 

Masalahnya sekarang adalah, he is just a baby. He isn't a adult. Menjadi salah ketika sebagai orang dewasa tidak bisa mengendalikan emosi karena ia sudah dilengkapi dengan segala fasilitas otak secara sempurna. Dia harus menggunakannya untuk berpikir mengendalikan emosinya. Tapi bocah 2 tahun?? Pliss deh, dia baru hidup 2 tahun you know? Apa yang kamu harapkan dari bocah 2 tahun 2 bulan tentang mengendalikan emosi dengan bijak? Kita, kita lah yang harus bijak. Bijak untuk tidak men-judge, bijak untuk memfasilitasi secara pasif emosinya. 

Pernah suatu kali Edsel melihat temannya makan permen, dia pingin dan minta. Saya udah bikin peraturan bahwa dia tidak boleh makan permen. Biar kata dia menghiba-hiba dengan memelas, teriak-teriak sampe didengerin orang sekampung, nangis jerit-jerit sampe 1 jam, ga bakalan saya kasih. Kejam? Saya sebenarnya ga tega kok, pingin nangis juga ketika dia menangis seperti itu. Tapi dia harus tahu, he isn't a king. Dia bukan raja kecil yang ngrengek dikit diturutin, nangis dikit dikasih. No! Dia harus tahu bahwa tangisnya bukan senjata yang ampuh untuk ayah ibunya. Kalo saya nurutin kemauan dia karena alasan ga tega, bisa-bisa dia akan terus berstrategi biar ayah ibunya nurutin semua keinginannya. Bahaya kan?

Saya cuma membujuknya untuk diam. Membujuk secara wajar, ga berlebihan. Ketika dia sudah tidak bisa ditenangkan secara wajar, ya udah saya biarin aja. Hanya saya jagain biar dia ga membahayakan dirinya ketika proses tantrum itu terjadi. Kalo perlu, saya kunci pintu dari dalam biar ga ada yang mengganggu kami. Kan suka ada tuh orang lain (biasanya sih keluarga kita) yang ga tega denger anak kita nangis meraung-raung kemudian berusaha ikut menenangkan atau lebih parahnya lagi kasih kemauan anak kita yang jadi penyebab rewelnya dia tadi. Wah kalo kejadiannya kayak gini, si kecil bisa berstrategi bahwa dia akan mendapat apa yang dia mau kalo sama si ini atau si itu.

Nanti kalo udah capek, Edsel akan diam sendiri dan kemudian saya peluk sambil saya jelaskan bahwa ayah dan ibu sayang sekali padanya, tapi bukan berarti dia akan mendapat permen. Karena permen itu bikin sakit gigi, trus nanti Edsel bisa kesedak juga. Biar pun Edsel nangis tetep ga akan dikasih apa yang sudah dilarang. Jadi percuma nangisnya. Sambil misek-misek dia akan manggut-manggut seperti mengerti (entah mengerti beneran ato ga).

Trus apakah setelah ini dia tidak akan tantrum lagi? Ya ga juga. Tapi biar bagaimana pun dia harus belajar untuk memahami bahwa tidak semua hal itu bisa dia dapatkan, apalagi cuma dengan 'bekal' menangis. Ada hal-hal yang bisa membuat dia kecewa, dan dia harus belajar kecewa. Karena lagi-lagi, he isn't a king.

Dan mari kita belajar mengendalikan emosi kita, Nak! Emosi kamu dan Ibu. Karena ga ada yang salah dengan emosi kita. Yang salah adalah jika kita tidak berusaha menempatkannya di tempat yang
seharusnya.

I love u boy, u're my everything.



Read More

Thursday, 16 May 2013

Atraksi Lumba-Lumba, Hiburan Kita Penderitaan Mereka


Dua minggu yang lalu kami mengajak Edsel menonton atraksi lumba-lumba di GOR Giri Mandala, Wonogiri. Sebenarnya, saya ga terlalu antusias dengan atraksi lumba-lumba ini. Apa sih pelajaran yang bisa dipetik Edsel dari pertunjukan ini? Apa sisi edukasinya? Nothing, ga ada, kosong melompong menurut saya. Ketika itu saya dan ayahnya cuma berpikir bahwa si Ed belum pernah melihat lumba-lumba secara langsung. So, ini akan menjadi pengalaman pertamanya melihat si hitam manis yang selama ini cuma dia lihat dari buku.

Pertunjukan berlangsung 1 jam, dan setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto bersama mamalia laut ini. Kemudian nanti pertunjukan dimulai lagi dengan atraksi yang sama, pelatih yang sama, durasi waktu yang sama, kolam yang sama. Bayangkan! Mereka melakukan itu terus menerus selama sebulan penuh. Padahal dalam 1 hari ada 5 kali pertunjukan untuk hari biasa, dan 7 kali pertunjukan untuk hari libur (kalo saya ga salah ya). 

Memang atraksi lumba-lumba yang berlompatan di air, menghampiri pengunjung, berhitung, berenang sambil berjoget,  tampak sangat menarik untuk ditonton dan tidak terlihat ada penyiksaan terhadap hewan-hewan tersebut. Tetapi menurut Richard O'Barry, aktivis perlindungan lumba-lumba dari Amerika Serikat yang seorang mantan pelatih lumba-lumba mengatakan, "Berada di kolam yang sempit, dengan musik keras dan juga teriakan pengunjung membuat lumba-lumba stres. Mungkin nampaknya dia bahagia, dengan wajahnya yang lucu, namun sesungguhnya hewan ini mengalami tekanan." 

Lumba-lumba liar menikmati setiap lautan di dunia sebagai habitat alami mereka. Mereka berkomunikasi satu sama lain dalam jarak bermil-mil, dan bisa berenang sejauh mungkin sesuka hati mereka dalam mencari makanan, teman, atau sekedar untuk menghabiskan sore mereka. Jadi tidak mengherankan bahwa mereka mengalami masalah kesehatan dan perilaku ketika mereka dipaksa untuk berenang di kolam kecil setiap hari, dan hanya memiliki beberapa satwa lain untuk menemani mereka.

Saya tidak menikmati sedetik pun dari pertunjukan tersebut. Saya ngeri membayangkan bahwa demi bertahan hidup, demi mendapatkan makanan, mereka harus menderita dengan menghibur kami para keluarga yang haus hiburan, mendatangkan uang untuk mereka yang haus uang. Eksploitasi yang menyedihkan! Sedih sekali membayangkan pemilik lumba-lumba ini mendapatkan keuntungan ratusan juta rupiah ( atau mungkin lebih?) dari lumba-lumba yang menderita, kebosanan, terpisahkan dari kelompok mereka, kehilangan habitat alami mereka. Sedih kan? Apalagi lumba-lumba ini tidak mendapat kolam yang layak lho. Kolamnya jelekkk banget! Sempit pulak! Ahh. Saya tidak bisa membayangkan jika kita manusia dipaksa melakukan hal yang sama terus-menerus, berulang-ulang selama hidup, di tempat yang jauh dari rumah, terasing dari teman dan keluarga.


Setelah saya cari informasi lebih lanjut tentang aturan main pertunjukan lumba-lumba, ternyata di Indonesia hanya ada tiga tempat yang resmi boleh melakukan pertunjukan lumba-lumba, yaitu Ancol di Jakarta, Taman Safari di Cisarua, dan Wersut Seguni Indonesia (WSI) di Semarang. Jadi?? Manari Dolphin Education sebagai penyelenggara pertunjukan ini melanggar dong?? Atau barangkali pembaca ada yang lebih ngerti tentang regulasi pertunjukan lumba-lumba ? 

Read More

Friday, 10 May 2013

Mau Jadi Apa Anak Gue?

Saya ga tahu anak saya kelak mo seperti apa. Mo jadi anak sholeh, atau durhaka. Mo sukses ato melarat. Mo bahagia atau nelangsa. Semua garis nasib sudah dicover sama Allah. Sudah hak Dia, sungguh hanya Dia.

Seperti apa kelak kamu, Nak?
Meski di setiap sujud saya yang ribuan kali tak pernah alpa meminta yang terbaik untuk bocah kesayangan saya. Meski sejak orok udah setengah mati usaha kasih ASI. Meski tiap hari pontang-ponting masak yang paling enak dan bergizi demi kecukupan nutrisinya. Meski invest sana invest sini biar nanti bisa kasih pendidikan yang terbaik untuk dia. Meski sibuk belajar ilmu parenting ini ilmu parenting itu agar Edsel tumbuh dan berkembang dengan baik. Meski, meski, dan meski ...... Tapi tetep saja kan, saya ga bisa menjamin semua yang telah saya lakukan itu bisa menjadikan Edsel manusia yang terbaik. Terbaik menurut saya, menurut dia, menurut Allah. Ga bisa... Ada faktor lingkungan juga yang ga bisa saya 'pegang'. Atau faktor si anak sendiri yang memang punya karakter dan jiwa tersendiri yang berhak ingin melakukan apa yang menurut dia the best. Atau faktor X lain yang di luar kuasa ibu-ibu sok tau macam saya. Semua skenario kan udah Allah yang susun. Bukan saya. Bukan kami orang tuanya.

Tapi apa iya kita pasrah dan diam begitu saja, menunggu kira-kira Allah maunya apa ya untuk anak kita. Kan ga gitu ya? Kan manusia disuruh usaha sambil berdoa ya? Usaha itu wajib, perkara hasilnya nanti seperti apa bukan urusan kita. Udah ada tangan lain yang bekerja, tangan Yang  Maha Menentukan. Allah menghargai kok hasil kerja keras dan doa kita. Menghargai dengan apa? Dengan menjadikan anak kita seperti yang kita mau? Belum tentu juga. Dengan menghadiahi kita surga yang luasnya seluas langit dan bumi? Ga tahu juga. Kan Dia yang paling tau yang terbaik, bukan kita. Kan Dia yang paling adil memberi balasan, bukan kita.

Jadi ya, usaha kita untuk menjadikan anak kita anak sholeh, anak yang pintar, anak yang sukses dunia akhirat tetap kita jabanin. Anak kan titipan. Titipan yang udah bikin kita hepi setengah mati, menangis haru biru, ngakak sampe guling-guling, jadi tekun berdoa dan shalat, belajar ini itu agar menjadi orang tua yang baik. Padahal itu cuma titipan lho. Cuma titipan, tapi memberi kebahagiaan dan energi perubahan yang luar biasa untuk kita. Sungguh baik Dia yang menitipkan untuk kita. So?? Yuk mari kita jaga titipan ini dengan penuh tanggung jawab. Semoga titipan ini senantiasa memberi kita kebahagiaan sekarang maupun nanti ketika kita sudah tak berdaya. Semoga titipan ini akan selalu menyebut kita dalam setiap doa-doanya. Semoga titipan ini adalah jalan kita ke surga  kelak. Amiiinnn.
Read More

Tuesday, 7 May 2013

Roti Bakar Gula Palem

Kondisinya sekarang adalah jaraaaaanggg banget bikin cemilan yang ribet dan banyak buat Edsel. Kalo dulu nih, ketika masih jaya-jayanya si anak CUMA dan HANYA makan hasil olahan ibunya, tiap wiken pasti baking. Udah pasti itu. 

Tiap hari Kamis udah sibuk brows menu, Jumat merinci apa aja yang mau dibeli. Pulang kantor mampir belanja bahan kue. Jumat malam kalo si Edsel udah bobo, mulai baking. Secapek dan sengantuk apa pun tetep semangat masak sampe nunggu kue dingin untuk dimasukin toples atau kulkas. Biasanya jam 23.30 baru kelar beberes dan tidur. Itu dulu. Dulu... * Ah akyu merindukan saat-saat itu. 

Now? Si bocah udah demen main ke tetangga dan sodara, udah kenal makanan di luar. Udah incip-incip (lebih tepatnya dikasih) segala jenis makanan yang dulu saya haramkan. Duuhh gusti, ini mo menyalahkan siapa? Menyalahkan ibu saya yang mengajak Edsel main kesana kemari? Ga bijak kan? Udah untung mau mengasuh anak saya dengan kasih sayang dan gratisan. Mau menyalahkan tetangga dan sodara yang nekat nyumpel-nyumpelin makanan yang saya larang? Salah sendiri ga njagain anak sendiri. Mau nyalahin Edsel yang mau makan yang dikasihin? Yaahh namanya juga bocah umur 2 tahun, pan enak banget tuh gula dan garam, apalagi kemasannya bagus-bagus. Fiuhhh.... ujung-ujungnya adalah mbok-e yang salah. Me.

Jadinya, sekarang snacknya Edsel adalah beli yang kemasan (masih mending sih saya yang beliin, jadi bisa dicek komposisinya). Ini anak emang tergila-gila pada makanan yang kemasannya menarik. Jadi seenak apapun kue yang saya bikin ga bakalan dilirik sama dia, apalagi dimakan. 

Tapi biar bagaimana juga saya masih berusaha bikinin snack buat dia. Kalo ga dimakan ya biar dimakan ama kita-kita yang udah tua. Seringnya sih yang gampang-gampang biar ga mubazir kalo dia ga suka. *Mubazir sih ga ya, toh ayahnya juga doyan. Tapi malesnya itu. Sayang udah buang-buang waktu kalo anak ga ikut makan. Hehe....

Contohnya nih, yang sering saya bikin dan biasanya dia ga nolak yaitu Roti Bakar Gula Palem. Resep ini timbul dari perasaan sayang melihat gula palem sisa bikin kue 2 bulan yang lalu masih banyak. Dan ya ampuun ini resep emang bener-bener cuma karena saya terlalu perhitungan membayangkan gula palem saya teronggok tak bermanfaat. 

Bahan :
  • roti tawar
  •  margarin atau butter
  •  gula palem
Cara membuat :
  • Olesi roti tawar dengan margarin/butter
  • Taburi dengan gula palem
  • Lipat berbentuk segitiga
  • Bakar di atas teflon sampe kecoklatan. Jangan lupa dibalik ya biar matangnya merata!

Udah, cuma gitu aja. So simple kan? Nanti roti bakarnya bakalan renyah, garing, dan manis legit. Enaakkk..
Anak suka, ayah suka, ibu pun bahagia. Yeayyy....

*Muup, fotonya kehapus sebelum sempet di-upload. Tapi sumpah ini bukan hoax ya.


Read More

Saturday, 20 April 2013

Edsel 2 Tahun 1 Bulan

Hai, boy... Umur berapa kamu sekarang? Hah...berapa?? 2 tahun 1 bulan?? Ya ampuunn udah gede kamu, boy. 
Tersenyum ato menyeringai?
  • 14 kg.... fiuhhh makin berat aja digendong
  • Lagi gampang-gampangnya makan. Masih pilih-pilih lauk, tapi udah jauh lebih 'nrimo' dibanding sebelumnya. Asal moodnya bagus, makan pake apa aja biasanya oke. 
  • Ga lagi tergila-gila dengan lele dan botol kecap.
  • Pertama kali 'kenalan' dengan dokter. Ini gara-garanya kakinya tu anak bruntusan dan gatel. Udah browsing-browsing dan tanya-tanya di milis juga, tapi ya namanya penyakit kulit kan emang susah ya menentukan itu apa kalo ga diliat langsung sama ahlinya. Jadi ya udah deh daripada tebak-tebak buah manggis akhirnya kami bawa aja ke spesialis kulit. Didiagnosa kena jamur (Eh kalo diagnosa kan harusnya spesifik ya menyebut itu nama jamurnya apa, nama penyakitnya apa. Tapi dokternya emang pelit banget sih bagi ilmu. Asli susah dikorek.) Iya sih emang, anak saya ini kalo main di luar susah banget disuruh pake sendal. Telapak kakinya aja sampe keras gitu. Trus diresepin salep racikan sama obat oral. Tapi yang obat oral belum saya kasihin karena setelah baca-baca, obat oral diberikan jika pengobatan topikal tidak berhasil. Sejauh ini sih, dengan salep aja udah mendingan banget tu kulitnya.
  • Baca bukunya berkurang. 
  • Sukaaa banget didongengin pake boneka. Ada boneka lebah, babi, teletubbies, kelinci, kucing, kuda nil, domba, unta. Dan siapakah yang ditodong untuk mendalangkan boneka-boneka itu?? Tak lain dan tak bukan adalah si Ayah, bukan Ibuk.  Hehe... Mungkin cerita saya garing makanya Edsel ogah didongengin ibunya. Eh padahal saya kreatif lho, tapi suara Ayah yang berganti-ganti tiap ganti peran emang lebih keren. *Tak lebih dari sekedar pembelaan diri.
  • Mulai tantrum. Tantrum ini mulai melanda kala si bocah capek, laper, atau ngantuk. Biasanya sih kalo malem. Kalo udah tantrum gitu, udah deh apa aja ga ada yang bener di mata dia. Yang ada cuma nangis dan teriak ga jelas. Untung aja dia ga menyakiti dirinya sendiri ato orang di sekitarnya. Kan ada tuh anak yang tantrum sampe cakar-cakar, atau pukul-pukul, atau jedot-jedotin kepala ke dinding.
  • Galak!! Duh Gusti, ni anak kalo suasana hatinya lagi kurang sip, ditanya ato ditegur aja jawabannya beringas! Apalagi sama orang yang terbiasa godain ato ngledekin, tambah dingin tuh.
  • Hobi gambar, main clay/playdough, dan masak-masakannya tergantikan dengan main tukang-tukangan dan bengkel-bengkelan. So..mainan favoritnya sekarang adalah palu, tang, obeng, kabel, terminal kuningan, dan alat-alat pertukangan dan perbengkelan lainnya. Alat-alat itu asli semua lho, soalnya dia ga mau yang imitasi ato mainan. O iya masih ada satu lagi favoritnya, setrikaan rusak. Nah cerita di balik setrikaan ini adalah dia pernah liat mesin pasah yang bentuknya memang mirip setrikaan. Jadinya ketika di rumah liat setrikaan yang sering saya pake, dipakelah itu setrikaan yang masih bagus itu. Untung aja setrikaan di rumah yang udah rusak beberapa tahun yang lalu masih kita simpen, sehingga bisa kita limpahkan untuk mainan si boy. *irit bookkk...
  • Setiap mulai emosi mau rewel, yang dia cari-cari adalah 'oti enak' (roti enak). Roti enak yang dia maksud adalah camilan, apa pun camilannya memang disebutnya roti enak. Kalo camilan yang kita kasih cocok, oke ga jadi rewel. Tapi kalo ga suka, alamat dimulailah tantrum yang menguras kesabaran ayah dan ibunya itu. *Untungnya sampe hari ini, ibunya belum terpancing emosi saat si anak ngamuk. Ah, saya memang ibu yang manis. Hihihi... 
  • Demen berlama-lama nongkrong di depan kulkas. Menginspeksi isinya, dan menikmati apa yang dia temukan di situ. Kalo pun ga ada yang dia suka, tetep aja tuh betah ngadem di situ. Duh Nak, tu kulkas bukannya ga pake listrik lho, tu kulkas kalo kelamaan kebuka gitu makan daya banyak lho, nih kita lagi save energy lho. Ngerti ya, ngerti ya, ngerti dong...
Itu palu dan balok kayu asli!

Dari kesemuanya di atas, 2 tahun 1 bulan-mu yang paling menohok adalah : munculnya tantrum. Eh dulu kamu anak manis lho. Dulu kamu ga pernah nangis lho. Dulu kamu the easy boy. Ini kenapa ini sekarang jadi  kayak gini?? Oke oke...hampir sebagian besar anak di usia 2 - 4 tahun akan mengalami episode tantrum. Beruntunglah kalian yang dianugerahi anak tanpa bonus tantrum dalam 1 paketnya. Biar deh biar, saya menebus dosa masa kecil saya yang sering bikin orang tua kelimpungan karena sering rewel juga. Biar deh, saya ngrasain itu usaha menahan taring dan nutup kuping dengan sumpelan. Biar... 

Tapiii....aku tetap padamu ah, si 2 tahun 1 bulan-ku. Semoga kamu jadi anak yang sholeh, anak yang sehat, anak yang mandiri, anak yang bahagia. "Anak gembala buk, Edel anak gembala," celoteh brisik kamu setiap Ibuk berdoa seperti itu. 

*hufff..tertunduk lesu tapi geli.
Read More

Thursday, 11 April 2013

Sertifikat ASI

Sebenarnya ga niat posting sertifikat ASI. Biasanya sertifikat-sertifikat ASI-nya Edsel (dari yang lulus ASI eksklusif 6 bulan, 1 tahun, MPASI Rumahan) cuma disimpen untuk arsip pribadi aja. Untuk diliat-liat, sebagai pengingat bahwa kami pernah mengalami masa-masa indah penuh perjuangan itu. Bahwa saya bisa : unbreakable!! Yeayy...!

Tapi hari ini bingung mo posting apa, dan kayaknya seru juga kalo sertifikat ASI ikut mejeng di sini juga. 

Alhamdulillah... Hak kamu, kewajiban Ibuk, tunai sudah.

Thanks untuk Ayah atas semua support-nya. U're my hero in every condition.

Akhirnya kita sampai di titik ini kan, Nak? Kita bisa kan, Nak? Apa Ibuk bilang?
Kalo ada yang meragukan kemampuan kita,
kalo ada yang mencibir kita,
kalo ada yang menentang kita,
itulah amunisi kita untuk terus melangkah.

Iya lho...
Read More

Tuesday, 2 April 2013

The Easy Weaning

Sebelumnya, saya sudah membayangkan bahwa proses penyapihan Edsel akan penuh dengan drama air mata, teriakan histeris, dan acara begadang. Saya sudah menyiapkan diri untuk itu. Saya siap. Ikhlas.

Ketika Edsel berusia 20 bulan, saya mulai sibuk mencari informasi tentang cara weaning yang terbaik dan mulai mengurangi frekuensi meyusui si bocah. Mudah memang karena dia udah terbiasa saya tinggal dari pagi-sore. Bahkan yang tadinya setiap saya pulang dari kantor meminta jatah nenen, dalam waktu singkat mudah untuk diberi penjelasan. Tapi untuk ritual menjelang tidur malam dan terbangun malam hari, tidak bisa tidak HARUS NENEN. Lain tidak. Oke...oke semua perlu waktu, butuh proses. Pun saya juga belum siap kok.

Sampai Edsel berulang tahun yang kedua, saya belum punya niat serius untuk menyapih dia lho. Omongan dan sindiran pedas sodara, teman, atau tetangga kiri kanan, cuma mampir sebentar di telinga saya. Saya berkeyakinan, saya akan menyapih kalo hati saya sudah mantap dan siap. Ga bisa dipaksa-paksa. Toh, saya udah terbiasa berbeda kok, jadi ga bakalan mempan tuh kalo cuma dirasani ato diledekin. Bandel bener emang saya.

Meski ga tahu kapan hati saya ikhlas untuk 'melepas penyusuan' si anak lanang. Tapi saya tetap mematok target maksimal 2,5 tahun, dan itu harus dilakukan ketika saya libur panjang. Kenapa harus pas libur panjang? Biar saya santai melakoninya, ga kemrungsung takut kesiangan masuk kantor atau kondisi saya kecapekan padahal harus begadang jika Edsel rewel ga bisa bobo. 

Nah, bulan Maret ini ternyata ada libur panjang di akhir bulan, yaitu Hari Raya Paskah yang jatuh di hari Jumat. Jadi totalnya libur tiga hari ditambah Sabtu dan Minggu. Apa mau disapih pas itu aja? Are u ready? Deg. Siap ga ya, siap ga ya?

Oke, mari kita menghitung-hitung. Pertama, saya mulai merasa ga nyaman dengan penyusuan ini. Edsel udah 'ganas' banget nyusunya, sampe nipple saya perih ketika disusui, bahkan sering juga lecet. Yah, nama pun giginya udah sagambreng lengkap dengan taring dan geraham yang hampir mirip dengan orang dewasa, ya sakitlah kalo 'mencengkeram'. Meskipun dia ga gigit lho, catet, ga gigit! Kalo gigit, lebih sakaw lagi saya. Kedua, makin ke sini si bocah makin gahar aja nenennya. Ini berlaku ketika terbangun malam. Terbangun minimal dua kali dalam semalam dengan lama menyusu bisa satu-dua jam. Gilak kan? Makin gede bukannya makin sebentar, malah makin lama. Bisa dimaklumi sih, soalnya ASI saya emang tinggal dikit karena jarangnya demand. Bisa dibayangkan betapa kualitas tidur saya buruk karena kurang tidur plus menahan nyeri ketika menyusui. Ketiga, menimbang dan mengingat pasal pertama dan kedua di atas, rasanya tidak berdosa bagi saya untuk stop ASI, toh kebutuhan Edsel akan ASI di usia ini sudah bukan prioritas lagi, bahkan sudah lebih dari cukup.

So, dengan hitung-hitungan di atas, mari kita mantapkan diri untuk menyapih. 

Proses awal weaning saya mulai dengan tidak memberi sesuatu yang memberi kesan buruk dan trauma bagi Edsel, entah itu mengoleskan pahit-pahitan, plester, lipstik, atau apa pun itu yang tipu-tipu. Sebenarnya metode inilah yang terbaik, metode weaning with love, menyapih dengan cinta. Si bocah dikasih pengertian, dialihkan perhatiannya, dan lama kelamaan dia akan berhenti nenen dengan sendirinya.

Ini saya bukannya kurang gigih ya. Beneran deh, saya udah berusaha dengan berbagai cara untuk memberinya pengertian dan menggiring dia untuk melupakan nenennya. Iya berhasil kalo siang, tapi kalo malam? Terrriaaakkkk....  Jangan ditanya sampe level apa ngamuknya. Mengerikan.

Jadi, iseng saya coba nih olesin kunyit ke nipple. Eh ga ngaruh lho, masih nikmat-nikmat aja tuh nenennya. Trus coba juga kencur, masih ga bergeming. Ya ampuunn, ni anak udah nagih banget apa ya sama ASI? Ato karena dia terbiasa minum jamu gendong sehari-hari_yang notabene ada kunyit sama kencurnya?

Sampe akhirnya, ibu ngasih getah pohon yang didapetnya dari kebun tetangga yang itu merupakan bahan untuk bikin jamu. Apa ya namanya, saya lupa. Tapi rasanya emang pahit banget. Coba saya olesin ke nipple. Masih ga ngaruh juga!! Padahal rasanya pahiiitt bener, asli! Oh Tuhan apa memang saya belum iklhas menyapih? Ato cara saya salah? Akhirnya pelan-pelan saya kasih pengertian ke Edsel kalo dia udah gede, udah 2 tahun. Kalo udah 2 tahun rasa nenennya pahit. Trus saya suruh nyobain nenennya pelan-pelan. "He'em pahit. Edel emoh nenen". Iya itu klimaksnya. Semudah itu saja. Si bayi sendiri yang bilang kalo dia emoh nenen.

Malemnya, ketika udah ngantuk dan waktunya bobo dia akan bilang, "Buk, ayo nina" sambil menggandeng saya ke kamar. Nina yang dia maksud artinya nina bobo, yaitu berdoa, menyanyi atau mendongeng. Udah gitu aja. Ga sampe 5 menit si Ed langsung pules ga bangun-bangun lagi. Lewat tengah malam (biasanya jam 3-an) biasanya dia akan bangun sendiri ambil minum air putih dan bobo lagi.

Bobo malam pertama tanpa nenen
Sampe hari ini, 4 hari hidupnya tanpa nenen, ga ada masalah berarti. Ga nangis keingat nenen, ga teriak minta nenen. Bahkan kadang suka godain saya, " Ibuk nyuwun nenen. Nenen pait ding, Edel emoh" sambil tersenyum penuh menggoda dan kemudian tertawa terbahak-bahak.

Ya ternyata cuma segitu aja drama penyapihan kami. Mudah. The easy weaning.

Meskipun pake acara tipu dikit-dikit, tapi tetep saya melakukannya atas nama cinta. My easy weaning = weaning with love.




Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 Everything is Beautiful, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena